
“Orang jahat sebenarnya tidak ingin menjadi jahat. Mereka adalah seseorang yang sudah berjuang mati-matian, tapi tidak dihargai dan diabaikan.”
______
Hidup penuh kejutan. Disaat kita berpikir kalau dunia kejam, jahat, tidak pernah memberikan kebahagiaan? disitulah Tuhan menguji kesabaran umatnya.
Siapa yang bisa bertahan? siapa yang tahan tidak mengumpat? siapa yang tidak berburuk sangka pada-Nya? siapa yang menganggap bahwa bahagia tidak akan datang?
Bahagia itu ada waktunya. Disaat 'misalnya' kamu terpuruk begini, jangan mengumpat, mabuk-mabukan, stress, tapi coba, deh. Mendekatkan diri ke tuhan kalian.
Allah selalu mempunyai triliunan cara untuk membahagiakan hambanya. Bahkan tidak terduga, mengejutkan, sering dianggap 'ini nggak mungkin.'
Selagi kita bisa berjuang, berdoa, masih memiliki keutuhan dan kekuatan. coba mendekatkan diri pada Tuhan kalian.Tuhan tidak membutuhkan kalian, tapi kalian yang membutuhkan bantuan-Nya. Kesempatan belum tentu datang dua kali. Jadi, selagi kalian bisa melakukannya, kenapa tidak?
Jangan sampai suatu saat menyesal, telah menyia-nyiakan waktu, menguras waktu. Padahal, time is money– waktu adalah uang, waktu berharga. Sekali lagi, penyesalan sering muncul di akhir. Seperti Zhora saat ini, misalnya.
Zhora benar-benar menyesal memandang Atlas tertawa. Zhora terpana oleh ketampanan pria itu. Hingga ia tidak mendengar ocehan temannya sendiri? wow! pesona Atlas gak ada tandingannya.
“Ohh, jadi temen gue lagi falling in love, nih?” Xessi menyeringai menggoda. Zhora tampak gelagapan sendiri. Ah! Kenapa sampai nggak denger ucapan temen kamu sendiri yang jelas-jelas deket, banget?!
“Mikirin si mouss wuantedh ternyata sodara-sodara, siapa Xes?” goda Jelia. Menaik-turunkan alis tebalnya. Artha terkikik geli, tidak ingin memperlambat waktu gadis langsung pergi memesan makanan.
“Siapa ya?” Xessi menyentuh dagu dengan telunjuk, Berpura-pura berpikir. bola matanya berputar-putar. Zhora mati kutu dibuatnya– benar-benar malu, banget!
“Oh, si most wanted itu, kan? kalo gak salah namanya ATLAS deh, A-T-L-A-S. ATLAS!” Xessi dengan jail menekan setiap kata 'Atlas' di ucapannya, membuat Zhora malu. Beberapa tatapan murid mengarah Xessi, gadis itu menyengir memasang watados-nya.
Zhora mencari Atlas, ketika ia menemukan Atlas, tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Membuat tingkat malu Zhora meningkat drastis!
*1 detik
2 detik
3 detik*
__ADS_1
Atlas terus menatapnya. Entah apa yang cowok itu pikirkan, Zhora segera memutuskan pandangan. Menulikan pendengaran dari godaan-godaan Jelia dan Xessi.
Di sisi lain, Atlas merasa firasatnya benar. Gadis itu Zhora, gadis familiar untuknya yang pandai bernyanyi, membuat siapa saja terpukau karenanya. Tanpa disadari, kedua sudut bibir sexy terangkat menciptakan sebuah senyuman, meskipun itu senyuman tipis.
Nioz— salah satu teman Atlas— bergidik ngeri melihat temannya senyam-senyum sendiri. Nioz memukul pelan— ralat, sangat keras sampai-sampai cowok yang dipukul meringis. “Sakit, goblokk!” erang cowok itu.
Nioz cengengesan tidak jelas. Dia nggak tau, apa? Nioz itu kalau cengengesan kayak gitu bisa ngebuat anak cewek-cewek ngiler, klepek-klepek ngeliatnya! mending tanggung jawab, ini enggak!
“Am sori bet,” ujarnya. Bahkan tidak ada nada maaf disana.
“Do wana tolk,” lanjut Polan.
“Ani de mon bepor ago,” bodohnya, Zevin ikut-ikutan. Niatnya sih mau mukul balik, tapi gak jadi.
“Jangan dilanjutin!” Zevin seketika sadar. Ngapa gue jadi ngikut-ngikutan mereka?
Nioz mengambil garpu Polan. “Poulan, minjem bentar garpu lo, ya?” Nioz mengangguk, berakting seperti Polan. “Iya Nioz ganteng ambil aja,”
Polan mendengus. “Gak usah izin sekalian! nama gue udah cakep-cakep napa diganti jadi anggota teletubbies, anying!” Polan melempar kotak susu coklat ke pundak Nioz, namun cowok itu tidak menghiraukan nya.
Setelah membaca doa makan, Nioz dengan setengah hati memukul kepala Atlas dengan garpu besi itu. Sekali lagi, besi. Heran, Nioz ganteng-ganteng sableng, lebih herannya lagi masih banyak cewek-cewek ngantri buat jadi pacarnya.
