Shine For You

Shine For You
26. Balapan, dimulai. [ 2 ]


__ADS_3

“Sering menangis dengan hal sepele bukan berarti dia cengeng, dia hanua memiliki hati yang lembut. Dan kamu, harus bisa menghargai perasaannya.” — Revo Bratadikara.


⚠️ ATTENTION! ⚠️


Aku saranin sambil dengerin lagu mellow. biar sedikit ngena, contoh ; a thousand years, surrender, don't watch me cry, all i want, etc. THANKS!💞


Part 2 nya. Asli, itu quote ala Revo ngena bgt. kek nyindir gw gitu, soalnya gw cengeng:') ada yg nulis nyelekit aja gw bisa nangis. Cengeng kan?🙂


Oke skip, happy reading-!⛅


×÷×÷×


Elzarres Zander Salvethores. Cowok yang menamparnya. Meskipun saat menampar Zhora cowok itu dalam keadaan mabuk, namun hinaan Elzar memang seperti untuknya. Bagaimana ia menampar Zhora sampai pipi yang tidak bersalah itu berubah menjadi merah.


Zhora ingin pergi saja rasanya, menembus lautan insan di Arena ini. Tidak perduli dengan desak-desakan, dorongan, orang-orang disana. Zhora beribu-ribu menyesal mengikuti kemauan otaknya, bukan hatinya yang sedari tadi meminta untuk pulang.


Zhora mencengkram keras lengan Atlas, ingin menyalurkan rasa takutnya. Berharap dunia bisa berhenti dalam sepuluh detik pun, Zhora ingin berlari sekencang-kencangnya menjauhi kedua pria dihadapannya ini. Namun apalah daya, kedua kakinya sudah lebih lemas.


“Kak..” lirih Zhora, menatap sendu harapan satu-satunya itu. “Apa maksud kakak ngajak aku kesini? maksudnya apa kak!” kedua mata itu mulai berkaca-kaca, benar apa feeling hatinya. Lagi dan lagi, Zhora jatuh ke tangan yang salah. Harapan nya pupus, setelah melihat Elzar yang benar-benar ada di depannya.


Atlas diam, benar dugaannya. Pasti gadis itu akan menangis, “Maaf.” hanya kata itu yang bisa Atlas keluarkan dari bibirnya. Sebenarnya, Atlas tidak tega mengajak gadis sepolos Zhora kesini. Tapi, ego selalu memenuhi diri Atlas.


“Cewek cupu ini, berharga buat lo?” Elzarres menatap remeh, tidak selera. Kenapa jadi begini? apa Atlas sengaja memberi makhluk buruk rupa ini, sebagai balasan? Sedangkan Elzarres memberi gadis ja'lang yang sudah ia sewa ratusan juta, cih!


Lalu buat apa Elzarres membayar mahal-mahal orang suruhan terbaiknya untuk merubah mesin yang akan digunakan oleh Atlas, jika balasan nya berupa cewek jelek ini? Sialan!


“Jaga ucapan lo,” elak Atlas. Elzar berdecih, sebelum gadis ini muncul ia masih bersikap biasa saja pada Zhora. Tapi, kinj perasaan benci dan dendam memenuhi jiwa dan raga Elzar.


Setelah perdebatan yang memakan banyak waktu, kedua sejoli itu segera naik ke motor yang sudah dibeli oleh Elzarres. Dengan rencana yang sudah matang, sesuai dengan harapannya— Motor Atlas berjalan lebih lambat ketimbang motor Elzar.


Para penonton semakin riuh, karena kedua pria tampan itu memiliki pengikut dengan jumlah yang sama. Kini ronde terakhir, para pendukung Atlas berteriak menyemangati. Lain dengan pendukung Elzar yang sudah sumringah karena idolanya lebih unggul dari Atlas.


Zhora menangis tersedu-sedu, tidak ada suara yang sama sekali ia keluarkan. Rasa kecewa, sakit, dan perih menyatu dengan paksa. Zhora yang selama ini kira Atlas adalah pria yang baik-baik, ternyata melecehkan harga dirinya dengan balapan ini?


Perasaan Zhora sudah tidak bisa digambarkan, Zhora tau jika dirinya sebagai taruhan. Melihat gadis menggunakan pakaian terbuka, menunjukkan belahan dadanya disana. Dan, mendengar pertanyaan cowok yang menepuk bahu Atlas tadi. Disaat itu, Zhora sudah mengerti apa tujuan Atlas membawanya kesini.


Ibu, Zhora merasa jadi anak yang paling bodoh dan mengecewakan ibu nya sendiri. Bahkan Zhora bilang sama ibu kalau Zhora akan pulang, tapi Zhora nggak yakin Bu.


