
“Persahabatan tidak dilihat dari berapa lama ia bertahan, namun dilihat dari ketulusan, kesetiaan, dan selalu ada disaat sedih.” – Jelianee Grimonia.
_______
“ZHORA!”
“OJORA!”
“JEPAIRIN!”
Wow, telinga Zhora dan Nioz hampir pecah saat ini. Mendengar teriakan maut dari ketiga dewi abal-abal berjalan menghampiri kedua sejoli itu. Zhora melihat Nioz menutup telinganya, meringis pelan merasa Artha, Jelia, dan Xessi menganggu cowok itu.
“Ih kalian jangan teriak-teriak! kesian Nioz keberisikan, tau!” omel Zhora, merasa tidak enak akan teriakan mereka. Mereka emang gak malu, tapi malu-malu in!
Dan tau apa respons mereka? Artha menyengir, Jelia menggaruk tengkuknya, dan Xessi yang cengengesan tidak jelas. Beuh! Xessi cocok banget sama Nioz yang demen cengengesan juga!
“Dari tadi kalian berdua, disini?”
“Kalian pacaran?”
“Wah, parah! abis yang iya-iya jangan-jangan!”
Ketiga cewek cempreng itu terus saja melempar pertanyaan, parahnya lagi pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Zhora melirik Nioz yang risih akan kedatangan mereka.
“Gue pergi, udah ada temen cempreng lo yang nemenin.” Nioz ingin berdiri, sebelum lengannya ditahan oleh Xessi.
“Eh, jangan-jangan, kak! Kakak disini aja dong, nemenin kita, mueheheh.” Xessi memberi kedipan manja. Nioz memandang aneh, beda banget sama Zhora yang biasa aja melihatnya.
“Eh tapi gak papa deh, berarti kegantengan gue belom pensiun.”
Nioz dipaksa duduk kembali oleh Xessi. Adik kelas gila! Iya, jika kalian memikirkan Atlas dan teman-teman nya itu kelas berapa sih? jawabannya kelas sebelas. Tetapi Atlas sendiri yang seharusnya sudah kelas dua belas, namun karena keterlambatannya jadi beginilah, dia.
“Lepas!” tepis Nioz. Melenggang pergi meninggalkan kaum hawa yang sedikit gesrek itu. Kadang Nioz mikir, udah capek-capek Ibu Kartini membangunkan harga diri wanita, eh taunya malah begini!
“Ish! ganteng-ganteng galak!” Xessi emang begini, ngeliat cowok ganteng dikit aja langsung nempel kayak perangko. Jelia dan Artha segera menghampiri Zhora.
“Zhora lo baik-baik, aja? maafin gue ya, karena gue lo jadi begini. Harusnya gue yang disini, bukan lo.” lirih Artha. Menggenggam tangan Zhora, menatap sedih cewek itu. Zhora tersenyum simpul.
“Kamu gak perlu minta maaf, ini kemauan aku sendiri kok. Sesama sahabat harus melindungi satu sama lain, kan?” Artha mengangguk, wajahnya berubah murung.
“Tapi gak seharusnya lo ngelindungin gue,”
“Udah nggak papa, udah nggak sakit kok.”
Kedua mata Artha melebar. “Berarti sakit dong?! maafin gue Zhora, hiks,”
Zhora kelimpungan. “Eh, eh bukan gitu maksudnya–”
Hap.
__ADS_1
Mereka berempat berpelukan seperti teletubbies, ulah siapa lagi kalo bukan Xessi yang tiba-tiba dateng dorong-dorong terus peluk Zhora. Mau tidak mau Artha dan Jelia ikut berpelukan.
“Berpelukan!” pekik Xessi. Mengundang tawa renyah dari ketiga temannya.
•••
Mall X, Jakarta.
“Zhora, ayo! temenin gue beli makeup terbaru!”
“Apaan sih?! Jora sama gue, ayo jor kita cari PlayStation baru!”
“Heh! apaan lo pada? jelas-jelas Zhora sama gue, kita mau makan-makan!”
Tau apa yang terjadi? Zhora ingin membelah diri aja sepertinya. Ketiga teman gesreknya itu menarik lengan, badan, telapak tangan, dan parahnya di arah yang berbeda! ebuset, dikira dia mainan, apa?!
Padahal, situasi saat ini sedikit ramai. Tidak terlalu ramai karena hari Selasa. Mereka benar-benar tidak memiliki urat malu! Zhora saja malu pake banget diliatin orang-orang.
Zhora meringis. Melepas paksa dengan sekuat tenaga tarikan ketiga temannya. “STOPP!” Akhirnya Artha, Xessi dan Jelia melepas ikatan tangan mereka.
“Kalian kenapa sih? malu tau! kalo kalian gini lagi, aku beneran pulang!” Ya, Zhora dipaksa pergi ke mall setelah pulang dari sekolah. Setelah berdebat berjam-jam akhirnya Zhora mengalah, dengan alasan tidak ingin beli apa-apa, sekedar melihat.
