
“Karena perkataan pedasmu itu bisa lebih tajam dibanding pisau.”
ATTENTION! please, komen ya cerita ini mending dilanjut apa nggak. Kok gw ngerasa gak nyambung gitu, ya?:(
Hai! Idelia disini! kali ini, gw mau review cerita gue sendiri– nvm, jangan lupa like, komen dan rate 5 nyaa, vote nya juga loh. Udah up nih, walaupun ga ada yg nungguin🙃
Gak, gak, canda. Dah, happy reading kawand
\=\=\=\=\=\=\=
Beruntung, Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Beberapa orang suruhan Elzar datang menggunakan setelan hitam pekat, dan rapih. Beberapa pria tua angkuh itu segera menahan Elzar yang ingin menampar Zhora, lagi.
Salah satu dari bodyguard Elzar menghampiri Zhora dengan langkah tergopoh-gopoh, melihat tubuh Zhora dari atas sampai bawah. Kedua mata tajam itu membulat, ketika menemukan bercak tamparan di pipi kiri. Bodyguard itu meringis kecil, lalu merubah ekspresi menjadi biasa.
“Apa yang dilakukan tuan muda pada Anda, nona?” tanya bodyguard. Perasaan marah sekaligus kecewa tertera jelas di wajah angkuhnya. Menangkap pipi kemerahan, bukan, bukan karena malu. Yakni bekas tamparan keras, yang diberi Elzar.
Zhora dengan sigap menghapus kasar air mata. Memaksakan tersenyum untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, padahal tidak sama sekali setelah mendapat tamparan keras dari Elzar.
Ternyata, pura-pura senyum disaat kita kecewa.. sakit, ya?
Zhora menggeleng pelan, pusing itu mereda kala Elzar ditarik secara paksa untuk pulang. Meskipun diawal cowok itu memberontak keras, dan berujung mengalah. Membuat perasaan Zhora sedikit tenang, tolong digaris bawahi kata sedikit.
“Apa anda baik-baik saja, Nona?” tanya Bodyguard sekali lagi. Bima a.k.a orang suruhan keluarga Elzar untuk melihat perkembangan kegiatan Elzar setiap harinya. Bukan, Elzar tidak manja. Melainkan sikapnya yang kasar, keras dan dengki itulah, membuat Bima harus menjaga tuan muda nya.
“Sa..saya baik-baik aja, pak. Bapak tau kak Elzar disini karena siap—” Seorang cowok berjenggot itu datang dengan berlari kecil, wajahnya terlihat panik.
“Ares melakukan apa padamu? apa dia bertindak kasar?” Itu Derryl. Iya, Derryl dibalik semua ini, setelah Elzar pergi ia mencoba memanggil ayah cowok itu. Walaupun berkali-kali gagal dan ditolak, akhirnya panggilan tersambung. Dan, papa Elzar menyuruh para orang suruhan untuk menghampiri anak itu.
Namun sayang, orang suruhan papa Elzar terlambat untuk datang. Bahkan, korban dari depresi Elzar adalah gadis yang polos tidak tau apa-apa. Apalagi soal cinta, Zhora tidak tau tentang itu.
Derryl celingak-celinguk, memberi kode pada Bima untuk segera pulang. Masalah Zhora biar Derryl yang mengurusnya. Berawal perdebatan kecil, finalnya Bima berbalik dan mengikuti tuan mudanya. Kini, hanya tersisa Derryl dan Zhora.
“Maafkan Ares, aku sudah mencoba menyuruhnya untuk berhenti minum. Tapi anak itu keras kepala, akibat ditinggal oleh kekasihnya. Apa dia menampar mu?” Derryl merasa bodoh, buat apa ia bertanya jika kedua mata bisa menjawab semua pertanyaan ini?
Kau sangat bodoh, Derryl!
“Sedikit,” hanya itu yang bisa dijawab oleh Zhora, sisanya tenggelam hanyut akibat ketakutan dan shock mendalam. Baru kali pertama Zhora ditampar sekeras ini, bahkan dirinya sendiri saja tidak pernah menampar sekeras ini.
