
“Jangan meremehkan orang pendiam, karena amarahnya orang pendiam lebih dashyat ketimbang amarah orang lain.” – Nioz Legaisher Arshaka.
_____
“Mamam, lo!”
“Kayaknya hidup lo udah gak lama lagi, deh Sya.”
“Syurga aja malu nampung, lo! haha!”
“Njir, kesian mana masi muda.”
“Say good bye to world, Mrs. Lenata.”
Gisya merinding, bulu kuduknya berdiri, keringat dingin mengucur disekitar wajah. Lihat saja, muka Gisya sudah pucat pasi melihat Atlas marah besar dengannya.
“G-gue gak, gak maksud bua–”
Kedua iris mata hijau tua itu menatap tajam, sepeti ingin membunuhnya detik itu juga. Muka cowok itu memerah menahan amarah. Hei, dia gila?! jelas-jelas Zhora tidak ada salah sama sekali.
“You're lucky mrs. Lenata because I don't want to fight with damn women like you!” yah, jiwa kebarat-baratan nya keluar. Emangnya Gisya ngerti bahasa Inggris? Setelah mengucapkan kata itu, Atlas pergi dengan Zhora di gendongannya.
•••
“Vin, gue titip dia ke lo, mau tanding dulu.” Atlas masih belum bisa mengontrol emosi. Untung itu perempuan, kalo cowok udah adu jotos dari tadi!
Atlas bersumpah tidak akan melepas gadis itu begitu saja. Dia pikir Atlas melupakannya? cih! jangan harap. Gini-gini Atlas pendendam.
Zevin memutar bola matanya, terpaksa banget nemenin cewek cupu itu. Jangan lupa tentang satu fakta ini, hanya Atlas yang tidak memikirkan jauh soal fisik. Ya walaupun temen-temen Atlas gak segitunya, sih.
“Harus gue?” Zevin sedikit tidak nyaman menemani Zhora. Mending cewek itu cantik, bohay, sepeti impiannya. Lalu mereka pdkt, dan pacaran. Tapi apalah daya, Zhora jauh dibanding impiannya.
Atlas menoleh, memandang wajah Zevin menunjukkan ketidak mau-an. “Kenapa, lo keberatan?”
__ADS_1
Zevin tipe pria yang tidak suka bertele-tele, mengangguk mantap. “Iya, kalo ceweknya cakep baru gue mau.” Kenapa ni orang jujur banget?
Atlas menggertakkan giginya. Tidak ingin terlambat tanding, cowok itu mengalihkan pandangan pada Nioz yang sibuk memakan cilok pedas. “Nioz! sini lo!”
Kepala Nioz mengarah pada Atlas. “Paan? Gue sibuk, banyak kerjaan!” tolak cowok itu, sudah tau arti dari tatapan Atlas. Sedangkan Atlas berdecih.
'Banyak kerjaan apaan?! orang gaya kayak pengangguran gitu,'
“Kesini atau–” Atlas mengepalkan tangannya, buku-buku jarinya memutih. Tenang, Atlas cuma nakut-nakutin tuh curut doang, kok.
“Iya-iya, kampret!” gerutu Nioz, cowok itu berdiri, menghampiri kakek gombel di hadapannya.
Atlas tersenyum semrigah. “Jagain Zhora, gue mau ta–”
“Tanding! iya tau, udah sono pergi lo!” usir Nioz. bibirnya ditekuk, cemberut. Setelah Atlas pergi, Nioz segera masuk untuk menemani Zhora. Telunjuk dan jari tengahnya mengarah tepat kedua mata Nioz, lalu diarahkan pada Zevin, memberi peringatan.
“Gue temen dia atau babu nya sih?! Zevin, awas lo!”
•••
Setelah pandangan buram memudar, terkejut bukan main menangkap cowok tinggi duduk bermain ponsel di sampingnya. Apa itu Atlas? Tapi dilihat dari case ponsel cowok itu, pikiran Zhora tentang Atlas pupuh.
