Shine For You

Shine For You
5. Kedekatan Artha?


__ADS_3

“HIDUP ITU KAYAK GAME ANGRY BIRDS, YA? SETIAP KITA JATUH, PASTI ADA AJA BABl YANG KETAWA.”


_________


Hidup harus dikejar, bukan dihindari. Setiap ada masalah, selesaikan dengan cara yang baik. Kejahatan dibalas kebaikan, karena kebaikan selalu mengandung keistimewaan.


Seperti ini hidup, penuh tantangan dan cobaan. Masalah tabah atau tidaknya, tergantung dari diri kita sendiri. Kita akan menjauh dari masalah, atau mendekati lalu menyelesaikannya?


Sebagian orang menyatakan hidup itu tidak adil, sepeti ; mengapa aku begini, mengapa dia begitu sedangkan aku begini? kenapa hidup tidak adil? bahkan, ada yang membuat motto sepeti ini,


“Dunia adil kepada yang cantik, bukan yang jelek.”


Nyatanya, hidup itu adil. Hidup tidak pilih kasih kepada siapa yang cantik, siapa yang kurang menawan. Hanya satu caranya, bersyukur. Dengan bersyukur, nikmat yang tuhan berikan lebih terasa.


Kita beruntung memiliki tubuh lengkap, dan berfungsi. Bagaimana dengan keadaan tunawisma, tunawicara, dan beberapa lainnya, apakah mereka mengeluh? tidak, bahkan mereka mendekati diri dengan tuhan-nya.


Jangan memalukan diri sendiri, bukan kamu saja yang merasa sedih. Tapi kenyataannya, banyak yang lebih sedih ketimbang kamu. So, belajar bersyukur mulai sekarang.


Katanya, jika kita tersenyum pada orang lain, biasanya orang itu membalas senyuman kita. Katanya, jika kita bertemu dengan seseorang yang kita cintai, bola mata kita membesar. Katanya, jika ingin memastikan orang itu sedang menyimak kita, ulangi lah perkataan, lihat respons nya. Dan faktanya, cinta itu buta, bisa membuat orang tergila-gila.


Seperti itu keadaan Artha saat ini. Cinta membutakannya dengan tersenyam-senyum sendiri. Zhora saja sudah sedikit risih melihatnya, cewek itu menatap bahagia pada kotak bekalnya.


“Zhora, lo jadi nemenin gue buat ngasih bekel ini, kan?” Artha menoleh, melihat Zhora sibuk berkutat dengan pensilnya. Artha bingung, kenapa sahabatnya yang satu ini demen banget belajar.


Kepala Zhora mengarah pada cewek jutek itu. “Iya, tapi jangan lama-lama ya?”


Artha mengangguk. “Cuma sebentar kok, kasih bekel ini terus kita langsung ke kantin. sesuai perkataan gue kemarin, lo gue traktir.”


Zhora tersenyum, Artha tidak memandang kasta, dan berteman dengan siapa saja. Ya walaupun harus dihujat dulu awalnya. “Jangan, Aku pakai uang sendiri aja!”


Artha melirik kesal. “Lo nolak gue sama aja lo gak menghargai pemberian gue. gimana?” Sikap judesnya keluar, mbak.


Zhora bingung. Artha mudah sekali senang dan mudah marah. “Iya deh, iyaa. ya udah kalau gitu ayo fokus belajarnya!”


Betul, mereka sedari tadi mengobrol ketika jam pelajaran Bu Welly— guru seni budaya yang selalu tidur setelah memberi tugas— Sebelumnya Zhora tidak ingin mengobrol, ia harus menghargai Bu Welly walaupun guru itu sibuk mengatur alam mimpinya.


Tapi, karena takut membangunkan sang harimau, mau tidak mau Zhora meladeni Artha. Tak lama kemudian, keduanya mulai mengerjakan tugas dengan tenang. Ralat, hanya satu orang. Zhora mengerjakan, dan Artha yang siap menyontek.


•••


Bel istirahat sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Namun, gadis berkulit putih itu tetap diam saja. Menatap ragu pada pintu coklat bertulis 'XI IPA 2.'


“Kamu kenapa, Artha?” tanya Zhora bingung. Perasaan, tadi Artha lah yang semangatnya sampai ujung Merauke saat ingin bertemu kakak kelasnya. Tetapi dalam sekejap gadis itu berubah ragu, dan tidak yakin.