“Apa masih sakit? Kau pulang dengan apa, ingin ku antar?” Jika bukan Elzar yang menampar gadis ini, bisa dipastikan cowok itu akan babak belur dalam hitungan detik. Derryl bisa melakukan itu!
Zhora menggeleng cepat. “Ak–aku gak papa, aku bisa pulang sendiri dengan motorku.” ujar Zhora, melirik sekilas motor pemberian Lena yang sangat-sangat ia jaga. Ya, menurut Zhora pemberian Lena sangat berharga.
__ADS_1
“Kamu yakin?” tanya Derryl, melihat keraguan di kedua mata coklat itu. Keadaan semakin sepi dan gelap, Zhora harus segera pulang.
Zhora mengangguk, kemudian tersenyum kecil. “Aku baik-baik aja, kok. Kalo gitu, aku duluan ya, em..” Zhora lupa menanyakan nama cowok itu, berharap Derryl peka atas perkataanya.
“Oh, saya Derryl Pamungkas. Panggil saja Derryl,” sambung Derryl, menjelaskan.
“Iya, kak Derryl. Saya duluan ya,” Zhora berjalan terbirit-birit menghampiri sepeda motor nya. Kemudian, menancapkan kunci motor lalu menyalakannya. Setelah dirasa kuat batin dan fisik, Zhora memakai helm lalu segera menjalankan kendaraan beroda dua itu.
“Hati-hati! Jaga dirimu baik-baik!” teriak Derryl dibalas anggukan Zhora. Beberapa detik kemudian, Derryl tersenyum kecil.
“Perempuan yang tangguh,” Tidak, Derryl salah mengucapkan itu. Zhora tidak tangguh sama sekali, bahkan Zhora yakin setelah ini tamparan itu akan berbekas. Iya, berbekas dihati dan di memorinya.
•••
Pagi hari yang cukup tidak memukau selera. Bukan tipe ideal cuaca disukai oleh manusia-manusia di dunia ini, lalu apa lagi jika bukan mendung? Awan abu-abu sekaligus rintik-rintik gerimis membasahi sekitar daerah Jakarta. Begitupun juga SMA ALATRA.
Awan-awan gelap itu membuat pagi hari ini tidak indah pada biasanya, yang dasarnya pagi hari cerah dan terik. Digantikan oleh gelap, sama sekali tidak mengundang kenyamanan bagi beberapa murid. Bahkan, dari mereka menggerutu kesal karena cuaca hari ini.
Tapi, di sisi lain seharusnya mereka semua bersyukur. Datang dengan mobil mewah yang dapat mengurangi basah disekitar tubuh, terlindungi dari angin dingin, dan rintik-rintik hujan. Mereka tidak sadar, ada saja seseorang yang lebih susah ketimbang mereka.
Sedangkan Zhora? sibuk memakirkan Merin yang ikut basah. Ya walaupun gak seberapa, sih. Seragam olahraga juga sedikit basah di beberapa bagian, membuat sang empu sedikit tidak nyaman. Namun lagi dan lagi, ia berusaha bersyukur.
“Bersyukur, Zhora! kamu masih punya kendaraan untuk sekolah, liat diluar sana banyak anak-anak yang kesekolah berjalan kaki.”
Zhora juga sudah terbiasa, dengan kumpulan gadis di dekat gerbang mewah menunggu segerombol cowok yang sudah dikenalnya. Atlas, Nioz, Zevin dan Polan tentunya. Keempat cowok berparas dewa Yunani yang sukses membuat kaum hawa bertekuk lutut di hadapan mereka
Ya meskipun yang menunggu sedikit, jangan lupa dengan gerimis pagi ini.
Belum sampai masuk di depan pintu, deru mobil terdengar. Zhora jadi teringat Atlas, dan temannya. Memori dimana Atlas berubah menjadi sesosok dingin itu, membuat Zhora berubah pikiran. Cewek itu lebih memilih jalan kembali, berniat menjauhi Atlas untuk sementara.
Zhora sudah sampai di kelasnya. Melihat Artha duduk manis di tempatnya, menunggu Zhora mungkin? Zhora dengan sedikit senang menghampiri perempuan yang sibuk dengan buku di meja nya.
