
Akhirnya rangkaian acara pernikahan telah selesai dilangsungkan. Husna dan Raka kini berada di dalam kamar yang sama. Mereka benar-benar merasa canggung dengan situasi saat ini. Raka kemudian memilih untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sedikit lengket karna keringat. Ia melangkah ke kamar mandi meninggalkan Husna yang masih terduduk di tepi ranjangnya. Dari balik cadarnya Husna menatap ke arah laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya itu. Dalam hati Husna berjanji pada dirinya jika ia akan berusaha untuk menjadi istri yang berbakti pada suaminya. Menjalani segala tanggung jawabnya sebagai seorang istri Karena dengan begitu Husna berharap bisa memperoleh rido dari suaminya yang akan mengantarkannya menuju jannahnya Allah.
Kreeekkkk.... ( Suara pintu kamar mandi terbuka.)
Sesaat Husna merasakan jika jantungnya kini berdegup tak beraturan. Perasaan tak menentu menyelimuti setiap ruang dalam jiwanya. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan bersama laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.
" Ya Allah apa yang harus aku lakukan. Malam ini adalah malam pertama bagiku dan Raka. Apakah mungkin semuanya akan terjadi malam ini ?" tanya Husna dalam batinnya.
Raka masih dengan sikap dinginnya. Ia seakan enggan untuk memulai pembicaraan dengan istrinya itu. Sepenuhnya Raka menyadari jika malam ini seharusnya akan menjadi malam terindah baginya. Bagaimana tidak,setiap pasangan pengantin baru pastinya menunggu saat-saat seperti ini. Saat dimana mereka akan menyatukan cinta dengan pasangan halalnya dalam balutan rido Sang Ilahi.
Namun, hal serupa tidak dirasakan Raka dan Husna. Pernikahan mereka tidak dilandasi dengan rasa cinta,melainkan karna perjodohan yang tidak pernah mereka rencanakan.
__ADS_1
Raka memilih untuk tidur lebih dulu tanpa berbicara sepatah katapun pada Husna. Ia berpura-pura memejamkan matanya. kemudian ia memilih untuk tidur dengan posisi membelakangi Husna.
Husna memahami situasi yang saat ini terjadi antara dirinya dengan Raka. Mereka hanya membutuhkan waktu untuk memulai hubungan ini.
Husna menarik selimut untuk menutupi tubuh Raka. Selanjutnya ia membuka jilbab dan juga cadarnya lalu berbaring di samping suaminya. Kini bisa terlihat dengan jelas kecantikan dari wanita itu. Dengan pipi cabi berwarna kemerahan,hidung mancung,kulit putih berseri,mata besar seakan menunjukkan betapa sempurnanya makhluk ciptaan Allah itu.
Raka bukan laki-laki yang tak berperasaan. Jujur diakuinya jika ia merasa tersentuh kala istrinya itu menyelimuti tubuhnya. Namun hingga saat ini, Raka seakan belum siap untuk menerima wanita manapun untuk menjamah hatinya. Pengkhianatan yang pernah dialaminya menjadikan Raka sangat membenci wanita. Ia seakan trauma kala harus menjalin sebuah hubungan dengan makhluk Tuhan yang paling istimewa itu(wanita).
Husna dan Raka tertidur begitu lelap. Mereka benar-benar merasa lelah, setelah menjalani berbagai rangkaian acara pernikahan. Posisi tidur yang tadinya saling membelakangi kini seakan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi posisi saling berhadapan. Suara deringan telfon genggamnya membangunkan dirinya dari tidur lelapnya. Diambilnya benda kecil tersebut kemudian dilihatnya tulisan panggilan tak terjawab dari rekan kerjanya. Lalu Raka beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon yang berada persis di depan kamarnya. Di sana ia mencoba menghubungi kembali rekan bisnisnya tersebut.
setelah selesai menghubungi rekan bisnisnya, Raka kembali ke dalam kamarnya. ketika ia hendak berbaring pandangannya tergoda pada sosok wanita yang ada di dekatnya itu.
__ADS_1
" Ya Allah apakah dia wanita bercadar itu?"gumam Raka dalam batinnya.
Ia seakan-akan tak percaya jika wanita yang begitu dibencinya saat ini telah sukses membuat jantungnya berdegup tak menentu.
Pandangan Raka terus tertuju pada wanita itu. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Raka terpesona dengan kecantikan istrinya itu. Ia tidak pernah menyangka kalau wanita yang dulu pernah ia hina ini memiliki paras yang sangat cantik. Rambut panjang berwarna hitam, hidung mancung dan bibir tipis menghiasi wajah wanita itu. Kulit putih, alis agak tebal, dan bulu mata lentik menambah pancaran pesona wanita itu. Raka benar-benar tercengang melihat kecantikan istrinya itu.
Raka berusaha mengalihkan pandangannya. Namun usahanya itu hanya sia-sia saja. Matanya seolah terus memerintahkan Raka untuk tidak melepaskan pandangannya dari wanita yang ada di depannya itu. Semakin Raka berusaha mengalihkan pandangannya, semakin kuat hasratnya untuk terus memandangi wanita yang menjadi istrinya itu. Raka mencoba memejamkan matanya. Namun pikiran dan perasaannya terus memaksanya untuk membuka kembali matanya.
Mungkinkah Raka telah jatuh hati pada sosok Husna?
Entahlah...biarkan waktu yang akan menjawab akan seperti apa hubungan mereka selanjutnya?
__ADS_1