
“Jika kamu tidak bisa berbicara dengan baik, lebih baik diam. Karena jika kamu menangisi seseorang, lihat apa karma yang akan kamu dapatkan.”
_____
Kota Jakarta terlihat ramai. Hari kerja tidak membuat kota indah itu sepi termakan usia. Pohon-pohon, tumbuhan dan bunga mekar leluasa, memberi oksigen selain itu menyegarkan mata.
Para penyiram tanaman dengan senang dan telaten memberi air pada tanaman-tanaman, pohon, bunga di pinggiran trotoar. Setiap pejalan yang melewati trotoar pasti akan terpesona dengan keindahan bunga-bunga yang dirawat dengan sepenuh hati.
Kepala Zhora mengarah ke kiri, sedikit lagi kafe alantaria sampai. Mudah dikenal dengan kemewahannya, dan spanduk besar di bagian depan. Zhora memberi kode untuk belok ke kiri pada ojol, haluan motor itu mengarah pada keinginan Zhora.
“Siap, neng!" semangat ojol. Zhora senyum menanggapi, kini langit mulai keorange-an. Terik matahari juga tidak terlalu menyengat kulit, mengingat kini sudah pukul 16.35 sore.
Motor berhenti tepat di depan parkiran. Zhora turun lalu memberi beberapa lembar uang pada ojol. Diterima baik oleh ojol, lalu tersenyum canggung.
“Makasih, bang.” Zhora mengalihkan pandangan pada pelanggan yang berbondong-bondong untuk masuk. Entahlah, semangat untuk menyanyi menurun, melihat kejadian tadi.
“Itu siapa? apa pacarnya, ya?”
Sadar diri jelek..
Lo gak pantes disini..
Menjauh dari kalangan sempurna, lo hanya manusia rongsokan..
“Neng? Yeh, si neng malah bengong!” Ucap ojol membuyarkan lamunan Zhora, Zhora sungguh berterimakasih atas panggilan itu. Mungkin jika ojol tidak menyadarkan nya, bisa-bisa sampe besok ia menjadi patung bengong disini.
Zhora gelagapan, lalu menyengir tidak enak. “Kenapa, bang?” Zhora mulai memakai topeng, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
“Makasih uangnya! jangan bengong neng, entar kesurupan loh,” canda Ojol. Zhora pura-pura tertawa renyah. Apa karena mood buruk, candaan itu tidak menghiburnya sama sekali?
“Ahaha. Kalo gitu saya duluan bang. Hati-hati,” Setelah ojol pergi, Zhora segera masuk dengan langkah lesu. Mungkin suasana dingin bisa membuat dirinya membaik, semoga.
Zhora membuka pintu kaca. Zhora terkejut bukan main, melihat para pelanggan lebih ramai dari kemarin. Bahkan kemarin saja sudah ramai sekali, sekarang? Zhora bingung, kenapa tetap dingin, padahal suasana kali ini benar-benar ramai.
“Pasti karena kata-kata aku waktu, itu. Hum, mereka benar-benar melakukannya.”
Zhora memasuki ruang pegawai. Menaruh tas selempang di atas nakas. Lalu menutupi wajah dengan makeup natural, meskipun masih ada luka di dahi nya. Berdiri di depan kaca, melihat tampilan dirinya.
Ah, lihat. Dirinya sangat mengenaskan akibat kehadiran luka dibalut kapas itu. Zhora gemas dengan luka tersayat besi yang menganggu area wajah. Tangan kanannya terangkat perlahan, menatap kesal luka itu.
Sedikit lagi tangan menyentuh luka berlapis kapas, pikirannya teringat kata Elzar di UKS. Pikiran dan reaksi tubuhnya saat melihat luka berbanding balik, Ingatannya seakan berpihak pada Elzar.
Jangan disentuh.
Nurut, ini demi kebaikan diri lo sendiri.
Zhora menurunkan kembali tangannya. Pikirannya membuat bimbang. Ditambah penampilan yang tidak mendukung sama sekali, Zhora lieur sendiri memikirkannya.
Dibanding dilema akibat pikiran, Zhora berbalik dan mencari Yolla. Nggak enak, kan kalo nanya sama Oliv terus? Kedua kaki jenjang Zhora menuju ruangan sebelah, mencari Yolla. Beberapa sapaan menghampiri, bahkan dari mereka sangat perhatian akan luka di dahinya.
Nah! Zhora menemukan Yolla sedang duduk bersama Hana. Menghampiri kedua gadis berselisih jauh dengannya. Menarik kursi kecil, lalu duduk menghadap Yolla dan Hana.