“ANJINGGGGG! NIOZ SIALAN!” umpat Atlas nyaring. Nioz dengan seluruh wajah tanpa dosanya hanya menyengir. Suatu keberuntungan untuk Nioz, mungkin? Fokus Atlas teralih melihat Zhora berjalan menuju.. entah Atlas tidak mengetahuinya.
Di sisi gadis berkulit sawo matang itu. Zhora sudah tidak mendengar godaan teman-teman nya lagi. Bersyukur temannya sudah diberi hidayah.
Zhora yang tidak melakukan apapun seketika terkejut, mendengar teriakan melengking memenuhi ruangan kantin. “LO KALO JALAN PAKE MATA, DONG!”
Zhora menyusuri sudut kantin, di sana– Artha sedang 'ribut' dengan cewek bermake-up tebal. Aksi jambak-jambakan tertera jelas di mata Zhora. Tidak terima jika sahabatnya di jambak seperti itu, Zhora berjalan mendekati keduanya yang mulai dikerubungi.
“Bukannya dibantu, cuma diliatin aja. Abis itu dimasukin sosmed, duh, itu gunanya buat apa, sih?”
Zhora berlari tergopoh-gopoh, menyempil karena tubuhnya yang mungil. “ARTHA!”
__ADS_1
Artha tidak menghiraukan nya. Untung saja nampan itu tidak ada di tangan. Artha terus menarik rambut gadis dihadapannya. “ARTHA STOP!” tahan Zhora. Zhora maju di tengah-tengah kedua 'harimau' itu.
“Ini ada apaan, Artha?” Zhora berbicara lembut. Zhora sudah tau, jika Artha dibentak dan dikasari, jangan harap gadis itu ketakutan. Bahkan semakin melunjak, nyatanya.
Napas gadis berkulit putih tersengal-sengal. “Dia duluan! siapa suruh jalan nggak liat kedepan!” bela gadis itu untuk diri sendiri. Gadis bernama Gisya itu mendelik benci.
“Denger ya cewek centil! gue tau lo mau modus kan sama Elzar?! lo pikir gue bodoh, hah?!” bentak Gisya, tidak terima jika ia yang disalahkan. Telunjuk mengarah pada wajah cantik Artha.
“Peduli apa lo? ini urusan gue! gak usah ikut campur, nenek lampir!” ledek Artha. menatap jijik cewek bermake-up tebal di hadapannya. Huh? siapa dia berani-beraninya melawan seorang Artha?
Gisya menggeram. “Lo itu adek kelas gue! Oh, apa lo gak pernah diajarin sopan-santun sama orang tua lo?!” Lengan Gisya ditahan oleh Gadis berkepang dua, mungkin temannya?
Gisya melanjutkan ucapannya. “Apa jangan-jangan lo, gak punya orang tua? Woops! sorry, girl!” Artha tersulut emosi, ucapan cewek sialan itu salah besar. Kedua orang tuanya masih hidup dan membesarkannya penuh kasih sayang.
Artha maju satu langkah, menatap murka cewek yang ia anggap murahan. “LO! MENTANG-MENTANG LO KAKAK KELAS GUE, LO BISA SEENAKNYA? IYA?!” dada Artha naik turun, pertanda gadis itu benar-benar emosi.
“MUNGKIN GUE BISA TERIMA LO NGEHINA GUE, TAPI NGGAK UNTUK ORANG TUA GUE! DASAR JAL*NG! BAJING*N!” pupus sudah harapan Zhora untuk menengahi mereka, melihat Artha layaknya monster sekarang. Bahkan, sampai sekarang tidak ada satupun seseorang yang menengahi.
Artha semakin maju, menepis pelan tangan Zhora yang menahan lengannya. Zhora bergetar hebat, kali pertama ia melihat pertengkaran secara langsung. Artha mendorong kasar Gisya, tubuh gadis itu tersungkur di lantai.
Oh ayolah? dimana guru-guru? dimana penjaga kantin? apa mereka memang tidak ada gunanya? jelas-jelas ada pertengkaran disini, namun tidak ada satupun guru yang menengahi.
Gisya dibantu berdiri gadis berkepang dua, tadi. Gisya dengan seluruh kemarahan nya melangkah berniat meninju Artha. Seperti nya dewi fortuna tidak berpihak pada Zhora, tinjuan itu tepat mengenai perut Zhora yang mencoba melindungi Artha.
Artha terkejut. “ZHORA!” terlambat, Artha menatap nanar sahabatnya yang rela terkena tinjuan kasar demi melindunginya. “Zhora, maaf.. hiks,”
Sedangkan Zhora sudah tidak sadarkan diri di dalam dekapan hangat seseorang. Bersandar lemas di dada bidang cowok bermata hijau, itu yang memancarkan kebencian. “Welcome to hell, girl,"
________
**Double update gak, nih? lagi mood soalnya, hehe❤️
Maaf kalau gak jelas, gambarannya tuh gini, gue bisa ngebayangin lancar apa isi khayalan gue. cuma, penyampaian nya aja gue gak bisa😭🙏🏼
__ADS_1
Maaf agak sedikit dari biasanya, hehe. Jangan lupa rate 5, vote, like, komen, share, sabrek.*pletak /banyak maunya**/
Salam, Idelia as justboggi wife.