“Kok gue jadi labil gini, ya? secara kan dia galak banget. Jangan-jangan nanti kotak bekel gue dibuang, kayak di cerita-cerita.” Zhora mendelik, gadis itu tidak mengaca seperti nya. Padahal, dia juga galak.


Zhora mengelus pelan pundak Artha, meyakinkan. “Positive thinking dulu, pintu kelasnya juga belum kebuka kok. kamu siapin diri dulu, ya?” Artha malah tertawa, jatuhnya Zhora seperti tidak tega melihat temannya dibunuh, disuntik, dan lainnya.

__ADS_1


”Kok malah ketawa, sih?” Tanya Zhora, kedua matanya menatap pada bekal ungu itu. “Dikit lagi pintu kebuka. Mungkin,”


Tak disangka, perkataan Zhora ada benarnya. pintu coklat itu terbuka, Artha yang belum siap terjatuh karena dorongan dari salah satu cowok. “Eh, sorry-sorry! lo gak papa?” tanya cowok itu membangunkan Artha.


Artha masih dalam mode terkejut. Saat pintu terbuka, para cowok di kelas itu langsung berlarian keluar. Artha mengusap pelan rok abunya. Mendongak, memasang wajah juteknya.


“Gak papa! udah sana pergi!” Zhora tidak percaya dengan Artha yang mudahnya menceburkan omelan yang jelas-jelas pada kakak kelasnya itu.


cowok berkacamata hitam itu menggaruk tengkuknya. “Beneran, nih? nanti lo kenapa-kenapa gue yang disalahin.” Cowok itu mencoba meraih lengan Artha, tetapi dengan sigap ditepis kasar oleh Artha.


“Gue bilang pergi! jangan modus lo!” teriak Artha. Membuat beberapa pandangan mengarah padanya, Zhora meringis takut. Melihat cowok berbadan tegap berada di samping Artha, menatap cewek itu galak.


“Jangan bentak-bentak. dia kakak kelas lo, seharusnya bersikap lebih sopan.” tegur cowok itu. Artha menoleh, kedua bola matanya membulat paripurna. “Kak-kak Elzar?”


Zhora bersender pada dinding koridor. Memejamkan mata, tidak tertarik melihat kejadian itu. Meskipun telinga berfungsi mendengarkan. “Herman, lo bisa pergi.” cowok bernama Herman itu mengangguk, lalu pergi tanpa kata.


Elzar memandangi Artha tajam. “Bisa-bisanya lo ngebentak kakak kelas.” cowok itu berujar tenang, tersirat nada tak suka.


Artha menunduk. “M..maaf kak, abisnya dia–”


“Ada urusan apa lo disini?” sinis Elzar, kedua mata biru tua nya teralih melihat gadis dikuncir kuda menutup mata. Seseram itu kah, dia? dasar cewek aneh.


Zhora tidak melihatnya. Meskipun telinganya tidak bisa berbohong, sedari tadi mendengar percakapan mereka. Ia merapalkan doa-doa, berharap Elzar tidak memarahi Artha.


Artha tetap menunduk, menggenggam erat bekalnya. “A-aku cuma mau kasih bekal ini, kak.” Artha harus berani, siapa jin yang singgah didirinya hingga takut pada kakak kelasnya ini? bukan Artha banget!


Dengan ogah-ogahan cowok itu mengambilnya. menatap tidak tertarik kotak makanan, mungkin ia beri pada Jojo— cowok berbadan gemuk yang hobi makan— nantinya. Elzar masih punya hati, kok. Tidak mungkin ia menolaknya.


Walaupun, hatinya berkata tidak. “Thanks.” setelah mengucapkan kata yang dapat membuat hati Artha berbunga-bunga, Elzar beranjak pergi. Ia menatap bingung Zhora, itu cewek masih merem dari tadi?


Artha merasa terbang ke langit tujuh, hatinya berdebar dashyat, beribu-ribu kupu-kupu telah berterbangan di sekitarnya. Pipinya bersemu merah. Tangannya menyentuh dada, terharu berlebihan.


“OZHORA!” pekik Artha lantang. berbalik memandangi Zhora yang terkejut, spontan membuka kedua mata. “Udah? ayo, aku laper.” polos Zhora.


Artha mengguncangkan tubuh mungil Zhora. “Dia nerima kotak bekel gue! nerima Zhora nerima! terus dia bilang makasih lagi! gila gue seneng, banget!” girang Artha. bayang-bayang Elzar mengambil bekalnya, meskipun dengan wajah datar tercetak rapih di benak.


Artha terkekeh geli selanjutnya. “Dasar! gue lagi bahagia gini sempet-sempetnya lo minta makan!” Zhora menyengir, menatap pipi Artha kemerahan.


