Shine For You

Shine For You
18. Mereka, Rapuh.


__ADS_3

Bener kan, kalo aku double up? Iyalah, bulan puasa gak boleh bohong. Huahahah😂


*Meskipun readers aku gak ada yang aktif, dan sedikit. Entah deh ya? Aku gak terlalu perduli itu, yang penting setelah readers aku nambah, ceritanya udah selesai!🤗💕


Baik kan? Iya dong, Idelia gitu loh🙂


Oh iya, buat kata yg seharusnya disensor aku kasih sela-an berupa simbol ini (') jadi kalian nggak bingung apa kata yg disensor itu.


“Karena sekuat-kuatnya orang lain, ada saatnya ia menjadi sesosok yang lemah tak berdaya.” – Ozhora Alexey Zevyhrine.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Gue gak bercanda Zef. Lo harus minta maaf sama dia besok! gak ada bantahan!”


“Gue? minta maaf? bahkan gue gak salah sedikit pun!”


“Lo itu keras kepala banget, sih?! minta maaf aja susah banget! maaf lo itu bener-bener berharga buat Zhora!”


“Berharga karena dia murahan. Coba dia cantik, gak akan berharga.”


“Zef! Lo tuh ya, makin lama makin ngelunjak! mentang-mentang lo kakak kelas gue, dan lo seenaknya sama dia? i dont give a f'uck man!”


“Slow down, biar gue lakuin ini sendiri.”


“Gue gak percaya! pokoknya, besok gue harus liat dengan mata kepala gue sendiri!”


“Okay, okay fine! up to you!”


Cowok yang baru saja selesai melakukan ritual mandi nya itu berdecak kesal, mengacak rambut hitam membuat beberapa air bertebaran di sekitarnya. Melempar ponsel pintar itu ke arah kasur king-size nya.


“Coba kalo lo cowok, udah gue ajak ribut dari dulu, jing!” sarkas cowok itu, kemudian kakinya berjalan menuju lemari untuk mencari pakaian dan bawahan. Membiarkan ponselnya yang berdering, entah kenapa.


\=\=\=\=\=\=


“Atlas, aku nginep disini ya? ya ya ya?” mohon gadis berkuncir kuda itu ditengah malam, keduanya berada di balkon yang luas ditemani bintang-bintang bertebaran pada langit gelap.


Verena berjalan menuju bangku besi itu, kemudian menduduki bokongnya di samping Atlas. Menoleh ke arah cowok itu, diselangi kedua kakinya yang mengayun. Bibir ranumnya mengerucut lucu, menggemaskan. Tapi tidak untuk Atlas, Ingat ya.


“Boleh, ya? udah malem soalnya. Lagian tante Rine ngebolehin kok! tadi udah aku telpon, serius deh!” rujuk gadis itu, Atlas mengacuhkan nya. Menurut Atlas, bintang-bintang disana lebih menarik dibanding Verena.


“Dih, kok dicuekin sih?!” Verena semakin mengerucutkan bibirnya. Tangannya tidak tinggal diam, mulai mencari celah untuk bergelayut manja di lengan kokoh Atlas. Menaruh kepalanya pada pundak cowok itu.


“Bintangnya bagus, ya?” Dibanding dikacangin, Veren mencari topik baru untuk mencairkan suasana. Susah memang, menginap sebentar di rumah cowok, tinggal berdua lagi. Bisa-bisa diomongin sekampung.


Atlas yang risih, hanya berdeham. “Hm.”


Veren melepas cekalan, kemudian mendongak menatap wajah angkuh cowok itu. “Lo kenapa, sih? cuek banget, ada masalah ya?” telapak tangan gadis itu melambai-lambai di hadapan wajah Atlas.


“Iya, tentang Ozhora.”

__ADS_1


"Gak,” elak cowok itu, berdehem untuk mencairkan suasana dan mengalihkan pandangan. Dalam lubuk hatinya paling dalam, ia merasa bersalah saat itu pada Zhora. Mengingat gadis itu meneteskan air mata karenanya.


“Gue pikirin, lo bisa pergi.”


“Dia nangis karena lo, Atlas! otak lo kemana saat itu? malah mentingin ini cewek, padahal dia udah ngomong baik-baik sama lo, bodoh!”


“Padahal Zhora udah luangin waktu demi lo, apalagi buat ngasih tau dia nerima perjanjian itu! bodoh, lo emang bodoh Atlas!”


