Shine For You

Shine For You
21. Menghangat.


__ADS_3

“I love you, tapi boong.”


Sekalinya up, jadi ketagihan bro. huahahah😂


🗽budidayakan like sebelum membaca 🗽


⛅ Happy reading-! ⛅


×××


“Hei, kalian mau kemana!” tukas pria paruh baya menggunakan setelan coklat itu, telunjuknya mengarah pada ketiga pria yang tengah sibuk memanjat tebing dekat taman tua.


“M'ampus jir, ketawan!” pekik Nioz, cowok itu sudah sampai di atas tebing. Tangan kanan nya menarik tangan Zevin yang masih di bawah. Sedangkan Polan sudah turun, dengan santai cowok itu berjalan duluan meninggalkan mereka.


“Poulan! sini dongo, cih ntu bocah malah ke warung duluan lagi!” gerutu Nioz, tangannya tidak sengaja melepas tautan mereka. Zevin yang belum mendengar aba-aba jatuh tersungkur, menyisakan cacian dari cowok berjambul itu.


“Kenapa lo lepas, sialan!” Zevin berdiri, membersihkan noda kotor di celana nya. Kemudian berbalik dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Lagi apa, kalian? mencoba kabur, iya?!” bentak pak Wawan— guru matematika ter-killer sejagad Alatra. Mukanya itu loh, kata murid disini sih, kayak alien. Lesung pipi yang terlalu dalam dan kedua mata belo selalu menjadi ejekan.


“Kamu Nioz! turun-turun! atau nilai kamu saya ganti menjadi nol. Mau?!” tantang Pak Wawan, muka nya berubah menjadi garang. Ralat, tiap hari mukanya emang begitu.


“Poulan, awas aja lo nying!”


Zevin melirik kebelakang sekilas, mulutnya berkomat-kamit tanpa suara. Membuat Nioz kesusahan mencerna apa yang Zevin maksud. “Nyai?” Zevin menggeleng.


“Jono?” Zevin menggeleng lagi, ditambah tatapan mematikan.


“Mia khalifa?” ulang Nioz. Zevin melotot, lalu mulut tetap berkomat-kamit seperti burung.


“Apaan sih, be'go! kagak denger gue!” sembur Nioz, capek menelaah apa yang dimaksud cowok ayan ini. Nioz mencoba mengeluarkan pendengaran terbaik, untuk mencerna apa yang diomongkan oleh Zevin.


“Kabur! beliin gue rokok satu bungkus sama es jeruk, buruan! lompat keburu si Wawan ngamuk!” Nioz yang mendengar langsung mengangguk, lalu berbalik dan melompat ke luar sekolah.

__ADS_1


“HEI! NIOZ MAU KEMANA KAMU? BERANI KABUR KAMU DISAAT JAM PELAJARAN?! BERANI-BERANINYA!” Teriak Pak Wawan, menatap garang Zevin dibalas cengiran lebar oleh cowok itu.


“Ampun pak, laper..” Zevin mengelus-elus perut rata nya, mencari alasan yang tepat. Mereka tuh, ya? bandel banget. Tapi gak sebandel Elzar sama temen-temennya.


“Kamu, saya hukum lari di lapangan sebanyak 20 kali! sekarang!” Pak Wawan melipat tangan di depan dada, menunggu pergerakan selanjutnya yang dilakukan Zevin. Zevin yang mendengar itu lesu, meskipun begitu gak papa deh! yang penting bolos pelajaran.


“Alhamdullilah! makasih ya, pak!” Zevin mengicir melewati Pak Wawan yang kebingungan setengah mati. Pria paruh baya itu rasa, lama kelamaan murid disini kehilangan akal sehatnya.


“Dasar anak jaman sekarang,”


♦♦♦


“Zhora? Sini, Zef mau ngomong sama lo,” Artha berdiri lalu menarik pelan lengan Zhora, mendekatkan Zef dan Zhora. Artha belum tau, jika Zhora memiliki ketakutan yang sangat besar karena hinaan cowok itu.


“Lo sakit? kenapa langsung keluar?” Artha merasakan getaran hebat ketika menggenggam lengan Zhora, Artha merasa ada yang salah dengan cewek ini.


Mulut Zhora terasa kelu, jika ia berbicara maka mulutnya seperti terbakar api. Menundukkan kepala, melihat aspal berwarna hitam lebih menarik sepertinya.


Kenapa Kak Atlas ada disini?


Tidak ingin ambil pusing, Artha segera menyenggol lengan Zef yang sedari tadi memasang muka datar kayak triplek. Mood nya memburuk, mati-matian Zef menahan amarah untuk tidak menolak permintaan Artha.


