Seribu Luka

Seribu Luka
009


__ADS_3

Ketika Hafiza tengah berusaha mencoba menahan deburan di hatinya akibat dari perbuatan Riko, Husna justru kini tengah berada di tengah kegalauan hati yang seolah membuat perasaannya tengah terombang ambing dalam ketidak pastian pilihan yang akan diambilnya. Sejenak Husna menghentikan langkah kakinya karna saat ini ia tengah menyaksikan sebuah adegan yang selama ini tidak pernah dilihat oleh dirinya. Bagaimana tidak, Husna yang tadinya diminta oleh umi untuk mencari adiknya itu karna tak kunjung tiba di rumah selepas dari mushola, justru kini tengah terlihat tersenyum sumeringah pada sosok pemuda yang ada di depannya. Setahu Husna adiknya itu bukanlah tipikal perempuan yang mudah dekat dengan orang lain, terlebih lagi lawan jenisnya. Bukan tanpa alasan Hafiza bersikap seperti itu. Ia memang termasuk gadis pemalu yang cukup tertutup dan jarang berbicara dengan orang lain. Selama ini, ia terlalu fokus pada pendidikan kedokteran yang kurang lebih satu tahun ini sudah dijalaninya. Selain itu, ia pun kini tengah fokus untuk menyelesaikan target Hafalan Al-Qur'annya. Jadi, tentu saja hal itu memunculkan seribu tanda tanya di benak Husna. Ada apa gerangan dengan adiknya itu?Akankah ia memiliki rasa pada laki-laki itu?


Setelah cukup lama memperhatikan kedua insan yang berdiri tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini,Husna bisa memastikan jika orang yang saat ini tengah bersama adiknya itu adalah Riko. Laki-laki yang bersedia menjadi pengganti Abangnya untuk menikahi dirinya.


Husna kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti. Ia berjalan menuju taman mini tempat adiknya dan juga Riko tengah bersama. Kini Husna telah berada tepat di samping kedua insan yang terlihat masih mengobrol santai itu. Kemudian Husna mengucapkan salam.


"Asalamualaikum,"ucap Husna dengan nada pelan.


Hafiza dan Riko yang mendengar suara seseorang tengah memberi salam terlihat menoleh bersamaan ke arah sang pemberi salam. Mereka nampak terkejut saat melihat sosok Husna tengah berdiri tepat disamping mereka.


"Waalaikumsalam,"jawab Hafiza dan Riko secara bersamaan.


Terlihat dengan jelas keakraban yang tadi sempat tercipta, kini berubah menjadi kecanggungan setelah kedatangan Husna.


"Maaf jadi mengganggu,tapi tadi umi minta tolong untuk mencari kalian, karna di rumah semua keluarga sudah menunggu," jelas Husna.


"Baiklah kalau begitu,saya balik duluan ke rumah,"pamit Riko kepada kedua perempuan itu sembari tersenyum ramah ke arah mereka. Kemudian Riko membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari taman itu.


Di taman itu kini hanya ada Husna dan Hafiza yang masih terdiam seribu bahasa. Kecanggungan antara kakak beradik itu begitu terasa. Tak lama kemudian, Husna berinisiatif terlebih dahulu memecahkan kecanggungan itu. Ia mengajak adiknya untuk duduk bersama di kursi panjang yang ada di tempat itu.


"Kak,"panggil Hafiza setelah mereka berdua duduk.


"Bagaimana keputusan kakak tentang lamaran itu?"


"Apakah kakak akan menerimanya?"

__ADS_1


"Kira-kira siapa yang akan kakak pilih?" tanya Hafiza dengan nada penuh kehati-hatian. Ia tidak ingin kakaknya tahu, jika saat ini ia tengah merasa khawatir. Bahkan lebih tepatnya ia merasa takut jika kakaknya memutuskan untuk lebih memiliki Riko untuk dijadikan suaminya.


Husna bukanlah orang yang tidak peka. Ia dengan mudah bisa menangkap nada kekhawatiran di setiap kata yang diucapkan adiknya itu. Tentu saja hal itu semakin meyakinkan Husna akan kebenaran asumsinya jika saat ini adiknya itu tengah jatuh cinta pada Riko


Namun, ia memilih untuk tidak bertanya langsung pada adiknya itu. Ia sangat mengenal adiknya. Tanpa ditanya sekalipun, adiknya dengan sendiri akan bercerita padanya tentang apa yang saat ini ia rasakan.


" Mmm, jujur dek sebenarnya kakak ingin sekali menolak lamaran itu."


"Seperti yang kita semua tahu kalau Raka sendiri menolak untuk menikah dengan kakak."


"Pernikahan ini semata-mata hanya keinginan dari orang tuanya."


"Tapi, tadi ibu Dewi sempat memohon sama kakak agar menerima lamaran dari keluarga mereka."


"kakak gak tega untuk menolaknya," jelas Husna.


"Apa kakak tidak mempertimbangkan untuk menerimanya? tanya Hafiza dengan perasaan yang tidak menentu.


" Mmm ...,"Husna pura-pura berfikir sejenak.


"Gimana ya dek?"


"Sepertinya kakak gak bisa nerima tawaran dari Riko."


"Bukan karna dia adiknya Raka, melainkan karna kakak merasa ada hati yang mesti kakak jaga."ucap Husna sambil tersenyum penuh arti kepada adiknya itu.

__ADS_1


Seketika ucapan sang kakak dibalas pelukan hangat dari Hafiza.


" Kakak Hafiza minta maaf karna Hafiza menjadi adik seegois ini."


"Seharusnya Hafiza tidak memiliki rasa ini untuk Riko," ucap Hafiza di sela-sela isak tangisnya yang kini sudah tidak bisa lagi ditahannya.


" Dek,ngapain minta maaf."


"Kamu gak salah apa-apa."


"Kamu harus tahu, Cinta itu adalah sebuah anugerah yang allah berikan."


"Kita tidak akan pernah bisa mengatur kapan cinta itu akan hadir dan kapan cinta itu akan pergi."


"Bahkan kepada siapa Cinta itu akan berlabuh."


"Semua itu sudah menjadi hak progratif Allah untuk mengaturnya."


"Percayalah bahwa Allah adalah


sebaik-baiknya pengatur."


"Allah akan menitipkan sesuatu pada tempat yang tepat."


"Kita cukup bersyukur saja," balas Husna sembari mengusap pelan punggung Hafiza.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


happy reading buat semua pembaca karya Novelku,salam sayang untuk kalian semua,jangan lupa berikan kritik dan saran kalian di kolom komentar ya,dan aouthor mohon dukungannya dengan memberikan like, vote and rate.makasih.


__ADS_2