
“Cause people can change, but memories don't.” – Verena Chalisthia.
^^^
Seorang gadis lima belas tahun sedikit menggerutu kecil mendengar tuturan dari boss. Kedua bola mata menatap tidak bersahabat, meskipun Theo adalah boss namun Zhora tetap saja melawan.
Karena seorang pepatah Theo berkata ; “Kamu sudah saya anggap adik saya sendiri, mengingat dirimu masih anak SMA. Membuat kamu menjadi adik dadakan untuk saya,”
Kalo gitu, ada dong kesempatan kecil buat ngelawan dari si boss yang pemaksa ini? Jangan dicontoh, tapi.
Theo memandang tak kalah tajam, kedua iris mata coklat hazel menunjukkan hawa pemaksaan. Lebay memang, tapi begitu deh kenyataan nya. Andaikan ada seseorang yang masuk secara tidak sengaja ke dalam ruangan itu, dipastikan seratus persen tertawa sekaligus bingung.
Lihat mereka, seperti kakak adik sebenarnya. Zhora yang melipat tangan di depan dada, dan Theo yang berdiri angkuh, kedua matanya memicing tidak suka. Seolah memancarkan kekuatan dari mata mereka.
“Gak mau!” elak Zhora. Gila saja! sudah hampir tengah malam, dan sialnya pelanggan kesayangan boss masih menetap disini demi mendengar suaranya? that crazy, bruh!
Zhora salah mengira setelah memanggung lebih dari tiga kali, pelanggan boss akan hilang dan pergi begitu saja. Ternyata tidak! Bahkan tidak berkurang sekalipun. Bahkan ini sudah lewat dari jam kerjanya!
Sial!
“Saya tidak terima penolakan.” dingin Theo, membuat Zhora semakin kesal. Bagaimana tidak? Zhora susah untuk mengelak kali ini, setelah mengetahui jika Theo sudah menelpon Lena, berbicara jika Zhora lembur.
Dan anehnya, Lena mengizinkan. Zhora sempat tercengang. Dengan mudah, Theo mematikan ponsel dan tersenyum menang beberapa menit lalu.
Zhora menghentakkan kaki, benar-benar terlihat seperti anak kecil meminta dibelikan permen. Gadis itu juga tidak tahu sejak kapan sikap manja ini muncul, mengingat sosok seorang ayah yang telah hilang beberapa tahun silam.
Theo tersenyum kecil– ralat, sangat kecil. Zhora tidak tau itu, kemudian Theo bergerak lebih santai. Kemudian maju selangkah, menunduk untuk melihat wajah gadis berkulit sawo matang.
“Apa, liat-liat? Mau bilang aku pendek? Aku udah tau!” gerutu Zhora. Tawa Theo pecah, membuat ruangan abu-abu penuh dengan tawaan milik Theo. Kemudian tangan itu terangkat, mengelus pelan puncak kepala Zhora sayang.
“Stay calm, saya gak bilang kamu pendek. Cuma kurang tinggi saja,” Theo kalo ngomong emang lebih kelewat santai, nggak inget umur emang tuh boss. Zhora memutar bola matanya malas.
Theo berpikir, cowok dengan umur berkepala dua itu tidak menurunkan paras ketampanan nya. Kan, biasanya orang bilang kalo udah 20 tahunan rata-rata jelek, udah gitu om-om lagi.
Tuan Theo berkata ; “Siapa yang bicara seperti itu? Buktinya saya tampan, dan mapan.”
Emang, sombong bener orangnya mah.
“Begini saja, kamu bernyanyi satu kali lagi. Setelah itu kamu boleh pulang, gajimu juga saya tambahkan. Lalu apalagi keluhan mu, adik kecil?” Tukas Theo, berbalik untuk mencari kopi hangat buatan doi-nya.
Iya nih, Theo udah punya doi loh! Sekarang udah deket sih, katanya. Zhora senang mendengar itu, akhirnya boss tidak jomblo lagi. Lalu kemana perginya doi boss? Jawabannya, sudah pergi beberapa menit lalu.
