Shine For You

Shine For You
11. Sistaa!


__ADS_3

“Tolong yang punya muka dua, kasih satu deh ke orang yang suka cari muka.” –Revano Leander Dionysius.


_____


“Jadi, kalian berdua pacaran?” Cewek 24 tahun menyesap rokok dengan santai. Gaya penampilan mendukung seperti anak tomboy sekaligus funk. Rambut keunguan di bagian bawah, baju hitam bergambar tengkorak, memakai choker terasa menyekik leher, terakhir mempolesi lipstik gelap di bibir.


Gadis dan pria itu dengan cepat menggeleng, tidak terima apa yang diucapkan cewek merokok. “Enggak!” kompak mereka.


Ketiga insan sibuk meminum minuman sejuta umat, Starbucks. Sebelum cewek funk berbicara, keduanya diam tidak berkutik. Zhora diliputi rasa canggung, Nioz diselimuti rasa bingung, entah melakukan apa.


Menyadari raut wajah Zhora, langsung mengerti. “Tenang aja, Ra. Boss lo itu temen gue. Theo, kan namanya?” Mereka di ruang bebas merokok. Jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf 'V', mengapit sebatang rokok menghasilkan asap mengepul di atas.


Zhora mengangguk canggung, pikiran terus membayangkan boss akan marah besar. “Iya, kak.”


Melepas tautan rokok dari bibir dilapisi lipstik gelap, lalu melempar asal batang rokok yang sialnya tepat memasuki tempat sampah. “Gue udah bilang sama Theo, lo lagi sama gue. udah gue izinin, tenang aja.” cewek itu menegakkan tubuh, menatap Zhora.


Zhora meneguk salivanya pelan. “Ka-kalo boss marah gimana, kak? bisa jadi–”


“Theo bukan tipe pemarah. Dia marah-marah supaya kalian lebih disiplin, tidak salah menggunakan waktu.” jelas cewek itu. Mengambil sebatang rokok dari bungkus, lalu menyalakan.


Zhora sendiri merasa tidak enak dengan boss. Zhora pernah terlambat dua menit saja cowok 25 tahun itu sudah marah besar, berniat memecatnya jika tidak ada Yolla disana yang membela.


“Be-bener kak? Apa boss nggak marah sama kakak?” Cewek bermata coklat menggeleng yakin. Nioz diam, lebih tepatnya bermain game di ponsel apel gigit milik nya. Toh, mendengar kedua cewek itu berbicara juga percuma, Nioz tidak akan mengerti.


“Lo tipe orang overthinking, ya? kayak Nioz aja. Dikit-dikit kepikiran,” celoteh cewek itu, melirik remeh adiknya. Rosser— nama samaran kakak Nioz a.k.a Resilia. – menyeruput minuman itu, lalu menaruh kembali.


Zhora merasa tidak ada kecanggungan, menyengir lebar. “Ya, gitu deh kak. Suka kepikiran sama boss, galak banget soalnya.” jujur Zhora mengundang tawa dari Rosser.


“Jujur banget, sih. Duh perut gue sampe sakit,” Rosser memegang perut, terasa sakit akibat tertawa berlebihan. Bukan sok asik, tapi kejujuran Zhora membuat tawa nya pecah dalam detik itu juga.


“Eum– kak, kalo boleh tau.. kenapa kak Ros menyamarkan nama kakak sendiri?” Zhora takut awalnya, pusing sendiri dengan pertanyaan itu yang terus berputar di otaknya. Dari nama sebagus itu, menjadi nama super tomboy.


“Tadinya aku gak percaya, Nioz manggil kakaknya kak Ros. Kirain karena kakaknya galak dipanggil kayak gitu,”


“Gue males dikerubungin orang-orang. Minta foto lah, itu lah, tanda tangan, mikirinnya aja udah pusing.” Rosser menekan kedua pelipis. Pusing itu muncul, membayangkan ketika ia pergi ke sana dan ke sini, diikuti banyak orang.


“Emangnya kakak kenapa?” Zhora tidak sadar, dengan kepolosan nya selalu menciptakan tawaan renyah orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


“Gue pemain film luar negeri, beauty vlogger, tapi lebih dominan ke pemain-pemain film, sih. Film action contohnya. Gue pernah diundang ikut sinetron, cuma gue nolak.” Jelas Rosser panjang kali lebar. Zhora mengangguk mengiyakan, tidak tahu menahu tentang film-film sering muncul di bioskop.


“Sering muncul di bioskop gitu, ya kak?”


Rosser mengangguk, lagi. “Yeah, Di bioskop, Netflix, ada kok. So, jangan bingung gue samarin nama sendiri, gue paling benci pergi kesana-kesini diikutin. Udah kayak induk anak ayam,” Rosser tertawa geli diikuti tawa renyah dari Zhora. Lagi, Zhora salah menimang seseorang dari penampilan.


“Haha, kalo gak salah kakak abis ngedate sama pacar kakak, kata Nioz?” Nioz merasa nama tersebut, menoleh meskipun tiga detik. Kembali fokus dengan mobile legends lagi.


