Shine For You

Shine For You
25. Balapan, dimulai. [ 1 ]


__ADS_3

“Karena harga diri seseorang dilihat dari perkataannya.” — Lathi by weird genius.


Maaf bgt kemarin cuma up satu. Gak mood asli🙂👉🏻👈🏻


Sekarang jg ga mood, cuma dipaksain aja. So, maaf kalo ceritanya gak nyambung atau aneh *padahal emang dr part awal gak jelas wkwk✊🏻


Banyak nih, 1677 word.


⛅ Happy Reading ⛅


_______


Pagi ini tepat pukul 5 dini hari. Ozhora terbangun dari alam mimpinya, roh datang menghampiri meskipun nyawa belum terkumpul seluruhnya. Merubah posisi menjadi duduk, melihat jam dinding yang menempel menunjukkan 05.23 pagi.


Turun dari kasur lusuh dan terobek-robek, bersiap untuk mandi membersihkan kuman-kuman yang tertempel rapih di tubuhnya. Mencari ikat rambut putih, menguncir kuda rambut hitam legam nya.


Sebelum meluncur kedalam kamar mandi minimalis itu, Zhora merapihkan tempat bersinggahnya dalam 8 jam itu. Setelah selesai membereskan selimut, bantal, dan sprei yang acak-acakan— langkah kakinya berjalan menuju kamar mandi.


Melakukan ritual paginya, Zhora menghampiri Lena. Perempuan paruh baya itu tengah berkutat dengan sarapan buatannya. Menu kali ini adalah nasi goreng, dan air putih. Cukup mengisi kelaparan cacing-cacing yang tinggal diperutnya.


“Ibu.” Panggil Zhora. Menoleh pada Lena yang mencuci tangan nya.


“Kenapa, sayang?” sahut Lena, sudut matanya melihat Zhora yang menggaruk tengkuknya.


“Masalah hutang itu Bu, Atlas udah suruh aku melakukan suatu hal untuk balasannya.” Zhora menghampiri Lena, baju tidur biru polos melekat rapih di tubuh milik nya.


“Hum... lalu?” gumam Lena, sepuluh jari nya mengotak-atik barang-barang yang ada di atas meja kecil dikhususkan untuk makan.


“Aku izin nanti malam jam setengah sembilan, ke Arena Xx. Mungkin, aku disuruh buat nemenin atau merhatiin Atlas balapan.” Perjelas Zhora. Sedikit risih membahas hal-hal yang berbau dengan balapan, kegiatan malam lainnya.


Lena tidak berkutik. Zhora meringis kecil, melihat ibunya mendongak menatapnya. “Kamu yakin, Nak?” Lena tau segalanya tentang Ozhora, apalagi kebencian gadis itu tentang balapan. Lena masih ingat, kejadian 11 tahun lalu. Zhora sedang duduk manis menunggu siaran kartun kesukaannya, tiba-tiba sang ayah mengganti dengan berita.


Pembalap motor yang melewati batas arena, lalu dikabarkan meninggal dunia. Zhora kecil sangat tidak suka dengan kabar itu, membuat rasa benci tumbuh sampai sekarang. Tapi bagaimana pun, Zhora harus melaksanakan apa yang harus dilaksanakan nya.


“Zhora yakin Bu. Zhora janji, akan pulang dengan selamat. Gak mungkin kak Atlas jahatin aku, ada-ada aja hihi.” Mulut mungkin bisa berdusta, tapi wajah dan hati selalu jujur untuk menunjukkan yang sebenarnya. Wajah Zhora menunjukkan rasa takut, dan tidak nyaman. Sedangkan hatinya, merasa ada yang janggal.


Lena menatap lekat-lekat anak tunggalnya. Mata itu, tidak menunjukkan keyakinan dan keberanian. Lena bimbang, bingung ingin mengijinkan Zhora atau tidak. Terlebih, pergi malam-malam yang biasanya tidak baik untuk gadis-gadis seperti Zhora.


Melihat keraguan dalam wajah Lena, Zhora meyakinkan lagi. “Cuma sebentar, Bu. Ibu tenang aja, Zhora gak akan melakukan hal-hal aneh disana.” Memasang wajah memohon.


Menghela napas pelan, berharap pilihan Zhora tidak meleset ke hal yang salah. “Baiklah, hati-hati disana sayang. Jaga dirimu baik-baik, karena harusnya gadis sepertimu tidak dianjurkan untuk keluar malam-malam.” saran Lena.


Tersenyum masam, “Zhora tau Bu, Zhora melakukan ini karena sudah seharusnya Zhora lakukan. Zhora gak akan ngecewain ibu, kok!” Zhora membulatkan tangan, membentuk batu lalu mengangkatnya di udara.


