
☆ Kuakui aku telah jatuh hati. Bahkan mungkin lebih tepatnya aku sudah mencintai Pada sosok yang kuharap bisa mengimami.Namun tak ingin kujalani sebuah hubungan yang tidak Allah ridoi. Karna itu lah aku memilih untuk menanti. Hingga tiba saatnya Allah akan merestui hubungan ini akan terikat melalui janji suci.☆
Kini langkah Mutia terhenti tepat di ruang tamu. Pandangan Mutia tertuju pada sosok laki-laki yang akan dijodohkan dengan dirinya. Untuk beberapa saat Mutia begitu tertegun memperhatikan pemuda itu. Kini ia menyadari jika laki-laki itu adalah pemuda yang selama ini ia sebut di dalam doanya. Dapat dirasakan jantungnya kini berdetak lebih cepat dari biasanya. Tak henti-hentinya Mutia mengucap rasa syukur karena Allah telah mengabulkan doanya. Ia dan Fahri memang pernah bertemu sebelumnya.
Flasback.
Pertemuan itu terjadi saat mereka sama-sama tengah menempuh pendidikan di Mesir. Kala itu Mutia dan beberapa sahabatnya pergi untuk membeli beberapa kitab. Kemudian setelah mendapatkan semua kitab yang dicarinya Mutia bermaksud kembali ke asramanya. Namun saat ia tengah menunggu taxi. Tiba-tiba ada sekelompok perampok yang mengambil tasnya. Mutia kehilangan semua uangnya. Fahri yang saat itu berada tidak jauh dari Mutia mendengar teriakan seseorang yang meminta tolong. Fahri kemudian menghampiri Mutia dan sahabatnya itu. Ia lantas menanyakan apa yang terjadi.
" Maaf ada apa mbak?" tanya Fahri dengan nafas tersengal-sengal karna ia baru saja berlari.
" Itu mas, saya barusan dirampok,tas dan semua uang saya hilang diambil sama mereka," jelas Mutia dengan suara panik. Saat ini ia benar-benar merasa kaget dan masih ketakutan karna peristiwa yang baru saja dialaminya.
"Kalau begitu mari mbak ikut saya. Kita naik taxi saja biar nanti saya yang bayar," ucap Fahri. Ia benar-benar tulus berniat untuk membantu Mutia dan teman-temannya.
"Mas terimakasih atas bantuannya," balas Mutia. Kini ia dan para sahabatnya masuk ke dalam taxi.
Tidak ada pembicaraan antara Mutia dan Fahri di sepanjang perjalanan. Namun diam-diam Mutia menaruh kekaguman pada sosok laki-laki sederhana yang baru saja menawarkan bantuan padanya dan teman-temannya itu.
Setelah melewati perjalanan yang cukup lama akhirnya taxi yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat di pinggir jalan dekat asrama khusus mahasiswi.
Fahri, Mutia, dan para sahabatnya turun dari taxi.
"Mas, terimakasih atas bantuannya," ucap Mutia.
" Ia sama-sama mbak," balas Fahri dengan menyertakan senyum termanisnya.
Fahri yang tadinya sudah akan masuk ke dalam taxi. Tiba-tiba menghentikan langkahnya. Karena saat ini ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Mas namanya siapa?" tanya Mutia setengah berteriak. Mutia berharap Fahri mendengar teriakannya. Dikarenakan suara kendaraan yang berlalu-lalang terdengar begitu bising dan bisa saja suaranya tidak terdengar oleh pemuda itu.
"Baehaqi" jawab Fahri singkat. Ia lantas masuk ke dalam taxi. Selanjutnya taxi itupun berlalu meninggalkan para mahasiswi itu.
Flasback off.
__ADS_1
Semenjak pertemuan itu, Mutia terus menerus memikirkan pemuda tampan itu. Dengan bermodalkan nama dari pemuda itu, Mutia terus berdoa di setiap sujudnya agar Allah mempertemukan mereka kembali. Namun hingga masa kuliahnya berakhir Allah tidak mempertemukan mereka.
Setelah berada di Indonesia. Mutia beberapa kali mendapatkan lamaran dari para pemuda soleh yang ingin mempersuntingnya. Namun karena hatinya sudah terisi oleh pemuda yang bernama Baehaqi, ia sering menolak para pemuda yang melamarnya dengan berbagai alasan. Meskipun penolakan dilakukannya dengan cara yang baik namun ada beberapa pemuda yang sedikit kecewa karena lamaran mereka tidak diterima.
Karna itulah saat ini Mutia
benar-benar merasa bersyukur. Akhirnya Allah menjawab setiap doanya. Dia benar-benar dipertemukan dengan laki-laki yang selama ini dalam diamnya ia sebut disetiap sujudnya.
Mereka tidak hanya dipertemukan. Melainkan Allah juga akhirnya akan mempersatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan. Perjodohan yang disepakati oleh abinya dengan orang tua Baehaqi merupakan jembatan penghubung antara doa yang dipanjatkan Mutia dengan proses pengabulannya.
Setelah berdamai dengan perasaan yang terus bergejolak di hatinya. Mutia kini mengucapkan salam pada tamunya itu.
" Assalamualaikum. Maaf sudah membuat menunggu,"ucap Mutia sembari menunduk dan mengatupkan kedua tangannya memberi salam pada Fahri dan abinya Fahri. Ia pun tidak lupa memperlihatkan senyum termanisnya.
" Waalaikumsalam,"jawab Fahri dan abinya bersamaan.
