Seribu Luka

Seribu Luka
22


__ADS_3

☆Sepucuk surat berhias pita emas berada erat dalam genggaman tanganmu.Terlihat jelas ada namamu dan namanya tertulis indah di sana. Sebagai pasangan yang siap mengikat janji setia untuk selamanya. Kuakui terselip sedikit rasa sakit pada hati yang pernah luka. Bagaimnapun aku hanyalah seorang wanita biasa. Wanita yang pernah memiliki keinginan yang sama sepertinya. Keinginan untuk bisa menjadi pasangan halalmu. Tak bisa kupungkiri jika aku pernah mengikhtiarkanmu melalui doa-doaku. Namun sepertinya Tuhan lebih memilih dia untuk mendampingimu. Kini atas nama cinta yang pernah ada, aku hanya bisa berdoa pada yang kuasa. Semoga kalian bisa bahagia dan menjadi keluarga yang "SAMAWA".


"Tok...tok..Raka, ini bunda nak,"panggil ibu Dewi yang kini tengah berdiri di depan pintu kamar Raka dan Husna.


Raka yang mendengar panggilan dari bundanya, beranjak dari tempat tidur lalu membukakan pintu untuk ibu Dewi.


Ceklek,suara pintu terbuka.


"Masuk bun!" ucap Raka mempersilahkan bundanya.


"Gak usah nak,bunda cuma mau ngasih tau kalau di bawah ada Fahri,"jelas ibu Dewi.


"Fahri bun? Kok tumben dia kesini gak nelpon aku dulu,"ucap Raka.


"Kalau soal itu bunda juga gak tau nak. Mendingan sekarang kamu turun gih temuin dia dulu! Kasian kalau sampai Fahri kelamaan nungguin kamu,"jelas ibu Dewi.


"Iya bun. Bentar lagi aku turun,"ucap Raka.


"Husna mana nak?"tanya ibu Dewi.


"Ada di dalam bun. Husna baru selesai mandi,"jawab Raka.


"Yaudah kalau gitu, kalian siap-siap aja dulu. Bunda turun duluan ya nak,"ucap ibu Dewi.


"Ya udah bun. Makasih ya,"balas Raka.


Kini wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan kamar Raka.


Sementara Raka kembali menutup pintu kamarnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke arah ruang ganti pakaian.


"Dek, dibawah ada tamu,"ucap Raka pada istrinya.


"Siapa mas?"tanya Husna.


"Fahri,"jawab Raka singkat.


Raka dapat merasakan jika saat ini perasaannya tidak begitu nyaman ketika ia menyebut nama laki-laki itu.

__ADS_1


Sementara itu, Husna dapat merasakan jika jantungnya tengah berdegup tak menentu. Bagaimanapun Fahri adalah laki-laki yang istimewa di hatinya. Husna berusaha untuk bersikap seperti biasa di depan suaminya. Ia tidak ingin Raka merasa canggung dengan situasi saat ini.


"Apa adek mau ikut nemuin Fahri di bawah?" tanya Raka.


"Mas, adek akan turun kalau mas yang ngajak untuk turun. Tapi kalau mas meminta adek untuk tetap tinggal di kamar, ya adek bakalan tetap tinggal di sini,"jawab Husna sembari tersenyum manis ke arah suaminya.


Entah mengapa Raka begitu senang mendengar jawaban dari istrinya itu. Ia merasa jika saat ini Husna benar-benar menghargai perasaannya sebagai seorang suami.


"Dek,betapa bodohnya masmu ini karena pernah menolak wanita cantik dan sholehah seperti dirimu," ucap Raka sembari memeluk tubuh mungil istrinya itu.


"Sudahlah mas. Yang lalu biarlah menjadi masa lalu. Tidak ada yang perlu kita sesali. Allah sudah mengatur segalanya dengan sempurna. Kini tugas kita adalah berusaha untuk menjadikan rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang Allah Ridoi,"balas Husna sembari menempelkan wajahnya pada dada bidang milik sang suami.


Raka kemudian melepaskan pelukannya. Ia meletakkan tangannya pada pipi istrinya. Sebuah kecupan mendarat sempurna pada kening Husna.


"Sayang, temenin mas ke bawah ya!" pinta Raka.


Saat ini Raka benar-benar yakin jika Husna mampu menjaga sikap dan pandangan matanya ketika nanti akan bertemu dengan Fahri. Ia merasa tidak ada yang perlu membuatnya merasa tidak nyaman di sana.


"Yakin, adek bakalan ikut turun nemuin mas Fahri? Apa nanti di sana masnya gak kenapa-napa?"tanya Husna.


Kini Husna hanya bisa tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Ia benar-benar bersyukur pada Allah Karna telah membisikkan kelembutan pada hati suaminya. Tidak ada lagi kata-kata kasar yang terlontar dari lisan seorang Raka Adityatama. Sikapnya pun kini sudah banyak berubah. Tentu semua itu tidak terlepas dari kesabaran serta doa dari orang tua dan istrinya.


Namun sebelum mereka melangkahkan kaki meninggalkan kamar, Raka Memegang tangan istrinya. Lalu langkah mereka terhenti. Raka memeluk istrinya.


