
“Kamu tau? ada dua wanita di dunia ini yang sangat aku cintai. pertama ibuku, kedua kamu.” –Zefaugustus Griffin.
________
Zhora meringis, melihat celana hitam sedikit robek di bagian lutut ulah dirinya. Sial, belum selesai, sekarang harus menerima makian cowok itu. Mencoba berdiri walau sedikit sakit, mendongak memandang cowok itu.
“Loh? Nioz?” Nioz tidak kalah terkejut melihat Zhora, duh mana tadi udah ngumpatin dia, lagi. Nioz emang gini, asal ceplos aja orangnya.
Baju putih melekat ditubuh atletis, di selimuti jaket denim. Tidak lupa dengan celana hitam, hampir sama dengan Elzar, cuma beda robek-robeknya aja. Sepatu gucci menambah kadar ketampanan cowok berjambul.
“Ojor?” Zhora mengernyit. Ojor siapa? Apa itu namanya? oh, atau ada orang dibelakang nya? Zhora membalikkan tubuh, melihat siapa yang dimaksud Ojor.
“Dia manggil siapa, sih? apa dia indigo? bisa liat setan?” Zhora merinding menganggap Nioz bisa melihat makhluk tak kasat mata. berarti dibelakang Zhora ada setan dong?
“Manggil siapa?” tanya Zhora polos. Sudah berkali-kali berbalik dan mencari siapa si Ojor tetapi tidak ada, hanya para manusia berlalu lalang berbelanja.
“Lo.”
Zhora menyatukan alis, bingung. “Aku?” tanya Zhora sekali lagi.
Nioz mengangguk pelan. “Ozhora, Ozhor, Ojor.” jelas cowok itu singkat, menatap intens Zhora.
“Ih, ibu udah kasih nama ke aku bagus-bagus, eh dipanggil sama kamu Ojor!” Zhora mendelik kesal, dari nama sebagus itu jadi Ojor? yang benar saja!
Nioz terkekeh, merasa terhibur karena gadis ini. “Panggilan khusus,” Zhora yang dasarnya kelewat polos, kurang peka. Jadinya, gadis itu hanya ber-oh ria.
“Lo ngapain, disini?” Nioz celingak-celinguk melihat sekitar, tidak ada tanda-tanda jika gadis ini bersama temannya.
Zhora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku? aku nemenin Artha, Xessi sama Jelia ke timezone sama pacar-pacar nya.” Seketika tawa Nioz pecah. Zhora memandang wajah cowok itu, semakin tampan. Ah, kenapa Zhora ada dilingkungan cowok-cowok ganteng?
“Pfftt! serius? terus lo sendiri yang jomblo?” Nioz tertawa meledek, bahkan sampai batuk-batuk. Zhora ingin membantu, tetapi ingat siapa dirinya. Tubuhnya mundur satu langkah, menatap jengkel Nioz.
“Emang kenapa, sih? aku juga tadinya gak mau ikut mereka! mungkin satu atau dua jam lagi, aku harus kerja.” Zhora menepis ledekan Nioz untuknya. Huh, dia gak tau aja butuh perjuangan panjang untuk mengajaknya kesini.
Tawa Nioz merendah, berhenti meledek. “Kerja?” ulang Nioz. Umur 15 sudah kerja? Sip, harga diri Nioz hilang ditelan bumi, mungkin.
__ADS_1
“Iya, aku kerja di kafe, jadi penyanyi kecil-kecilan.” Zhora menyengir lucu, sama sekali tidak terganggu akan statusnya.
“Oh, iya! jangan-jangan mereka nungguin aku?! kenapa bisa kelupaan, ya ampun!”
“Kafe apa–”
“Eh, anu– Aku duluan Nioz! aku takut temen-temen nungguin!” Zhora berlari, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan, sudah mempercepat lari tidak semakin maju sedikitpun. Ternyata, Nioz menahannya.
“Jawab pertanyaan gue dulu,” paksa Nioz. Ide cemerlang terlintas di benaknya.
“Gue ikut lo, kalo udah ketemu temen-temen cempreng lo itu, baru gue balik bareng kakak gue.” putus Nioz. Sejak kapan seorang Nioz Legaisher Arshaka, peduli sama cewek? Nioz merasakan, ini bukan dirinya.
“Bodoamat dah! sapa suruh tuh kak Ros ngedate ngajak-ngajak gue, dikira gue nyamuk!”
Zhora semakin kelimpungan. Kenapa cowok itu keras kepala, untuk mengikuti nya? dibanding membuang waktu secara sia-sia, Zhora mengangguk paksa, berjalan duluan meninggalkan Nioz. Persetan dengan hujatan yang akan diterima.