Rosser menaik turunkan kepala. “Yoi, udah liat penampilan gue, yang tadinya kayak princess sekarang udah kayak preman?” Menurut Zhora, Rosser adalah gadis friendly, mungkin dari wajah saja terlihat judes. Mengingat alisnya sedikit tinggi, namun di mata Zhora sangat menawan.


“Ngobrol aja terus, setan! gue dilupain, sebenernya adeknya gue apa si Ojor, sih?” gerutu Nioz dalam hati.


Nioz mengangkat lengan kiri, melihat arloji hitam melilit di tangan nya menunjukkan pukul setengah lima sore. “Jor.” panggil Nioz, menepuk pelan pundak gadis itu.


Zhora menoleh, “Kenapa?” Nioz menunjukkan arloji nya pada Zhora, memberi kode untuk segera pulang. Kalo ngobrol sama kakaknya yang gak pernah capek ngomong, bisa sampe tahun depan gak selesai-selesai.


Zhora mengerti, lalu kepala memutar arah Rosser. “Kak, kalo gitu aku pulang dulu ya. Makasih kak, semoga kita bisa ketemu lagi!” Nioz menarik pelan lengan Zhora, malas berlama-lama dengan kakaknya.


Telunjuk dan ibu jari Rosser membentuk lingkaran 'O'. “Udah kayak gak bakal ketemu lagi, lo. Sama-sama, hati-hati. Nioz, bawa motor yang bener, anak orang itu!” Akhir perkataan Rosser tidak enak didengar bagi Nioz. Cowok itu hanya mengangguk kesal.


“Iya, bacot!”


•••


“Ibu, udah selesai ya buat getuknya?” Zhora sudah sampai di rumah 10 menit yang lalu. Setelah mandi, Zhora segera menghampiri Lena sibuk berkutat dengan masakannya.


“Sedikit lagi, sayang. Kamu duduk dulu, gih. Ibu udah siapin makanan kesukaan kamu!” seru Lena, memang benar getuk buatannya sedikit lagi selesai, bahkan bisa dibilang selesai. Sisa menyiapkan beberapa makanan tambahan.


Sudut bibir Zhora menurun. Kedua kakinya menghampiri Lena lalu memeluknya dari belakang. “Ibu, jangan marah ya Zhora gak bisa bantu ibu. Janji deh, kalo pulang gak lama lagi.” Zhora merasa beribu-ribu belati menusuk hatinya, sakit.


Lena berbalik, mengecup kening putrinya. “Gak papa sayang, kamu juga perlu hiburan. Gak selamanya tentang pekerjaan, belajar yang rajin ya!” semangat Lena. Zhora tersenyum, bersyukur memiliki ibu yang pengertian.


Detik demi detik, menit berjalan dan jam berlanjut, hari semakin larut. Langit keorange-an berubah menjadi gelap gulita, ditaburi bintang-bintang gemerlapan. Memberi kesan indah, membuat semua orang mengaguminya.


“Ibu.” panggil Zhora.


“Ya? Kamu belum tidur?” Lena terlonjak melihat Zhora keluar kembali dari kamarnya, dengan baju tidur tsum-tsum. Kantung mata mulai merasuki, dan rambut coklat berantakan.

__ADS_1


“Tentang perjanjian Atlas, aku terima. Aku gak enak, pasti bayaran rumah sakit itu mahal.”


“Kamu yakin?”


Zhora mengangguk mantap, keputusan nya sudah bulat. “Iya, mau apapun yang dia berikan ke aku, aku terima. toh, emang seharusnya begitu, kan?” Lena tersenyum, lalu memeluk putrinya.


“Ibu yakin sama kamu,”


•••


+6289xxxxxx


Empat hari, jalan X deket gedung M. Bawa orang berharga.


+6289xxxxxx


Awas diomelin mami, anaknya nakal.


Cowok itu menggertakkan gigi, rahangnya mengeras, napasnya memburu. Andai cowok itu ada di hadapannya, sudah dipastikan tersungkur tidak sadarkan diri. Atlas benci ini, ketika seseorang memancing emosinya.


Berakhir ponsel mewah terjatuh di lantai, entah pecah, hancur, rusak. Cowok itu tidak peduli, menjambak rambutnya kasar, memukul meja belajarnya. Tidak perduli dengan kamarnya yang sedikit lagi berubah menjadi kapal pecah. Sial!


_____


***Saya mengucapkan keren bagi kalian yang masih stay disini. Manteb bet asli, wkwk.


(Information)


– Cerita ini belum di revisi, jadi santai aje kalo masih aneh di mata kalian.


– jujur, aku nulis ini ke aku dulu. Ini sesuai khayalan aku, ini cerita fiksi remaja ya. Jangan dicontoh yang negatif, di chapt selanjutnya misalnya.


– Jadi, maaf kalo gak nyambung di mata kalian, tapi nyambung di aku. Mungkin kalo udah sampe chapt terakhir, atau tengah² gitu aku revisi.


Oke gitu aja sih, hehe. Jangan lupa seperti biasanya. Like dari kalian itu bener-bener nyemangatin banget, asli.🙂🙌🏻


Oke bay, Abang nya mao pulang.

__ADS_1


Salam, Idelia as justboggi wife***.


__ADS_2