“Biarin! lagian mereka gak jelas ngikut-ngikut, udah tau gue duluan!”
“Hellow? Gue duluan juga! lagian apa sih gunanya makeup? kek ondel-ondel sekalian!”
“Heh elo pada nyolot, sih?!”
“Lo!”
“Elo!”
“Lo.”
“El–”
“Bisa diem gak?! gini aja, kalian hompimpa siapa yang beda sendiri, dia duluan, kita jalan bareng-bareng! deal?” Belum apa-apa Zhora udah capek duluan menengahi mereka. Apalagi sifat Artha yang keras kepala, Xessi dan Jelia yang petakilannya minta ampun.
Mereka terlihat menimbang-nimbang diikuti alun lagu di setiap toko-toko disana. Zhora yang jarang datang ke mall mewah ini sedikit kedinginan, berbeda dengan teman nya yang terlihat santai.
“Oke!” ucap mereka serempak.
Ronde pertama. Mereka bermain hompimpa bagai anak kecil, dimenangi Jelia yang ingin pergi mencari PlayStation.
Ronde kedua, telapak tangan Artha berbeda sendiri, membuat gadis itu kegirangan lompat-lompat. Xessi yang menerima kenyataan itu mendengus kecil, baiklah. Kita harus sportif.
“Berarti gue duluan nih, ya? yok! cari pleystesyen dulu!” Jelia menarik ketiga temannya, menuju toko PlayStation yang berada di lantai empat.
Ting!
__ADS_1
Lift berbahan besi itu terbuka, menunjukkan dua orang didalamnya. Ketiga gadis itu cepat masuk. Lift itu tembus pandang di bagian belakang, menyuguhkan pemandangan mall diiringi lampu-lampu gemerlapan.
“Nih, gue bacain acara kita ya.” Artha melihat ponsel apel digigit miliknya.
“Pertama, nemenin Jelia beli game, kedua temenin gue beli makeup sama skincare lah, ya? ketiga Xessi, makan-makan. Kita main Timezone terus nonton. gitu ya!” Artha berujar riang.
“Tapi–”
“Gak ada bantahan, Zhora!” ucap mereka serempak, eh gila bisa pas begitu? Zhora terdiam, mungkin kali ini ia harus menuruti perintah mereka.
Pertama, ketiganya sampai di toko PlayStation dengan poster-poster di dinding abu-abu dan putih memberikan kesan klasik. Zhora mengikuti Jelia dari belakang, tidak enaknya bagi Artha dan Xessi sedari tadi menunggu selesai.
Artha dan Xessi sama sekali tidak tertarik hal-hal berbau game. Zhora sebenarnya juga, tetapi ia tidak tega melihat Jelia sendirian mencari. Alhasil, ia menemani Jelia.
“Ini bagus gak?” Jelia menunjukkan kaset CD bertulis 'Resident Evil 3'
Zhora yang tidak mengerti apapun hanya mengangguk pasrah. Kakinya pegal mengekor Jelia yang terus saja mondar-mandir kesana-kemari.
“Bener nih?” ulang Jelia.
“Iya, Jelianee Grimonia.” putus Zhora, merasa lelah. Padahal baru kegiatan pertama, bagaimana dengan yang lain?! Zhora meringis mengingat Artha mencari makeup, mungkin kali ini ia akan membuat Lena memarahinya habis-habisan.
Setelah selesai membayar kaset dan beberapa barang yang Zhora tidak tau. Maklum, Zhora bukan gamer. Kedua gadis itu berjalan menghampiri Artha dan Xessi yang memasang wajah bosan, jenuh.
“Udah?” Xessi bertanya dengan nada lelah.
“Udah, yuk? sekarang giliran Artha.” Artha yang mendengar namanya disebut mengalihkan pandangan dari ponsel, kedua matanya berubah segar, wajahnya kembali ceria.
“Ayuk!” ajak Artha. Mereka berempat menjadi pusat perhatian, ralat, hanya tiga orang mungkin. Bagaimana penampilan mewah ketiga teman Zhora, Zhora yakin baju yang mereka kenakan sangat mahal. Apalagi dengan sepatu dan tas mereka.
Zhora tersenyum perih. Ia harus bersyukur apa yang sudah diberi oleh Allah. Tidak boleh ada rasa iri maupun dengki.
“Yes! gue mau beli makeup apa nih ya? oh skincare dulu deh!” Artha bermonolog, senangnya berlebihan.
Ting.
Zhora yang menunduk mendongak, betapa terkejutnya melihat sesosok manusia dihadapannya. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Artha, Jelia dan Xessi tidak kalah terkejut. Bahkan, Xessi menutup mulutnya.
“Elo?!”
•••
Lah siapa itu bareng-bareng, banyak lagi? kesian ye ojora jadi babu wkwk😭
Siapa tau polisi ye kan ngehehe.
Jangan lupa– ah pokoknya dah males ngingetin akutu:( pokoknya like!🙏🏼🙂
Thanks, see u next chapter. bye!
__ADS_1
Salam, Idelia as justboggi wife.