
TOK...TOK..TOK...
Suara ketukan palu dari hakim terdengar menggema di ruang sidang.Terlihat dengan jelas senyuman sumeringah dari laki-laki paruh baya yang hari ini memenangkan perkara dari kasus hak asuh anak.Hakim memutuskan jika ia mempunyai hak untuk bertemu dengan buah hatinya karna secara hukum ia adalah ayah biologis dari sang putri.
Casandra terlihat tertunduk lemas di sebuah kursi dengan tumpukan berkas perkara di mejanya. Ia sama sekali tidak terlihat bahagia karena memenangkan kasus perkara yang hari ini ia tangani. Sebagai seorang pengacara, ia sudah bekerja dengan maksimal membela hak dari kliennya. Namun sisi keibuannya seakan muncul di dalam hati kecilnya. Ia sangat mengerti dengan perasaan wanita yang saat ini menjadi rivalnya di meja hijau itu. Ia paham jika sebagai seorang wanita yang telah ditelantarkan oleh suami tentunya merasa tidak rela jika saat ini ia harus berbagi hak asuh anak dengan laki-laki yang sebelumnya tidak pernah menginginkan buah hati mereka hadir ke di dunia ini.
Seakan masalah hari ini menjadi sebuah gambaran pada dirinya sendiri. Sekeras apapun ia berusaha untuk menutupi bayangan Raka dalam hidupnya, namun kenyataannya ia tidak akan pernah bisa menampik jika laki-laki itu adalah ayah dari Tama, putra semata wayangnya itu.
Casandra menyadari jika Raka punya hak untuk tahu jika saat ini ia telah memiliki seorang putra. Begitupun dengan Tama putranya, ia berhak untuk tahu siapa papanya. Rasanya ia tidak bisa mengedepankan keegoisan yang selama ini telah menguasai hati kecilnya.
Perlahan-lahan Casandra mengambil benda pipih berwarna hitam dari saku bajunya. Ia terlihat menggeser-geser nomor kontak dari hanphonenya. Kini jari manisnya terhenti pada salah satu kontak yang sangat ingin ia hubungi. Tertulis jelas jika kontak itu diberi nama "Papa Tama". Kontak itu adalah milik Raka Adityatama. Satu-satunya pria yang hingga saat ini namanya masih bertahta di hati Casandra.
Dengan segudang keberanian yang telah dikumpulkannya, Kini ia mencoba untuk menghubungi Raka dan ini pertama kalinya ia kembali menghubungi pria itu setelah enam tahun lamanya.
"Tut..tut...tut.."
"Hallo, ini siapa?"tanya Raka dari seberang sana.
"Casandra,"jawab wanita itu singkat.
Setelah mendengar jawaban wanita itu, Raka merasakan jika jantungnya tengah berdegup tak menentu. Ia seakan tak percaya jika wanita itu kembali menghubunginya setelah sekian lama menghilang tanpa mengabarinya sama sekali.
"Casandra, kenapa kamu baru menghubungi aku?sebenarnya kamu kemana selama ini? tidak tahukah kamu jika selama ini aku begitu frustasi menantikan kabar darimu?"tanya Raka sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi putar yang ada di ruang kerjanya itu.
"Maaf,"ucap Casandra lirih. Ia seakan tak mampu untuk menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Raka padanya.
"Apa kamu pikir kata maaf itu cukup untuk mengobati luka di hati ini karena sikapmu itu?" tanya Raka.
"Aku tahu, aku sudah menggoreskan luka yang terlalu besar untukmu.Tapi aku mohon, kali ini saja kamu mau memaafkan aku dan mendengarkan apa yang mau aku katakan,"balas Casandra.
" Katakanlah apa yang ingin kamu katakan. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa kembali mempercayaimu?"ungkap Raka.
"Aku kembalikan semua keputusan padamu. Terserah kamu mau percaya atau tidak padaku itu adalah urusanmu. Tapi yang pasti kamu harus tahu jika saat ini kamu telah menjadi seorang ayah dari anak yang bernama Tama," jelas Casandra.
"Apa? Aku memiliki anak?"tanya Raka dengan terkejut.
Setelah mendengar ucapan wanita itu, Raka terdiam.
__ADS_1
"Jadi anak itu adalah anakku,"batin Raka.
"Iya. Aku memberinya nama Tama sesuai janji kita dulu,"ucap Casandra.
Kini Raka benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.
"Tapi, apakah aku bisa mempercayai jika anak itu adalah anakku dan bukan anak dari si ******** Kevin itu?"tanya Raka dengan gusar.
"Raka, kamu sudah salah paham padaku dan juga Kevin. Kami tidak ada hubungan apapun. Justru kamu harus berterima kasih padanya. Apakah kamu tahu siapa yang telah berhasil mengungkap kasus penggelapan dana perusahaan yang hampir saja membuatmu mengalami kebangkrutan karna mengalami kerugian dalam jumlah yang begitu besar? Orang itu tidak lain adalah Kevin. Dia juga orang yang menginvestasikan dana ke perusahaanmu saat itu melalui orang kepercayaannya. Bahkan dia rela menggantikanmu untuk menemaniku disaat aku harus berjuang melahirkan dan membesarkan Tama sendirian tanpamu. Dia melakukan semua itu karena kami tahu persis bagaimana kondisimu pasca kecelakaan itu,"jelas Casandra.
Saat ini Raka merasakan jika kepalanya terasa begitu berat. Ia tidak menyangka jika orang yang paling ingin ia singkirkan adalah orang yang diam-diam justru membantunya selama ini.
"Casandra, aku mohon berikan aku waktu untuk bisa memikirkan semua masalah ini!"pinta Raka.
