Shine For You

Shine For You
1. Alantaria


__ADS_3

“Cantik tidak akan bisa mewakili segalanya, karena cantik tidak dapat memastikan kebahagiaan.”


_____________


Kafe Alantaria. Cafe mewah terkenal di kalangan Jakarta. Terbukti, ramai penuh remaja-remaja sibuk bercipika-cipiki. Gadis 15 tahun mengusap pelan lengan kiri, dingin. Aroma kopi dan pizza menyeruak hebat di hidungnya. kafe berdesain Eropa coklat kehitaman membuat siapapun nyaman melihatnya.


Doodle, Quote, menarik. Kata sindiran, sarkatis, cinta, dan horor, ciri khas Alantaria. Menggerai rambut coklat panjangnya bebas, berjalan melewati lautan manusia. Menangkap pintu tertulis 'Khusus pegawai', tersenyum simpul. Tangan memutar kenop pintu.


Para pegawai bercelemek 'kopi' menoleh mendengar pintu terbuka. “Eh, Zevy! sini-sini, lagi ngegosip, nih! mau ikut, atau langsung manggung?” tukas Yolla.


Gadis berambut blonde mengiyakan. “Iya, nih, sore-sore enaknya ngegibah. katanya, boss kita lagi nyari istri, loh!”


Kedua sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyuman manis. “Dasar! sore-sore udah gibah aja. ah? ada yang manggung duluan ternyata,”


Ozhora Alexey Zevyhrine. kata orang-orang, kalo namanya cantik, orangnya cantik juga. Tapi nggak, tuh buat Zhora— akrab dipanggil Zevy di cafe— bahkan sebaliknya.


Kulit sawo matang, wajah penuh jerawat, bruntusan di sekitar. Memang biasa aja, keliatannya. mungkin, penghuni sekolahnya aja, yang rada miring.


Melepas jaket coklat, menaruh di atas nakas. Mencepol rambut asal, mempolesi makeup tipis menutup jerawat. Mengaca, dirasa penampilan membaik, ia membalikkan badan menghadap Oliv— teman di cafe.


“Kak Liv! aku udah rapih belum? mau siap-siap.” Oliv menoleh, satu capuccino digenggam. gadis blaster Spanyol mengangkat jempol, tersenyum senang.


“Bagus, kok! rapih banget, mau manggung langsung? Bentar ya, Reon lagi manggung juga. tunggu sekitar 5 menit lagi,” Zhora mengangguk. Oliv membalikkan badan, sibuk gibah, lagi.


Daripada nggak ada kerjaan, terpaksa menimbrung gibahan 'itu', deh. Tak terasa, 5 menit cepat mendatanginya. Reon turun, menghampiri Zhora tergesa-gesa.


“Gue udah, lo mau manggung, kan? gih, sana!” terdengar usiran layaknya.


“Lo ngusir gue?” canda Zhora. Reon menggeleng cepat. “Eh? bukan gitu–”


Zhora tertawa lepas. “Cuma bercanda, Reon!” kedua iris mata coklat menatap geli cowok jangkung di depannya.


“Dasar!” Reon melirik sinis. pergi, ikut menimbrung gibah bertema 'bossku mencari aku.' begitu kata Oliv. terlalu pede, rasanya.


“Zevy, kayaknya udah waktunya lo, deh. jangan gugup, ya? kali ini pelanggan lebih banyak, soalnya.” Celetuk Revi— gadis 23 tahun menatap ledek dan khawatir. kalau ada yang bertanya, rata-rata yang kerja disini umurnya berapa, sih? jawabannya ; 20-25 tahun. bahkan, ada yang udah nikah, kok.


Iya, Zhora paling muda. Zhora rela bekerja keras demi menafkahi keluarganya. Zhora terlahir dari keluarga berekonomi rendah, namun, tidak mematahkan semangatnya. Lena– janda yang menjadi ibunya menjual getuk setiap pagi dan siang.