“Hai, Artha. Lagi ngap—” Zhora menaruh tas di kursi, lalu duduk di samping Artha. Melihat kegiatan apa yang dilakukan oleh perempuan cantik itu.
“Udah selesai pr biologi, belum?” sela Artha cepat, wajahnya berubah muram dan terburu-buru. Kepala gadis itu mondar mandir melihat kesana dan kesini. Seperti mencari sesuatu.
Artha berdiri dan menggebrak meja, membuat para murid di kelas terkejut akan itu. “KALIAN GIMANA, SIH! HARI INI ADA PELAJARAN PAK WICAKSONO DAN KALIAN BELUM PIKET? OTAK KALIAN KEMANA?!”
Okay, mereka telah membangunkan macan tidur.
Tidak hanya satu ataupun dua murid, namun hampir seluruh murid di kelas ikut tercengang setelah mendengar gebrakan keras. Beberapa siswa yang merasa terpanggil piket segera berdiri dan mencari alat-alat bersih.
__ADS_1
Ya, piket di kelas ini dibagi setiap pagi dan pulang sekolah. Jadi ya gitu deh, Artha tuh udah kayak komando nya, dan murid-murid disini udah kayak babu. Diomelin, lagi.
Kurang apa coba, seorang Artha?
Dan apa? Satu fakta wow bahwa Artha bukanlah ketua kelas ataupun organisasi biasa lainnya. Keganasan dan kedisiplinan cewek itu yang membuat para siswa di kelas menunduk takut karenanya.
Apa kabar ketua kelas? Aneh deh, ketua kelas di sini itu cowok, bukannya bertanggung jawab malah main kesana-kemari dan gak pernah serius. Katanya sih, karena ngandelin pinter doang. Definisi 'Pinter-pinter petakilan '
Tetapi, siswa disini tuh bodoamat-an aja. Motto mereka itu justru berbalik dengan motto orang lain. Begini, salah satunya;
“Kalau orang lain bisa, kenapa harus kita?”
bukannya begini,
“Kalau orang lain bisa, kenapa kita enggak?”
Zhora juga gak tau, betapa absurd kelasnya ini. Ya walaupun begitu, mereka memiliki karakter berbeda-beda membuat suasana kelas lebih berwarna dan seru. Ceilah.
“Sorry, Tha. Gue kelupaan,” polos cowok itu, mengambil sapu lalu segera membersihkan lantai putih dengan santai tanpa paksaan. Wajahnya yang santai pake banget, membuat Artha kembali marah.
“Lo tuh– arghhh! serah lo deh, serah lo!” Artha mengalah dengan emosinya. Kemudian, duduk kembali dan menoleh pada Zhora yang terlihat memandangi beberapa murid di kelas sibuk bersih-bersih.
“Zhor! Zhora!” pekik Artha mengejutkan. Seperti tersengat sesuatu, Zhora langsung menoleh dengan wajah paniknya.
“Apa? ada apa?”
Tanpa ba-bi-bu, Artha berdiri lagi dan memberi kode untuk keluar kelas. Tangan Zhora berada di genggaman nya, menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin membawa Zhora kesuatu tempat penting.
Tempo jalan Artha semakin cepat, tangan kiri tidak diam. Melihat arloji putih menunjukkan waktu tujuh lewat sepuluh menit, karena hal itu, Artha berlari. Zhora yang terhenyak sebentar susah untuk menyamakan langkah kakinya.
“Ada apa sih? Tha!” pekik Zhora kebingungan. Tunggu, kenapa ke kelas sebelas? Zhora yakin seratus persen jika ia akan ke koridor kelas sebelas. Tapi, buat apa?
”Ada seseorang yang mau ngomong sama lo, Zhor!”
^^^^^^^
Dah lah makin lama makin gak jelas coi.
Otak meledak, gak nyambung bgt ga sih ceritanya? :(
PLEASE, KOMEN DONG INI CERITA NYAMBUNG APA KAGA🙂
__ADS_1
Thanks, like nya janlup.🤗
Salam, Idelia as justboggi wife.