__ADS_1
Zhora tidak berkutik. “Apa ingin gajimu saya berikan sekarang? tidak masalah.” sombong cowok dua puluh tahunan itu, dengan secangkir kopi hangat di genggaman nya.
“Sombong banget, sih!”
“Nggak usah! Kalo gitu aku sekarang manggung dulu. Janji ya, abis itu aku boleh pulang?” Meskipun Zhora terlihat melawan, namun cewek itu masih memiliki akhlak mulia pada boss. Nggak mungkin kan, pergi tanpa izin?
Zhora menghampiri Theo yang menyeruput kopi menyembulkan asap. Theo menoleh, lalu menyatukan alis hitamnya. Kelingking Zhora terangkat, lalu disuguhkan tepat di wajah Theo.
“Janji?” tanya Zhora. Theo gemas sendiri melihatnya. Tak butuh waktu lama, jari kelingking Theo sudah menyatu dan melilit pada jari kelingking Zhora.
“Saya janji.”
Zhora tersenyum senang. Akhirnya! Setelah ini akan menjadi surga dunia untuknya. Pikirannya penuh dengan kata pulang, pulang, dan pulang!
Tanpa sepatah kata, akibat saking senangnya sedikit lagi diperbolehkan untuk pulang. Zhora berlari lalu membuka pintu besar itu, kemudian menutupnya. Menyisakan senyuman tulus tercetak rapih di bibir Theo.
“Anak itu, lucu sekali.”
^^^
“Bro, sampai kapan lo disini? Udah malem, lo harus pulang.” cowok yang menjaga bartender berisi minuman-minuman haram itu menatap aneh pada cowok di hadapannya.
Lampu-lampu berwarna-warni menghiasi arena club malam ini. Perempuan dengan pakaian kurang bahan dan dicap seksi menurut para pria berhidung belang disana. Dance floor penuh dengan para kaum mencari kesenangan, berdansa ria.
Setelah itu, beberapa orang sibuk meneguk minuman haram itu. Bahkan tidak satu gelas, mungkin hampir puluhan gelas diteguk habis olehnya. Melupakan jika seseorang yang rentan untuk mabuk, pasti akan keliyengan untuk berpikir jernih.
Club' kali ini ramai. Club ini terkenal akan keluasan, kelengkapan dan kemewahannya. Rata-rata pengunjung disini berumur dua puluh sampai tiga puluhan. Ruangan VIP dan VVIP pun penuh akan mereka yang terus lapar akan kesenangan.
Iya, kesenangan sementara.
Mungkin beberapa dari mereka, ada saja remaja berumur belasan tahun. Seperti seseorang yang telah meneguk habis gelas berisi cairan yang tidak pantas untuk ia minum.
“Cewek itu suka sama sahabat gue sendiri, Der!” racau cowok itu. Kedua mata sayu terpancar kesedihan, dan kerapuhan.
Derryl a.k.a penjaga bar itu diam, tidak tahu menahu apa latar belakang cowok ini datang langsung menuju club. Tidak ingin kesusahan, Derryl langsung mengambil alih gelas yang ingin diminum kembali oleh Elzar.
Iya, Elzar. Elzar menggeram marah saat gelas digenggamannya di ambil begitu saja oleh Derryl. “Gue masih mau minum, Der!” bentak cowok itu yang teredam oleh suara-suara club' yang tak kalah keras.
Derryl mengacak rambutnya. Sekarang cowok itu sudah mabuk, dan sekarang siapa yang harus dihubungi nya? Apalagi Derryl tidak tahu cowok itu membawa ponsel atau, tidak!
“Lo mabuk, Res!” Ya, panggilan biasa untuk Elzar– Ares. Cowok itu kelimpungan, bagaimana ini? Masa iya, nyuruh Elzar untuk pulang sendiri? Ini gila!
