
Allahhuakbar...Allahhuakbar
Allahhuakbar. ...Allahhuakbar
Ashaduallailahaillallah...
Terdengar suara azan tengah berkumandang di mushola pondok pesantren menandakan tibanya waktu salat isya.
" Alhamdulillah ... Sudah azan,mari kita salat isya berjamaah di mushola terlebih dahulu! Soal pembicaraan kita yang belum terselesaikan, insyaAllah akan kita lanjutkan sepulang dari mushola,"ucap pak Irwan dengan tersenyum.
Pak Irwan yang sedari tadi mendengar dengan jelas setiap hinaan yang dilontarkan oleh Raka pada putrinya, tidak menujukan kekecewaan atau kemarahan sedikitpun pada Raka. Ia justru dengan sangat bijaksana merangkul serta memberikan tepukan pelan pada pundak anak muda itu. Kemudian ia mengajaknya berjalan berdampingan menuju Mushola. Sementara itu, umi dan Hafiza terlihat bersiap-siap untuk menyusul berangkat ke mushola.
__ADS_1
Kini di ruang tamu hanya ada Husna dan ibu Dewi. Tak lama kemudian umi dan Hafiza terlihat turun dari lantai atas. Husna tanpa sengaja menatap wajah adiknya. Ia merasa curiga ketika mendapati mata Hafiza terlihat sembab seperti orang yang baru habis menangis. Hafiza yang menyadari jika sedang diperhatikan oleh Husna. Ia mencoba untuk mengalihkan pandangannya ke arah ibu Dewi. Ia menganggukkan kepala dan tersenyum sebagai sebuah isyarat jika ia ingin berpamitan.
"Maaf bu Dewi, saya dan Hafiza pamit sebentar mau ke mushola. Husna, umi minta tolong temenin ibu Dewi ya nak!" ucap umi sambil tersenyum dan menundukkan sedikit kepalanya ke arah ibu Dewi.
" Ya bu Fatimah silahkan, biar saya dan Husna menunggu di rumah," jawab ibu Dewi sembari melemparkan senyuman kearah umi dan Hafiza.
Rasa canggung dan kaku menyelimuti ruang tamu. Husna dan bu Dewi terlihat hanya terdiam. Mereka seolah saling menunggu siapa yang akan memulai pembicaraan. Suasana hening sangat terasa. Ibu Dewi tertunduk beberapa saat. Lalu ia terlihat tengah menyeka lembut pipinya menggunakan jari-jari tangannya. Suara isak tangis terdengar sangat pilu. Husna yang tadinya hanya terdiam, kini mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada wanita paruh baya itu. Awalnya, ia sedikit ragu untuk memulai pembicaraan. Ketika ia menyadari bu Dewi tengah menangis, Husna tidak tahan untuk tidak bertanya apa gerangan yang menyebabkan tamunya itu menangis.
" Maaf bu, kalau Husna boleh tahu, ibu kenapa menangis? "tanya Husna dengan nada lembut.
Ibu Dewi tidak lantas langsung menjawab pertanyaan dari Husna. Ia mengangkat wajahnya yang tadi sempat tertunduk. Kemudian ia memutar sedikit tubuhnya menghadap Husna. Lalu ia memeluk Husna dengan erat. Husna mencoba membalas pelukan ibu Dewi. Digerakkan tangannya naik- turun pada punggung wanita itu. Cukup lama mereka berpelukan. Tak lama kemudian, ibu Dewi melepaskan pelukannya dan mencoba untuk memundurkan sedikit tubuhnya. Ia menatap lekat kearah mata Husna. Tangannya mencoba untuk meraih tangan Husna. Ia sedikit memberikan sentuhan lembut pada tangan wanita yang ingin dijadikan menantunya itu.
__ADS_1
Sebelum mulai berbicara, Ibu Dewi terlihat menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya pelan. Sesaat ia terlihat terdiam. Setelah itu ia mencoba untuk memulai pembicaraan.
" Husna, saat ini harapan satu-satunya yang bisa bantu tante buat ngubah semua sikap dan sifat Raka itu cuma kamu nak. Tante berharap kamu mau menerima lamaran kami ini. Sebenarnya Raka bukanlah pemuda yang angkuh seperti saat ini. Bahkan dulu, ia adalah anak yang sangat baik,ramah, dan penyabar. Namun, semenjak ia mengetahui perselingkuhan kekasihnya dengan adik angkatnya, ia benar-benar merasa terpukul dan kecewa. Hal itulah yang membuat perubahan sikap dan sifatnya. Ia seolah tak lagi mempercayai orang lain. Ia tak mampu mengontrol emosinya."
"Tante takut Husna. Tante tidak mengenali lagi anak tante itu. Tante kehilangan Raka, nak. Saat ini, Tante merasa hanya memiliki seorang monster yang mengerikan berwujud Raka. Tante bingung dan sudah tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan Raka seperti dulu lagi."
"Jujur sayang, Tante sebenarnya juga berat untuk menjodohkan kalian. Karna hal itu sama saja dengan Tante akan menyeret kamu ke neraka, yang tante sendiri tidak tahu seberapa kedalamannya. Namun, hati seorang ibu memaksakan Tante untuk terus berusaha mencari jalan keluar, agar anak Tante bisa kembali menjadi manusia yang memiliki rasa simpati dan empati kepada orang lain. Tante melihat kamu mampu menghadapi Raka dengan sikap yang sangat tenang. Tante mohon nak, terimalah lamaran kami ini! Bersedialah untuk menikah dengan Raka! Buatlah ia kembali seperti dulu!" pinta ibu Dewi dengan berderai air mata.
Sesaat Husna merasakan sakit di dadanya. Ia benar-benar tidak menyangka, wanita yang di depannya saat ini terlihat begitu trauma dan takut pada anaknya sendiri. Namun, disisi lain, ia sendiri mulai ragu. Akankah ia sanggup untuk hidup bersama Raka? Apakah ia mampu mengubah kembali Raka menjadi Raka yang sebelumnya?
" Ya Allah, hamba harus bagaimana ini?Haruskah hamba menerima perjodohan ini? Tapi, rasanya begitu berat ya Allah. Namun, jika hambamu ini menolak, lalu bagaimana dengan orang tua yang ada di depan hamba ini? Rasanya hati ini tak tega untuk menolak permintaannya,"ucap Husna dalam batin.
__ADS_1