
“Kalo memang itu mau kamu, terserah. Toh, aku bukan siapa-siapa kamu. Jadi, buat apa?”
Don't forget to like, comment, vote, rate 5, etc. thanks, dear!💫
Dilanjut, nggak nih? Gue ngerasa kek org be'go nanya sendiri, gak dijawab, dilanjut. Yaudah lah ya:)
Happy reading.
^^^
Unknown.
Besok, jangan lupa. Bawa orang berharga.
Kalo gak berani, jangan dipaksain. Kesian orang tua lo udah jauh² ke LA demi biayain hidup lo.
Thanks, brotha.
Langit Oren menghiasi bumi, perjalanan matahari untuk berjalan ke negeri lain akan segera dimulai. Suara mobil dan sepeda motor memekakkan telinga pria itu, ditambah pesan yang hampir saja ia lupakan!
Taruhan, dan balapan!
Bagaimana Atlas bisa lupa dengan, hal itu? Pikiran nya selalu diganggu dengan orang berharga, siapa yang berharga dihidupnya? Rine dan Anderos sedang di LA, lalu Atlas harus membawa siapa? Sial!
“Gue harus bawa siapa, arghhh!” mengacak-acak rambut, kemudian berjalan menuju balkon. Verena sudah pulang ke habitatnya, Atlas sungguh bersyukur dengan kenyataan ini. Tapi tidak dengan kenyataan ia harus membawa orang berharga!
Revan, Nioz dan Zevin? Huh, mereka lebih baik dibuang ke samudera Pasifik! Sebenarnya, Atlas bisa saja menyuruh gadis-gadis yang mengagumi nya untuk ikut ke arena nanti. Tapi, Atlas tidak sejahat itu!
“Mikir, mikir bodoh! sial!” umpat Atlas, memukul pagar sebagai pembatas antara langit-langit dengan rumahnya. Telapak tangannya terkepal kuat, seperti nya ia harus memukul Sasak untuk meredam emosi.
Setelah berpikir satu jam lamanya, mondar-mandir di kamar. Pikiran yang sedikit masuk akal muncul. Apa kabar dengan janji nya dengan Zhora, lagipula gadis itu sudah menerima nya bukan?
Atlas pasti bisa melawan cowok itu, mudah. Dan Zhora tidak mungkin jatuh ke tangan cowok breng'sek seperti Elzar. Tidak akan Atlas biarkan, setelah saling adu debat antara otak dan hati– akhirnya, hati mengalah.
__ADS_1
“Im sorry for this, Zhora. gue terpaksa,” Final Atlas, kemudian menekan tombol merah di dekat ranjang— tombol pembantu— tak lama, ketukan pintu kamar terdengar jelas. Atlas berjalan menuju pintu, memutar kenop pintu.
“Ada yang saya bisa bantu, Tuan?” Pembantu itu membungkuk, lalu menegakkan kembali tubuhnya. Pakaian ala maid terpasang rapih, Bi Tiar— pembantu yang sudah berkerja 15 tahun lamanya menjaga Atlas— tersenyum ramah.
Atlas tidak menghiraukan, “Panggil om Dernada. Saya butuh dia,” Bi Tiar terkejut, setahu nya Tuan Dernada adalah detektif terhandal yang digunakan oleh keluarga Atlas. Pasti, ada masalah yang menimpa tuan-nya.
“Maaf tuan, apa ada masalah yang menim—”
Atlas memotong ucapan Bi Tiar. “Saya hanya butuh itu, anda bisa pergi.” Bu Tiar mengangguk canggung, membungkukkan tubuh lalu menenggakkan kembali.
“Baik, saya permisi tuan.” Atlas mengangguk kecil, menutup kembali kamarnya. Kamar yang sebagai saksi sejak kecil bagaimana ia menangis, depresi, dan muak akan orang tua nya yang selalu pergi massal demi perkejaan.
Atlas melangkahkan kakinya menuju bingkai besar, terpasang foto satu keluarga yang tidak harmonis— Rine, Anderos dan Atlas. Bahkan, sejak dulu kedua orang tua nya tidak pernah tersenyum saat bersamanya. Difoto itu, Anderos dan Rine memasang wajah datar, sedangkan Atlas tersenyum senang.
Atlas tersenyum masam, apa benar perkataan Zef tentang ia hanya anak buangan yang diasuh oleh Anderos dan Rine? Apa Rine dan Anderos hanya sebatas kasihan dengan nasibnya? Kalau memang iya Atlas adalah anak asuh, apa kabar dengan kedua orang tua aslinya?
