Seribu Luka

Seribu Luka
15


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Husna terbangun dari tidur lelapnya. Meninggalkan sejuta mimpi indah yang tengah terangkai di alam bawah sadarnya. Lantas ia memilih untuk membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian beranjak meninggalkan semua kenyamanan yang berasal dari tempat tidurnya itu. Husna ingin menunaikan shalat tahajud.


Jika orang lain menjadikan shalat tahajud itu sunnah, maka tidak dengan wanita sholehah ini. Ia seakan-akan menjadikan shalat sunnah disepertiga malam itu menjadi shalat wajib yang tidak pernah ia tinggalkan kecuali jika tengah berhalangan. Baginya waktu disepertiga malam itu adalah waktu yang sangat special. Waktu dimana ia bisa berkomunikasi dengan Tuhannya secara intens. Kesunyian malam membuatnya selalu nyaman untuk berkeluh kesah akan segala hal yang tengah dihadapinya.


Abinya selalu mengatakan padanya bahwa malaikat akan selalu bertasbih mendokan setiap hambanya yang bangun untuk melaksanakan shalat tahajud.


Seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini pun nampak sama. Dimana pancaran dari sinar rembulan terlihat begitu anggun dan sangat mempesona. Kehangatan yang ditorehkan memberikan kenyamanan bagi setiap pasang mata yang memandang. Kerlap-kerlip cahaya bintang di langit malam bagaikan ribuan mata malaikat yang tengah mengintip para penduduk bumi yang tidak pernah lalai untuk bersujud pada Tuhannya.


Kini dalam balutan mukenah putih Husna terlihat seperti seorang bidadari yang tengah mengepakkan sayapnya. Pancaran pesona yang berasal dari wajah wanita sholehah itu bagaikan semburat jingga dikala fajar terbenam.


Raka mendengar Sayup-sayup suara isakan tangis yang begitu menyentuh kalbu. Sontak hal itu membuatnya terbangun. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan mengedarkan pandangan untuk mencari sumber suara itu. Dan untuk kedua kalinya, Raka merasakan hatinya begitu tersentuh. Ia melihat dan mendengar kala istrinya itu tengah berdoa.


" Ya Allah, hamba bukanlah wanita secantik dan sepintar Fatimah putri kanjeng nabi. Namun hamba memiliki impian yang sama seperti beliau, yakni di cintai oleh suami dengan ketulusan hati. Hamba mendambakan rasa cinta dari Mas Raka seperti Cintanya Rasulullah saw terhadap siti Aisyah. Dan hamba ingin menjadi seperti Ummul mukminin, Siti Khadijah yang bahkan hingga wafat bayangan beliau selalu bersemayam di hati Rasulullah," Ucap Husna dalam doanya.


Hati Raka benar-benar luluh mendengar setiap kata yang terucap dari lisan Husna. Ia merasa bersalah karna selama ini sudah membenci wanita itu tanpa alasan yang jelas.


" Ya Allah, tak seharusnya aku melukai hati dan perasaan istriku. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku. Hanya karna luka di masa lalu. Aku telah bersikap kasar kepadanya. Sebenarnya ia bisa saja menolak menikah denganku dan memilih untuk menikah dengan Fahri. Laki-laki yang sudah pasti mencintai dan dicintainya. Namun ia tidak melakukan hal itu karena ia telah berkomitmen dengan keluargaku untuk menerima lamaran dari ayah dan bunda. Mungkin sudah saatnya aku harus belajar untuk melupakan masa laluku dan mulai menerima dan mencintainya sebagai pasangan halalku,"bisik Raka dalam batinnya.


Husna yang kala itu tengah larut dalam doanya. Tidak menyadari jika Raka saat ini tengah berjalan kearahnya. Raka sendiri kini sudah tidak bisa mengontrol perasaannya terhadap Husna. Ia mendekap tubuh Husna dari belakang. Dengan posisi bertumpu pada lututnya, ia memeluk Husna dengan sangat erat. Husna sendiri sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Raka. Ia ingin menoleh ke belakang, namun Raka tak mengizinkannya. Ia terus memeluk Husna dan meletakkan dagunya pada pundak istrinya. Ia kemudian berbisik di telinga Husna.


" Tolong biarkan seperti ini dulu," pinta Raka.


Air mata Husna berjatuhan membasahi pipinya. Jantungnya berdegup tak menentu. Ia masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang saat ini dilakukan Raka pada dirinya.


Perlahan-lahan Raka membalikkan tubuh Husna. Kini ia tengah melihat istrinya itu tertunduk dalam diam. Raka kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Husna. Ia mengangkat pelan wajah Husna. Dapat dilihatnya buliran-buliran bening yang masih setia berjatuhan dari pelupuk mata Husna. Dengan lembut Raka mengusap pelan kedua mata Husna.


" Dek...apa boleh mas memintamu untuk menatap wajah mas sekarang!" ucap Raka.


Husna yang mendengar permintaan suaminya itu. Perlahan-lahan memberanikan diri untuk mengarahkan pandangannya ke arah Raka.