Maaf, Zhora sudah berbohong sama ibu. Aku takut ibu banyak pikiran, ibu tau? pria yang ibu bilang anak yang baik, ternyata melecehkan harga diri Zhora demi balapan ini. Dia bukan pria baik-baik, ibu!


Zhora kecewa ibu, kepercayaan Zhora dipermainkan seperti ini. Zhora bukan gadis kuat seperti gadis-gadis lainnya. Zhora cengeng, Zhora mudah kepikiran. maaf ibu, maaf.


Tes.


Air mata itu jatuh lagi, menatap sedih kedua pria yang sibuk balapan itu. Rasa bencinya pada balapan semakin tinggi dan meluap-luap karena mereka. Apa rencana Tuhan kali ini? kenapa dunia seolah-olah tidak ingin Zhora bahagia sedikitpun? Kenapa!

__ADS_1


Perempuan berpakaian minim itu melirik sinis, terlalu lebay menurutnya. Zhora tau itu, Zhora menyadari nya. Namun rasa kecewa yang menggebu-gebu telah merasukinya, butiran tangis itu terus keluar tanpa henti.


Zhora memejamkan matanya, merutuki kesalahannya. Tangannya mulai terangkat, menampar pipinya sendiri. Mungkin jika tangan Zhora bisa berbicara, ia akan meminta untuk berhenti, dan merasa bersalah selalu menampar pipinya sendiri.


Plak!


“Kamu bodoh, Ozhora! hiks,”


Plak!


“Ini pantas buat kamu, kamu mengecewakan ibu kamu sendiri!”


Tangan itu terus menampar pipinya sendiri, beberapa penonton disana merasa aneh akan perlakukan Zhora. Zhora kembali kambuh, jika ia melakukan kesalahan pasti pipi nya lah yang menjadi korban kekecewaan nya. Selalu ditampar, sampai rasanya puas baru tangannya diam.


Plak!


“AKU BENCI DIRI AKU SENDIRI, KENAPA! KENAPA DUNIA GAK MAU AKU BAHAGIA SEDIKIT AJA?!”


“BODOH! AKU JA'LANG, AKU MURAHAN! AKU TAU ITU, AKU SADAR AKU MURAHAN, AARGHHH!”


“IBU, AKU ADALAH ANAK TERBODOH YANG PERNAH KAMU LIHAT, SHHHH..”


Kejadian yang tidak pernah Zhora duga, harga dirinya menjadi taruhan kedua cowok b'rengsek itu. Rasa kecewa Zhora sudah tidak bisa dibicarakan dengan kalimat, bahkan kata pun tidak cukup. Pipinya sudah merah, benar-benar menunjukkan bahwa ia membenci dirinya sendiri.


Tubuhnya melemas, kedua tangannya berhenti menampar. Kedua matanya mulai memburam, pikirannya menghilang. Hatinya terasa ditusuk oleh jutaan belati, kepercayaan nya sudah direnggut. Tidak lama, tubuh Zhora ambruk, dengan kedua pipi yang sudah memerah akibat ulah nya sendiri.


•••


PRANG!


“Allahuakbar, kenapa aku melamun seperti ini? aku merasa ada yang janggal. Zhora, apa kamu baik-baik saja, Nak?” Lena memegang dadanya, kenapa tiba-tiba ia merasa ada yang aneh. Memang, feeling ibu tidak bisa dipermainkan.


Gelas kaca itu jatuh, kepingan-kepingan kaca itu bertebaran disekitar lantai. Lena merasa firasat buruk mendatangi nya, berharap jika putrinya baik-baik saja disana. Entahlah, Lena sedang sibuk membersihkan gelas kaca itu namun tangannya melepas tanpa aba-aba.


“Zhora sayang, apa kamu baik-baik saja disana?” Lirih Lena. Benar-benar memiliki pirasat jika Zhora didatangi hal-hal yang tidak ingin Lena harapkan.


“Semoga kamu baik-baik saja, Nak.”


•••


Kamu mengecewakan ibu..


Ibu malu punya anak seperti kamu!


Pergi kamu dari sini, memalukan!

__ADS_1


“Ibu.. jangan tinggalin aku ibu, aku tau aku adalah anak yang bodoh, dan memalukan. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku..” gumam gadis itu, mencengkram erat bibir kasur.


“Dia sudah sadar,” cetus dokter itu, setelah mengecek detak jantung Zhora. Cowok itu mendesah lega.


“Terimakasih, dok.” Dokter hanya mengangguk.


“Kalau begitu, saya permisi.” Dokter segera bergegas keluar, mengerti jika cowok itu membutuhkan privasi.


