
“if you tell me to choose a girlfriend or a friend, I'll choose both. If i can't, I won't choose. Because they are both very valuable.” – Atlas Pandora.
Bau-bau konflik mendekat, awas! sori kalo ceritanya nggak jelas, nanti di revisi kok🙆🏼♀️
_________
Katanya, cinta itu bisa membutakan dan menulikan seseorang. Sesosok yang kuat, menjadi lemah akibat cinta. Sesosok yang tidak mudah menangis, menjadi sering menangis. Sesosok yang tidak tergila-gila, menjadi tergila-gila karena cinta.
Cinta bisa merubah perilaku seseorang. Cinta bisa mengubah pola pikir seseorang, bahkan kebiasaan. Seorang gadis atau pria ternakal juga terlihat lemah ketika berhadapan dengan kekasihnya. Mungkin bersama orang lain, bersikap dingin, ketus. Tapi, siapa sangka bersama kekasih, ia akan menjadi malaikat?
Cinta datang karena terbiasa. Jika kalian berpikir, kedua orang saling membenci satu sama lain, berubah saling sayang. Kenapa? jawabannya ; terbiasa. Cinta lebih sering datang karena terbiasa.
Cinta bisa merubah seseorang. Misalnya, cowok nakal menjadi penurut akibat pacarnya. Pacar seperti obat termanjur, telah mengobati kesalahan-kesalahan lawannya. Cinta juga bisa membuat seseorang bingung, apakah sedang jatuh cinta, atau sekedar kagum?
Zhora bingung dengan reaksi tubuhnya ketika dekat Atlas. Cowok itu memainkan handphone, kedua manusia berada di rooftop ditemani kesunyian diantara nya. Zhora berpikir jika kedatangannya hanya angin lalu bagi Atlas.
Atlas terduduk di atas sofa biru tua. Sofa terlihat robek, dan tidak terurus. Tapi tidak menganggu kenyamanan cowok berparas tampan. Zhora berdiri di dekat pintu diikuti rasa takutnya.
Berjalan perlahan, memandang Atlas diikuti rasa takut. Bagaimana jika cowok itu menolak kedatangannya? seolah membencinya? Zhora harus mempersiapkan mental lebih untuk menangani ini.
Kedua langkah kakinya mengarah Atlas, tetap sibuk bermain ponsel. Ah? segitu asiknya bermain ponsel, sampai tidak menyadari kedatangannya?
“Atlas.” dalam satu tarikan napas, cowok itu menoleh, memasang wajah datar. Membuat nyali Zhora menciut, tiga detik diperlukan untuk mengingat apa tujuannya kesini.
Merasa tidak ada jawaban, Zhora melanjutkan perkataannya. “Soal janji itu..” gantung Zhora, melihat apa cowok ini tertarik dalam pembicaraan atau tidak. Ternyata, Atlas mengalihkan pandangan meskipun hanya menatap langit-langit.
Tidak memandang Zhora.
Tau rasanya? sakit. Hatinya berdesir perih, bahkan perkataanya tidak dianggap sedikit pun. Zhora berbicara, sayangnya Atlas tidak tertarik memandang muka cewek itu sedikitpun.
“Atlas kenapa? apa aku punya salah?”
“Aku terima janji itu. Aku siap nerima apapun yang kamu kasih. Jadi, hutang aku lunas, kan?” Zhora menghela napas. Memberanikan menatap manik mata kehijauan milik Atlas. Sama seperti dulu, tetap tampan dan angkuh.
Dalam keheningan, terbit suara menenangkan hati Zhora. Zhora menghela napas lega, walaupun suara itu tidak berasal dari Atlas melainkan dering ponsel cowok. Zhora cukup bersyukur, setidaknya ada suara lain menemani mereka.
Atlas berdiri, berjalan menuju sudut rooftop. Segera mengangkat telpon, terdengar dari dering ponsel berhenti.
“Mungkin privasi.”
“....”
“Apa?”
“...”
“Oke gue kesana, jangan kemana-mana.”
Atlas berbalik, mematikan sambungan telpon. Alis Zhora bertautan melihat kekhawatiran dari wajah tampan itu. Ia mengacak rambut frustasi, kemudian menatap Zhora sekilas.
“Gue pikirin, lo bisa pergi.”
Hati Zhora mencelos. Belum satu minggu, cowok itu berubah drastis, mereka dekat tetapi terasa jauh tidak tersentuh. Tersenyum paksa menangkap Atlas yang benar-benar khawatir akan seseorang di telpon.
