
”Begini lah aku, pura-pura tertawa dan bahagia di depan umum. Menangis dan depresi ketika sendiri, sudah biasa.” — Ozhora Alexey Zevyhrine.
Komen ya, cerita ini mending di lanjut apa nggak😭🙂
°°°°°°°°
“Kita ngapain ke kelas.. kelas siapa ini, Tha?” Zhora celingak-celinguk, siapa tahu ada objek yang dikenalnya. Meskipun begitu, kedua mata tidak menangkap seseorang yang familiar.
Telunjuk Artha berhenti tepat di bibir Zhora, berisyarat untuk diam. “Diem, gue panggil dulu orangnya. Lo, tunggu sini. Jangan kemana-mana!” Artha melepas telunjuknya, lalu berlari kecil menuju kelas yang berada di tepi sudut.
Ozhora terdiam, cuaca pagi hari ini sangat tidak bersahabat. Awan mendung itu seolah mengerti apa yang Zhora rasakan, tersenyum meskipun hati nya telah ditusuk seribu belati tanpa henti. Jika seseorang bertanya, apa Zhora sudah melupakan kejadian itu? Jawabannya, belum sama sekali.
Zhora mencoba berubah, ingin mengganti kebiasaan buruk menjadi lebih baik lagi. Meskipun, Zhora tau masalah ini akan sangat-sangatlah sulit. Gadis itu mencoba untuk tersenyum, atau semacam menipu diri sendiri? huft.
Kedua langkah kakinya menuju pinggir koridor, tanaman-tanaman gantung itu memberi kesan segar dan enak dipandang. Mungkin lain kali Zhora akan membeli nya nanti, jika tabungan sudah cukup.
Pikiran nya beralih pada seseorang yang seharusnya tidak ia pikirkan. Atlas. Bagaimana keadaan cowok itu? Apa dia baik-baik saja, atau bahkan setres? Oh, Zhora rasa cowok itu selalu bahagia, karena wajah tampannya.
Memejamkan mata, kedua telinga nya mendengarkan secara telaten bunyi rintik-rintik hujan. Satu kata yang dapat mendeskripsikan hatinya, nyaman. Suara-suara hujan, rintikan, dan beberapa suara insan yang mulai memenuhi koridor.
Zhora tersadar, ini kan koridor kelas sebelas! Membuka kedua matanya, dan bayangan kehidupan muncul. Dunia sedang menguji kesabaran nya, dan berarti Zhora harus melakukan itu. Bukannya lari dari masalah! iya, betul!
Memundurkan langkah, lalu mendapati Artha bersama seorang pria. Pria tidak asing menurut Zhora, bentuk rambut dan warna kulit. Butuh lima sekon untuk menyadarinya, ternyata ia seseorang yang selama ini membuat pikiran nya berkecamuk!
Deg.
“Aku harus apa? apa jangan-jangan Artha sama kak–kak Zef mau ngehina aku juga? Ya Allah, lindungi Zhora.”
Atmosfer disekitar terasa berhenti, detak jantung dan adrenalin nya berpacu lebih cepat. Pikiran nya mendadak blank, pusing itu kembali setelah Zef memandangi wajah nya. Telinga Zhora terasa pecah, hanya bisa mendengar dengungan. Kedua matanya meminta untuk ditutup, tapi Zhora takut untuk melakukan nya setelah kejadian kemarin.
Oh ini apa?! Bahkan bayangan Artha dan Zef bagai setan jahat di matanya. Tawaan itu mulai muncul, hinaan Zef padanya mulai terputar jelas, Revan yang bicara jika ia menyusahkan orang lain, Revo yang menatap tajam, dan..
Blamn!
Kedua mata Zhora tertutup, tubuh Zhora terasa melayang dibawa angin. Seolah-olah angin dan alam ingin membantunya pergi dari permasalahan ini. Gambaran Zhora menitikkan air mata di depan umum, dan di depan Atlas tertata rapi. Atlas yang dingin dan terakhir.. Elzar yang menamparnya.
Gambaran itu sangat jelas, lekukan wajah dan emosi bercampur. Teriakan Zhora yang menangis, jatuh dan dahi yang lecet, ditemani Elzar di UKS, Rosser dan Nioz yang selalu ada, Kejadian pertama ketika Atlas bertanya di kafe, oh memori ini benar-benar tersimpan lekat-lekat di benaknya.
__ADS_1
Tawaan itu lagi, dan lagi. Zhora merasakan gelap yang benar-benar ingin mengguyur nya dengan hujatan-hujatan yang selama ini ia dengar. Mulutnya terasa digampar keras untuk diam, dan bola mata Zhora terasa mati. Seakan, Zhora adalah robot buatan yang kehabisan baterai.
Berani juga lo berhadapan sama gue, jelek?
Muka lo please, kayak kodok tau gak? Keturunan orang tua lo, pasti!
Kesian, semua orang yang di deket lo cuma manfaatin lo doang!
Inget, baik sama **** itu beda tipis! kalo lo sih **** kayaknya!
Hahahaha!
Ahahahahah, liat disekolah ini gak ada yang jelek kayak lo.
Braaaak!
Seseorang di dalam imajinasi nya mendobrak sesuatu, Zhora hanya terdiam. Kedua air matanya terasa habis, tidak bisa dikeluarkan karena dehidrasi. Bayangan-bayangan jahat itu mulai pudar dan memburam, digantikan dengan sebuah objek pria jangkung dengan wajah tampan.
