
****
Di antara ribuan insan yang saat ini tengah terluka, Fahri merupakan satu di antara mereka yang mengalami takdir yang serupa. Keputusan Husna yang telah menerima lamaran dari laki-laki lain membuat Fahri kehilangan separuh jiwanya. Wanita yang selama ini yang ia harapkan akan menjadi tulang rusuknya, ternyata telah menjadi milik dari Raka. Raka yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Raka yang selama ini selalu menceritakan kalau ia sangat membeci wanita yang Fahri cintai itu.
Fahri benar-benar merasa bersalah.
Andai saja ia datang lebih awal dari Raka, tentu Husna akan menikah dengan dirinya. Bukan dengan Raka. Laki-laki yang tidak pernah sama sekali menginginkan wanita itu.
"Ya Allah, haruskah aku menyalahkan takdir yang tak berpihak kepadaku. Bukankah semua ini terjadi karna kesalahanku sendiri. Dia wanita yang selama ini telah menungguku di depan pintunya. Menyambut niat baik dariku untuk melamarnya. Namun, aku justru lebih memilih untuk mengulur waktu. Memilih untuk mengumpulkan kemapanan finansial yang aku fikir akan bisa memberikankannya kebahagiaan".
"Namun ternyata aku salah .Dia wanita yang tidak pernah meminta secuil apapun dariku selain daripada sebuah ikatan halal di mata Allah. Meski bermaharkan segelas air putih,"ungakap Fahri dalam batinnya.
Sesaat pandangan Fahri beralih pada sosok laki-laki yang tidak lain adalah sahabatnya. Calon suami dari wanita yang saat ini namanya tengah bertahta di hatinya itu.
__ADS_1
" Ka...Gue tunggu undangan pernikahan loe. Gue bener-bener berharap loe gak akan nyakitin Husna. Gue mohon sama loe, jangan pernah membuat dia menunggu terlalu lama untuk loe ngebuka hati buat dia. Selama ini, dia udah terlalu lama nunggu gue hingga akhirnya gue kehilangan dia untuk selamanya."
" Satu lagi, Gue minta tolong loe bahagiakan dia. Sebagaimana gue pernah bahagia saat gue mengukir mimpi dalam harapan untuk menjadikannya makmum disetiap sujud gue."
"Kalau loe sampai kehilangan dia karna keegoisan loe. Maka gue pastiin, loe akan menyesal dan hidup loe akan terasa sia-sia,"jelas Fahri pada sahabatnya itu.
Raka hanya mampu terdiam mendengar ucapan Fahri. Tak sepatah katapun keluar dari lisan Raka. Sementara itu, di dalam hatinya bergejolak rasa penasaran yang terasa menganggu pikirannya. Ia tak habis pikir,mengapa Fahri sangat mengistimewakan wanita itu. Padahal bagi Raka, Husna tidak memiliki keistimewaan apapun.
Rasa putus asa dan frustasi terukir jelas di raut wajah seorang Fahri. Setahu Raka, Fahri merupakan sosok laki-laki yang tidak mudah menyerah. Ia akan terus berusaha untuk bangkit dan kembali berjuang hingga ia bisa mendapatkan apa yang menjadi impiannya.
Husna tak kuasa menahan tangisnya. Dari balik cadarnya yang terurai indah itu, cairan bening terus berjatuhan tanpa mampu ia tahan. Sesekali Husna menyeka air matanya dengan telapak tangan secara bergantian.
Melihat apa yang telah terjadi, Pak Irwan bangkit dari tempat duduknya. Lalu, ia menghampiri Fahri.
__ADS_1
" Nak Fahri, mari bangun!"ucap pak Irwan sembari membantu Fahri untuk berdiri.
"Nak Fahri jangan pernah menyalahkan diri sendiri untuk apapun yang telah terjadi. Semua ini sudah tertulis di dalam lauhul mahfudz sesuai ketentuan Allah.
Bersabarlah Nak,"ucap pak Irwan sembari menepuk pelan punggung Fahri.
"Tapi, apakah saya sanggup menerima kenyataan saat ini? Saya sudah kehilangan Husna,"ungakap Fahri dengan nada penuh kegetiran.
"Nak Fahri mesti tahu,
terkadang Cinta datang hanya sekedar untuk menyapa,namun ia tak pernah berkeinginan untuk lebih mengenal.
Terkadang Cinta datang hanya sekedar untuk singgah, kemudian ia pergi meninggalkan cerita.
__ADS_1
Tapi, ada kalanya cinta datang untuk merajut asa,meraih mimpi dalam ke Istiqomahan sebuah hubungan yang tujuan akhirnya adalah jannahNya. Namun, Kenyataannya kita tidak akan pernah bisa menjalani semua itu tanpa campur tanganNya,"jelas pak Irwan pada Fahri.