
“*Kesedihan orang tidak pantas dijadiin bahan bercandaan. jangan jadi orang b*go karena mempermainkan kesedihan orang lain*.”
_______
Atlas terdiam cukup lama. menatap dalam sekaligus kesal, kenapa gadis ini terang-terangan menyatakan dia jelek? Atlas membenci itu. mengangkat tangan kanan, melihat arloji hitam menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Zhora bagai patung. bergerak enggan, diam canggung. apa Zhora salah ngomong? gadis polos mengucapkan sepatah kata membuat Atlas semarah, ini?
“Lain kali, kalo mau ngomong dipikir dulu. gue cabut.” Atlas berubah dingin. melempar kunci motor dan menangkap lagi. menaiki motor ninja, pergi tanpa sepatah katapun.
“Aku salah ngomong, ya?” tanya diri sendiri. terlihat bodoh, beruntung Atlas pergi. menatap punggung tegap cowok itu, sampai menghilang ditelan bumi.
____________
Pagi itu Atlas menempati ucapannya. Padahal, Zhora kira karena marah, cowok itu tidak jadi menjemputnya. Lihat sekarang, cowok berparas tampan memainkan ponsel, bersender di mobil Porsche.
Zhora dengan sigap beranjak keluar menemui Atlas dengan pakaian simpel. Shirt hitam dengan celana army. Kedua iris mata bersinar gugup. Apa Zhora dicueki, lagi?
Tidak, Zhora harus berpikir positif. mungkin cowok itu belum menyadari kehadirannya. Atlas masih berkutat dengan ponselnya, bermain game.
“A-Atlas,” panggil Zhora. kedua tangan diremas kuat, keringat sedikit demi sedikit bercucuran di wajahnya. Atlas menoleh, memasuki ponsel dalam saku, lalu masuk tanpa berbicara sedikitpun.
“Kayaknya Atlas masih marah, gimana, dong?” Terbiasa menggigit bibir bawah ketika gugup, tanpa sadar membuat gejolak amarah Atlas menaik. Gadis itu memutari mobil dan masuk.
“Abis ngapain?” Bukan terdengar seperti pertanyaan, tetapi sebuah kode? sindiran? Zhora tidak mengerti.
“Ng-anu, gak ngapa-ngapain kok.” pura-pura membersihkan celananya, menjauh dari pertanyaan Atlas. menghembuskan napas pelan.
“Di depan lo ngapain, gue tanya.” ulang Atlas. satu hal bertambah, ternyata Atlas selalu memaksa lawan bicaranya untuk mengungkapkan sesuatu.
Zhora tetap tidak mengerti. Ia tidak melakukan apa-apa. “Aku gak ngapa-ngapain, Atlas.” suara lembut itu hampir merobohkan tebing pertahanan Atlas.
Hampir menyerah. “Lo gigit bibir lagi?” final Atlas. Sedetail itu Atlas memerhatikan nya? lain kali, ingatkan Zhora untuk menjaga sikap bersama Atlas.
Tidak tahu apa jawaban yang pasti. karena Zhora yakin jika ia salah omong, Atlas akan marah. Ya, walaupun sekarang Atlas lagi marah, sih. “Ng-nggak, tau.”
terdengar decakan kesal. “Gue nanya, lo gigit bibir lagi? jawab iya, atau nggak!” nada Atlas meninggi, emosinya mudah terpancing jika kemauan nya tidak dituruti.
Zhora menunduk, takut menatap Atlas. “U-udah, Atlas. Ayo berangkat.” Zhora berusaha mengalihkan pembicaraan, bukan Atlas jika cowok itu tidak sebodoh yang dipikir Zhora.
“Lo tinggal jawab iya atau nggak, Ozhora!” Spontan, Atlas memukul dashboard. satu tangan berada di samping kepala Zhora. pandangan mereka bertemu, sedekat ini hingga Zhora sendiri merasakan deru napas Atlas.
Kejadian fatal, pasti Zhora sudah takut karenanya. Atlas sadar, jika ia tidak mudah mengatur emosi, dan mengakibatkan lawan bicaranya ketakutan. Seperti ini, Zhora menatap tak percaya, dan gugup.
Menarik tangan kanan kembali, dan menancap gas mobil meninggalkan perkarangan rumah Zhora. Dua insan dalam suasana canggung. satu nya ketakutan, dan satunya menahan emosi.
___________
Atlas memutari mobil, membukakan pintu untuk Zhora. setelah itu, Atlas pergi meninggalkan Zhora sendiri. membuat gadis itu mematung. Apa ini salah besar?
celingak-celinguk melihat ada mobil ingin berjalan atau tidak ke arahnya, lalu menyebrangi lautan parkiran itu. “Atlas, aku salah besar, ya?” gumam nya ketakutan.
Zhora sedikit berlari menuju kamar Lena. Memendam rindu yang sedikit lagi terbayarkan. Tidur sendiri di rumah, tanpa membuat getuk. Rasanya benar-benar kurang.
