
Husna terus melangkahkan kakinya keruang tamu. Ia berusaha bersikap tenang dan mencoba menetralisirkan kegugupannya.
Kini Husna sudah berada di ruang tamu. Di sana sudah terlihat kedua orang tuanya dan adiknya yang sudah berkumpul dengan keluarga Raka.
"Assalamualaikum ...,"sapa Husna dengan ramah pada tamunya itu. Kemudian ia membungkukkan badannya ke arah ibu Dewi untuk mencium punggung tangannya. Setelah itu, Husna mengatupkan kedua telapak tangannya untuk memberi salam ke arah pak Aditya, Riko, dan juga Raka.
"Waalaikumsalam ...,"jawab Ibu Dewi sembari tersenyum kemudian memeluk Husna. Pak Aditya hanya tersenyum menatap istri dan calon menantunya itu. Sedangkan Raka memiliki ekspresi yang sangat berbeda. Raut wajah penuh dengan kemarahan terlihat jelas dari seorang Raka. Ia kesal,marah,dan membenci wanita yang akan dijodohkan dengan dirinya itu. Kebencian Raka pada Husna melebihi kebenciannya pada orang yang dulu pernah mengkhianati dirinya dengan perselingkuhan.
"Dasar perempuan pencari muka,munafik,dan naif. Terlalu rendah permainan yang kamu tunjukkan di depan orang tuaku. Kamu berpura-pura sok baik, lugu dan tampil sempurna untuk mendapatkan simpati dari orangtuaku agar bisa menjadi bagian dari keluarga terpandang seperti keluargaku ini kan!"
"Ingin rasanya aku membongkar sifat aslimu saat ini juga. Agar kedua orangtuaku tau, wanita seperti apa yang saat ini diagung-agungkan untuk menjadi calon istriku. Tapi, it's Ok. No problem. Permainan baru akan dimulai sayangku. Kita akan lihat siapa yang akan keluar jadi the winner dalam permainan sandiwara ini. Kamu atau aku?"ucap Raka sambil m*r*m*s tangannya dengan kuat sambil menatap tajam kearah Husna.
__ADS_1
Sementara itu, Riko mencoba untuk masuk menelusuri kedalaman tatapan mata Husna. Ia berusaha untuk meraih perhatian Husna dengan memberikan tatapan Istimewa yang dilengkapi dengan senyuman termanis darinya. Ia berharap akan mendapatkan simpati dari Husna. Menurut Riko, kesan pertama yang ditunjukkan kepada orang lain,akan menjadi langkah awal untuk meraih sebuah kesuksesan. Baginya Husna merupakan target yang harus berhasil diraihnya. ia tak perduli jika rivalnya saat ini adalah Abangnya sendiri. Dia tahu jika Husna bukanlah tipe wanita yang disukai abangnya. Ia tak terlalu menjadikan abangnya sebagai penghalang terbesar untuk mendapatkan Husna. Hanya saja, ia masih ragu apakah ia bisa mengubah keputusan orang tuanya untuk menjodohkan abangnya dengan Husna.
Semua sudah tahu, jika orang tuanya sudah membuat keputusan, maka tidak satupun dari mereka yang bisa menolak keputusan orang tuanya itu. Jika ada dari mereka yang membantah sang ayah,maka merekan akan mendapatkan hukuman. Mereka akan diminta untuk mengurus perusahaan yang berada di daerah pedalaman dab tanpa fasilitas apapun. Hukuman adalah hal yang paling mengerikan bagi Raka dan Riko. Tentunya, Raka dan Riko tidak akan pernah sanggup untuk menjalani kehidupan tanpa fasilitas lengkap nan mewah yang selama ini melekat pada diri mereka.
"Tante,om, Husna minta maaf jika kalian jadi menunggu lama" ucap Husna dengan sopan memulai pembicaraan.
"Gak papa kok Husna. Tante dan om juga baru saja dateng. Bagaimana kabar mu nak? sudah cukup lama kita gak ketemu,"ucap Bu Dewi.
" Alhamdulillah tante, Seperti yang saat ini tante dan om lihat, Husna sehat."
Husna pun terdiam. Ingin rasanya ia langsung menolak lamaran itu. Namun, entah mengapa ia tak mampu menolaknya. Harapan yang begitu besar terpancar dari sorot mata pak Aditya. Hal ini melemahkan keinginannya itu. Belum sempat Husna membuka mulutnya, tiba-tiba Raka berkata.
__ADS_1
" Yah ... Bisa gak kalau yang dinikahkan dengan Husna itu Riko, bukan aku. Namun, jika ayah masih bersikukuh untuk melakukan perjodohan ini, maka jodohkanlah aku dengan Hafiza. Bukan dengan perempuan aneh yang gak pernah aku lihat wajahnya ini!"ucap Riko dengan nada ketusnya.
Riko yang mendengar ucapan Abangnya itu tersenyum lebar. Rasanya ia memenangkan suatu pertandingan tanpa perlu menguras sedikitpun tenaganya.
" Ayah, aku mau menggantikan bang Raka untuk menikahi Husna, jika bang Raka menolak perjodohan ini,"ucap Riko pada ayahnya.
Tak pelak semua mata tertuju pada Raka dan Riko. Pak Aditya menatap kedua putranya itu dengan tatapan membunuh. Seolah ia saat ini benar-benar ingin menghabiskan darah dagingnya itu.
" Apa-apan kalian berdua ini! Kalian fikir ini lelucon apa? Bisa-bisanya kalian bersikap seperti anak ingusan yang saling melempar tanggung jawab,"tegas pak Aditya pada kedua putranya.
Hafiza yang mendengar ucapan Riko tersentak kaget. Hatinya benar-benar remuk redam seperti butiran debu yang tak bisa lagi terlihat bentuknya. Ia merasakan sesak didadanya. Bagaimana tidak, laki-laki yang memikat hatinya pada pandangan pertama itu justru ingin menikahi kakanya.
__ADS_1
Hafiza tidak bisa menahan butiran bening di pelupuk matanya. Ia meminta izin pamit meninggalkan ruang tamu. Husna yang melihat tingkah aneh adiknya itu menjadi bingung sendiri.
" Ada apa dengan Hafiza? Kenapa dia menangis? Kenapa dia tiba-tiba pergi dari sini?"muncul berbagai pertanyaan di benak Husna.