
☆ Jangan pernah mengatakan jika kehadirannya adalah sebuah kesalahan. Karena sejatinya dia terlahir dari kesepakatan.
Andai saja kalian menghadirkan keimanan. Tentu bisikan setan tak akan pernah mempan.
Jika ada sesuatu yang ingin kalian sesalkan.
Maka sesalkanlah kehilafan yang telah kalian lakukan.
Dan cobalah untuk memulai berkomitmen pada Tuhan untuk istiqomah dalam memohon ampunan.
Yakinlah kalian tidak akan pernah sendirian.
Sebab Tuhan tidak akan pernah meninggalkan.☆
Seorang wanita singgle parent tengah duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman kota. Ia memperhatikan putra semata wayangnya yang kini berlarian kesana kemari mengejar bola sendirian. Sesekali perempuan itu menatap ke arah pengunjung lainnya. Ia merasa iri saat melihat anak lainnya bermain ditemani ayah mereka. Sementara putranya harus menjalani hidup tanpa kehadiran sang papa.
Tama merupakan anak laki-laki yang dikenal pendiam. Setiap hari ia akan selalu melewati waktunya dalam kesendirian dan kesedihan. Ia selalu murung di sekolah. Terlebih ketika teman-teman membullynya dengan mengatakan jika ia tidak memiliki papa seperti yang lain. Ada juga yang mengatakan jika papanya tidak menyayangi dirinya. Dan masih banyak lagi kata-kata menyakitkan yang setiap hari harus ia terima. Meskipun Tama sudah berusaha untuk membela diri dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan teman-temannya itu salah. Namun tetap saja pada akhirnya ia akan membawa pulang air mata dan luka dihatinya.
Tidak jarang Tama menanyakan pada sang mama tentang papanya. Namun, lagi-lagi sang mama tidak pernah memberikan jawaban sesuai dengan apa yang diinginkannya. Mamanya selalu berusaha untuk tidak membicarakan hal-hal yang menyangkut tentang papanya.
"Mama...mama...Tama hebat ma," teriak Tama. Anak kecil itu saat ini tengah tertawa bahagia karena ia berhasil menendang bola ke bawah kolong kursi yang saat ini diduduki sang mama. Ia melompat sembari berputar-putar dengan tangan yang diangkatnya. Anak itu seolah merasa jika saat ini ia telah menjadi anak terhebat. Sang mama pun melemparkan senyuman ke arah putranya itu. Tak lupa ia mengangkat kedua jempol tangannya.
"Anak mama memang hebat sayang," teriak wanita itu. Ia kemudian merenggangkan kedua tangannya dan mendekap erat putranya itu dalam pelukan.
"Mama, Tama ingin papa juga bisa melihat kalau Tama sekarang sudah pintar dan hebat. Mama selalu janji ke Tama,kalau Tama sudah jadi anak pintar dan hebat nanti papa akan jemput mama sama Tama,"ucap anak itu dengan polos.
Kini ucapan putranya itu seakan menjadi belati yang tengah menggoreskan luka di hatinya. Ia seakan teringat kembali pada sosok laki-laki yang telah ia tinggalkan. Laki-laki yang selalu berusaha untuk ia lupakan. Laki-laki yang paling ingin ia hapus dari memori otaknya. Tapi kenyataannya, saat ini hatinya justru menolak untuk menghapuskan nama dari laki-laki itu.
__ADS_1
" Tama, kehadiranmu adalah sebuah kesalahan yang tidak akan pernah mama sesalkan. Karna melalui mata,hidung,dan bibirmu itu nak mama bisa melihat sosok papamu," batin Casandra."
****
Sementara disisi lain, Raka Adityatama justru kini tengah menikmati
masa-masa penjajakannya dengan Husna. Pernikahan mereka yang baru saja genap berusia satu bulan itu kini
seakan-akan tengah memberikannya kehidupan yang baru. Segala sesuatu yang telah terjadi di antara mereka mampu mengembalikan dirinya menjadi Raka yang dahulu. Yakni Raka yang mempunyai rasa simpati dan empati terhadap orang lain.
Jika ditanyakan apakah ia sudah mulai mencintai istrinya? Maka jawabannya rasa itu mungkin belum ada. Karena Raka bukanlah tipikal laki-laki yang mudah untuk jatuh cinta. Namun kehadiran Husna seakan menimbulkan sebuah rasa yang berbeda di hatinya. Mungkin lebih tepatnya rasa itu seperti rasa mengagumi. Ia kagum akan kepribadian yang dimiliki wanita itu. Bagi Raka, Husna itu seperti bundanya. Ia begitu sabar saat harus menghadapi jiwa temperamental yang ada dalam dirinya.
