Shine For You

Shine For You
14. Tidak Seburuk Ekspetasi


__ADS_3

“Aku tau aku jelek, tapi apakah bisa menghargai aku walau sebentar?” – Ozhora Alexey Zevyhrine.


Yang punya saran untuk cerita ini, boleh komen ya. Sebisa mungkin aku turutin, huahaha 👉🏻👈🏻


______


Jika tuhan tengah menimbang ingin memanggil Zhora sekarang atau sebatas istirahat sebentar, Zhora mendukung untuk memanggilnya sekarang, lebih baik ia merasakan sakit luar biasa namun tidak akan merasakan perih di hati, jauh dari hujatan pahit.


Zhora bukan gadis pada biasa, kebal, kuat akan hujatan, pantang menangis. Zhora hanya gadis bermental lemah, mudah menangis, dan overthinking. Jika hujatan mengenai Zhora sekali, sudah membuat kepercayaan diri goyah.


Anggap saja Zhora sebuah ranting pohon, memiliki daun di setiap bagiannya. Daun-daun seperti kepercayaan, kekuatan, dan mental. Jika seseorang datang, lalu memetik salah satu daun itu, akan mudah bukan? Lalu daun itu menghilang.


Zhora seperti itu. Kepercayaannya di ambil sekali, perlahan kepercayaan itu akan menghilang dan tidak akan kembali. Jika seseorang mengusik mentalnya yang lemah, lama kelamaan mental nya akan menurun, bisa menyebabkan gadis itu depresi. Jika kekuatannya dipermainkan dan diambil, Zhora benar-benar menjadi gadis lemah.


Berbeda arti jika daun yang dipetik itu tersisa. Sama dengan Zhora, jika seseorang berkata yang menyakitkan mentalnya, kata-kata itu akan terus bergentayangan, jangan berpikir Zhora akan mudah menghilangkan itu.


Buruk rupa kayak lo gak pantes disini..


Harusnya sadar diri, sih temennya glowing, cantik, putih, eh satunya jelek ngerusak pemandangan..


Ngaca gih, liat muka lo gak keurus gitu..


ada ya? yang mau temenan sama lo..


Bruntusan sama jerawat di ilangin dulu tuh, baru ngoceh..


Buruk rupa, bangun!


buruk rupa, hei!


buruk rupa!


Kalo lo belum bangun juga, jangan berharap lo hidup bahagia..


Sesosok manusia itu menghilang, menyisakan kupu-kupu berwarna kehitaman. Kedua mata kemerahan, tubuhnya sangat gelap menggunakan jubah disertai tudung. Wajahnya memang tidak terlihat, namun bisa dipastikan sangat seram.


Zhora disana melebarkan mata, mengangkat telapak tangan di depan mata menutup cahaya terang itu. Dan ternyata, cahaya itu adalah cahaya yang berasal dari lampu UKS.


Zhora terbangun, dengan napas memburu. “AAAAAA!” Zhora terduduk lemas, kedua tangan mencengkram kuat bibir brankar. Keringat bercucuran di sekitar wajahnya. Kedua mata melihat sekitar, ternyata UKS.


Orang itu, suaranya mirip sekali dengan suara bariton Zef. Berhubung di depan kasur khas rumah sakit itu ditempati kaca lumayan besar, Zhora melihat sudut dahinya yang diperban, ditutupi oleh sepucuk kain.


Tangan Zhora mencoba menyentuh luka itu, namun sebuah tangan kekar menahannya. “Jangan disentuh.” cowok itu berujar dingin, memberi kesan tersendiri membuat Zhora ingin pergi saat ini.

__ADS_1


Zhora tidak mengindahkan kata tersebut. Toh, mungkin ia hanya kasihan dengan nasib malang yang mendatangi nya. Kebanyakan dari mereka hanya ingin tahu, bukan peduli.


Tangan nya menepis lembut lengan kekar itu. Bukan nya melepas cekalan, Justru lelaki semakin mencengkram kuat tangan Zhora, menandakan benar-benar marah.


“Nurut, ini demi kebaikan lo juga,” lelaki itu mengubah nada bicara menjadi lebih lembut melihat wajah pucat cewek di sampingnya, Kedua matanya sedikit merah.


Zhora menoleh, kedua bola matanya ingin keluar saat ini. Zhora terlalu pede berpikir itu Atlas, atau Nioz. Ternyata, yang memegang lengan Zhora adalah Elzar, the most bad boy. Terkenal dengan kekerasan, tawuran, merokok, bolos, dan selalu memunculkan masalah.


Zhora menatap seragam itu. Dasi yang tidak dipakai, seragam di keluarkan, dan membuka dua kancing atas. Mungkin jika Zhora tidak takut dengan cowok ini, Zhora akan memuji sexy.


“Kamu berharap kalo itu Atlas, Zhor?”


“Atau menginginkan jika yang memegang tangan kamu Nioz?”


Zhora tersenyum kecut, mau tidak mau harus menerima kenyataan pahit yang terus menggebuki nya. Mengalah, menurunkan tangan, di atas paha.


“Ng-nga-ngapain, d-dis..disini?” Mulutnya bergetar hebat, mengaitkan kedua tangan miliknya. Membuang muka asal, berniat menjauhi tatapan cowok itu.


Elzar terdiam sejenak, pikiran jahil muncul. “Nemenin cewek jelek yang jatoh di depan gue,” canda Elzar, namun memberi dampak buruk bagi Zhora.


Jelek, lo akan selalu jelek..