“Ciee, pipinya merah tuh. selamat, ya!” Zhora tidak menyangka, padahal sudah berpikir Artha ditolak. Ah, dia sudah seperti pemeran antagonis sepertinya.


Artha menutup kedua pipinya. “Diem lo! jangan godain, lagi. ayo ke kantin,” kan? sikapnya tuh moody-an banget, heran. Belum apa-apa, Artha menarik lengan Zhora.


“Galak nya tetep ada, kirain kalo diterima jadi baik.”


•••


Artha menjadi pusat perhatian, wajah yang judes mengundang tatapan ngeri penjuru kantin. Muka tertekuk membuat para penghuni kantin bergidik takut.

__ADS_1


Artha dan Zhora sudah duduk meja nomor 15. Disana sudah ada kedua gadis seumuran. Ya, Zhora mempunyai teman selain Artha. Zhora gak nolep-nolep amat, kok.


“Queen judes udah dateng, guys! persiapkan diri dan batin dulu sebelum dihujat!” celetuk Jelia. Diangguki Xessica, “Yoi! batin gue tertekan maen ama ntu orang melulu!” canda Xessi.


Ini orang gak tau situasi banget, ya? Jelas-jelas ntu muka Artha ketekuk banget kayak gak dikasih jatah. Eh? Wajar dong, ya kalau mukanya makin jutek.


“Apa lo!” sembur Artha. Xessi mengusap dada, “Baru dateng disapa kek! ini dateng-dateng udah marah aja!” Xessi tidak mau kalah. Zhora duduk disamping Artha tenang. lagian, Zhora masih waras untuk tidak ikut campur.


Jelia menyahut. “Napa tu muka? kagak dibeliin makeup terbaru itu, ya?” setelah itu, tawa kedua sejoli meledak. Jika bisa digambarkan– Muka Artha memerah, bukan karena malu, ada asap hitam di atas kepala dan telinganya. Siapa suruh bangunin harimau kayak Artha?


“Diem lo semua, sialan!” jutek Artha. selanjutnya tersungging seringaian licik. “Kalo gak diem juga, gak gue traktir!”


Jelia dan Xessi terdiam. Walaupun mereka anak kalangan atas, yang orangtuanya konglomerat, pejabat gitu, loh. Tetep aja mereka masih demen yang gratisan. Xessi menyengir kuda. “Ampun, kakanda!”


Jelia menyatukan tangan di dada. “Maaf nyonya, saya berjanji tidak akan melakukan hal yang sama. Jangan pecat saya.” Ini kenapa mereka berdua mendadak jadi pembantu gini, sih?


Artha mendengus. “Giliran itu, aja langsung maaf-maaf! belom lebaran, kampret!” ketus Artha. Jelia dan Xessi menyengir, menunjukkan deretan gigi putih mereka.


Meskipun begitu, Artha tetap men-traktir. “Sebutin, lo pada mau apaan!” lagak Artha bagai anak sultan. “Jangan ngegas mulu, cepet tua, entar!” ledek Jelia.


“Diem atau gue bener-bener gak traktir lo?!” amarah Artha terus bergejolak. Kadang Zhora berpikir, apa Artha gak capek marah-marah mulu?


“Mie ayam pak Gembrong ditambah es teh, ya mba.”


“Es cincau sama takoyaki, ditunggu mbak.”


Artha mengangguk, kemudian menatap Zhora melamun. “Zhora, lo mau apa? buru, mumpung ada Elzar disana!” Dasar, mencari kesempatan dalam kesempitan. Sang empu tidak menoleh, Artha mengikuti arah pandang Zhora, mengernyit.


“Zhora!”


“Mbak'e ngelamun?”


“Oy, Jora!”


“Ozhora Alexey Zevyhrine!”


“Eh–apa? iya Atlas?” Artha mengerti, oh jadi dari tadi cewek itu ngeliatin Atlas? Jelia, Xessil memasang seringai jail. Zhora tersadar, merutuki diri sendiri terciduk memandangi Atlas sedang asik tertawa.


•••


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan! semoga kuat-kuat nih, yaaa😜❤️


**Aku belum pernah revisi cerita² sebelumnya. jadi maaf banyak salah dalam kata, aku pemula.😭🙏🏼


Ditulis dengan 1513 kata.


Rate 5, vote, like, komen sabrek. Makasih, see u next chapter!❤️

__ADS_1


Salam, Idelia as justboggi wife**.


__ADS_2