Shine For You

Shine For You
4. Dia, Sekolah Disini.


__ADS_3

“Bahkan, orang terdekat pun bisa menyayat hati kita secara perlahan.”


__________


Gadis bermuka bantal membuka kedua mata perlahan. menyesuaikan cahaya matahari malu-malu untuk bertamu melewati ventilasi. mengedipkan mata berkali-kali, lalu merubah posisi menjadi duduk.


Melihat sekilas jam dinding biru, pukul setengah tujuh pagi. membereskan tempat ternyaman terlebih dahulu. setelah puas, kedua kaki jenjang berjalan menuju toilet.


Membasuh muka di wastafel, mendongak menatap diri pada cermin lumayan besar— yang sedikit retak. wajah bantal dan kantung mata sebagai pelengkap dini hari. tak lama, ritual mandi pun berjalan lancar.


Beranjak keluar kamar, seragam putih abu-abu melekat indah ditubuhnya. Aroma masakan terasa pekat di hidungnya. kedua bola mata menemukan Lena menunggu. “Ibu nunggu aku dari tadi?”


Lena menggeleng, mengecup sekilas kening putrinya. “Belum lama, bunda baru selesai buat sarapan, nih.” Lena mengambil nasi dan tempe bersama teman-teman nya, diletakkan piring gadis itu. Zhora tersenyum sekejap.


“Makasih, nyonya.” celoteh Zhora. bibirnya menyengir, menunjukkan deretan gigi putih bersih.


“Dasar, sudah makan. nanti telat diomelin pak satpam, loh!” seru Lena. Zhora mengangguk, memakan lahap hidangan kali ini. Terasa kenyang, Zhora meneguk air putih hingga kandas.


“Ibu aja yang cuci piringnya, gih ambil tas terus siap-siap.” Zhora awalnya menolak, takut jika Lena belum sembuh total. Melihat tatapan memohon, hati melunak. dengan telaten berjalan kembali menuju kamar dan menggunakan tas biru tua.


Biru. warna favorit Zhora sejak kecil. Entah, melihat warna laut membuatnya tenang. Lena meletakkan uang di atas nakas untuk jajan sekaligus antar jemput Zhora. walaupun Zhora tau, jika nominal itu sedikit. Lagi, tidak mematahkan semangatnya.


Menghampiri ibunya sedang menyiapkan bahan-bahan membuat getuk, menyalimi dengan patuh. Mengecup sebentar pipi Lena. “Aku berangkat, Bu!” pekik Zhora melengking ketika keluar rumah. Lena tertawa melihat kelakuan anaknya.


••••


Langit-langit cerah telah mewakili perasaan gadis berkulit sawo matang dengan wajah dipenuhi jerawat di sekitarnya. Mengendarai sepeda ontel yang sudah termakan usia itu tidak melunturkan semangatnya dipagi hari, kedua matanya terpancar kebahagiaan saat sampai tepat di depan gerbang besar bertulis 'SMA ALATRA.'


Beberapa murid berteger manis di sekitar gerbang menatap aneh, bingung, sekaligus sinis. Kok bisa, ya? sekolah terkenal dan mewah ada yang pakai sepeda butut itu?


Zhora bukanlah gadis cepat terpengaruhi. Oh tidak, lebih tepatnya belum. Zhora yakin jika sifat itu belum muncul. Senyum tulus tersungging di wajah sawo matangnya. Melihat sekitar, dengan senang. Ia sangat bersyukur dapat masuk ke sekolah ini, walaupun dengan beasiswa.


Faktanya, ya. Banyak murid-murid ingin masuk ke sekolah ini. penyeleksian ketat, namun berkat kepintaran dimilikinya, akhirnya seorang Ozhora bisa lulus dengan selamat.


Memakirkan sepeda ontel itu dengan gembira. Men-standarkan sepeda dengan rapih. telapak tangan mengelus pelan di jok hitam. “Baik-baik disini, ya Merin!” Sepeda itu ia beri nama asal-asalan. Entah singkatan dari mana, gadis itu merasa nyaman memanggilnya.


Se-sekon kemudian, kedua iris mata memandang sedih ke arah 'Merin'. Zhora tau, benar-benar tau apa alasan seluruh murid memandangi seperti itu. Besi-besi yang sudah karatan, dan jok sedikit terobek. Bahkan, stang itu mulai sulit digerakkan kesana-kemari.


Tatapan teralih pada parkiran mobil yang penuh dengan kendaraan beroda empat. Yang pasti, harganya tidaklah murah. Mobil sport, kekinian, canggih, modern, mengidentifikasi SMA ALATRA banget.


Menggelengkan kepala kekanan dan kekiri. Menutup mata nya sekilas. Ia tidak boleh berpikir seperti itu, sekolah tempat belajar bukan untuk pamer-pameran siapa yang paling hebat.


