Shine For You

Shine For You
9. Sadar Diri


__ADS_3

“Jangan mandang orang dari covernya aja. Lo belum tentu tau, kan dalemnya gimana?” – Elzarres Zander Salvethores.


_______


“Kak Elzar?!”


“Oh my, Revan!”


“Kak Zef, its that you?”


“Itu bukannya cowok yang disukain sama Artha, ya?”


Zhora terkejut, tapi buat apa? toh cowok itu tidak mungkin mengenalnya. Dengan cepat Zhora menetralisir ekspresi terkejut-nya. Cowok itu dengan tiga temannya. Ah, mereka sangat tampan dan stylish.


Lagi-lagi, Zhora dibuat terkejut dengan penampilan Elzar. Di sekolah cowok itu tampak nakal, berantakan, tidak teratur. Dan sekarang? Zhora tidak habis pikir, cowok itu berkali-kali lipat lebih tampan dibanding di sekolah. kalo disuruh jujur, ya.


Menggunakan atasan hitam pekat, celana serupa kurang bahan– robek-robek – menurut Zhora. Wajah putih bersih, Zhora iri melihat nya, tidak ada jerawat maupun bruntusan disana. Mata biru itu, sangat menawan. Cowok itu tidak memakai bandana lagi, membuat jambul dan rambutnya bebas.


“Masih gantengan Atla– eh apaan sih? sadar Zhora sadar!”


“Kak Elzar disini juga?” Artha memandang memuja, merapihkan baju pinknya agar terlihat lebih cantik. di depan doi gitu loh.


“Kak Revan, mau beli PlayStation terbaru juga, ya?” cowok bernama Revan mengangguk, sepertinya mereka sudah dekat. Mudah ditebak juga sih, dari baju cowok itu berlogo stick PS. Cocok banget, sama-sama gamers.


“Kak Zef, sama kak Revo, gabung sama kita yuk?” ajak Xessi, mengedipkan mata sebelah. Zhora bak tunawicara tidak mengucapkan apapun. Please, dia gak kenal sama sekali siapa mereka.


“Gak perl–”


“Ayok!”


“Skuy, lah!”


“Ngikut gue.”


Zhora terperangah, tidak percaya jika teman cowok yang ia anggap bandel, kasar, tidak berperasaan, berbanding balik dengan pikirannya. Bahkan, mereka sangat baik dan friendly!


Ingatkan Zhora jika memandang seseorang tidak cukup dengan covernya aja. Buktinya, Elzar, Revan, Zef, dan Revo yang ia anggap anak nakal, ternyata memiliki sisi malaikat. Maafkan Zhora ya Allah!


Mudah sekali bagi mereka untuk menerima tawaran itu. Wajar, sih. Mungkin, mereka sudah dekat tanpa sepengetahuan Zhora. Orang kaya, bebas ya?


“An, abis beli apa?” Revan mendekat Jelia. Ah, bahkan cowok itu sudah memakai panggilan khusus untuk Jelia. Pasti sudah sangat dekat, tunggu jadian aja. Mengingat nama depan Jelia, Jelianee.


Jelia juga terlihat biasa aja, gak ada canggung-canggung ngobrol sama cowok itu. “Resident Evil 3, dong!” seru Jelia semangat.


“Udah ada, ya? gue mau beli kal–”

__ADS_1


“Nanti main bareng aja! kapan-kapan, ya ya ya?” Jelia bergelayut manja di lengan kokoh Revan. Revan terlihat santai, tidak menepis tangan itu. Cowok gamers mengangguk patuh.


“Ayok dah, sama doi apa sih yang nggak?” goda Revan. tidak! apa jangan-jangan mereka sudah menginjak status berpacaran?


Jelia tersenyum malu. “Apaan, sih lo!” memukul pelan lengan Revan. Revan terkekeh, tangan mengelus surai rambut Jelia. Tidak lupa, Jelia memanggil cowok itu tanpa embel-embel 'kak.'


“Dunia berasa milik berdua! yang lain ngontrak!” sahut cowok seingat Zhora bernama Zef itu. Menatap sinis Revan dan Jelia sejak tadi bermesraan.


“Heleh! bilang aja kak Zef sirik!”


“Makanya cari pacar!”


Zef yang malang, niat ngeledekin malah disembur balik. Salah menganggu kedua manusia kasmaran itu. “Terhina terus gue, hamba salah apa ya Allah!” Revan dan Jelia tertawa puas.


“Ayo-ayo! kak Revo, sini Xessi tunjukkin acaranya!” Dengan santai, Xessi mengambil alih ponsel Artha tanpa aba-aba. Membuat Artha yang sibuk memotret Elzar diam-diam terciduk. Beruntung Xessi tau keadaan, jadi mulut embernya aman terkendali.


Zhora membisu, tidak tau harus melakukan apa. Zhora sadar ia tidak secantik Artha, Xessi, dan Jelia. Jadi, lebih baik ia diam.


•••


Time Zone.


Tempat bermain a.k.a time zone lumayan penuh akan orang tua, anak-anak dan remaja seperti mereka. Revan bersama Jelia berjalan paling depan, Artha dengan Elzar, Xessi bersama Revo dan Zef. menang banyak, mba.