__ADS_1
“Kak,” Hana dan Yolla menoleh, keduanya terkejut melihat kapas menempel di dahinya. Hana ingin melihat luka itu, namun Zhora mengurungkan nya.
“Ah, nggak papa kak Hana. ini, aku cuma mau nanya, penampilan aku udah oke belum?” ibu jari dan telunjuk Zhora membentuk logo Adidas, ditempelkan di bawah dagunya, bergaya.
Yolla terkekeh, sedangkan Hana dengan jiwa keibuan nya menatap serius. “Itu kenapa?” Zhora sudah menganggap Hana seperti ibu kedua nya, jadi jangan heran Zhora takut dan bingung ingin mencari alasan yang tepat.
“Em, anu– kejedo–”
Seorang pria memunculkan kepala di balik dinding. “Zhor! sekarang waktu lo manggung!” Hanna berdecak pelan, Yolla memandang penasaran. Zhora terpaksa berdiri, berpamitan lalu berjalan menuju panggung berbahan besi.
∆∆∆
Berbeda dengan Zhora yang bekerja banting tulang demi keluarga, Elzar dengan serius mengikuti alur keributan kali ini. Keringat bercucuran di dahi, dan pelipis. Kedua sorot mata tajam ditambah dada bidang naik turun sebagai pelengkap menunjukkan betapa seram Elzar sekarang.
Luka-luka kecil, besar menempel kuat di wajah. Ah, dengan bahagianya Tuhan tetap membuat wajah dewa Yunani itu tetap tampan dan sexy di suasana seperti ini. Orang ganteng mah, bebas.
Tersenyum menang melihat Haysen bergerak kaku, tubuhnya bergerak namun tidak menghasilkan apapun. Terbaring lemas dan memegang dada, berharap dapat mengurangi rasa sakit.
Melirik Revan, cowok gamers itu maju menatap Haysen dengan sorot kebencian sekaligus remeh. Zerloxeus dilawan? siap-siap tinggal nama aja. Haysen dengan mudah menganggap lawan nya lembek dan tidak kuat? Pfft, Zerloxeus bukan pecundang.
“So who wins now, Mr. Haysen?” tanya Zef, lebih seperti ledekan, sih. Oh, apa mungkin Haysen berharap ia akan menang? cih! jangan bermimpi seindah itu.
“Shut up your fcking, mouth!” bentak Haysen meskipun suara bariton cowok itu merendah, tenggorokan nya terasa tercekik ribuan tali. Walaupun begitu, Haysen mengakui jika lawannya tidak bisa diajak bermain-main.
Giliran Revo, cowok blaster Belanda itu tertawa seperti terhibur oleh seorang komedian. “Cih, geblek banget sih lo!” hina Revo, telunjuknya mengarah pada muka Haysen yang babak belur. Haysen yang malang, teman-teman persekutuan nya kabur meninggalkan boss nya.
Brrrfh! Revo pengen ketawa aja, rasanya. Teman macam apa itu? Meninggalkan Haysen yang jelas-jelas kuat hanya saat bersama teman-teman sialannya itu. Jika sendiri, Haysen tidak ada apa-apanya, cowok licik itu hanya mengandalkan pikiran sialannya.
Haysen sudah menyiapkan beberapa teman suruhannya untuk memberi jebakan pada Elzar. Tetapi bukan Elzar jika cowok itu lebih sigap dibanding teman Haysen, remehkan saja kepintaran Elzar, tapi tidak dengan kekuatan dan keteguhannya.
“Anggap aja seseorang seperti buku. Memangnya, sampul atau cover buku bisa mewakili seluruh isinya? Memangnya, kita bisa menilai buku dengan sampulnya saja?”
Haysen sudah tidak peduli dengan harga dirinya yang sudah dijaga sejak dulu, terpenting kali ini ia harus selamat. Dendamnya belum terbalaskan sama sekali!
“Ucapkan kata terakhir, sebelum lu mati.” Clederick, a.k.a Erick salah satu anggota Zerloxeus yang ikut dengan Elzar. Memandang sinis Hayden yang mulai berbicara patah-patah, tubuhnya semakin terkulai lemas.
Hayden berbicara, namun suara itu sangat kecil. Bahkan, Revan kira cowok itu menjadi gagu seketika. “To..tolo–ng..” lirih Hayden, persetan dengan bayangan dirinya yang lemah dan tidak kuat dalam berkelahi.
Elzar tersenyum kecil, bukan-bukan! lebih tepatnya sebuah smirk menyeramkan. Cowok berparas dewa Yunani itu diam, namun tangannya mengambil ponsel lalu menelpon seseorang.
“....”
“Jalan xx, deket Toko Othoris.”
“...”
“Bawa kerumah sakit, sekarang.”
“...”