__ADS_1
“Cewek murahan itu pergi ninggalin gue demi sahabat sialan yang udah nusuk gue dari belakang! Sialan! Arghhhhh!” giliran Elzar yang mengacak rambutnya. Baru kali ini Elzar merasa kehilangan seseorang, padahal hidupnya yang sepi tidak pernah merasa kehilangan seseorang sekalipun.
“Dan sekarang, waktu nya gue balas dendam, Der! gue harus menghancurkan orang berharga milik cowok b*jingan itu! holly ****!” Elzar tidak berhenti mengumpat, menunjukkan betapa murkanya ia saat ini. Setelah menunggu lama, dalam hitungan hari orang berharga milik sahabatnya itu akan ia hancurkan!
Pasti!
Sahabat nya itu harus merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan seseorang yang berharga! Dan parahnya, perempuan itu entah hilang ditelan bumi. Elzar telah menahan itu, namun cowok mantan sahabatnya itu tidak ada mengucap maaf sekalipun!
Itu, iya itu. Yang membuat Elzar marah, tidak ada rasa bersalah sekalipun dari cowok itu. Anggap saja Elzar gila, tapi inilah dia. Kemarahan yang dihasilkan oleh kesedihan. Dan Elzar bersyukur, tidak lama lagi dendamnya terbalaskan!
“Orang berharga milik dia, akan hancur dalam hitungan detik! gak akan gue biarin dia hidup, dia akan menjadi tumbal gue! shhh!” ringis Elzar, tangannya tergores serpihan kaca yang ia lempar. Tidak perduli kesalahannya, dengan cepat Elzar mengeluarkan setumpuk kertas berwarna merah itu dihadapan Derryl.
Elzar pergi dengan langkah sempoyongan dan tertatih-tatih. Meninggalkan club' yang menjadi saksi kesedihan, dan kefrustasian nya. Membiarkan mobil mewahnya yang terparkir rapi, mungkin lain kali ia akan memanggil orang suruhannya untuk membawa pulang mobil itu.
Pikirannya jernihnya hilang, Elzar pasrah dengan kedua kakinya yang berjalan entah kemana. Cowok berwajah dewa Yunani itu terus berjalan di tengah malam, sunyi dan gelap. Hanya lampu-lampu di setiap jalan raya menemaninya, diikuti beberapa mobil dan motor berlalu lalang.
“Gak akan lama, orang berharga milik lo akan hancur!”
“Dan saat itu juga, lo akan ngerasain apa yang gue rasain!”
“Tunggu pembalasan gue, cowok sialan!”
Elzar meracau di setiap langkahnya. Jalannya semakin pelan, tubuhnya kelimpungan hebat. Kedua matanya mulai berkunang-kunang, haluan arah kakinya menuju pada tengah jalan raya. Seperti mencari kematian.
Sampai pada akhirnya, cahaya putih menyilaukan itu menyadarkan Elzar untuk sementara. Melihat motor putih itu ingin menabraknya, Elzar diam bukan berarti ia takut. Biarlah, mungkin Tuhan ingin memberi tempat yang tenang untuknya.
Sampai perdetik selanjutnya, tubuh atletis cowok itu tidak merasakan apapun. Setitik sakit saja tidak ada, apakah ini yang dinamakan kematian? Oh, Elzar bersyukur dengan kematian yang tidak menyakitinya.
Namun, seketika.. harapan itu pupus. Diganti dengan teriakan perempuan itu, terdengar marah.
“Hei! kamu gila, ya?” teriak cewek berhelm itu, lalu melepas pengaman kepala dan turun dari motor yang murah menurut Elzar. Elzar nggak tau, Motor ini pemberian dari Lena setelah menabung beberapa bulan. Zhora merasa tidak enak dengan Lena, akhirnya motor itu hanya berguna untuk ke kafe saja.
“Kalau mau mati, bukan begini caranya. E-eh?”
_____
Siapa hayoo ceweknya awokaowk.
Ayolah like dong! udah update nih:(
Sesuai janji, aku udah update yaaa💕
__ADS_1
See u next chaptahh!😂🤗🙂♥️
Salam, idelia as justboggi wife.