Lo gak apa-apa?
Jangan dengerin mereka, mereka itu iri sama lo.
Hei, bangun. Cantik! Im here,
Dunia sedang menunggu kamu, ayo bangun.
Zhora ingin meraih wajah tampan itu. Belum menyentuh seinci, pria itu menghilang menyisakan latar putih kosong. Kemana perginya setan-setan, tadi? Kemana perginya hinaan itu, kemana!
Tiba-tiba, sesosok pria berjubah hitam itu kembali. Dengan tombak, dan tudung menutup seluruh wajah seram nya. Pria itu berjalan, ralat— teleportasi dengan cepat. Zhora tercengang melihat pria itu tidak jalan seperti manusia biasa, tiba-tiba sudah muncul di hadapan wajahnya.
Pria itu tetap diam, perlahan ia mengangkat tombak itu di udara. Tombak itu berubah menjadi pedang besar dan lancip menyala-nyala. Ia memajukan pedang itu dan hampir mengenai perut Zhora jika..
“AAAAAAA! JANGAN BUNUH AKU, AKU MOHON!” Zhora terbangun dari pingsan nya. Ia mengacak-acak rambut dan melihat sekitar mendapati.. Atlas? apa dia salah lihat? Cowok itu berbalik, benar itu Atlas!
Keringat bercucuran di wajah, dingin AC disini tidak mempengaruhi suhu tubuh Zhora sama sekali. Zhora mengingat-ingat kenapa ia bisa di UKS? Dan, kenapa harus Atlas yang menemani nya?
“Lo pingsan.” Atlas memasukkan ponsel di saku, lalu duduk disamping brankar dengan raut wajah santai.
__ADS_1
Zhora yang masih dalam keadaan shock berat terdiam. Arah pandangan nya belum berpindah pada kaca besar yang bertengger di depan nya. Pria berjubah itu.. siapa? Kenapa ia selalu ingin menyakiti Zhora?
“Maaf, maaf karena gue nyuekin lo waktu itu.” tulus Atlas, cowok yang biasanya dingin pada orang-orang di dekatnya berbeda menjadi lebih hangat ketika bersama dengan Zhora. Atlas juga tidak tau kenapa, ini.
Zhora tersenyum, lalu menoleh pada Atlas. Menatap kedua iris mata hijau indah, yang membuat gadis siapapun akan terkesima melihat nya. “Kakak, gak salah. Mungkin aku yang ganggu kakak saat ada orang lain yang lebih butuh kakak.”
Atlas ingin tertawa keras, ketika mendengar embel-embel 'kakak' untuknya. Namun rasa senang itu terganti dengan raut bingung, mendengar kata terakhir Zhora.
“Orang lain, siapa?” tanya Atlas, sebelum Zhora sadar Atlas telah menyuruh para petugas PMR untuk kembali ke kelas saja. Dan Artha, Zef– Atlas tidak tertarik tentang itu.
Zhora gelagapan, duh ketawan deh! “Oh, oh! nggak kok, bukan maksudnya.. eum yaa, anu.. Nioz, iya Nioz!” Zhora tau jika yang ditelpon Atlas itu perempuan, dan Zhora merasa tidak pantas menanyakan itu.
“Oh.” Atlas menjawab singkat mendengar nama Nioz yang diucap cewek itu. Arah pandang beralih melihat pintu UKS.
Zhora masih bingung, apa sedahsyat itu cacian dan makian Zef padanya? Sampai-sampai Zhora dibuat pingsan, ini tidak mungkin! Gadis itu masih belum menyangka pingsan hanya karena ditatap oleh Zef.
“Kenapa?” Atlas melihat raut tidak nyaman di wajah Zhora, tangan teralih untuk mengelus puncak kepala Zhora pelan.
“Ada, masalah?” Sekali lagi, Atlas bertanya. Zhora terlonjak kaget, dengan ucapan Atlas. Lamunan nya buyar setelah Atlas mengelus puncak kepala.
“En.. Enggak ada! Ak-aku duluan kak, aku udah baikan kok, kalo jalan juga udah lancar! Dah kak!” Zhora segera mengenakkan sepatu dengan cepat, membuka kenop pintu UKS dan berlari kecil.
Atlas tersenyum bingung, belum juga dia menanyakan gadis lucu itu sudah menjawab. Tapi memang benar sih, Atlas ingin menanyakan itu. Pria jakung itu berdiri dan menyusul haluan Zhora.
Atlas sudah berlari dan tepat di belakang Zhora, melihat kenapa gadis itu terdiam. Tubuh dan kakinya tidak berjalan seperti tadi, bahkan Atlas ikut-ikutan lari karena gadis itu berlari lumayan cepat. Belum juga Atlas menghampiri, Zhora berbicara lebih dulu.
“Ar-Artha? k-kak.. Z-zef?”
Ternyata, Artha dan Zef menunggu Zhora di pinggir lapangan pertama yang dekat dengan UKS. Hitungan detik digunakan untuk sadar jika tubuh gadis itu bergetar hebat, setelah melihat Zef ada di samping Artha.
°°°°°°°
dilanjut apa nggak?
Jangan lupa like, fav, rate 5, vote.
Salam, Idelia as justboggi wife.
__ADS_1