Awalnya, Zhora dianggap anak 'aneh', gimana nggak? diumurnya yang cukup muda, sudah bekerja keras seperti ini. bahkan, dalam umurnya belum dianjurkan untuk bekerja. Gimana Zhora menanggapinya? hanya tersenyum, iya, Zhora senang tersenyum.


kata ibunya ; 'Jangan cemberut terus, nggak baik. senyum dong? nanti dapet suami ganteng yang disukain kamu, loh!'


Zhora sendiri, bekerja di cafe menjadi penyanyi, misalnya. suara gadis itu tidak dapat dipungkiri, sangat merdu. Ia melamar disini sekitar 5 bulan yang lalu, jadi tidak bingung Zhora mengenal semuanya.


Zhora menjawab dengan senyuman kecil. kedua mata menangkap teman-teman menyemangati. Beruntung banget, tuhan.


Zhora segera melangkah menuju panggung berbahan besi di tengah-tengah cafe. Ada benarnya ucapan Revi, ramai penuh kali ini. Apa penyebabnya? hanya satu, sedikit lagi malam Minggu.


Mengatur mic senyaman mungkin. Gugup mengguyur Zhora terus menerus. Cemas, kehadirannya dianggap angin lalu, berbeda dengan Reon.


Zhora terkadang melihat Reon menaiki panggung disambut dengan teriakan heboh. Beda sama Zhora, di sambut nggak, di cuekin iya. Gadis yang malang.


Zhora menggeleng kepala, menepis jauh pikiran negatif itu. Benar, ia harus semangat demi ibunya. bayang-bayang Lena terputar rapih di benaknya.


berdeham dua kali, “Ha-halo semua! selamat sore, apa kabar? semoga kalian baik-baik aja, ya!” sapa Zhora. sukses membuat para pelanggan menoleh, walau sebentar.


memaksakan tersenyum, “Perkenalkan nama saya Ozhora Zevyhrine. senang bertemu, kalian!” lagi, dan lagi, ucapannya tidak dianggap. hati Zhora mencelos perih, namun bagaimanapun, ini pekerjaan nya.


“Kali ini saya ingin menyanyikan lagu Lovely dari Billie eilish, semoga bisa menghibur.” setelah mengucapkan kata itu, lampu padam, diganti dengan lentera yang indah. Seluruh pandangan mengarah pada Zhora, karena cahaya menuju padanya.

__ADS_1


Kok gugup gini, sih?! fokus, Zhora!


Aura mencekam. inilah bagian dibenci Zhora. sepi, dan sunyi. detik selanjutnya, dentuman keras mulai berbunyi. menunjukkan lagu lovely sesuai kemauan Zhora. Gadis itu sempat melihat teman-temannya tersenyum hangat.


Zhora menghembuskan napas pelan. Merasa gugup seratus kali lipat ketika seluruh pandangan mengarah padanya. menunduk, menghindari tatapan mereka. oke, Zhora tau ini gila.


Menggenggam mic, You can do it, Zhora!


Thought I found a way


Thought I found a way, yeah (found)


But you never go away (never go away)


So I guess I gotta stay now


Ozhora melihatnya, para pelanggan menatap tak percaya. Zhora tau, kok. pasti mereka menganggap jika ia gadis abal-abal yang sok menaiki panggung. sorry sir.


Oh, I hope some day I'll make it out of here


Even if it takes all night or a hundred years


Need a place to hide, but I can't find one near


Wanna feel alive, outside I can fight my fear


Zhora melihatnya, Oliv dan lainnya kembali menyemangatinya. Seketika, gejolak semangatnya kembali naik. ia mendongak, menunjukkan wajahnya.


Isn't it lovely, all alone?


Heart made of glass, my mind of stone


Tear me to pieces, skin to bone


Hello, welcome home


Walkin' out of town


Lookin' for a better place (lookin' for a better place)


Something's on my mind


Always in my headspace


Ozhora menyadarinya, mereka dalam posisi skakmat. acuh, menjadi ketagihan. mengabaikan, menjadi memperhatikan. membenci, menjadi terpesona. please, itu basi.


But I know some day I'll make it out of here


Even if it takes all night or a hundred years


Need a place to hide, but I can't find one near


Wanna feel alive, outside I can fight my fear


Ozhora tersenyum menang sekarang. lihat, ada yang memvideokan dirinya. tangan bermain-main di udara. suara smooth nya memang tidak pantas di tertawakan.