Lena menarik sudut bibir nya keatas, sedikit. Lucu dengan tingkah anaknya, terkadang Lena selalu merasa bersalah tidak bisa mencukupi kehidupan nya dan kehidupan putrinya. Namun, Lena kagum dan bersyukur memiliki putri yang pengertian seperti Zhora.


“Ibu selalu mendukungmu,”

__ADS_1


•••


Malam ini, malam yang akan menjadi saksi lunasnya hutang Zhora. Bintang-bintang gemerlapan, angin menerpa kulitnya, diikuti bulan terang seperti menyemangati usaha Zhora untuk melunaskan hutang nya.


Kini pukul 20.20, dan Atlas sudah sampai lebih cepat dibanding kiriman pesan dari nya kemarin. Cowok jakung itu menggunakan baju santai bermerek deuz. Celana jeans yang sedikit gelap, dan sepatu Jordan yang melilit kaki cowok itu. Terlalu mewah untuk gadis kampung seperti Zhora.


Zhora hanya menggunakan baju putih polos, celana biasa berwarna army dan sepatu abu-abu yang sedikit rusak. Jaket tipis itu melindungi nya dari kedinginan, meskipun hanya sedikit. Surai hitam itu ia gerai, tidak dicepol atau dikuncir kuda lagi.


“Masuk,” Aroma maskulin terasa pekat pada indera penciuman Zhora. Penampilan Atlas yang glamour, parfum yang dipakai Atlas pasti menginjak harga yang mahal. Zhora saja sebagai perempuan, tidak menggunakan barang-barang pewangi itu.


Zhora mengikuti perintah Atlas, duduk disamping bangku pengemudi. Atlas memutari mobil Porsche kesayangan nya, lalu membuka pintu mobil dan mendudukkan bokong di atas bangku pengemudi.


Malam kali ini sangat ramai, mengingat malam ini adalah malam Minggu. Biasa dijadikan malam yang istimewa bagi mereka yang memiliki pasangan untuk kasmaran dan bermesraan. Zhora sendiri, tidak terlalu peduli dengan fakta ataupun mitos itu. Menurut Zhora, semua malam sama. Tidak ada yang beda.


Kedua sejoli itu tidak berkutik, Atlas sibuk mengemudikan mobil dan Zhora tengah berkutat dengan pikiran nya mengenai balapan malam ini. Apa benar, pikiran positif nya tepat sasaran? Entahlah, biarkan waktu yang menjawab.


Hanya alunan lagu kebarat-baratan yang terputar jelas memenuhi area mobil Atlas. Gedung-gedung tinggi, lampu mobil dan motor menerangi suasana kota Jakarta malam ini. Beberapa gadis dan pria yang menaiki motor terlihat mesra. Dengan gadis yang memeluk erat sang pria yang mengemudikan motor.


“Kak,” Zhora memecahkan keheningan yang mengguyur mereka. Zhora bukan tipe yang menyukai keheningan dan canggung, selalu mencari topik untuk menghancurkan keheningan itu.


Atlas tetap diam, tangan nya mengenggam stir mobil. “Hm.” hanya kata itu yang Zhora dapat, menciutkan sedikit nyalinya.


“Em.. itu, kenapa kakak ngajak aku balapan, Apa yang harus aku lakuin, nanti?” Zhora meremas tangan nya, kedua matanya menatap lurus ke jalanan yang ramai.


Atlas tidak bergeming, bingung untuk menjawab apa. Zhora tidak tau, sebelum menjemput gadis itu Atlas melafalkan kata 'maaf Zhora, gue terpaksa.' ratusan kali, seperti berdzikir.


“Berhenti gigit bibir lo,” tajam Atlas.


Bukannya berhenti, Zhora semakin mengigit bibir bawahnya. Gugup, takut, dan resah bercampur menjadi satu. Gugup karena diamnya, takut jika Atlas akan melakukan hal aneh-aneh padanya, dan resah karena belum tau apa alasan Atlas membawanya ke Arena yang terkenal itu.


“Berhenti, atau gue turunin lo disini?” ancam Atlas, keputusan tidak bisa diganggu gugat.


Zhora menghentikan aksinya, mendengar keseriusan pada ucapan Atlas. Mulutnya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata, saking takutnya. Memang, perkataan Zhora pada Lena tadi pagi bagai kejujuran yang menyakiti Lena secara perlahan.


Maaf ibu, aku terpaksa. Hati aku berkata lain dengan keputusan aku sendiri, aku harap aku tidak jatuh ke jalan yang salah. Batin Zhora, merutuki perkataanya sendiri.


Setelah mengkandaskan waktu sebanyak 35 menit mobil Porsche mewah itu sampai di parkiran milik Arena Xx. Mencabut kunci mobil, menekan suatu tombol agar pintu mobil tidak terkunci lagi. Atlas membuka pintu mobil, keluar tanpa sepatah kata.


