
Azan subuh berkumandang dengan merdu. Menggetarkan setiap nurani yang mendengarkan. Kicauan burung-burung yang bertengger di atas pepohonan seakan-akan tengah ikut menjawab azan dari sang muazin.
" Maaf mas, sudah azan. Kita salat berjamaah dulu ya!" pinta Husna.
Raka menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis ke arah Husna. Ia kemudian melangkahkan kakinya untuk mengambil air wudhu. Sementara itu, Husna menyiapkan peralatan salat buat Raka. Setelah berwudu, kini Raka mengenakan balutan baju koko berwarna putih dipadukan dengan sarung berwarna hitam dan dilengkapi sebuah peci hitam. Penampilan laki-laki berdarah arab itu terlihat begitu memukau. Wanita manapun pasti akan terpesona dengan ketampanan yang dimilikinya. Tidak terkecuali dengan Husna.
Salat subuh pertama setelah mereka sah menjadi pasangan suami-istri menciptakan suasana yang berbeda. Bagi Raka dan Husna inilah momen kencan romantis yang membuat hati mereka bergetar tak menentu.
Setelah salat dua rakaat itu selesai ditunaikan. Raka memutar tubuhnya menghadap istrinya. Husna kemudian mencium punggung tangan suaminya. Lalu terlihat tangan laki-laki itu tengah mengelus lembut pucuk kepala istrinya itu. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Husna. Mereka saling memandang secara intens. Kemudian Raka meletakkan tangannya di lengan Husna. Lalu ia mengangkat tubuh dan menggiring istrinya ke tepi ranjang. Saat ini Raka dan Husna sudah duduk berdampingan.
Raka membuka mukenah yang menutupi kepala Husna. Kini Rambut panjang milik Husna terpampang jelas di hadapannya.
Perlahan-lahan Raka mendekati wajahnya ke arah wajah Husna. Kemudian diletakkan tangannya di pipi Husna.
" Dek..mas izin untuk melakukannya ya." pinta Raka.
Husna hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban yang diberikan kepada suaminya itu. Husna sadar jika antara dirinya dan Raka belum tumbuh benih cinta. Namun ia tetap akan menjalani kewajibannya sebagai seorang istri.
Dan satu kecupan mendarat sempurna pada ***** mungil milik Husna. Husna merasakan tubuhnya seakan-akan lemas tak bertenaga. karna hal ini pertama kali baginya. Raka yang sudah tidak bisa mengontrol hasratnya itu Kini merebahkan tubuh istrinya ke ranjang. Kemudian ia melakukan sentuhan-sentuhan lembut di bagian tubuh Husna. Husna sendiri kini mencoba untuk berdamai dengan perasaan yang tengah bergejolak di dalam dadanya. Ia memejamkan matanya. Disaat Raka merasakan hasratnya itu tengah berada di puncaknya, tiba-tiba terdengar nada dering dari ponselnya. Raka benar-benar di buat kesal karena seseorang menghubunginya di waktu yang tidak tepat.
Raka meraih benda pipih yang berada di atas nakas. Terlihat di layar handphonenya jika Riko adiknya tengah melakukan panggilan video call. Ia kemudian menggeser ikon berwarna hijau itu.
__ADS_1
" Ngapain loe nelpon gue pagi-pagi? Ganggu orang tidur aja loe," bentak Raka pada adiknya itu.
" Woiii...bang bangun salat subuh! Ntar keburu waktunya habis. Mentang-mentang pengantin baru. Salat subuh sampe lewat,"ucap Riko.
"Hei...Yang bilang gue belom salat siapa? Gue udah salat kali. Masak iya gue harus lapor sama loe dulu kalau gue mau salat," balas Raka dengan nada kesal.
" Ya udah, sekarang loe turun. Kita semua udah nunggu loe buat sarapan nih. Lagian loe dari tadi ngapain aja di kamar gak keluar-keluar?" balas Raka dengan nada gak kalah tingginya.
"Makanya loe nikah kampret biar tahu pengantin baru ngapain aja di kamar."
" Gimana mau nikah bang? Calon istri gue kan masih sama loe sekarang. Makanya kalau loe mau lihat gue nikah, loe lepasin dulu calon adik ipar loe itu."
" Maksud loe apa minta? Mang siapa orangnya?"tanya Raka
Raka yang mendengar ucapan adiknya itu benar-benar murka dibuatnya.
" Ko.. loe bener banget. Gue memang salut sama jalan pikiran loe barusan. Dan loe tau gak ko? Saking salutnya gue sama pemikiran loe itu, gue pengen banget kasih loe penghargaan. Loe mau gak?"
" Jelas maulah bang. Mang apa yang mau loe kasih ke gue bang?"
" Gue mau kasih loe itu kopi sianida biar pikiran loe itu bisa jernih ngerti loe," bentak Raka
__ADS_1
Sontak ucapan abangnya itu membuat Riko ketakutan setengah mati. Ia buru-buru meminta maaf pada abangnya itu. Dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Husna sedari tadi tersenyum mendengar suaminya yang tengah memarahi adik iparnya itu. Ia baru saja akan memakai cadarnya namun tiba-tiba tangan Raka menghentikan aktivitasnya.
" Dek...jangan di pakai dulu."
" Tapi kenapa mas?"
" Mas masih pengen ngeliat mukanya adek."
" Tapi bukannya dulu gak mau ya ngelihat wajah Husna? Sampai waktu abi tawarin buat ngeliat pas acara lamaran mas menolak."
" Itu kan dulu dek."
" Terus kalau sekarang?"
" Kalau sekarang mas pengen ngeliat wajah adik terus."
" Ih...gombal. "
" Mas serius dek."
__ADS_1
Akhirnya Husna hanya bisa pasrah menuruti kemauan suaminya itu.