Seribu Luka

Seribu Luka
004


__ADS_3

"Kak tamunya udah nungguin di bawah. umi minta kakak buat turun dan nemuin mereka sekarang!"ucap Hafiza setelah berada di kamar kakaknya itu.


" Iya dek, kamu duluan aja ya. Nanti kakak nyusul," pinta Husna pada adiknya.


"Iya kak. Tapi, janji nyusul ya kak!"


"Jangan berpikir buat kabur dari jendela lho, " goda Hafiza yang melihat kakaknya ragu untuk bertemu dengan keluarga Raka.


"Bisa gak dek, kakak kaburnya jangan lewat jendela,tapi lewat pintu aja," ucap Husna menjawab godaan adiknya.


" Itu mah gampang banget kak. tinggal kakak VC aja om emon terus pinjem deh tu pintu ajaibnya."

__ADS_1


"Barangkali di kantongnya masih ada stok pintu cadangan, buat bantuin kakak kabur,"ucap Hafiza sambil tertawa.


"Udah ah,kamu itu bisanya cuma godain kak aja."


"Gak tau apa, kakaknya lagi bingung gini,"ucap Husna menanggapi pernyataan adiknya itu.


"Lagian kakak itu, ngapain bingung cobak."


"Hafiza jamin, pasti semua kebutuhan kakak akan terpenuhi kalau kakak menerima lamaran kak Raka," jelas Hafiza pada kakaknya.


" Dek kamu benar, kebutuhan duniawi kakak gak perlu diragukan lagi. Pasti Raka dan keluarganya mampu memenuhi segalanya."

__ADS_1


"Namun, apa kamu juga bisa memastikan,jika Raka mampu memenuhi kebutuhan akhirat kakak? " Hana mencoba membalikkan pertanyaan.


Hafiza seolah kehilangan kemampuan berbicaranya. Pertanyaan Husna sukses menutup perbendaharaan kata yang ada di kamus lisan Hafiza. Kini adiknya itu hanya mampu menggelengkan kepala sebagai jawaban terakhir sebelum akhirnya ia memilih untuk pamit dan keluar dari kamar kakaknya.


Sejenak Husna menatap lekat dirinya dari pantulan cermin. Ia mencoba tersenyum manis di balik cadar hitam yang menutupi wajahnya. Husna mencoba membekap erat dadanya. Seolah ia ingin mencarger keberaniannya untuk kembali bertemu dengan Raka.


Setelah beberapa waktu menatap dirinya di cermin, Husna melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Tak lupa ia menutup rapat pintu kamarnya.


Ketika langkah kakinya telah menapaki beberapa anak tangga, terlihat Tante Dewi,om Aditya,Raka, dan Riko menoleh ke arah Husna secara bersamaan. Mereka menunjukkan reaksi yang berbeda. Ketika om Aditya dan tante Dewi kompak tersenyum lebar kearah calon menantu idamannya itu,Raka justru menunjukkan reaksi sebaliknya. Tatapan Raka mengisyaratkan jika dirinya dengan tegas membenci wanita itu. Bagaimana tidak, ia hanya menatap Husna sepintas lalu membuang mukanya kearah lain. Seolah ia enggan untuk berlama-lama menatap Husna. Baginya penampilan yang ditunjukkan Husna tidak lebih dari kepalsuan semata.


Di sisi lain, ketika Raka memberikan tatapan kebencian pada wanita itu, Riko terlihat memberikan tatapan kekaguman pada wanita yang memilih menutup aurat nya itu dengan sempurna. Bagi Riko wanita ini berbeda. Ada sesuatu yang istimewa yang dimilikinya. Entahlah ... tanpa alasan yang cukup jelas getaran-getaran kecil seolah muncul dengan sendirinya di tempat yang selama ini tidak pernah bisa terjamah oleh orang lain. Bahkan tak bisa dipungkiri di luar sana begitu banyak wanita yang pernah mencoba untuk masuk mengisi titik terlemah dari dirinya dengan berbagai cara. Tak sedikit yang mati-matian menggoda dengan menyerahkan diri seutuhnya pada Riko. Namun, justru Riko terkesan membenci wanita yang seperti itu. Bagi Riko Cinta tidak akan pernah tumbuh di tempat yang salah. Ia dengan sendirinya akan mencari tempat ternyamannya untuk bertunas. Yang dibutuhkan cinta hanyalah kesediaan sang pemilik untuk terus menyiram dan memberikan pupuk melalui ikhtiarnya. Sehingga cinta itu tumbuh dan berbunga dan memberikan kebahagiaan bagi mereka yang berhasil merawatnya.

__ADS_1


__ADS_2