“Bersyukur Zhora! Masih bagus kamu bisa masuk ke sekolah ini!”

__ADS_1


Ya, mungkin Zhora wajib mengandalkan beberapa kata-kata Mario teguh. Langkah kakinya menuju gedung besar berlantai 3 yang diapit oleh dua gedung tak kalah besar. Pintu lebar berlapis kaca bening. Pintu itu terbuka otomatis, terdapat sensor di atasnya.


Baru saja dua langkah berjalan dengan tenang, tiba-tiba deru mobil mengusik indera pendengaran nya. berbalik, melihat apa yang terjadi selanjutnya. Kepo juga ujungnya, mank.


Oh? bahkan Zhora tidak menyadari jika ada kumpulan gadis menunggu seseorang di samping gerbang, sepertinya? keinginan kumpulan gadis tercapai, ketika 4 mobil memasuki perkarangan sekolah dengan angkuh.


Zhora beribu-ribu kali menyesal memberhentikan langkahnya. Justru, gadis-gadis itu semakin keras berteriak histeris. Dengan cekatan kedua tangan menutup telinga, keberisikan.


Mobil-mobil mewah berbagai jenis itu berhenti tepat pada kumpulan gadis yang sudah berteriak histeris sejak tadi— sengaja untuk tebar pesona, kelihatannya.


Salah satu dari keempat mobil itu membuka atap nya lebar-lebar, seolah ingin menunjukkan siapa pria dibalik mobil putih tersebut. Gadis-gadis di sana semakin berteriak keras saat tahu bahwa cowok tampan itu lah yang mengendarai nya.


“Tunggu, itu bukannya..? dia sekolah disini juga? gak, gak mungkin dia disini! mata aku salah kayaknya.” gumam Zhora tidak percaya.


Memasang gaya angkuh, melepas kacamata hitam itu. Diikuti dengan pemilik ketiga mobil lainnya yang memulai 'aksi' yang sudah biasa mereka lakukan. Apalagi kalo bukan tebar pesona?


Ozhora membeku ketika tatapannya bertemu dengan cowok pengendara mobil putih itu yang menatapnya dengan tatapan penasaran. Berniat memutuskan kontak mata itu, ia ingin berbalik dan segera masuk kedalam gedung berwana coklat sebelum mendengar teriak-teriakan keras yang terasa memecahkan telinga nya saat itu juga.


“KAK ATLAS! KAWININ AKU BOLEH, DONG!”


“HELLOW? CUMA GUE JODOHNYA ATLAS PANDORA! NGGAK ADA YANG LAIN, TITIK!”


“KAK POLAN SAOLOH MANIS BENER! DEDEK NGGAK KUAT, BANG!”


“ZEVIN! JANGAN KABUR LO, LO KAN YANG UDAH HAMILIN GUE?! NGAKU LO, SEMPAKK!”


“NIOZ DIPANGGIL MAMA BUAT JADI MANTU!!”


'kesian banget jodoh orang digituin,' batin nya. Akhirnya Zhora memutuskan pergi meninggalkan kerumunan itu, dengan alasan menghindari Atlas sekaligus belajar.


Iya, Atlas Pandora. kamu gak salah baca kok. Cowok ganteng yang memberinya perlakuan hangat kemarin. Entah setan dari mana, Atlas merasa mengingat sesuatu saat melihat gadis itu. bukan karena apa, wajah Zhora terlihat buram di mata Atlas.


Finalnya, Atlas memakirkan mobil porsche mewahnya, hingga salah satu temannya menghampiri Atlas tergopoh-gopoh.


“Kenapa, bro?” tanya cowok berwajah manis itu— setelah puas tebar pesona kesana-kemari. Polan Derianta. Playboy cap kakap, sayangnya wajah itu terlalu berharga sebagai Playboy.


Atlas menggeleng pelan. Mengangkat tangan kirinya, bermaksud melihat arloji berwarna hitam itu. “Gue cabut.” Atlas beranjak dengan tas hitam di pundak kirinya.


Polan menatap jengkel pada Atlas. “Si dongo! Masih mending punya temen perhatian, kayak gue!” umpat cowok berwajah manis itu, menggertakkan gigi putih bersihnya.


_______


“Kamu ngeliat apa sih? sampe senyum-senyum gitu. kesurupan, ya?” Zhora menatap aneh temannya— Artha Sqeulias— tersenyum manis melihat ponsel miliknya.

__ADS_1


Artha belum menyadari panggilan Zhora. Gini, nih, pesona cogan gak ada duanya, deh. Sampai-sampai Artha yang terkenal jutek dan judes tersenyam-senyum ria. Zhora terkikik kecil melihat temannya yang terus saja mengangkat sudut bibir ranumnya. Mau ngatain orang gila, tapi dia sahabat aku.