“Keadaannya sekarat, gue harap lo datang kesini secepatnya.”
__ADS_1
Sambungan terputus sepihak, Elzar menaruh kembali ponsel pintarnya di saku. Elzar rasa, Haysen dan teman-teman nya sudah mendengar percakapan tadi. Dibanding membuang waktu, Elzar beranjak pergi kemudian menaiki motor ninja hitamnya.
“Tunggu disini, jangan mati dulu.” ujar Revan, yang terdengar seperti lelucon. Zef dan Revo hanya tertawa sekilas, lalu mengikuti jejak Elzar meninggalkan Haysen yang menunggu bantuan itu datang.
“Bodoh! mana mungkin dendam gue selesai gitu aja, lo akan tau akibatnya tuan Elzar terhormat. Hidup bahagia lo gak akan gue biarin!”
_______
Suasana warung sekaligus toko kelontong itu menjadi semakin ramai. Berbeda dengan sebelumnya, DJ milik Nioz sudah tidak terdengar diganti lagu kebarat-baratan milik Zevin. Lagu galau, masnya.
Nioz yang dihujat oleh temannya sendiri mengundurkan diri, ikut-ikutan nonton itu bareng Polan sama temen-temennya. Melirik kesal Zevin, puas akan hujatan yang telah diberikan untuk Nioz.
“Apa lo, liat-liat?” Zevin tertawa, cowok itu semakin tampan. Tapi sayang, sangat memilih-milih gadis yang akan menjadi pasangannya nanti.
“Halah, seleranya yang cantik, bohay, sexy yang itu nya gede kan? Ck, kayak Jerry lo gede aja, nying!” begitu cibiran Nioz, yang muak akan tipe cewek Zevin.
Nioz membuang pandangannya, mendengus kesal. “Geer banget lo, Jono!” ledek Nioz menggunakan nama orang tua Zevin, membuat cowok itu menggeram kecil.
“Kampret! nama orang tua gue Jonathan, bukan Jono!” elak Zevin, nama orang tuanya sebagus itu diganti dengan Jono? Nioz benar-benar autis nyasar kayaknya.
“Yang penting gue nyaman manggilnya,” Nioz tidak peduli. Lebih baik menimbrung, kerumunan cowok itu. Menulikan pendengaran dengan makian Zevin untuknya.
Nioz menyeringai melihat Polan yang tidak berkedip sama sekali menonton video itu. Pikiran jahil muncul, cowok itu berdoa lebih dulu sebelum melanjutkan atraksi nya. Seperti biasa, doa makan.
Nioz menggerak-gerakkan tangan dan sepuluh jarinya. Melenturkan tangan untuk persiapan aksi gilanya. Setelah dirasa cukup, Nioz menatap geli para cowok mesum itu.
Satu. Nioz masih senyum-senyum.
Dua. Tangannya mulai maju. Kedua matanya memandang kumpulan cowok itu, biar rencananya nggak gagal.
Tiga. Yak, bagus. Jari Nioz menekan tombol power untuk mematikan ponsel itu. Dalam dua detik selanjutnya, bisa dibayangin deh ya. Nioz berlari terbirit-birit, masuk kedalam warung untuk bersembunyi.
“NIOZZZZ! PADAHAL ITU UDAH DIBAGIAN– EHM EHM NYA LOH!”
“Anak dajjal!”
“Jing, udah sang– eh astaghfirullah!”
Berbeda dengan kebobrokan mereka, Verena datang dengan dua kantung plastik putih. Perempuan cantik itu habis berkunjung ke Indomaret untuk membeli cemilan. Alasan yang lebay menurut Atlas, hanya takut jika makanan yang dijual di warung tidak higienis dan kotor.
Verena menaruh kantung plastik itu lebih dulu, lalu tangan kurus itu bergelantung manja di lengan kokoh Atlas. Atlas diam saja, kedua bola mata hijau tua itu berputar.
“Makan dong, udah aku bawain!” Selanjutnya, anggota wajah kenyal itu menyentuh lembut pipi Atlas. Veren memundurkan wajahnya, lalu membuka kantung plastik dengan santai.
Sayang sekali, Verena lupa jika ini tempat umum. Jadi, wajar dong ya, kalau ada yang liat kejadian Veren mengecup pipi Atlas? Perempuan yang bersembunyi dibalik tiang listrik itu menutup mulutnya, lalu berlari pergi mengurungkan niat untuk jajan disana.
_______
Ini ditambah ya, jangan lupa support nya. hehe!
Ayok, like sama vote, rate 5 nya mana nih? udah lama kan gak update? hehe🤷🏼♀️
__ADS_1
Salam, Idelia as justboggi wife.