Cowok itu menyadari gadis di sampingnya telah sadar. Mengalihkan pandangan dari ponsel, menatap santai cewek itu. “Udah tidur nya?” sinis Nioz. Jangan berpikir jika Nioz akan melakukan hal manis pada gadis semacam Zhora.
Zhora mengernyitkan dahi. Cowok ini siapa? kenapa bisa disini? bukannya Atlas? Hah! buat apa Zhora memikirkan cowok itu, toh dia siapanya? pacar juga bukan.
“Ma-maaf, kamu siapa ya?” Zhora merubah posisi menjadi duduk di atas brankar UKS mewah. Dinding biru laut dipadu putih susu membuat ruang UKS ini terlihat lebih indah. Beberapa obat-obatan tertata rapi di atas nakas kayu krem.
“Gue Nioz, temennya Atlas. Masih sakit?” pikiran benci Nioz terganti akan tatapan sayu, lembut milik cewek itu. Bahkan Nioz mengucap 'aneh' beribu-ribu dalam hati. Cewek itu tidak terpesona?
“Pasti abis ini nih cewek nanya-nanya siapa gue, kelas berapa, udah punya pacar apa belom. Maklum, namanya juga orang ganteng.”
Zhora mengangguk mengerti. “Atlas nya dimana, kalo boleh tau?” Nioz menyatukan alis hitamnya. Terkejut dengan pertanyaan gadis itu.
__ADS_1
“Lah serius ntu cewek kagak tertarik ama gue? Harga diri mana harga diri! malah nanyain si kutu kupret itu lagi!”
“Lagi tanding,” Nioz menjawab ogah-ogahan. Dari sekian banyak cewek di sekolahnya, baru kali ini Nioz menemukan cewek yang tidak tertarik akan pesona cowok itu.
Zhora memanggut-manggut. Perutnya masih sedikit nyeri. Namun berusaha terlihat baik-baik saja di depan Nioz, alias orang asing di matanya.
Uhuk-uhuk!
Nioz terperangah. Tangannya mengambil gelas berisi air putih di atas nakas, memberikan pada Zhora. “Minum.” Tumben, si ono perhatian.
Zhora menerima sodoran itu, meneguk air putih hingga kandas dalam dua tegukan. “Makasih, ya!” Zhora tersenyum manis, ya walaupun nggak semanis cewek lain.
Nioz mengangguk. “Iya.” Nioz berusaha mengatur ekspresinya, sedikit terpesona akan senyuman manis Zhora walau sedetik. Tolong digaris bawahi, sedetik!
Nioz melihat dada Zhora. Eh, jangan berpikir negatif dulu! dia nggak nafsu, datar gitu. Niatnya cuma liat name tag di seragam putihnya. Ozhora A. Zevyhrine, unik juga.
Zhora yang menyadari cowok itu melihat dada nya menutup rapat dengan kedua tangan. “Li-liat, a-apa?” detak jantung Zhora berpacu lebih cepat. Buat apa cowok itu melihat dadanya?!
Nioz memutar dua bola mata malas. “Jangan geer, gue cuma liat name tag lo. Gue juga gak nafsu, badan triplek gitu.” jujur Nioz. Hih! ngapain juga nafsu sama tubuh Zhora yang gak ada lekukan-lekukan alam nya?
Zhora menghela napas lega. Kedua tangan nya tidak menutupi dada lagi. “Oh, sekali lagi makasih banget ya, Nio–”
BRAAAK!
“ZHORA!”
•••
**Sedikit ya? ya maap wkwk. Lagi males update, cuma mau update. gimana sih jelasinnya? wkwk.
maaf banget part kali ini dikit pake banget. Nanti double up, insyallah✨
Cerita ini belum direvisi sama sekali, nanti ada waktunya buat di revisi. thanks. selamat berpuasa seyeng-seyeng kuu! /plak/
__ADS_1
Jangan lupa vote, comment, rate, like, sabrek. Byeee, see u next chapter**!!
Salam, Idelia as justboggi wife.