“Artha!” pekik Zhora. menatap kesal sekaligus bingung dengan temannya yang satu ini. tumben sekali, pagi-pagi tidak membentak kesana-kesini. Ritual seorang Artha memang mengagumkan.


Artha menoleh. senyumnya menghilang, berubah menjadi wajah masam, benci diganggu. “Apa?!” kesal Artha. Artha kalo marah gak mandang status, temannya sendiri pun disembur hujatan. Tapi, dibalik sikapnya yang jutek itu, ia memiliki hati yang perhatian dan penuh kasih sayang.


Zhora menggaruk tengkuknya. sedikit terkejut dengan suara melengking Artha. “Lagi ngeliatin apa, sih? kayaknya serius banget.” Zhora lega setelah mengatakan itu.


Zhora kembali tercengang melihat wajah Artha kembali tersenyum. kedua pipinya bersemu merah. “Mau tau? tapi jangan nikung!” was-was Artha, sudah sering ditikung jutaan kali.


Tanpa disadari, kehadiran Artha dihidupnya merubah pengetahuannya. Sebelumnya, Artha menganggap Zhora aneh, tidak tahu-menahu tentang ini-itu yang jelas-jelas sudah menyebar luas.


Zhora terkekeh pelan. “Iya, iya! ngapain juga aku nikung temen sendiri?” serbu Zhora. memberi tatapan keyakinan. Artha sadar, Zhora masih begitu polos. Mana mungkin gadis itu menikung-nya? mustahil!


Ponsel itu mengarah pada Zhora. menunjukkan foto cowok merokok, kelihatannya di rooftop sekolah. “Itu siapa? kok ngerokok, sih? kan gak bagus buat kesehatan!” tegur Zhora.


Artha cengengesan. “Justru itu jadi daya tarik tersendiri buat gue! Gue bukan pencinta cowok cupu. lebih menantang dikit, lah suka sama bad boy!” Zhora menatap tidak percaya. Bisa-bisanya suka sama cowok perokok? Artha memang berbeda.


“Kamu suka?” Zhora penasaran. mencoba mengeluarkan pendengaran terbaik. Mungkin, Zhora salah dengar?


Artha mengangguk antusias. “Yeah, girl! dia menarik, sikapnya yang suka berani itu salah satu kelebihan di mata gue.” Mungkin Zhora setuju dengan pernyataan ini, tetapi tidak dengan perokok. Mengingatkan ayahnya seorang perokok, lalu terkena kanker paru-paru.


“Emangnya dia siapa, Artha?” Zhora terus bertanya. Menggali informasi dari cowok tersebut. Zhora tidak akan merestui hubungan mereka, titik!


Aneh, benar-benar aneh melihat Artha memeluk penuh sayang ponselnya. sesekali mencium foto itu. Jujur, Zhora sendiri merasa bingung dan sedikit jijik melihatnya. Tapi apapun yang terjadi, ia senang melihat sahabatnya juga senang.


“Namanya Elzar. kakak kelas kita! mulai besok gue mau bawa bekel buatan gue sendiri buat dia, harus!” Artha mengepalkan tangannya. Berteguh dengan jalan pikirannya. Zhora hanya diam, bingung ingin merespons seperti apa.


“Itung-itung pendekatan sama Kak Elzar!” riang gadis itu. saking senangnya, dia tidak menyadari teman-teman sekelasnya memandang aneh. masa iya, ratu terjudes di kelas terlihat riang seperti, itu? benar-benar menakjubkan!


Lengan Zhora terasa tersenggol. Menoleh, melihat siapa pelakunya. “Apa?”


“Si Artha sehat gak sih? gue gak yakin, itu Artha. tumben-tumbenan dia gak ngomel-ngomel karena pada gak piket.” cetus cewek berbando mickey mouse itu. Ya, kemarahan Artha selalu timbul ketika mendapati teman-teman sekelasnya tidak piket.


Zhora ikut memandangi Artha geli. “Biarin aja Nes, bagus-bagus dia gak ngomelin kalian,” bisik Zhora pelan. Nesya mendengarnya lalu tertawa.


Zhora kembali menghadap Artha saat gadis itu menepuk pelan pundaknya. “Besok lo temenin gue, ya! mau kan? gue traktir deh!”


_________


Apdet lagi, gak tau mood kagak enak dari kemaren. jujur rada males, cuma demi kalian aku membangunkan mood ku, hehe!😜❣️


Makanya, like, komentar sama Vote dong huhu, biar makin semangat:(

__ADS_1


diketik dengan 1546 kata.


Bye! see next chapter!❤️


__ADS_2