Zhora membuka kedua mata perlahan, berharap pertama kali objek yang dilihatnya adalah Lena. Namun harapan nya hancur, bukan Lena yang duduk disampingnya. Tapi, cowok yang berani merenggut kepercayaannya.


“Kak Atlas mau apa? kakak belum puas, melecehkan harga diri aku?” tanya Zhora, menatap sedih sesosok pria dengan bobot tinggi telah mengecewakan nya.


Atlas diam, tidak berkutik. Setelah kejadian Zhora yang jatuh pingsan saat ia tengah mengejar kekalahan nya dari Elzar, Atlas dibuat terkejut setengah mati. Ditambah kedua pipi yang tidak salah itu, berubah menjadi merah padam ulah diri Zhora.


Setelah kejadian, Elzar berhasil menguasai pertandingan kali ini. Atlas mengerti, kenapa ia bisa kalah dalam ajang balap seperti ini, biasanya ia selalu memenangkan setiap hal berbau balapan. Atlas tidak bodoh, pasti ada yang disembunyikan oleh Elzar.


Atlas tidak memusingkan hal itu, terpenting kesehatan Zhora adalah prioritasnya. Atlas sudah membuat gadis itu hancur, kedua matanya menyilaukan kesedihan dan kerapuhan. Bodoh, satu kata yang menggambarkan bagaimana Atlas sekarang.


“Aku kecewa sama kak Atlas,” jujur Zhora, meremas tangan. Wangi obat-obatan sangat semerbak di indera penciumannya, dari perabotan disini Zhora sudah tau ia ditempatkan di kamar VVIP. Dinding berwarna biru laut, diolesi dengan putih tulang.


Dingin, Zhora mengusap-usap pelan lengan nya. Suhu AC dikamar ini pasti tinggi, mungkin sekitar 18-23 celcius. Zhora tidak biasa tidur dengan barang-barang mahal, terutama AC. Zhora hanya menggunakan kipas yang penuh debu-debu disetiap rongga nya.


“Maaf, gue gak bermaksud ngecewain lo. This is my fault, dan gue harus bertanggung jawab soal ini.” Atlas menatap kedua bola mata teduh itu, dan akan selalu begitu. Kedua mata yang selalu memancarkan kesedihan, bukan kebahagiaan. Atlas sangat-sangat bisa mengetahui perasaan Ozhora lewat tatapan gadis itu.


“Maaf kak, aku belum bisa menerima maaf kak Atlas. Aku benar-benar kecewa sama Kak Atlas, beri aku waktu.” Hati Zhora tetaplah pemaaf, tidak ada titik hitam pendendam disana. Atlas berdecak kagum melihat kebaikan gadis polos ini.


“Lo gak perlu minta maaf, gue salah. Gue yang berani ngambil resiko, dan gue harus berani bertanggung jawab sama apa yang gue pilih.”


Zhora terdiam, rasa pening itu sudah tidak ada. Menatap manik mata tajam itu, dengan iris mata hijau yang selalu bisa membuat kaum hawa tergila-gila karenanya. Pria yang dingin, tetapi saat bersama Zhora, elemen dingin itu seakan hilang ditelan bumi.


“Apa yang harus aku lakuin? harga diri aku dijual, dan aku harus ngelakuin apa yang harus aku lakukan.” entah jin ghaib dari mana, kata sarkas itu keluar begitu saja dari mulut polos Ozhora. Bahkan, Zhora tidak sadar atas kata sarkasnya pada Atlas. Lihat, betapa kecewanya Zhora sampai mulutnya pun menunjukkan hal yang sama.


Atlas tergelak, sedikit tersindir. “Gue udah sepakat sama Elzar, lo cuma dikasih hukuman kontrak selama setengah tahun. Hukuman yang tidak ada unsur kekerasan, dan pelecehan. Trust me, waktu terus berjalan dan Elzar gak akan macem-macem sama lo,”


Zhora tersenyum, mencoba menutupi kekecewaan yang membuncah dashyat di dalam hatinya. “Aku harus minta ijin sama Ibu–” dan pastinya ibu kecewa sama aku, kak. Lanjut Zhora dalam hati.


“Jangan paksa wajah lo untuk bersikap baik-baik aja, gue tau lo rapuh. Maaf, gue cowok b'rengsek yang pernah lo kenal,” aku Atlas.


Baik, sama b'ego itu beda tipis.


•••


SEKIAN LAMA GAK UPDATE UHUY!😭


maaf jarang up, sibuk baca cerita org luar soalnya.

__ADS_1


Thanks, give me a comment!🙂


Salam, Idelia as justboggi wife.


__ADS_2