Isn't it lovely, all alone?


Heart made of glass, my mind of stone

__ADS_1


Tear me to pieces, skin and bone


Hello, welcome home


Merendahkan suaranya, kedua matanya tidak sengaja bertemu tatapan pria yang tidak jauh darinya, sayup-sayup ia bisa melihatnya. Zhora yakin, pria itu menatapnya penasaran.


Woah, yeah


Yeah, ah


Woah, woah


Hello, welcome home


Suara riuh bergema keras di seluruh ruangan. bayangkan, mereka yang ingin makan menjadi terundur karena persembahan dari Zhora. Gadis itu ingin tertawa saja rasanya.


tepuk tangan terus saja berjalan, para pelanggan berdiri heboh. menatap kagum sekaligus terpesona. Zhora membungkukkan tubuhnya, lalu kembali tegak. “Sekian dari saya, semoga dapat menghibur anda.”


lampu kembali menyala terang. Penonton mendesah kecewa, beberapa dari mereka bahkan meminta menyanyikan kembali. Zhora melihat Yolla menganggukkan kepalanya.


tidak, tidak. ia harus pulang membantu Lena membuat getuk.


Zhora menghela napas. “Maaf, saya tidak bisa bernyanyi lebih lama. saya harus membantu seseorang.” Penonton kecewa. kedua mata coklat itu terus terpusat pada cowok yang menatap sejak tadi. ada apa sebenernya?


Zhora menyengir, “Kalau kalian mau mendengar saya lagi, kalian bisa kok datang kesini. saya bekerja bernyanyi disini, soalnya.” Zhora tersenyum simpul.


Melihat para penonton yang terus menghantuinya. kali pertama menyuguhkan pertanyaan. “Ada yang ingin bertanya?” udah kayak mau interview aje, mbak.


seseorang mengangkat tangan, “Saya, kak!”


“Apa?”


“Kakak umurnya berapa? kok keliatan masih muda, sih?” pertanyaan gadis kelihatannya duduk di bangku SMP mendapat anggukan penonton.


Privasi, atau nggak, ya?


Melihat temannya terus saja mengangguk, biarlah ia menjawab pertanyaan ini. anggap pengganti kekecewaan mereka. “Umur saya 15 tahun.”


Gadis itu terkejut bukan main. cowok yang terus menatapnya saja membeku, kenapa sih sebenarnya?


“Masih muda banget,” celoteh salah satu penonton. Zhora menanggapi tersenyum, setengah alis Zhora terangkat.


“Ada lagi?” senyum itu terus terpahat di wajahnya.


“Gue.” cowok itu tidak mengangkat tangan, suaranya terdengar datar dan dingin. Zhora meneguk salivanya, itu cowok yang tadi merhatiin aku, kan?


“Ap—” belum selesai, cowok itu dengan santai menyela.


“Nama lo lengkap? gue rasa ada satu kalimat yang lo hilangkan.” Zhora terpaku, cowok itu tau? siapa sebenarnya? detak jantung gadis dengan rambut dicepol itu berhenti. lidah nya membeku, lebih tepatnya tidak dapat digerakkan.


Selamat, pertanyaan pertama yang bisa membuat seorang Ozhora Alexey Zevyhrine terdiam seribu bahasa. cowok tampan itu, terlalu hebat untuknya.


________


***Asik, gimana nih ceritanya? seru gak? apa gak jelas, jelek? ah, itu mah gue banget🤸🏻‍♂️


gue gak bisa boong nulis di noveltool susah beda sama *******, nggak ada buat kembali/ulang. tadi sempet badmood gara2 keapus. cuma mau gimana ya? orang hobi, mau digimanain lagi, hehe.🏇


sama filter disini kurang banyak, gue harap makin bagus, deh ya! semangat noveltoon!❣️

__ADS_1


hayuk like sama masukin perpustakaan, ngehehe! biar makin semangat guenya, elah.


Next?❤️***


__ADS_2