Seribu Luka

Seribu Luka
26


__ADS_3

Casandra kini tengah menatap lekat ke arah laki-laki yang selama ini ia rindukan. Kini ia kembali menapakkan kakinya di Indonesia setelah enam tahun lamanya ia meninggalkan negara penuh kenangan itu.


" Hai..."sapa Casandra pada pria berkaca mata itu.


" Hai..."balas Raka.


" Mama dia siapa?"tanya Tama dengan tatapan polos.


" Tama kenalin om ini temannya mama. Sekarang Tama salim dulu ya sama omnya!" pinta Casandra pada putranya itu.


Raka dan Casandra saling menatap satu dengan lainnya.


" Jadi Om ini temennya mama ya?" tanya Tama pada Raka.


" Iya sayang, om ini temennya mama," jawab Raka sembari mengelus pelan pucuk kepala Tama.


" Tama kirain om ini papa nya Tama," ucap Tama sembari tertunduk lemas. Terlihat dengan jelas raut kecewa dari wajah polosnya.


Raka yang mendengar ucapan Tama kini terlihat berjongkok di hadapan putranya itu. Ia menggenggam erat tangan Tama. Dipeluknya tubuh mungil anak laki-laki itu. Getaran kasih sayang yang penuh dengan ketulusan seakan-akan muncul begitu saja dalam benak Raka. Naluri seorang ayah mencuat begitu saja dalam batinnya.

__ADS_1


" Sayang om ini memang papanya Tama. Jadi Tama jangan pernah sedih lagi ya nak. Mulai sekarang papa janji kalau papa gak akan pernah ninggalin Tama," ucap Raka dalam kegetiran.


" Om gak bohong kan sama Tama? Om ini beneran papa Tama kan? Ucap Tama sembari mengeratkan pelukannya pada leher Raka.


" iya sayang bener dong ngapain juga bohong," jawab Raka sembari mengangkat tubuh putranya itu dan menggendongnya.


Tama yang memang selama ini sangat merindukan sosok papanya kini bergelayut manja dalam gendongan Raka. Ia tidak menghiraukan permintaan mamanya yang sedari tadi menyuruhnya untuk turun dari tubuh Raka.


Kini ketiga insan itu berjalan kearah pintu keluar bandara. Mereka terlihat bagaikan sebuah keluarga yang bahagia.


Mobil Alpard hitam milik Raka kini tengah melaju meninggalkan bandara. Tujuan mereka saat ini adalah kesebuah apartemen yang memang sudah di persiapkan Raka untuk Casandra dan juga Tama. Selama perjalanan Casandra dan Raka tidak banyak berbicara. Mereka seperti orang asing yang baru saja saling mengenal.


" Bagaimana kabarmu? sepertinya waktu telah banyak mengubah kehidupan seorang model terkenal sepertimu? Tanya Raka memecah kecanggungan. Namun setiap kata yang diucapkan Raka penuh dengan penekanan dan nada kekecewaan pada wanita yang kini tengah berada di sampingnya itu.


" Seperti yang saat ini anda lihat tuan muda Raka Adityatama,saya cukup sehat dan apa yang anda katakan memang benar adanya. Waktu telah banyak mengubah kehidupan saya," jawab Casandra dengan nada tegas namun tetap tenang.


" Apakah kini anda bahagia dengan kehidupan yang anda jalani nona Casandra?"ucap Raka sembari mengarahkan pandangannya ke arah Casandra.


Kini dengan sekuat tenaga Casandra berusaha untuk menutupi sisi rapuhnya sebagai seorang wanita. Ia menghadapi Raka dengan sikap tenangnya.

__ADS_1


"Tentu saja,"Jawab Casandra singkat sembari melemparkan pandangan matanya ke arah luar.


" Pertanyaan bodoh tentu saja kamu bahagia dengan keputusan yang telah kamu ambil. Keputusan untuk memilih hidup bersama laki-laki lain dan meninggalkanku dalam kondisi terpuruk yang menurutmu sudah tidak berguna lagi.


Casandra terdiam ia seakan tak memiliki kemampuan untuk menampik ucapan Raka. Kenyataannya ialah yang telah meninggalkan Raka pada saat itu. Akan tetapi meskipun seperti itu kenyataan namun tetap saja hal itu ia lakukan karna ada alasan tertentu. Ia tidak ingin menambah beban untuk Raka dimasa terpuruknya. Tidak mudah baginya untuk mengatakan jika saat itu ia tengah hamil dan mengandung benih cinta mereka.


" Sepertinya seorang pengacara hebat seperti anda sekalipun nyatanya tidak memiliki kemampuan untuk membantah sebuah kesalahan yang telah dilakukannya," terang Raka dengan senyum tipis di bibirnya.


Kini pertahanan Casandra mulai merapuh. Sekuat-kuatnya ia berusaha untuk tampil tegar namun pada akhirnya ia kembali menjadi wanita yang lunak. Air mata kini membasahi pipi cantiknya.


" Raka stop.... Saya mohon hentikan ucapanmu itu. Selama ini saya sudah cukup menderita dengan semuanya," teriak Casandra dengan nada penuh keputusasaan.


Raka yang mendengar ucapan Casandra itu kini tersulut emosi. Ia lantas memukul stir mobilnya dengan sangat keras dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.


" Raka...stop...ini berbahaya,kita bisa mengalami kecelakaan," teriak Casandra."


Namun Raka tak menggubris sedikitpun ucapan Casandra. Ia terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya Tama terbangun karena mendengar teriakan sang mama.


" Papa bawa mobilnya pelan-pelan mama sama Tama takut," ucap Tama.

__ADS_1


Sontak ucapan Tama itu membuat Raka tersadar akan kesalahan yang dilakukannya. Kalau saat ini terjadi kecelakaan tentu saja yang akan jadi korban bukan hanya ia dan Casandra melainkan juga anak semata wayang yang baru beberapa jam ia jumpai setelah sekian lama tidak pernah ia lihat dan jika hal itu sampai terjadi ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Karena itu lah kemudian ia memutuskan untuk mengurangi kecepatan mobilnya. Kini ia berusaha untuk berdamai dengan perasaannya. Ia sadar sepenuhnya jika emosinya saat ini bisa saja akan berakibat fatal.


__ADS_2