Seribu Luka

Seribu Luka
18


__ADS_3

~ Jika pada akhirnya kamu tidak dipersatukan dengan seseorang yang selalu kamu sebut dalam setiap sujud dan doamu, maka janganlah bersedih hati. Mungkin semua itu karna Allah ingin mempersatukanmu dengan orang lain. Yang dalam diamnya justru jauh lebih sering menyebut namamu dalam setiap sujud dan doanya. Allahualambissawab.~


Kehilangan akan Husna seakan masih menyisakan luka bagi Fahri. Namun ia tidak ingin mengecewakan abi dan umminya yang ingin segera melihatnya menikah. Karna itu, akhirnya ia memutuskan untuk menerima perjodohan yang disarankan kedua orang tuanya.


Setelah bersiap-siap, Fahri dan kedua orang tuanya berangkat menuju kediaman Kiayi Maimun. Fahri terlihat begitu tampan dalam balutan kemeja berwarna babyblue dengan bordiran putih di bagian dada serta pants warna cream. Ketampanan dari pria berdarah Tionghoa ini benar-benar menarik perhatian kaum hawa yang melihatnya.


Setelah memakan waktu sekitar satu jam. Akhirnya mobil Fahri kini sudah tiba di kediaman Kiayi Maimun. Fahri dapat melihat dengan jelas sebuah bangunan sederhana yang ditata rapi dan sangat bersih memberikan kesan nyamanan saat pertama kali datang ke tempat itu.


" Tok...tok...Assalamualaikum,"ucap abbinya Fahri memberikan salam ketika sudah berada di depan pintu rumah Kiyai Maimun.


" Waalaikumsalam..." jawab sang pemilik rumah dari dalam. Kiyai Maimun memang sudah menunggu kedatangan tamunya itu sedari tadi.


Ceklek...suara pintu terbuka.


" Alhamdulillah...ayo..ayo...silahkan masuk," ucap Kiayi Maimun sembari bergantian menjabat tangan Fahri dan abinya.

__ADS_1


Kini di ruang tamu sudah terlihat istri dari Kiyai Maimun yakni Ummi Nani. Beliau adalah seorang penulis yang luar biasa. Karya-karya beliau sudah cukup dikenal luas. Ummi Nani selalu berusaha untuk membangkitkan semangat para wanita melalui tulisannya agar selalu berusaha menjadi wanita-wanita yang dirindukan surga. Bahkan disetiap bait kata yang dituliskannya selalu sukses menggetarkan jiwa-jiwa dari para pembacanya. Oleh karena itu, tak heran jika wanita paruh baya itu begitu sopan dalam bertutur kata dan sangat santun dalam bersikap.


" Mari silahkan duduk," Ucap Ummi Nani sembari memeluk umminya Fahri.


" Ummi, minta tolong panggilkan putri kita! Bilang padanya kalau tamu spesial kita sudah datang," pinta Kiyai Maimun dengan nada sopan pada istrinya.


" Iya abi...Ummi panggilkan Mutia dulu di kamarnya," jawab Ummi Nani. Beliaupun kemudian berjalan meninggalkan ruang tamu lalu menuju kamar Mutia.


Sementara itu, Mutia kini sudah selesai bersiap-siap. Dalam balutan kebaya full payet yang dipadukan dengan rok bermotif batik dengan hijab sederhana kini ia terlihat begitu cantik dan elegan.


" Iya... ummi masuk aja," jawab Mutia dari dalam kamar.


Ceklek...pintu terbuka.


" Masyaallah cantik sekali putri Ummi ini," ucap Ummi Nani sembari tangan kirinya menggenggam punggung tangan Mutia. Sementara tangan kanannya mengelus pipi putrinya itu. "Tidak terasa putri Ummi sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah," sambungnya dengan mata yang sudah mulai terlihat berkaca-kaca.

__ADS_1


"Makasih Ummi," Jawab Mutia yang kini sudah memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.


Dengan perasaan haru, sedih, bahagia dan masih setengah percaya. Kini Ummi Nani membalas pelukan putrinya itu. Ia mengelus pelan punggung Mutia. Seolah belum siap untuk melepaskan putri cantiknya yang sebentar lagi akan membangun keluarga sendiri.


"Ummi, apa Mutia bisa seperti Ummi nantinya? Menjadi Seorang istri yang sholehah yang ketika dipandang akan meneduhkan hati suami? Menjadi Seorang istri yang ketika lisannya berbicara maka bisa menentramkan hati suami? dan apakah Mutia bisa menjadi sandaran ternyaman untuk suami kala lelah melanda? Ummi Mutia selalu berdoa agar Allah mempertemukan Mutia dengan laki-laki yang sholeh. Laki-laki yang bisa menerima setiap kekurangan yang ada di dalam diri Mutia. Laki-laki yang bisa menjadi imam dalam keluarga yang nantinya akan membimbing Mutia dan anak-anak kami ke surganya Allah. Selama ini sosok laki-laki yang Mutia impikan adalah laki-laki seperti abi Ummi,"ucap Mutia yang kini tengah menangis dalam pelukan Ummi Nani.


Ummi Nani tak bisa lagi menahan tangisnya mendengar ucapan dari putrinya itu. Sesaat kemudian beliau melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah cantik Mutia. Dengan lembut Ummi Nani menghapus air mata yang kini membasahi pipi Mutia.


" Sayang...Mutia dengerin Ummi ya nak. Pernikahan itu adalah ibadah sayang. Ibadah panjang yang akan kita jalani. Tentunya banyak hal yang akan kita lewati kedepannya. Dalam pernikahan, kita akan diminta untuk terus belajar nak. Belajar untuk bisa saling melengkapi kekurangan yang ada dalam diri kita masing-masing. Ummi juga dulu seperti itu. Belajar bagaimana caranya agar bisa menjadi istri yang baik. Alhamdulillah nak, atas izin Allah dan berkat bimbingan abi sedikit demi sedikit ummi belajar untuk terus berusaha menata diri menjadi seseorang yang lebih baik. InsyaAllah ummi percaya, Mutia pasti bisa lebih baik dari ummi. Mutia tidak perlu khawatir nak. Ummi perhatikan sepertinya Fahri adalah laki-laki yang sholeh. Dia juga terlihat begitu sopan kok nak,"terang Ummi Nani pada Mutia.


Seakan mendapatkan angin segar. Kini Mutia merasakan ketenangan di dalam hatinya. Ucapan Umminya begitu meneduhkan perasaannya. Seketika perasaan gugup dan takut yang menghantui dirinya seakan menghilang begitu saja.


" Makasih ya Ummi. Alhamdulillah Mutia merasa lebih baik sekarang," terang Mutia pada Ummi Nani.


" Iya sayang, sama-sama. Yaudah sekarang kita keluar ya nak. Soalnya abi dan keluarga nak Fahri sudah menunggu di luar. Tidak enak membiarkan mereka menunggu terlalu lama,"balas Ummi Nani.

__ADS_1


Mutia hanya menganggukkan kepalanya. Ummi Nani dan Mutia berjalan berdampingan. Mereka akan menemui keluarga Fahri untuk membahas tentang perjodohan yang sudah disepakati abinya dengan orang tua Fahri.


__ADS_2