“Minta maaf sekarang, kalo gak mau lama-lama!” Artha membisikkan tepat di telinga Zef, membuat cowok berandalan itu sedikit tergelitik.


“Zhor, jangan nunduk. Hargai lawan bicara lo,” Artha tetaplah Artha, jarang sekali cewek itu bersikap manis kecuali bersama Elzar. Galak, judes dan jutek telah mendarah daging di tubuhnya.


Oh ayolah! Di dekat Zef saja sudah pingsan, bagaimana menatap cowok itu? Pikiran negatif mulai bermunculan di benak Zhora. Sekeras apapun Zhora menepis pikiran itu, tetapi pikiran negatif tidak ingin angkat kaki dari otaknya.


Zhora mencoba mendongak dengan mata tertutup. Menghela napas pelan, perlahan namun pasti kedua mata terbuka. Menampilkan bola mata coklat yang memancarkan kesedihan, kerapuhan dan kekecewaan. Hanya orang tertentu saja yang dapat menerawang ada apa Zhora sekarang.


Ya, Zef tau itu. Zef dapat menebak jika gadis di hadapan nya ini sangat takut untuk bertemunya. Mungkin kalian berpikir, apa Zef tidak kasihan, panik ketika Zhora pingsan? Zef panik, namun kegengsi-an nya itu membuat ia tetap diam dan berusaha tidak peduli.


Zef mengakui waktu itu ia terbawa emosi, bagaimana tidak? Zhora dicari kesana-kemari tidak ada, tidak tahukah Zhora mereka mencari sampai kelantai atas, yang jelas-jelas belum terisi apapun? Dan akhirnya mereka menyerah, lalu bergegas pulang.

__ADS_1


Zef terhipnotis dengan tatapan sayu itu, tatapan yang ditunjukkan khusus untuknya. Memberi sejuta kesedihan, ketakutan dan trauma. Dan Zef percaya, ada sesuatu hal yang disembunyikan gadis ini selain masalah darinya.


Menghilangkan semua ego dan gengsi, Zef dengan keangkuhan akan dicap sebagai lelaki murahan setelah ini. Menatap kedua mata Zhora dalam, seakan mencari informasi penyebab kesedihan gadis ini.


“Gue—” satu tarikan napas.


“Gue, mint–” Jujur! Zef jarang sekali meminta maaf kepada orang lain, justru ini kali pertama ia yang berminta maaf untuk orang lain. Tenanglah kamu harga diri disana.


“Maaf, gue kebawa emosi waktu itu.” Dalam dua hentakan napas, terasa berat dan sulit untuk mengucapkan kata-kata yang jarang ia gunakan. Zef merasa Zhora gadis pertama yang mendapat maaf darinya, beruntung sekali.


Zhora terkejut, jantung terasa dicopot paksa dari habitat nya. Rasa takut itu menghilang dalam sekejap, digantikan rasa tenang dan aman. Zhora tidak tahu pasti, kenapa respon tubuhnya selalu mengejutkan?


Zhora mendengar ketulusan dari Zef, mungkin ketulusan itulah yang membuat hati Zhora menghangat. Zhora bukanlah tipe pendendam, dan egois. Ia hanyalah gadis kecil yang mudah menangis, baperan dan overthinking.


Zhora mencoba memandangi kedua mata yang pernah menghina nya habis-habisan, membuatnya menangis di tengah umum. Lalu sekejap memberinya kehangatan, sebenarnya siapa Zef ini? Namun nihil, Zhora tidak melihat keraguan di mata itu.


Gadis polos itu tersenyum lebar, “Sebelum kak Zef minta maaf, aku udah maafin kok. Terimakasih kak, atas ucapan kak Zef. Kak Zef tau? itu sangat berharga buat aku.” Artha tersenyum simpul, hatinya senang melihat perdamaian.


“Gini dong, dari tadi kek!” Artha melirik jengkel Zef dan tersenyum senang saat menatap Zhora. Tapi, sejujurnya.. Zhora tetap merasa tidak nyaman. Entah apa penyebabnya, yang pasti ia harus menerima permintaan maaf Zef.


Senyuman manis itu menular pada Zhora, tak lama seorang cowok berbadan tegap menghampiri mereka. Menatap tajam sekaligus mematikan pada Zef, seperti mengintimidasi cowok itu.


“Dia ngelakuin apa sama, lo?”


^^^^^


*Dah yak segini dulu. Jangan lupa like nyaa~


Masih ditunggu masukannya, hehe:)


Dilanjut apa gak nih*?


Salam, Idelia as justboggi wife.

__ADS_1


__ADS_2