Zhora mengikuti apa yang Atlas lakukan, tidak lama ia segera mengekor Atlas dari belakang. Kedua sejoli itu sudah sampai di tempat register, membayar karcis untuk bisa masuk kedalam Arena balapan yang sepertinya penuh dengan lautan manusia.


“Dengan siapa?” tanya gadis yang bertugas untuk mengatur permasalahan karcis. Mba karcis itu menatap kagum Atlas, tidak berhenti ia melakukan hal-hal manis dan modus. Misalnya, saat Atlas menyodorkan uang, gadis itu menerima sambil mengelus-elus pelan telapak tangan Atlas.


Ganjen banget.


Zhora terciduk memandangi mbak karcis itu, gadis itu membalas dengan tatapan mengintimidasi dan sinis, tidak suka dengan keberadaan Zhora. Setelah selesai dengan masalah bayar, Atlas dan Zhora sudah masuk ke dalam Arena yang luas pake banget itu.


Zhora berkali-kali mengucapkan 'wow, keren, gede banget.' sejak tadi, berbeda jauh dengan Atlas yang hanya diam mencari dimana lawan balap nya. Wajar sebenarnya, Zhora kagum overdosis seperti itu. Arena megah, lampu-lampu menerangi malam kali ini, kursi-kursi yang rapih mengelilingi pinggir Arena.

__ADS_1


Hampir seluruh kursi telah dihuni beberapa insan. Bendera hitam putih sudah berterbangan, garis start telah siap untuk dipakai. Pengunjung disana berteriak ketika Atlas memasuki Arena besar itu, terutama para gadis-gadis disana mengangkat tangan tinggi-tinggi demi di-notice oleh Atlas.


“PANDORAAA! AKHIRNYA LO DATANG!”


“GAK SIA-SIA GUE NUNGGU 2 JAM DARI TADI, DIA DATENG JUGA!”


“OH MY GOSH! LAWANNYA ATLAS SIAPA KIRA-KIRA?!”


“CAKEP BANGET MASYAALLAH, JODOH GUE!”


“BUSET! GUE KAYAK NGELIAT ARTIS KOREA NYASAR, ASLI!”


Atlas menarik pergelangan tangan Zhora, mengajaknya kedalam Arena lebih dalam. Lampu-lampu yang berjumlah ratusan itu mengalihkan pandangan Zhora, teriakan-teriakan yang menuju pada Atlas juga Zhora dengar dengan baik.


“Kak Atlas ternyata banyak fans nya, aku baru tau.”


“Hei bro! lama banget lo, siapa sih orang berharga bagi lo? Pengen liat gue!” beo cowok itu menepuk pelan pundak Atlas. Mencari pandang gadis yang berada dibelakang Atlas.


Atlas tetap diam, menghampiri seseorang yang berdiri angkuh disana dengan rokok berteger manis di bibir nya. Dua motor khusus untuk balapan itu sudah berdiri manis di garis start.


“Tuan, tuan muda Atlas sudah datang.” ucap seorang pria paruh baya menggunakan jas hitam. Kemudian beralih pada Atlas yang sudah berada di depannya.


“Silahkan Tuan muda Atlas, tuan menunggu anda disebelah sana. Saya permisi,” pamit pria berjas hitam itu, berjalan menjauhi ketiga insan yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Cowok perokok itu terdiam sekilas. Rokok yang menyembulkan asap tebal, seperdetik kemudian rokok sudah dibuang asal oleh pria itu. Menoleh ketika sudah dirasa lawannya sudah siap.


“Dimana orang berharga milik lo?” tanya cowok itu to the point. Tidak sabar untuk menghancurkan orang berharga milik Atlas.


Maaf Zhora, gue terpaksa. Maaf, gue emang lelaki pengecut, b'rengsek.


Zhora memunculkan kepala nya dibalik punggung Atlas, mendengar suara yang familiar untuknya. Dan ternyata, cowok yang memakai baju biru dongker dibalut jaket Levis itu adalah seseorang yang pernah menamparnya.


Sekali lagi, menamparnya.


Darahnya seperti berhenti berjalan, pikiran jernih nya hilang dalam satu detik, detak jantungnya berdetak sangat cepat, bahkan berkali-kali lipat. Bibir yang sedari terangkat, memudar karena melihat objek di hadapannya.


Elzar. Benar, Zhora tidak salah lihat apa yang kedua matanya tangkap. Telinga nya berdengung hebat, kakinya bergetar. Kedua kakinya ingin sekali berlari sejauh-jauhnya dari Arena ini, namun pikiran sialan itu tetap terputar dengan jelas.


______


Ada part 2 ya gaiseu!⛅


Hope u like it👉🏻👈🏻


Jangan lupa like, sumpah tangan ini kriting nulis melulu. Emang hobi sialan! kak😭🌚


Salam, Idelia as justboggi wife.

__ADS_1


__ADS_2