Raka mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya. Dan jarak diantara mereka kini semakin lama semakin dekat. Dapat dirasakan oleh Husna kehangatan dari nafas suaminya itu.


Tak butuh waktu lama akhirnya sebuah kecupan mendarat di kening Husna.


Kecupan itu sukses membuat wajah Husna bersemu merah menahan rasa malu yang saat ini dirasakan oleh hatinya. Jujur saja Raka adalah laki-laki kedua setelah abinya yang pernah mengecup kening Husna.


" Dek...mas minta maaf karena sudah bersikap kasar padamu. Adek masih mau kan membuka pintu maaf dihati adek buat mas Raka?" Ucapnya.


" Iya mas..Husna sudah memaafkan sikap mas Raka ke Husna. Dan Husna mengerti kenapa mas Raka bersikap seperti itu ke Husna. Tentunya berat buat mas Raka menikah dengan wanita yang tidak pernah mas Raka cintai. Terlebih lagi mas Raka sama sekali tidak tahu bagaimana wajah dari wanita yang dijodohkan dengan mas Raka."balas Husna.

__ADS_1


" Lalu bagaimana dengan adek sendiri ? Tentu adek juga berat kan untuk menerima perjodohan dengan laki-laki yang kasar seperti mas Raka?"balas Raka


Husna kini hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan suaminya. Ia bukannya tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Namun ia rasa jika ia menjawab pertanyaan itu maka ia akan melukai hati suaminya. Biar bagaimanapun saat ini Raka adalah suaminya dan ia akan selalu berusaha untuk menjaga perasaan suaminya. Semaksimal mungkin ia tidak ingin menyakiti hati suaminya dengan lisannya.


" Dek kenapa cuma senyum aja?"tanya Raka.


"Mmmm... Gak kenapa-napa kok mas."


" Tapi benerankan adek juga berat menerima pernikahan ini ?"


" Sssstttt....Sudahlah mas jangan ngomong seperti itu lagi."ucap Husna sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir Raka."


Kini Raka menggenggam tangan istrinya. Kemudian di kecupnya telapak tangan istrinya itu.


" Mas Raka janji dek..Mas Raka gak akan bersikap kasar lagi ke adek. Dan adek maukan kalau kita memulai semuanya dari awal?"


" Insyaallah Husna mau mas."


" Jadi kalau mas ngajak adek pacaran mau gak?"


" Kenapa pacaran mas? Kan kita sudah nikah."


" Mmmm. ..gimana ya mas. Terima gak ya?" Ucap Husna.


" Harus diterima dong." balas Raka sembari memberikan tatapan hangat kearah Husna dan menyunggingkan senyum terbaiknya.


" Mas Raka tampan ya kalau senyum. Goda Husna."


" Mas Raka kan memang bawaan dari rahim sudah tampan dek." Jawab Raka.


" Tapi tampannya ilang kalau lagi marah."


" Mmmm. ..iya...iya..jadi gimana mau gak?"


" Mau apa?"


" Itu lho yang tadi mas bilang."


" Yang mana ya mas,Husna lupa." ucap Husna. Sebenarnya saat ini Husna hanya ingin menggoda suaminya itu.

__ADS_1


" Benaran lupa dek? "


" Iya mas."


" Yaudah gak jadi."


" Hahahaha...mas Raka lucu juga kalau ngambek. Husna masih inget kok mas. jadi jangan ngmbek gitu. Malu sama umur."


" Emang kenapa sama umur mas Raka."


" Ya...kan udah tuwir mas. Masak masih ngambek."


Sontak Raka langsung menggelitiki pinggang istrinya.


" Mas Raka...udah berhenti gelitikinnya geli tahu." ucap Husna sembari terus tertawa.


" Ya gak papa. adek sih bilang mas udah tua."


" Ya..ya..maaf mas."


Akhirnya kebekuan dihati Raka mulai mencair. Mereka tertawa bersama. Meskipun Saat ini diantara mereka belum ada rasa . Namun mereka percaya seiring waktu semuanya akan tumbuh dengan sendirinya.


" Jadi gimana dek diterima gak masny?"


" Maaf mas tapi Husna gak bisa."


" Maksudnya Husna nolak mas Raka,iya?"


" Bukan gitu mas. Maksudnya, Husna itu gak bisa nolak mas Raka."


Sontak jawaban Husna itu membuat Raka merasa jika saat ini istrinya itu tengah menggoda dirinya. Dan satu cubitan di hidung Husna berhasil membuat istrinya itu menjerit.


" Awww...sakit mas."


" Biarin. Itu hadiah buat istri yang suka godain suaminya."


Raka kemudian memeluk dan membelai lembut pucuk kepala istrinya itu.


♡♡♡ Happy reading buat para pembaca yang aouthor sayangi. Sebelumnya putri minta maaf kalau lama uploadnya. Ada berbagai kendala yang buat putri agak lama up ceritanya. Dan terimakasih karena sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita putri. Jangan lupa berikan krisan kakak semuanya di kolom komentar ya. Dan putri mohon dukungannya dengan memberikan like,vote,and rite. Terimakasih. ♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2