"Tentu saja,"ucap Casandra kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Saat ini Casandra merasakan jika beban yang selama ini ia pendam seakan telah menguap pergi dan meninggalkannya entah kemana. Yang tersisa saat ini hanyalah sebuah ketenangan di hati kecilnya.
Ia merapikan semua berkas-berkas miliknya. Kemudian meninggalkan ruang sidang yang tampak telah sepi.
****
Seorang wanita kini tengah terduduk tak berdaya di salah satu ruangan khusus di rumah sakit. Ia baru saja menerima hasil pemeriksaan dari dokter spesialis yang menangani dirinya.
Dokter itu menjelaskan jika saat ini ia mengalami endometriosis. Endometriosis adalah tumbuhnya selaput lendir di luar rongga rahim.
"Jadi begini buk Husna,saat ini anda mengalami Endometriosis yang dimana bila parah akan mengganggu kesuburan anda. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kerusakan saluran telur, indung telur dan otot rahim. Selain itu, anda juga mengalami fibroid atau yang biasa kita sebut dengan polip rahim. Hal ini menyebabkan ibu sangat sulit untuk hamil,"jelas dokter itu.
"Tapi dok, apa masih ada kemungkinan untuk saya bisa hamil dan memiliki keturunan?" tanya Husna dengan suara getir.
Saat ini Husna merasa jika ia telah gagal menjadi seorang wanita yang sempurna untuk suaminya. Ia sadar bahwa kekurangan yang saat ini ada pada dirinya akan berpengaruh besar terhadap rumah tangga yang kini ia bina bersama Raka.
"Maaf bu, tidak ada yang tahu rahasia Allah. Tentunya tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah mengizinkan. Sangat mudah bagi Allah untuk menakdirkan segala sesuatunya. Saran saya, bertawakallah pada Allah dan memohonlah padaNya agar meridhoi ibu untuk memiliki keturunan," jelas dokter itu.
"Astagfirullah, ya Allah ampuni hambamu ini,"ucap Husna dalam batin. Tak henti-hentinya ia mengucapkan istighfar di dalam hatinya. Ia merasa bersalah karena sempat ragu pada takdir Allah.
"Mungkin yang bisa kita lakukan saat ini adalah operasi agar tidak menghambat kehamilan,"jelas dokter itu.
__ADS_1
"Insyaallah, nanti akan saya coba diskusikan dengan suami dulu dok,"balas Husna.
"Silahkan bu. Nanti ibu bisa menghubungi saya lagi untuk proses selanjutnya," ucap dokter itu pada Husna.
Husna keluar dari ruangan dokter dengan membawa hasil pemeriksaan di tangannya. Ia bingung bagaimana caranya akan menyampaikan hal itu pada Raka. Ia sangat yakin kalau Raka pasti akan kecewa setelah mengetahui jika dirinya sulit untuk bisa hamil. Setiap laki-laki pasti menginginkan untuk memiliki keturunan. Tentunya terasa tidak lengkap jika tidak ada tangisan atau tawa dari anak-anak di dalam rumah.
Dalam kegalauan hati, Husna mencoba untuk menghubungi umminya.
"Tut...tut..tut."
"Assalamualaikum Husna. Bagaimana kabarmu nak?"tanya ummi dengan antusias.
"Waalaikumsalam ummi. Alhamdulillah Husna sehat. Ummi,abi,dan Hafiza bagaimana? Apakah semuanya sehat?"balas Husna.
"Alhamdulillah nak, kami di sini sehat,"jawab ummi.
"Ummi, Husna cuma mau ngabarin kalau saat ini Husna baru saja menerima hasil pemeriksaan dari dokter. Dokter bilang kalau Husna kemungkinan akan sulit memiliki keturunan ummi. Husna mengalami Endometriosis dan Fibroid ummi,"jelas Husna.
Hafiza yang saat itu tengah bersama ummi mendengar percakapan antara kakaknya dengan ibunya itu. Tentu saja, ia paham betul jenis penyakit yang saat ini dialami sang kakak.
"Ummi, bilangin kak Husna suruh operasi,"ucap Hafiza.
"Nak,apa tidak sebaiknya kamu menjalani operasi?"tanya ummi.
"Insyaallah ummi. Nanti Husna omongin sama mas Raka dulu. Apapun keputusan dari mas Raka, baru nantinya Husna akan memutuskan langkah selanjutnya,"jawab Husna.
"Ya sudah, ummi hanya bisa bantu dengan doa sayang. Semoga Allah memudahkan segala urusanmu. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah nak. Ingatlah nak akan kuasa Allah terhadap nabi Zakaria. Bagaimana Allah mengabulkan doa yang telah dipanjatkannya. Allah menakdirkan padanya untuk memiliki keturunan diusianya yang bahkan sudah sangat renta. Meskipun pada saat itu, istri beliau telah diponis mandul. Akan tetapi, berkat doa dan kesabaran beliau dalam memohon pada Allah, akhirnya Allah mengabulkan doa beliau dengan kehadiran seorang anak laki-laki yang diberinama Yahya,"ucap umminya.
"Insyaallah ummi. Husna akan selalu mengingat pesan ummi. Terimaksih ummi. Husna tutup dulu ya ummi telponnya. Salam untuk abi dan Hafiza."jawab Husna.
Kini perasaan Husna lebih tenang setelah mendengar ucapan umminya.
"Iya nak. Assalamualaikum"ucap ummi.
"Waalaikumsalam ummi,"balas Husna kemudian mengakhiri panggilan telponnya.
☆Assalamualaikum semuanya. Semoga Allah selalu memberikan kita kesehatan dan mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa memberikan manfaat untuk para pembaca.☆
__ADS_1