"Dek, kira-kira biar kita lebih romantis panggilan apa ya yang pas untuk mas?"ucap Raka dengan mesra.


"Mmm...bagaimana kalau adek manggil mas Raka dengan panggilan abi?"ucap Husna.


"Hem, sepertinya itu panggilan yang mesra buat abi. Iyakan umi?" balas Raka dengan senyum lebar penuh kebahagiaan.


"Iya abi,"jawab Husna singkat sembari melemparkan senyuman manis ke arah Raka.


Akhirnya setelah selesai bersiap-siap kini Raka dan Husna berjalan berdampingan ke arah ruang tamu. Sesampainya di sana, mereka dikejutkan dengan sosok perempuan yang saat ini duduk di sebelah Fahri. Bagi Raka, ini pertama kalinya ia melihat sahabatnya itu mengajak perempuan kerumahnya. Sementara Husna terus memperhatikan wajah dari wanita itu. Menurutnya, wajah perempuan itu tidak asing.


Setelah cukup lama Husna memperhatikan wanita itu. Kini ia sudah mengingat siapa perempuan itu. Ya, dia adalah Mutia. Sahabat sekaligus teman seperjuangannya saat mereka sama-sama menempuh pendidikan pasca sarjana di Kairo. Husna mengucapkan salam ketika mereka sudah berada di ruang tamu.


" Assalamualaikum,maaf menunggu lama,"ucap Husna.

__ADS_1


"Waalaikumsalam,"jawab Fahri dan Mutia bersamaan. Husna menjabat tangan Mutia kemudian memeluknya. Sementara Raka dan Fahri terlihat sudah kembali bersikap akrab layaknya sahabat yang tidak pernah ada masalah di antara mereka.


"Fahri, bunda kebelakang dulu ya nak. Jangan lupa kuenya di cicipin!"ucap ibu Dewi sembari tersenyum ramah pada sahabat putranya itu. Kedekatan antara Fahri dan Raka sudah terjalin cukup lama. Bahkan Fahri sudah dianggap anak oleh ibu Dewi dan pak Aditya. Orang tua Raka sempat merasa tidak enak pada Fahri saat mengetahui jika Fahri akan melamar Husna. Namun beruntung, saat ini keadaannya sudah kembali membaik.


"Siap bunda,"jawab Fahri sembari menirukan gerakan hormat layaknya satpam komplek.


Ibu Dewi yang melihat sikap Fahri itu hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Lantas melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu.


"Mutia Azzahra,"panggil Husna.


"Iya mbak. Maaf mbak kok tahu nama saya?"tanya Mutia.


Saat ini perempuan itu memang belum mengenali Husna. Maklum karna Husna memakai cadar.


"Masyallah, jadi benar kalau mbak itu adalah Mutia. Saya Husna mbak," jelas Husna.


"Ya Allah jadi mbak Husna?"Ucap Mutia dengan nada terkejut.


Maaf mas Fahri, kenalin ini mbak Husna. Beliau adalah mahasiswi yang paling dikagumi lho mas. Beliau mempunyai kecerdasan dan pemahaman yang luar biasa,"jelas Mutia.


Fahri hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Mutia. Ia memaklumi ketika Mutia mengatakan hal itu. Mutia tidak mengetahui jika wanita yang saat ini berada di depannya itu adalah wanita yang pernah diinginkan Fahri untuk menjadi istrinya.


"Mbak Mutia bisa saja. Mbak juga adalah mahasiswi yang cerdas dan juga cantik,"puji Husna.


"Tadinya Mutia berencana setelah dari sini Mutia dan mas Fahri mau ke pondok pesantren mbak. Kami mau mengantarkan undangan pernikahan kami,"jelas Mutia sembari menyerahkan selembar undangan pernikahan berwarna biru itu.


"Jadi Loe mau nikah?"tanya Raka pada Fahri.


"Iya. Gue berharap kalian menyempatkan waktu buat hadir ke acara pernikahan kami,"balas Fahri.


"Insyaallah, gue bakalan usahain buat dateng ke acara pernikahan kalian,"timpal Raka.


Kini Husna memperhatikan kedua insan yang tengah duduk berdampingan di depannya itu. Ia merasa jika mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Seperti yang Husna tahu, Fahri merupakan pemuda yang sholeh. Jadi sangat pantas rasanya jika ia bersanding dengan Mutia. Wanita yang mampu menjaga kehormatan dirinya sebagai perempuan muslimah yang taat pada Allah.


Sesungguhnya janji Allah itu benar adanya. Di dalam Q.s An-Nur:26 dijelaskan secara gamblang. Bahwa Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji(pula). Dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula."


Jadi, ayat Alquran tersebut telah menjelaskan siapa yang akan menjadi pasangan hidup kita. jodoh kita merupakan cerminan diri kita. Ketika seorang wanita ingin mendapatkan pemuda yang sholeh maka berikhtiarlah untuk menjadi wanita yang sholehah. Begitupun sebaliknya. jika seorang pemuda ingin mendapatkan pasangan hidup seorang wanita sholehah, maka berusahalah untuk menjadi laki-laki yang sholeh. Ingatlah Allah akan menempatkan segala sesuatunya di tempat yang tepat. Allahualambissawab.

__ADS_1


__ADS_2