Tanpa sepatah kata, Zhora membalikkan badan meninggalkan cowok itu. Memukul dada, berharap mengurangi rasa sakit yang datang entah darimana. Meninggalkan kecewa, sedih, dan overthinking.
Zhora menutup pintu rooftop sedikit lagi tertutup, tersisa sedikit celah. sebelum itu, menyempatkan menatap Atlas, menatap juga. Tidak sadar, satu tetes cairan bening berharga turun melewati pipi, menunjukkan bahwa Zhora benar-benar rapuh.
Atlas melihat, bahkan menyadari perlakuannya.
__ADS_1
Zhora menutup pintu, berlari di atas anak tangga terburu-buru. Ingin menjauhi cowok itu untuk sementara, tidak melihat kehadiran seseorang di belakang.
“Ternyata, lo suka sama dia, ya?”
•••
Zhora sampai di kelasnya, beruntung kedua mata dapat diajak berkompromi. Berjalan pelan menuju meja, disuguhkan satu perempuan 'mungkin' menunggu kehadiran nya.
“Dari mana aja?” Kedua mata Artha memicing, menatap tubuh Zhora dari atas sampai bawah.
“Cu-cuma.. ke toilet kok. Nih baju aku basah,” Zhora menunjukkan seragam putih nya yang sedikit basah, Artha berdiri dan memandang lekat seragam Zhora.
“Ini.. bukan air tangisan, kan?” Artha bak detektif, menebak tepat sasaran.
Zhora menggeleng cepat. “Bu..kan, kok. Tadi aku abis..– cuci muka, iya cuci muka!” kedua bola mata mengarah ke atas kanan, mencari alasan tepat. Artha terpaksa mengangguk, meskipun ada kejanggalan dihatinya.
“Oh, oke. Gue harap lo gak menyembunyikan sesuatu,”
______
Kantin.
“Zhora, maafin kita kemarin ninggalin lo, sorry banget. Kita juga nyari lo, tapi gak ada.”
“Jor, lo kemana sih kemaren? tiba-tiba ngilang?”
“Ini semua gara-gara..”
Zhora berhenti menyeruput es teh manis. Menatap penasaran kata menggantung itu. “Gara-gara?”
“Itu, karena–”
“Kita boleh makan disini juga, gak?” Dunia seolah tidak menginginkan Zhora mengetahui fakta itu. Udara seolah menyuruh kedatangan tiga cowok berandal agar fakta tertutupi.
“Iya juga.” Revan mendudukkan bokong di atas bangku panjang, di sebelah Jelia bermain ponsel. Menepuk pipi gadis itu pelan, Jelia tetap fokus game. tidak mengindahkan cowok itu.
“Ayok, mabar?” ajak Revan, dan terjadilah kedua makhluk kasmaran itu.
Zef duduk menemani Artha yang memandang judes, terpahat wajah jutek di muka cantiknya. “Apaan sih, lo? udah sana pergi, gue mau sama kak Elzar!” ketus Artha, membuang muka asal.
“Elzar main basket.” ucap Zef. Memandang jijik Zhora terdiam duduk paling pojok, lagi dan lagi, sendirian. Artha memilih diam, dibanding ribut dengan cowok astral ini.
“Eh, ini.. Zhora tadi nanya. Alasan kita pergi duluan,” sambung Xessi melanjutkan kata-katanya yang tersela.
Semua arah pandangan mengarah pada Xessi. Terkecuali untuk Revan, Jelia sibuk bermain game. Mengerutkan kening, menyatukan alis, dan diam.
“Maksudnya?” cetus Revo.
“Kenapa kemarin kita ninggalin, dia?” Xessi mengangguk mengiyakan.
“Harus dibahas?” sinis Zef, menatap tidak suka Zhora. Zhora yang ditatap seperti itu menunduk, tidak berani memandang cowok yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan.
“Lo juga bilang kan, kalian yang maksa? kenapa diajak, kalo bisanya cuma nyusahin?” sindir Revan meskipun jari-jarinya sibuk bermain game. Satu pukulan mendarat halus di pundaknya.
“Gak boleh, gitu!” tegur Jelia.
Revan menatap bingung. Emang benar nyusahin, kan? “Emang bener.” bela Revan.
“Kenapa, emangnya? dia gak terima, kita tinggalin, sedangkan dia sibuk ilang-ilangan?” Disini terlihat, siapa yang paling membenci Zhora. Zef jawabannya.
__ADS_1
“Halah, paling iri karena kita jalan bareng dia sendirian. Dimana-mana cowok nyarinya yang cantik, bukan rongsokan.”