“BODOH!” Atlas berteriak spontan, tidak menyadari jika secara halus sedang membentak Verena yang tidak tau apa-apa masalah ini. Begitupun Veren, terperangah akan bentakan itu.


“At–k-kak, aku salah, ya?” Ujar Veren, suaranya mulai mengecil dan bergidik takut. Secentil apapun ia pada Atlas, senakal apapun itu, ia tetaplah gadis penakut dan cengeng.


Atlas bingung, memeluknya? Oh tidak! Atlas tidak pernah memikirkan tentang itu. Atlas bukan tipe pria romantis, dan penuh kasih sayang. Salahkan kedua orang tuanya yang selalu pergi untuk bisnis, dapat disimpulkan jika kedua orangtuanya lebih mementingkan bisnis dibanding anaknya sendiri.


Yap, Atlas memiliki sifat dingin tidak tersentuh, cuek dan tidak mudah peduli itu bawaan karena sejak kecil jarang mendapat kasih sayang orang tua. Kedua orang tua nya— Rine dan Anderos — selalu pergi keluar negeri demi bisnis, begitu katanya.


Dulu, Atlas sering menangis karena itu. Atlas kecil selalu mengharapkan kasih sayang, namun itu hanyalah angan-angan nya saja. Lama kelamaan, rasa terbiasa muncul. Menimbulkan rasa tidak peduli, kasar dan tidak tersentuh walaupun sedekat apapun itu.


Lamunan Atlas buyar setelah indera pendengaran nya menangkap tangisan perempuan. Cowok itu menoleh, melihat Verena menangis akibat dicueki. Ya, begitu deh Verena, centil-centil cengeng.


Mau tidak mau Atlas mendekatkan diri pada Verena yang sesegukkan karena menangis. Tidak terbayangkan, Atlas mendekapnya lalu mengelus punggung gadis itu. Memberi kehangatan tersendiri bagi Verena.


“Maaf. Gue mikirin seseorang, dan lo jadi imbasnya.”


Verena terkejut bukan main atas pernyataan itu. Namun, rasa nyaman lebih besar ketimbang rasa penasaran. Finalnya, Veren membalas pelukan Atlas dengan dilingkupi rasa ingin tahu yang belum tuntas.


\=\=\=\=\=\=


“Kalo mau mati, bukan begini caranya!”


Kata-kata perempuan itu membuat Elzar tersadar, jika ia masih hidup. Ada rasa tenang sekaligus kesal, apa malaikat maut mempermainkan nya? Oh baiklah, Elzar harus lebih bersyukur sepertinya.


“Kamu— gak mungkin..” gumam nya, Zhora meringis kecil. Apa penglihatan rusak setelah bernyanyi berkali-kali di cafe? Zhora rasa, penglihatan nya masih baik-baik saja.


Zhora segera menghampiri cowok yang menurutnya familiar, tidak asing dengan wajah tampan itu. Semakin mendekat, semakin perasaan penasaran itu muncul. Benar dugaannya, kakak kelas yang dicap badboy.


alias Elzar.


Bagaimana bisa Elzar ada disini? buat apa malam-malam berkeliaran? apa ia seorang pengemis, maling atau bahkan pembunuh?! Menghentikan pikiran aneh, kemudian melihat Elzar yang menatapnya juga.


“Kak Elzar..” lirih Zhora, saking takutnya habis memaki-maki cowok yang jelas-jelas menyeramkan, untuknya. Apalagi ini? baru saja ia berbahagia akibat boleh pulang, tau-tau di tengah jalan ada aja masalah.


“Lo, lo udah mengambil kebahagiaan gue!” racauan Elzar kembali terdengar jelas di telinga Zhora. Gadis itu yang tidak tau apa yang terjadi, hanya bisa mengernyitkan dahi.


“Lo.. cewek sialan! kenapa lo ninggalin gue hah!” bentak Elzar, namun lebih terdengar dengan racauan, dalam hitungan detik Zhora tau apa yang terjadi dengan kakak kelasnya ini.


“Kak! kakak mabuk! kakak kesini sama siapa? ayo aku anterin, kak!” Jalan raya mulai sepi, hanya beberapa mobil maupun sepeda motor berlalu lalang. Otomatis hanya suara mereka berdua terdengar jelas dimalam bolong seperti ini.