Sesampainya di Timezone, Zhora memasuki arena bermain. Menyelusuri setiap ruangan, tempat bermain, bahkan ke tempat karaoke pun ia tidak menemukan gerombolan temannya. Zhora mencari-cari hampir 30 menit, ia habiskan untuk menemukan temannya.
Nioz setia mengekorinya. “Temen-temen lo dimana?” Entah kerasukan apa, jari telunjuk Zhora menyentuh anggota tubuh kenyal itu. “Jangan dulu, Nioz. Aku panik!”
“Artha, Xessi, Jelia. Kalian dimana?”
Sekitar satu jam ia mencari di setiap ruangan Timezone, dan tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada gadis berbaju pink, tidak ada gadis menggunakan tas selempang berlogo game, tidak gadis menggunakan sepatu air Jordan putih. Tidak ada, tidak ada!
Zhora menyerah, harapan nya pupus. Memandang harap penjaga kasir itu. “Mbak.” panggil Zhora pelan, melemah.
Penjaga kasir itu menoleh sebentar. “Ada yang bisa saya bantu?” Ramah kasir itu, menyatukan tangan di depan dada. Tersenyum manis, dibalas senyum paksa Zhora.
“Sa-saya mencari teman saya mbak apa mbak ngeliat kumpulan 3 perempuan dan 4 laki-laki?” Zhora berbicara dalam satu hentakan napas. Bisa dibayangin, gimana paniknya. Panik itu merambat pada penjaga kasir itu.
“Wah, saya lihat dek. Dalam satu setengah jam lalu, mereka sudah pergi. Seperti nya mereka mencari kamu, dek.”
deg!
Zhora membalikkan tubuh, menatap nanar Nioz. Nioz melihat itu, tatapan sayu yang ia lihat sebelum kejadian ini. Cowok berjaket denim tersenyum menyemangati.
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu lagi, dek?” tanya kasir itu, menatap pelanggan lainnya mulai berbaris di belakang Zhora. Zhora tersadar lalu menggeleng cepat.
“Tidak ada mbak. Terimakasih banyak, mbak!” Zhora menghampiri Nioz yang menunggu tidak jauh darinya. Belum lagi, masalah jam kerjanya. Bisa-bisa, boss galaknya itu ngasih ceramahan gratis nanti.
“Gimana?” tanya Nioz, menarik pergelangan tangan Zhora. merasa kasihan akan masih cewek itu, Nioz yang terkenal humoris juga pernah merasakannya. Ditinggal teman sendiri, rasanya apa? perih.
“Me-mereka cari aku. Ta-tapi, mereka udah ninggalin aku dari satu setengah jam yang lalu. Berarti tiga puluh menit sebelum kita dateng.” Nioz mengesampingkan tubuh, mendekap tubuh mungil gadis itu. Biarlah para kostumer, para pelanggan, cleaning service, menjadi saksi kedua insan itu.
“Ssst. Tenang, mungkin mereka lagi nyari lo. Positive thinking dulu, oke?” Ketakutan Zhora menyebar hingga Nioz. Nioz merasakannya, tapi nggak mungkin kan, dia panik juga? terus, yang tenangin Zhora siapa, kalau bukan dia?
Gini-gini, Nioz yang sering dianggap bacotnya minta ampun sama temen-temennya juga punya sisi positif. Nggak semua tentang lelucon, bercandaan, nggak semuanya gitu.
Justru, orang yang sering tertawa lepas di manapun, Di rumah biasanya raga akan kembali pada dirinya sendiri. Sedih, overthinking, dan menangis. Kayak Nioz, contohnya.
Jantung Zhora rasanya ingin lepas dari habitatnya. Detak jantungnya semakin berpacu lebih cepat, dibanding sebelumnya. Seluruh tubuhnya kaku, tidak bergerak seakan ada seseorang yang mematikan stopkontak di punggungnya.
“Everything will be alright. Im here,” Nioz bisa menenangkan orang lain, tidak dengan dirinya. Nioz bisa menghibur orang lain, tapi tidak dengan dirinya. Nioz bisa membuat seseorang bahagia, terkecuali untuk dirinya.
“Gue bisa ngerasain apa yang lo rasain, karena gue pernah mengalaminya.”
“Sekarang ke kakak gue dulu, ya? sebentar doang kok, nanti gue anter pulang. Oke? udah jangan nangis lagi, udah jelek makin jelek, tau.” hibur Nioz, melepas pelukan lalu menunduk menghapus air mata berharga perempuan itu.
“I will always be here for you.”
••••
Gabisa ngebaperin anak orang:(
Tapi tenang, cerita ini belum aku revisi!🙂🙏🏼
Insyallah kalo udh di revisi mau dibagusin lagi, hehe
Jangan lupa like, vote, komen, rate 5.
Salam, Idelia as justboggi wife.
__ADS_1