“Contohnya ini,” Zef merangkul Artha dibalas tatapan tajam cewek itu. Mengalihkan pandangan menemukan Zhora menunduk, tidak berkutik.
“Dia pergi karena gak tahan liat kita bareng-bareng. Cih, masih mending punya temen cantik perhatian. Sebenernya gak pantes sih,” Zef terus mengeluarkan hujatan terus-menerus, perlahan menurunkan kepercayaan diri Zhora.
“Ibu, apa aku gak pantas sekolah disini?” Dibawah tundukannya, Zhora tersenyum masam.
“Maaf ibu, aku malu-maluin. Harusnya aku kerja aja, dibanding sekolah disini.”
“Kenapa?” tanya Zhora dalam hati.
“Karena aku jelek, tidak pantas mendapatkan kebahagiaan. Karena kebahagiaan hanya muncul jika kita cantik. Bukan begitu?” Zhora lagi-lagi tersenyum, bukan, memasang topeng.
Xessi dan Jelia terdiam. Menatap nanar sahabatnya, mereka berteman tidak memandang apapun. Xessi mencoba mendekati Zhora, lengan ditahan Revo.
“Jangan disamperin,” bisik Revo.
“Baru kali ini gue ngeliat yang isinya cantik-cantik, eh sayang satunya buruk rupa.” Zef tertawa seakan ada seorang pelawak di depannya. Zhora sakit, mentalnya menurun mendengar.
“Ah, iya. Aku lupa, kalo aku buruk rupa.”
“Zef, udah!” lerai Artha, tidak tega melihat sahabatnya menunduk sedari tadi. Zef terlihat santai, tidak merasa salah sekalipun.
“Sadar diri, kek. Temen-temennya glowing, putih, gak ada jerawat, bruntusan. Coba ngaca, tuh muka kayak gak keurus.” Zhora meneteskan air mata, meremas tangannya. Tengkuknya terasa pegal akibat lama menunduk.
Cukup, Zhora masih memiliki harga diri. Ia tidak mau memalukan Lena, tidak akan pernah! Zhora sejak tadi mencoba diam dan bersabar, mungkin cowok itu akan lelah sendiri. ternyata, pikirannya salah.
Zhora mendongak, berdiri dan beranjak pergi meninggalkan kaum sialan. Menatap lekat Zef menunjukkan kebencian untuknya. Zhora tau cowok itu terkejut dengan kehadiran air mata di pipi. Seolah tidak peduli, telunjuknya mengarah tepat depan muka Zef.
Kedua matanya menyiratkan kekecewaan.
“Terimakasih, tuan Zef sempurna. Atas masukan anda, saya menjadi sadar bahwa saya siapa. Saya adalah buruk rupa yang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan, betul bukan?”
“Karena kebahagiaan datang kepada yang cantik, bukan yang jelek seperti saya.”
tess.
Air mata itu turun, lagi. Seluruh pusat pandangan mengarah pada Zhora. Jelia dan Revan sibuk bermain game mendongak, terkejut melihat Zhora menangis.
“Zhor...” lirih Xessi tidak tega, ingin menyentuh lengan Zhora. Dengan cepat, Zhora menepis pelan tangan bersih tidak ternodai itu.
“Jangan sentuh aku, kalian seorang princces dan aku seorang tikus. Jelek, dan menjijikkan. Benar begitu, Zef?” tanya Zhora, menunjukkan kerapuhan mendalam. Zef tercengang, apa ia salah besar?
“Sekali lagi, terima kasih atas masukannya.” Zhora menitikkan air mata lagi dan lagi. Mentalnya turun, tubuhnya melemas, pusing merasukinya tanpa henti. Ia harus berlari melewati lapangan kedua untuk sampai ke kelasnya.
Lihat, tidak ada yang mengejarnya?
Zhora memandang lurus, menunjukkan air matanya walaupun sesusah apapun Zhora menghapus dengan kasar, tidak menghasilkan apa-apa.
Zhora tidak melihat ada gundukan besi disana, membuatnya terjatuh. Pusing, dan darah keluar dari keningnya, membuat jerawat dan bruntusan berkedut perih.
Kesadaran hilang, Zhora berharap ini bukan pingsan, melainkan pergi meninggalkan dunia. Sunyi, dan gelap.
Buruk rupa kayak lo gak pantes disini...
________
WOY GA BISA NGASIH FEEL ASTAGHFIRULLAH. GA BISA, PLS AKU MOHON KASIH MASUKANNYA WOYYY!!! PLEASE YAAA??
__ADS_1
THX, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 5. BAYY
salam, Idelia as justboggi wife.