Seribu Luka

Seribu Luka
25


__ADS_3

Rasa kantuk kini mendera Husna. Tanpa membuka mukenahnya ia merebahkan tubuh di atas sajadah. Ia melipat kedua tangannya sebagai penyangga kepala.


Dalam tidur lelapnya,Husna seakan melihat Raka tengah memeluk seorang anak laki-laki dengan erat dan anak itu memanggil Raka dengan panggilan papa. Husna juga melihat jika ada sosok perempuan lain yang ikut memeluk anak itu bersama Raka. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang sangat bahagia.


Tanpa ia sadari air matanya berjatuhan membasahi mukenahnya. Dalam tidurnya itu ia terus menangis sesenggukan. Ia benar-benar dihantui perasaan bersalah karna kondisinya saat ini. Sungguh dengan sepenuh hati ia sangat menginginkan akan hadirnya benih dalam rahimnya. Sedikitpun Ia tidak pernah ingin mengecewakan suaminya.


Raka yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun karna mendengar suara isak tangis dari istrinya. Ia mencoba untuk menyalakan lampu tidur yang berada di atas nakas. Setelah lampu itu menyala,Raka melihat ke arah tempat tidur namun Husna tidak ada disitu.


Ia beranjak dari tempat tidurnya dan mendapati istrinya itu tengah terlelap di lantai dengan beralaskan sajadah.


Rakapun berjalan ke arah Husna. Ia berniat untuk memindahkan Husna ke tempat tidur. Namun baru saja Raka menundukkan kepalanya tiba-tiba ia mendengar Husna mengigau meminta maaf kepadanya.


"Abi,Umi mohon sama abi maafin umi yang telah mengecewakan abi,"ucap Husna berkali-kali.


Kini hati Raka benar-benar hancur mendengar jeritan hati dari wanita sholehah itu. Ia merasa bersalah pada Husna. Ia sadar jika ia telah menggoreskan seribu luka di hati Husna.


Raka tertunduk dalam diam. Ia seakan tak tahu harus berbuat apa saat ini. Air mata Raka jatuh tepat di pipi Husna. Seketika wanita itu terbangun dari tidurnya. Ia begitu terkejut karna saat ini mendapati suaminya tengah menangis di dekatnya.


"Abi,abi kenapa?kok abi nangis?" tanya Husna.


"Abi gak kenapa-napa,"jawab Raka dengan pelan.

__ADS_1


" Kalau gak kenapa-napa abi gak mungkin nangis? ucap Husna.


" Abi nangis karena abi tadi dengar umi ngigau pas tidur.


Umi terus-terusan minta maaf sama abi,"jawab Raka.


" Astagfirullah umi minta maaf ya bi. Umi bener-bener gak sadar bi," ucap Husna.


" Sudahlah umi itu gak salah apa-apa. Jadi jangan minta maaf terus,"jawab Raka.


" Tapi bi, tau gak " ucap Husna terputus.


" Gak tahu," jawab Raka.


Raka tersenyum melihat Husna yang cemberut.


" Umi mau ngomongin apa sih? tanya Raka.


" Tadi umi itu kayak mimpi gitu lho bi. Umi mimpi abi itu kayak meluk anak laki-laki yang kelihatannya abi itu kayak sayang banget sama anak itu


dan anak itu manggil abi itu Papa," cerita Husna.

__ADS_1


DEG...suara degup jantung Raka.


Raka bener-bener kaget mendengar apa yang dikatakan Husna. Ia terdiam karna tidak tahu harus berkata apa saat ini.


" Ya allah apa yang harus aku katakan padanya sekarang. Haruskah aku menceritakan yang sebenarnya. Tapi bukankah itu hanya akan membuatnya semakin terluka," batin Raka.


" Abi kok diem aja sih?" tanya Husna sembari mengerak-gerakkan tangan Raka.


" Ah...eh...anu...itu..apa tadi"ucap Raka gelagapan.


" Abi kok gelagapan kayak gitu sih? abi kenapa?" tanya Husna. Ia merasa aneh dengan sikap suaminya itu. Ia merasa jika saat ini Raka tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


" Ah,gak kenapa-napa kok mi. Sekarang umi istirahat aja dulu," ucap Raka mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Tapi bener nih gak kenapa-napa?" tanya Husna.


" Iya umi,abi gak kenapa-napa," jawab Raka.


" Yaudah kalau gitu sekarang kita istirahat aja bi,"ucap Husna.


Ia sebenarnya tahu jika saat ini suaminya tengah berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Ia mengerti alasan kenapa Raka bersikap seperti itu. Karena itulah ia berusaha untuk memahami perasaan suaminya.Menurutnya Raka belum siap untuk membahas masalah apapun yang berhubungan dengan anak.

__ADS_1


Husna melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur. Kemudian ia membaringkan tubuhnya. Raka berusaha untuk menarik selimut dan menutupi tubuh Husna. Rakapun membaringkan tubuhnya disamping Husna. Kini dengan perasaan bersalah Raka meraih tubuh Husna dan memeluknya. Sesekali Raka mengusap pelan pucuk kepala Husna. Sebuah kecupan mendarat di kening Husna. Husna tersenyum dari balik selimut yang menutupinya. Iapun membalas pelukan suaminya itu. Mereka tertidur dengan posisi saling memeluk. Dalam kehangatan pelukan itu Raka dan Husna berusaha untuk mengesampingkan permasalahan-permasalahan yang saat ini tengah mereka hadapi.


Untuk sejenak bayangan Casandra seakan-akan memudar dari pikiran Raka. Ia merasakan ketenangan kala membekap kekasih halalnya itu.


__ADS_2