Memutar kenop pintu VVIP dan menemukan Lena dengan posisi duduk di atas brankar. Terlihat lebih baik, walau wajah sedikit pucat. “Ibu! Zhora kangen!” gadis itu berlari dan menghambur ke pelukan sang ibu.
__ADS_1
Disambut baik Lena. ia mengelus puncak kepala putrinya sayang. “Ibu disini, sayang.”
Zhora mendongak, menatap wajah ibunya. “Ibu udah baikan, belum?” Lena tersenyum, mencium kening putrinya.
“Udah, kok. tapi Ibu heran, kok ibu bisa dipindah ke ruang mewah ini, ya? kamu semua yang bayar, nak?” tanya Lena. terbangun dari alam mimpinya, ia disuguhkan pemandangan kamar inap mewah. Apa itu ulah putri, nya?
Zhora menggeleng. kedua matanya mengarah kanan atas, mencari alasan yang tepat. Atlas aja nggak ada, gimana mau dijelasin. “Bukan aku, ibu. Nanti aja dibahasnya. Sekarang ibu istirahat, orangnya nggak ad—”
pintu kamar terbuka. menampilkan Atlas dengan buah-buahan dan minuman segar. Zhora menoleh, kedua matanya membulat sempurna. “Atlas! ngapain?”
bukannya dia lagi marah, ya?
Dengan sikap santainya, Atlas berjalan menaruh keranjang coklat di atas nakas, dan menyalimi telapak tangan Lena. bahkan wanita paruh baya itu menyambutnya dengan baik. Apa-apaan, nih?
“Dia siapa, Zhora?” tanya Lena. kening nya berkerut. Atlas yang paham angkat bicara.
“Nama saya Atlas Bu, teman Zhora.” Atlas tersenyum manis. Lena menganggukkan kepala, menatap menggoda pada Zhora.
“Teman apa pacar, nih?” goda Lena. Ozhora bukan seperti gadis pada biasanya, yang malu lalu memunculkan semburat merah. Tetapi merasa tidak pantas dikatakan 'pacar.'
Atlas diam. Membiarkan Zhora menjawab, toh ia belum terlalu dekat dengan keluarga cewek ini. “Ng-nggak, Bu! Ibu apa-apaan, sih. Nggak cocok tau,”
Secara halus, perkataan itu menohok hati Atlas. ingatan seputar tentang cewek ini mengungkapkan bahwa dirinya jelek. 'Aku jelek, Atlas.'
Mengurangi rasa canggung, karena Atlas tidak menyukai itu. “Lagi proses, tante.”
Lena tersenyum semringah. “Dia yang bayar semua ini, Bu.” timpal Zhora.
Lena menampakkan wajah terkejut. “Kamu yang bayar ini semua, sayang?” Atlas diterima baik oleh Lena, lampu ijo, bang!
Atlas mengangguk. “Iya, tante.”
“Makasih ya, Nak! kamu baik sekali, suatu saat nanti jika ibu sudah mengumpulkan uang banyak, Ibu janji akan membayar semua hutang ini.” Cerocos Lena. Atlas menggeleng cepat.
“Gak perlu, Ibu. Saya melakukan ini atas kemauan tersendiri. tidak ada paksaan, tidak ada tawaran.” tegas Atlas. mata tajam nya menatap Zhora sedari tadi diam.
“Jangan, nak! setidaknya ada timbal baliknya. Ajukan satu kemauan, dan ibu akan melakukannya.” Lena negosiasi. Atlas berpikir sejenak, lalu tersenyum simpul.
“Jika itu yang ibu mau, saya punya satu kemauan.” melirik Zhora tetap bungkam. meremas tangannya.
Lena penasaran. berharap tidak akan menguras habis uangnya. Atlas, yang selalu peka langsung berbicara, “Tidak ada sangkut pautnya dengan uang, Ibu. sama sekali tidak ada.”
Lena tersenyum hangat. dalam hati nya ia tenang. “Lalu, apa itu?”
“Saya hanya ingin sesuatu, dan dilakukan oleh putri ibu.” Zhora mendengarnya, menutup mulut dengan telapak tangan. “Mak-maksudnya?” akhirnya, setelah waktu panjang Zhora berbicara.
“Rahasia. jika putri ibu menurut, hutang ibu saya anggap selesai. keinginan saya hanya satu, dan tidak sulit.” Atlas menyukai jalan pikirannya. Menangkap Zhora yang menatap balik, tidak mengerti.
__________
Siang ini Lena diperbolehkan pulang. Atlas sudah pergi, dan Zhora tidak tau kemana. Intinya, setelah mengucapkan itu, dering ponsel Atlas berbunyi. dengan cekatan Atlas izin pamit lebih dahulu.
Keadaan Lena juga semakin baik. Kini kedua manusia itu berada di depan rumah sakit. Zhora menyetop angkutan umum berwarna biru, lalu mengajak Lena masuk. Di dalam perjalanan, kedua nya saling diam.
Sampai dirumah, Zhora memberikan selembar kertas ungu dan diterima senang oleh supir angkot itu. “Makasih, neng!” Zhora mengangguk.