Ozhora Zevyhrine, gadis yang berhasil membuat Atlas penasaran. Gadis polos, memiliki wajah standar— bagi Atlas. Dan bekerja di kafe terkenal di saat umurnya yang masih terkenal muda. Disaat teman sebayanya berbelanja, bermain, menikmati masa muda— gadis itu justru banting tulang demi menafkahi ibu nya. Atlas sendiri, mengagumi keteguhan Zhora.
Atlas terperanjat, namun wajah nya selalu bisa menyembunyikan semua itu. Membalikkan badan, lalu menatap tajam pria yang tidak jauh darinya. Memang sih, Dernada dan Atlas sudah dekat, banget.
Baru saja bibir itu ingin berbicara, Dernada sudah mendahului, “Saya sudah mengetuk sejak tadi, dan kamu tidak menjawab. Lebih baik saya masuk, ketimbang mati muda karena menunggu mu keluar.” Santai Dernada.
Atlas berdecak, lalu ikut mendudukkan bokongnya di depan sofa yang diduduki oleh Dernada. “Saya butuh anda,”
“Saya tau, tidak mungkin kamu menyuruh saya secara Mendadak hanya untuk mendengar curhatan mu itu,” Balas Dernada. Sengaja menekankan kata 'Mendadak.' tidak tahukah Atlas, Dernada sedang menonton film kesukaan nya?
Atlas tidak bergeming, “Tolong cari informasi tentang Zhora Zevyhrine, dan nomor teleponnya. Saya tunggu,” Tidak ingin basa basi begitu lama dengan om-om kekinian ini.
“Baiklah, tunggu sekitar satu atau dua jam dari sekarang. Saya duluan, permisi.” Dernada berdiri, menjabat tangan Atlas lalu nyelonong pergi. Meninggalkan Atlas dengan pikiran nya yang masih di atas kebimbangan.
•••
Malam ini, Zhora pulang lebih cepat dibanding biasanya. Melepas alas kaki, lalu membuka pintu kayu, dan mengucapkan salam. Tersenyum senang ketika Lena sedang sibuk dengan masakan getuk nya. Masih ada kesempatan untuk membantu perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
“Ibu, Zhora pulang!” pekik Zhora, menaruh tas selempang di atas nakas. Lalu berbirit menghampiri Lena dengan beberapa objek yang sedang diobrak-abrik olehnya. Lena tersenyum, mengelap keringat dengan telapak tangan yang penuh dengan bahan masakan nya.
“Ibu, Zhora nggak telat, kan? Ayo, Bu Zhora bantu!” Lena mengangguk antusias, memberi celah tempat untuk gadisnya. Sebelum itu, Zhora mencuci tangan dengan sabun dan menghampiri Lena.
Setelah berjam-jam berkutat dengan bahan masakan untuk membuat getuk, akhirnya getuk ala Lena telah terbentuk indah. Zhora senang, melihat ibunya tersenyum ke arahnya.
“Terimakasih, sayang.” Zhora mengangguk senang, tersenyum lebar menunjukkan betapa bahagia nya ia sekarang. Kemudian, Zhora berdiri untuk mencuci tangan, dan bersiap untuk mandi.
Memasuki kamar, mengambil handuk biru dan berjalan menuju toilet. Sesudah melakukan ritual mandinya, Zhora keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk. Membuka lemari coklat, mencari beberapa pakaian yang bisa ia gunakan.
Merebahkan diri sebentar di ranjang, menatap langit-langit kamarnya yang sudah lusuh termakan usia. Jika hujan deras, Zhora akan merasakan butiran air di setiap kamarnya. Terkadang, Zhora harus mengecek cuaca agar tidak kaget harus menyiapkan satu ember untuk menampung air-air yang jatuh.
Zhora menjadi kepikiran tentang ucapan Xessi tadi, batinnya tertekan mendengar pernyataan itu. Zhora sendiri, tidak tau apa perasaan ini. Perasaan yang tidak bisa digambarkan oleh pemiliknya sendiri.
Sibuk dengan pikiran tentang si gadis yang mencium pipi Atlas, tiba-tiba..
Drrrt.
Ponsel jaman dulu itu bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Apakah boss Theo ingin memberitahu sesuatu, atau Zhora akan dipecat? Ingin menghabisi rasa penasaran, Zhora mengubah posisi menjadi duduk. Mengambil ponsel tua itu, kemudian nomor tidak dikenal lah yang menganggu kegiatan rebahan nya.
089572xxxx
Atlas. Janji lo lunas, besok ke arena Xx deket toko Xx. Jam 9 malam.
••••
Kali ini lebih banyak di Atlas ya, semoga suka.
Like nya dong, pengen banget tembusin ke 10K view🙂🤑
Share please? Gak deng, gak suka maksa orang🙃⛅
Salam, Idelia as justboggi wife.
__ADS_1