Zhora? gadis itu berjalan paling belakang, sendirian. Sedih banget, ya? disaat temen-temen kita berjalan sama doi nya, Zhora cuma gandeng angin. Zhora tau, pasti cowok seperti mereka malu jalan bersama Zhora.


Zhora mengekor pasangan romantis itu di belakang. Memantau, dan melihat sekitar penuh dengan permainan, ada motor-motoran, mobil, basket, air-airan, banyak deh. Kemudian tersenyum kecut, dalam lubuk hatinya paling dalam, Zhora ingin bermain. Tetapi, ia tidak memiliki uang banyak.


Saat sibuk mengekor mereka, Zhora tidak melihat kebawah tubuhnya. Seorang anak kecil dengan topi baret menabrak nya.


Splash!


Zhora menunduk, melihat anak kecil bergender perempuan terlihat ketakutan setelah menabrak nya. Satu gelas Aqua jatuh, membuat celana Zhora sedikit basah. Huh, untung aja cuma sedikit.


“M-maaf kak, aku nggak sengaja. huaaaa!” tangis anak kecil itu pecah, Zhora dengan lembut mengecup kening gadis itu, mengelus penuh kasih sayang puncak kepala.


“Gak papa, sayang. cup, cup jangan nangis ya? kakak gak apa-apa kok!” tenang Zhora. Mungkin ia akan membersihkan nya sebentar di toilet. Mudah-mudahan mereka tidak menyadari kehilangannya.


“Be-benel kak?” gadis itu terlihat menggemaskan, dengan bibir mungil mengerucut. Zhora mengangguk.


“Iya, udah dong, nangis nya?” Berhasil, gadis kecil patuh, tidak menangis lagi. Zhora tersenyum kecil menangkap itu.


“Nama kamu siapa, cantik?”


Ia mengucek pelan kedua matanya. “Olin, kakak antik!” Gadis kecil itu belum lancar sepenuhnya, terdengar dari pengucapan 'Cantik' menjadi 'Antik.'

__ADS_1


“Oh, gitu.. Olin, kakak mau ke toilet sebentar ya? mama kamu dimana?” Jari telunjuk mungil Olin mengarah pada wanita paruh baya sibuk membeli tiket permainan.


“Oke kalau gitu, kakak antar ke mama kamu ya?" Olin mengangguk lucu. Pipi tembam gadis itu sangat menggemaskan, mengundang cubitan kecil dipipi. Olin tertawa.


“Biarin deh, kasih waktu mereka bareng-bareng. Habis ini ke toilet!”


Wanita paruh baya a.k.a mama Olin menoleh ketika menerima sentuhan kecil di pundaknya. “Mama!” pekik Olin, Zhora menurunkan Olin yang tidak sabar berpelukan dengan mama.


“Olin!” Mama dan Olin berpelukan. Zhora tersenyum senang melihatnya, hatinya tenang telah mengembalikan Olin dengan ibunya. Menjadi kesenangan tersendiri.


“Terimakasih, telah mengembalikan anak saya. Sebagai ucapan terimakasih, saya hanya bisa memberi ini,” Mama Olin memberi beberapa lembar kertas merah. Zhora menolak halus.


“Tidak perlu, Ma. Saya ikhlas kok melakukan ini.” Olin sudah nyaman digendongan Mama. menatap lucu Zhora.


Mama Olin menggeleng. “Terima, nak. Tadi Mama sudah panik sekali, Mama kira Olin hilang.” Keputusan Mama Olin tidak bisa diganggu gugat. Mau tidak mau Zhora menerimanya.


“Makasih, ma.”


“Sama-sama, sayang. Semoga kita bisa bertemu lagi.”


“Tentu, mama.”


•••


“Selesai juga.” gumam Zhora setelah selesai mengeringkan celana. Kini kedua kaki jenjang Zhora berjalan keluar dari toilet perempuan, Kembali menuju time zone. Kalo dipikir-pikir, apa mereka mencari Zhora?


Zhora menatap beberapa lembaran seratus ribu. Tersenyum hangat, mengingat betapa baik Mama Olin. Mengingatnya membuat Zhora tidak ingin jauh dari Olin.


Mendongak, kemudian berlari kecil. Siapa tau, mereka meninggalkan nya kan? Bisa-bisa mereka mencari Zhora, kan? huh, memikirkan itu membuat ia panik sendiri.


“Positive thinking Zhora! mereka nggak mungkin ninggalin kamu!”


Saking kelimpungan sendiri, ditambah panik membuat lari semakin cepat. Zhora benci ini, sifat overthinking nya. Hal sepele bisa menjadi besar seketika. Jadi, tidak bingung hal seperti itu Zhora kelimpungan sendiri.


BRAAAK!


“Ah, sakit!”


“Shh, Sialan! jangan lari-lari bodoh!”


•••


*Gamau banyak bacot, ngehehe. Langsung aje ye kan.


Jangan lupa Vote, comment, Like, Rate 5 nya yaa ❤️❤️

__ADS_1


Maaf akhir ini chapt nya dikit. Tapi, banyak kan? hehe.🙂*


Salam, Idelia as justboggi wife.


__ADS_2