__ADS_1
“Kamu yang beres-beres ini semua, nak?” tanya Lena saat masuk ke rumah. Dinding bersih, meja terletak rapih, dan lantai putih berkilau. Zhora mengangguk pelan, membuka tirai, agar cahaya masuk.
Lena bangga, sekaligus senang. Zhora benar-benar anak yang baik, lugu, dan mudah menurut. Mengelus pundak putrinya, mencium pipi kanan Zhora.
“Keputusan kamu tentang nak Atlas, gimana sayang?” tanya Lena. hatinya belum tenang sepenuhnya, takut jika Zhora tidak mau menuruti perkataan Atlas.
Mengusap pelan wajahnya. “Zhora masih belum tau, Bu.”
Lena mengerti, Zhora butuh waktu. Ibunya tau jika putrinya itu jarang bersosialisasi dengan banyak orang, apalagi cowok. butuh keputusan terbaik untuk ini. Di sisi lain, Zhora tidak ingin menambah pikiran Lena.
“Ibu ngerti, tapi jangan lama-lama, ya? ibu kurang enak sama nak Atlas. dia pemuda yang sangat baik, sayang.” Zhora tau, sejauh apapun memuji, pasti ibunya tetap menggoda. kentara sekali, Lena memberi 'kode-kode' untuk Zhora.
Mengangguk menurut. “Nanti aku pikirin dulu, Bu.” Lena mengangguk. Zhora-nya tidak mungkin mengecewakan hati. Lena berani bersumpah, keputusan putrinya yang terbaik.
“Pikirkan matang-matang sayang, kesempatan belum tentu datang dua kali.” Ya, tersirat makna yang dalam, diucapannya.
______
“Berani dateng juga lo? gue kira kabur.” ledek cowok berbandana biru tua. Hidung mancung, alis tebal, bibir pink alami, nggak mungkin kan cowok macho kayak dia, pake lipstick? sayang sekali, banyak luka lebam di wajahnya.
“Gue males ribut, to the point.” Cowok itu berdiri dari bangku panjang. kedua cowok mengeluarkan pancaran mata kejam, menyeramkan. seolah ada lelucon, cowok itu tertawa renyah.
“Gue juga gak mau lama-lama sama lo, buang-buang waktu.” tajam cowok itu. mereka berada di atas rooftop apartemen milik cowok itu. angin menerpa kulit, rambut berterbangan.
”Cepetan, anj*ng!” itu Atlas. ya, Atlas terburu-buru karena ingin menemui cowok b*jingan ini, tapi cowok itu malah menyiakan waktunya.
“Relax, bro. gue cuma ngajak taruhan, berani?” tantang cowok itu. emosi itu datang, nada cowok itu seolah meledek seperti 'emang lo bisa?'
“Lo ngeledek gue? b*ngsat!” Cowok itu tersenyum devil, senang membuat lawan bicara nya cepat emosi. terlebih Atlas yang mudah terpancing, itu lah kelemahan Atlas— yang disukai cowok 'itu.'
“Tersindir?” tukas cowok itu menatap sinis, kedua tangannya dilipat depan dada. Atlas mengertakkan giginya, rahang tegas itu mengeras, wajahnya berubah merah padam. kepalan tangan berurat siap meluncur.
“Shut up, b*tch!” Atlas menggeram marah. Semakin Atlas marah, semakin senang juga cowok itu untuk memancing.
“Balapan. Sabtu depan, jam 8 malam. lokasi terserah, lo.” final cowok itu. Atlas menatap remeh.
“Cuma itu?” ejek Atlas. ternyata, cowok itu juga mudah tersinggung, tetapi masih bisa mengendalikan diri.
“Oh, mau lebih, ternyata?” ingin tertawa rasanya melihat Atlas seberani ini. Tidak sabar melihat kekalahan cowok itu.
“Gue tambah, lo bawa satu orang jadi taruhan. Kita main halus. sama-sama bawa orang berharga, gimana?” Atlas terpojok. siapa yang berharga? keluarganya? melihat tatapan mengejek itu, Atlas terpancing. Cowok itu mengulurkan tangannya.
“Deal?” cowok itu memasang smirk-nya. Memandangi Atlas bagai kotoran, jijik.
“Kalo gak sanggup jangan dipaksa, gue gak mau taruhan sama pengecut.” tekan cowok itu, semakin memancing. Atlas murka, tidak terima dianggap pengecut, dengan seluruh amarahnya,
Atlas menerima uluran tangan dengan kasar. mencengkram keras tangan itu. “Deal!”
Entah selanjutnya apa yang terjadi, apa akan menjadi kabar buruk atau kabar baik untuk dunia. Padahal, sedari tadi angin terus membisikan untuk menolaknya. Atlas juga belum yakin, apa keputusannya benar?
__________
*Anjay, apdet juga gue. hehehe🤸
maaap makin gaa jelas, orangnya juga gak jelas sih muehehe.
__ADS_1
please vote, comment, like. bener-bener bikin gue semangat, asli.🙏🏼❤️
diketik dengan 1707 kata*.