“Dasar bodoh! gue tau semua drama lo! berhenti pura-pura peduli sama gue!” Elzar terlihat seperti seseorang yang kerasukan. Zhora merinding, dilema antara meninggalkan cowok itu atau membantu nya pulang.

__ADS_1


Zhora mengingat jelas setelah beberapa detik, bagaimana Elzar menemaninya saat ia terluka di UKS. Dan, ya! Elzar pantas mendapat bantuan kali ini, Zhora akan membantu cowok ini. Harus!


“Kak.. aku gak begitu! kakak salah orang kak..” ringis Zhora. Bisa saja kan, cowok ini melakukan hal-hal aneh, karena sudah larut malam ditambah jalan raya kini sepi?


“BAHKAN LO LUPA SAMA PACAR LO SENDIRI! DASAR CEWEK MURAHAN, JA'LANG!” hina Elzar. Elzar terlihat seperti monster sekarang.


Ingat, tentang Zhora yang overthinking, dan mudah terpengaruh? Ya, sekarang waktunya sifat itu muncul tanpa diminta. Zhora terdiam seribu bahasa, menelaah seluruh kata-kata Elzar yang Zhora tau bukan untuknya. Tapi, Zhora merasa kalimat itu memang pantas untuk dirinya.


Kepala Zhora mulai pening, pusing dan berat merasukinya. Zhora terkejut dengan respon tubuhnya, oh tidak. Sekarang, apalagi? Zhora segera menekan pelan kedua pelipisnya, berharap jika itu akan mengurangi rasa sakit.


Kedua matanya mulai berkunang-kunang, bayangan Elzar mulai bergerak kesana-kemari. Kedua mata nya seperti meminta untuk dipejamkan, dan Zhora melakukannya. Dan saat itu juga, gambaran Zef yang menghinanya muncul.


Dasar jelek..


Lo gak pantes disini..


Liat noh jerawat, lo panen jerawat ya? Gak laku dong?


Sadar diri, mereka ada di deket lo karena kasian. Ya kali, mereka mau temenan sama buruk rupa kayak lo!


Hahahah, bener tuh! gak sadar diri!


Zhora dengan sekuat tenaga, memaksa kedua matanya untuk terbuka. Pusing itu belum hilang, dan seperti nya akan lebih sakit jika dibiarkan. Serius, sekuat itu perkataan Zef pada dirinya?


“KENAPA, BARU NYADAR? KENAPA LO BARU NYADAR KALO LO ITU MURAHAN! MANA COWOK-COWOK LO, HAH!”


“SIKAP LO, ITU YANG BUAT GUE MUAK! LO YANG MERUBAH SIKAP GUE!”


“TAU? RASA CINTA GUE KE LO BERUBAH JADI BENCI, B'ANGSAT!”


Kalian tau, apa selanjutnya? Mungkin, ini akan benar-benar menjadi hal terburuk yang Zhora rasakan. Zhora yakin seratus persen jika ingatannya akan terus menyimpan kejadian ini, dan tak akan pernah hilang. Zhora yakin!


Zhora membeku, kedua matanya yang terasa perih mengeluarkan setetes cairan bening. Bahkan rasa pedih itu tidak terasa dengan rasa panas yang menjalar di sekitar pipinya. Zhora menangis, apa salahnya tuhan? Apa tuhan tidak suka jika Zhora bahagia sedikitpun?


Maaf bunda, Zhora adalah perempuan murahan. Zhora dekat dengan semua laki-laki, maaf Bunda..


Elzar, menamparnya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, tangan itu menampar keras sampai kepala Zhora menoleh ke arah lain. Sedetik kemudian, cairan bening itu keluar, lagi dan lagi.


Zhora tidak percaya apa yang ia rasakan sekarang, rasa kecewa, sedih dan perih bercampur aduk. Kejadian Atlas yang bersikap dingin padanya, dan sekarang Elzar yang menampar pipinya?


“INI PANTAS BUAT JA'LANG MURAHAN KAYAK LO! JANGAN HARAP GUE MINTA MAAF, MRS. VENLY!”


••••


Woi aku butuh masukannya buat scene kayak gini, aku butuh kalian!


like, like, like! harus! eh canda 🙂


Please, sarannya aku mohon:(

__ADS_1


Salam, idelia as justboggi wife.


__ADS_2