Bahkan sampai saat ini, Raka belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Ia berusaha untuk menghormati Husna sebagai wanita yang saat ini menjadi istrinya. Ia ingin ketika nanti hati dan perasaannya sudah siap menerima Husna sepenuhnya, barulah ia akan memberikan nafkah batin untuk istrinya itu. Sepenuhnya Raka menyadari jika nafkah batin itu merupakan hak dari istrinya yang harus ia penuhi. Karena itu, Raka berjanji pada dirinya sendiri. Ia pasti akan melakukan hal itu dengan Husna ketika mereka benar-benar sudah siap untuk berkomitmen membangun rumah tangga murni karena Lillahi Ta'ala. Dan tidak ada lagi keterpaksaan di antara mereka seperti saat awal pernikahan.
"Tok..tok..Raka, ini Bunda nak,"panggil ibu Dewi dari luar kamar.
Raka yang saat itu baru saja selesai mandi. Kini melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Ceklek.
" Kenapa bun?" tanya Raka setelah mendapati bundanya yang tengah berdiri menunggu dibukakan pintu.
"Gak ka, Bunda cuma mau ngasih tau kalau ayah, Riko, dan istrimu sudah nunggu di ruang makan,"jelas ibu Dewi.
" Ooo, iya bun. Maaf jadi buat kalian nunggu. Tadi Raka baru saja selesai mandi," Ucap Raka.
Setelah menutup pintu kamarnya. Raka bergegas berpakaian kemudian menyusul bundanya ke ruang makan. Husna terlihat begitu sibuk menyiapkan makanan. Meskipun di rumah itu ada asisten rumah tangga. Namun, Husna tidak lantas duduk santai tanpa melakukan apapun. Ia justru meminta Mbok Inah untuk istirahat.Selanjutnya dia sendiri yang mengambil alih tugas Mbok Inah.
__ADS_1
Sementara Riko sedari tadi terus menerus memperhatikan Husna. Ia semakin kagum dengan kakak iparnya itu.
" Husna, loe memang wanita yang istimewa. Loe itu sholehah,pintar,rajin, dan mandiri pula. Ditambah lagi loe itu jago banget masaknya. Gue bener-bener menginginkan istri seperti loe," ucap Riko dalam batin.
Raka yang memperhatikan kelakuan adiknya itu merasa kesal. Dia memang tidak suka jika ada orang lain yang menginginkan sesuatu hal yang sudah menjadi miliknya. Dan saat ini menurut Raka, Husna adalah miliknya. Jadi, ia tidak suka jika adiknya itu memperhatikan Husna dengan cara seperti itu.
Jiwa usil Raka kini muncul. Ia yang tidak terima dengan kelakuan adiknya itu. Ia mencoba untuk menangkap kecoa yang baru saja ia lihat. Ia kemudian mengambil sebuah kotak jam tangan lalu dimasukkan kecoa itu kedalam kotak. Selanjutnya, ia membawa binatang menjijikkan itu ke ruang makan. Kini ia berdiri di belakang kursi yang diduduki Riko. Sementara Riko tidak menyadari kedatangan sang kakak. Raka menarik-narik lengan baju adiknya itu. Riko yang merasa aktivitas memandangnya kini tengah diganggu mencoba untuk membalikkan tubuhnya dengan perasaan kesal. Ia melihat abangnya tengah berdiri di belakang kursinya.
" Ada apa sih loe bang? Narik-narik baju gue," tanya Riko.
"Gak ada. Gue cuma mau ngasih loe sesuatu. Tapi kalau loe gak mau juga gak papa,"jawab Raka.
" Loe kalau mau ngasih sesuatu itu harus ikhlas dong bang. Kalau memang niat ngasih ya kasih aja," ketus Riko.
" Gue ikhlas kok," balas Raka yang kemudian memberikan kotak berwarna gelap itu.
Riko yang saat itu berpikir jika abangnya itu tengah memberikannya jam tangan mewah. Mencoba membuka kotak itu dengan perasaan tidak sabar.
" Aaaaaaaa....abang sialan loe," teriak Riko. Riko yang merasa jijik dan geli karna kecoa itu kini berada di tangannya. Ia mencoba untuk menepis binatang itu. saat ini ia benar-benar kesal dengan kelakuan abangnya itu.
Sementara itu, Raka hanya tersenyum melihat kekesalan adiknya itu. Ia tidak merasa bersalah sama sekali dengan apa yang sudah dilakukannya. Ia kemudian menarik salah satu kursi dan duduk. Ia tak menghiraukan umpatan-umpatan adiknya itu.
Sementara pak Aditya dan Ibu Dewi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku kedua putranya itu.
"Dasar anak-anak bandel. Udah tua kelakuan masih aja kayak anak kecil. Yang satu udah nikah, tapi masih seperti anak Tk. Yang satunya lagi udah perjaka akut, tapi kelakuan gak ada bedanya sama anak Paud(Pendidikan anak usia dini). Kalian bener-bener buat ayah pusing," ucap pak Aditya.
Sementara itu, Husna memilih untuk melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti karna memperhatikan tingkah konyol suami dan adik iparnya itu. Ia beranjak ke dapur untuk mengambil lauk yang masih belum dihidangkan.
__ADS_1