" Subhanallah. Cantik sekali calon mantu Ummi,"ucap Ummi Fahri sembari menjabat tangan Mutia. Beliau kemudian memeluk gadis cantik dan solehah yang berada di depannya itu.
Mutia hanya bisa tersenyum mendengar ucapan umminya Fahri. Ia lantas mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dan membalas pelukannya.
" Mas Baehaqi," ucap Mutia.
Umi dan abinya Fahri mentap ke arah Mutia. Begitupun dengan kedua orang tuanya.
"Kenapa Baehaqi nak?" Pemuda ini namanya Fahri. Jawab abinya ketika beliau mendengar putrinya memanggil Fahri dengan sebutan Baehaqi.
"Maaf Kiyai, Baehaqi itu memang nama anak kami. Jadi nama lengkap Fahri itu adalah Muhammad Fahri al baehaqi. Jawab abinya Fahri.
Kini pandangan mereka kembali tertuju pada Mutia.
" Jadi Mutia sudah mengenal Fahri sebelumnya?tanya ummi Nani.
" Iya Ummi," jawab Mutia.
__ADS_1
Mutia yang kini sudah terduduk di kursinya menceritakan pertemuannya dengan Fahri saat di Mesir dulu.
" Abi, Ummi, Mutia memang pernah bertemu dengan mas Fahri saat kuliah di Kairo. Pertemuan yang tidak disengaja. Namun saat Mutia menanyakan namanya, Mas Fahri menjawab kalau nama beliau adalah Baehaqi dan bukan Fahri," Jelas Mutia.
Kini para orang tua itu merasa senang setelah mengetahui jika kedua insan itu sebelumnya pernah bertemu.
Abinya Fahripun mengutarakan niatnya pada Mutia untuk melamarnya menjadi istri Fahri.
"Jadi begini nak Mutia. Abi, Ummi, dan Fahri kesini dengan membawa niat untuk melamar nak Mutia untuk dijadikan istri dari anak kami Fahri. Kira-kira bagaimana dengan nak Mutia? Apakah kiranya nak Mutia mau menerima lamaran dari kami? tanya abinya Fahri.
Mutia menoleh kepada orang tuanya. Ia seakan meminta izin untuk memberikan jawaban dari lamaran yang saat ini ditujukan untuk dirinya.
Abinya yang mengerti arti dari tatapan putrinya itu hanya mengangguk pelan sebagai sebuah isyarat yang menandakan jika dirinya telah mengizinkan putrinya itu untuk menjawab perihal lamaran itu.
" Bismillahirahmanirrahim. Dengan niat yang ikhlas untuk membangun sebuah keluarga sakinah,mawaddah, dan warrohmah. InsyaAllah saya menerima lamaran dari mas Fahri," jawab Mutia dengan suara pelan.
" Alhamdulillah. Ucap para orang tua mereka secara bersamaan. Kini orangtua dari kedua belah pihak merasa sangat bahagia mendengar jawaban dari Mutia."
"Nak Mutia, Abi sangat senang karena nak Mutia bersedia menerima lamaran dari kami. Untuk itu Abi dan keluarga ingin bertanya perihal mahar yang nak Mutia inginkan. InsyaAllah kami akan mempersiapkan maharnya itu," jelas abinya Fahri.
" Dek, silahkan beritahu kami mahar apa yang adek inginkan? Karna sesungguhnya mahar itu adalah haknya adek," ucap Fahri.
Sebelum menjawab pertanyaan calon suaminya itu. Mutia terlihat menarik nafas kemudian mengeluarkannya dengan pelan.
"Mas Fahri, sesuai hadist Rasulullah saw dari Aisyah. Beliau pernah bersabda: "Sesungguhnya perkawinan yang besar barakahnya adalah yang paling mudah maharnya." Dan sabdanya pula." Perempuan yang baik hati adalah yang paling murah maharnya. Memudahkan dalam urusan perkawinannya serta baik akhlaknya sedangkan perempuan yang celaka yaitu yang mahal maharnya. Sulit perkawinannya dan buruk akhlaknya."
" Mas Fahri sesuai hadits itu, Mutia ingin meminta mahar yang paling murah untuk pernikahan kita nanti. InsyaAllah yang akan mempermudah dan meringankan mas Fahri dan keluarga disaat mempersiapkannya nanti," ucap Mutia sembari tertunduk.
" Subhanallah. Ya Allah betapa mulia hati dari wanita yang saat ini telah engkau takdirkan untuk hambamu ini. Maafkan hambamu ini ya Allah yang mungkin sempat mengeluh karena kehilangan wanita yang hamba cintai," gumam Fahri dalam batinnya.
***Jika Allah mengambil darimu sesuatu yang tidak pernah engkau sangka kehilangannya,maka Allah akan memberimu sesuatu yang tidak pernah engkau sangka akan memilikinya."
( Prof. Dr. Mutawalli Assya'rawi)
__ADS_1
Kita akan mengutip sedikit kisah tentang hikmah dari sebuah doa dan kesabaran. Kisah ini dari Ummu Salamah dimana ketika suaminya wafat. Beliau mengucapkan Istirja'. Yang artinya." Sesungguhnya kami ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah berikan pahala atas musibah dan berikan ganti yang lebih baik. Lalu Allah ganti dengan suami yang lebih baik yaitu Muhammad saw***."
☆ Assalamualaikum...Putri doakan Semoga semuanya sehat ya..dan tentunya masih setia dong membaca karya putri. Jangan lupa berikan komentar dan dukungannya ya. Semoga cerita sederhana ini memberikan manfaat untuk kita semua. Mohon maaf jika masih terdapat banyak kekeliruan di dalam ceritanya.☆