Apa lo pake pelet? semua yang di sekeliling lo itu sempurna semua..


buruk rupa, jangan lupa untuk sadar diri..


Memori dimana Zef menghinanya terus saja bergentayangan. Bekas itu masih terus tercetak rapih di galeri otaknya. Bagaimana pria itu memarahinya, menunjukkan kebencian, ketidaksukaan, bahkan nada tinggi sekaligus ketus itu tidak meleset dari ingatannya.


“Ahh.. sakit,” Zhora meringis, pening menghampiri. Kepala Zhora terasa tertimpa buah kelapa, beribu-ribu meteor menerpa tanpa henti seakan memberi hukuman mati secara perlahan.


Zhora memegang kepala nya, menekan kedua pelipis. Kepalanya benar-benar terasa berat.


“Lo kenapa? butuh sesuatu?” Zhora tertegun, menangkap rasa khawatir dari pria tersebut. Ya walaupun wajahnya datar, tetapi suaranya tidak bisa mengelak.


“A-air..” pinta Zhora, sebenarnya ingin mengetes apa cowok ini benar-benar akan melakukannya?


Cowok dengan luka lebam yang berkurang tersebut diam, namun tubuhnya bergerak mengambil satu gelas kaca berisi air putih. Menyodorkan– Ralat, mengangkat tengkuk gadis itu, lalu menaruh gelas itu tepat di mulut Zhora. Membiarkan gadis itu meminum, tangannya terus memegang gelas.


Zhora menurut, meneguk air putih hingga kandas tak tersisa. Elzar menarik kembali gelas itu. “Makasih,” Elzar mengangguk.


Keduanya digerogoti hening. Zhora berpikir untuk berjaga jarak dengan Elzar saat menyadari suatu fakta. Lo jangan nikung, tapi!


Kata Artha waktu itu, membuatnya harus berjauhan dengan Elzar. Tanpa disuruh, pun Zhora akan terus mencari celah supaya dapat kabur dari cowok berandalan tersebut.

__ADS_1


“Kak, anu.. aku mau ke kelas aja.” Zhora gugup, bayangkan saja. Orang yang tidak mengenal kita, anak nakal, jarang bertemu dan bercengkrama menjadi super dekat seperti ini? Oh, Ayolah! rasanya benar-benar canggung.


Elzar melirik sebentar, lalu fokus dengan ponsel. “Jangan, keadaan lo belum pulih sepenuhnya. Entar mati di tengah jalan, gue juga yang disalahin.” Zhora heran, bercanda saja cowok itu masih nyaman memasang wajah tembok.


Zhora bergerak kikuk. “Gak papa kok. Aku kurang nyaman disini,” Iya, tidak nyaman karena cowok itu, membuatnya gugup berkali-kali lipat. Bagaimana jika Artha datang lalu memergoki nya, disangka pacaran?


Elzar mengerti makna itu, lalu berdiri. “Gue keluar, pengen beli es milo.” Alasan Elzar membuat hatinya menghangat, setidaknya cowok yang dikira nakal tidak bisa bersosialisasi dengan baik, ternyata tidak sama dengan ekspektasi.


Pintu UKS tertutup, menyisakan keheningan dan kesunyian sebagai pelengkap kesendirian Zhora sekarang. Lama kelamaan, kedua mata itu tertutup secara perlahan, memberi bekas dengkuran halus.


_____


“Pokoknya lo harus minta maaf, titik!” Cewek itu menatap tajam cowok yang terlihat santai di hadapannya.


Cowok itu menggeleng. “Buat apa?”


“Karena lo salah, bloon!” maki cewek itu, tidak tahan dengan tingkah cowok gila ini.


“Gue?–” cowok itu menunjuk diri sendiri, tepat di dada. Cewek itu mengangguk, memberi tatapan tak suka.


“–Salah? cih, apa yang gue lakuin itu bener. Akhirnya kuman dari geng kalian keluar berkat gue!” balas cowok itu, tidak mau kalah. Enak saja! niatnya baik ingin mengusir kuman jahat itu.


Cewek itu menggeram, menahan gejolak amarah yang keluar dalam hitungan detik. “Lo salah, bodoh! gimana kalo dia kepikiran, sedih, insecure, gara-gara lo?! emangnya lo mau tanggung jawab, hah?!” bentak cewek itu, bagaimanapun itu juga sahabatnya.


Cowok itu sedikit tercengang, kemudian merubah raut wajahnya kembali semula. “Bukan urusan gue.” elak cowok beralmamater abu-abu.


“Kalo lo gak minta maaf sama dia, jangan harap lo–”


“Okay, fine!” cowok itu mengalah, tidak Ingin berurusan dengan cewek galak yang selalu membuatnya terkesima, hanya sebentar.


Cewek itu tersenyum menang, sangat mudah membuat orang-orang bertekuk lutut untuknya. Kemudian, kembali teringat air mata berlinang di pipi Zhora membuat emosi itu kembali muncul.


“Maaf Zhora. Gue gak bisa ngikutin lo, karena cowok ini nahan gue. Setidaknya hal ini bisa membantu lo, sekali lagi maaf, Zhor.”


_______


Dah la, makin lama makin aneh ngehehe. Solusinya apa? revisi dong💨


jujur aja gw males ngetik di bagian Zef, kek kesel gmn gitu wkwk🌚🙏🏻


Udah ye, udah rajin up nih🤗


Jangan lupa like, rate, komen dan vote nya qq😗💛 /najis/ alay/

__ADS_1


salam, Idelia as justboggi wife.


__ADS_2