
“Jadi diri sendiri lebih baik. lebih baik dihujat, dibanding dipuji karena menjadi orang lain.”
____________
“Assalamualaikum, Ibu! Ozhora pulang,” pekik Zhora nyaring. tidak ada sahutan, mungkin Lena sedang tidur, pikirnya.
Menaruh tas kecil, duduk manis di sofa terobek-robek. melihat jam putih menunjukkan 17.05 sore. ibu harus dibangunkan, tapi Zhora tidak tega.
Berjalan pelan menuju kamar. kedua bola mata membulat, menutup mulut. ibunya tidak ada. panik, apa lagi selain kata itu? kasur hampir jebol tidak ada ibu disana.
“Ibu!” pikiran jernihnya hilang dalam sekejap. berlari menuju dapur, tidak ada. kamar mandi? pintu itu terbuka, tidak mungkin ada Lena disana.
“Zhora, berpikir! jangan diem aja!” omel diri sendiri. kebiasaan dulu nya terulang, jika salah akan menyakiti diri sendiri. seperti ini contohnya, menampar diri sendiri sampai puas.
“Harusnya aku gak ngobrol sama mereka,” gumam gadis itu menyesal. penyesalan ada diawal, memangnya?
berjalan keluar gubuk kecil itu, menuju taman belakang dijadikan taman kecil. dalam detik yang sama, tubuhnya bergetar hebat, berjalan selangkah terasa berat. napasnya tercekat, pita suaranya tidak bekerja, desiran itu lagi. bahkan, cairan bening itu keluar tanpa sadar.
“Ibu!” teriak Zhora. mengguncangkan tubuh ibunya yang tergeletak lemas. wajahnya, pucat pasi. tanpa pikir panjang, Zhora mengecek nadi tangan Lena. beruntung, masih berdetak.
Mengeluarkan ponsel jadulnya, memanggil panggilan darurat. Zhora mati kutu rasanya, entah mau melakukan apa selain ini. memapah ibunya sendiri tidak kuat, hanya bisa merapalkan doa, berkali-kali mencium kening Lena.
Gimana nggak, kaget? ibunya tergeletak lemas di ujung taman dengan wajah pucat, sepertinya habis menyiram tanaman. tidak lama, Ambulance datang. Zhora terus berdoa ribuan kali melihat ibunya 'tertidur' lemas di atas brankar.
________
“Harap sabar mbak, saya yakin ibu anda akan selamat. tolong kerja samanya, para dokter akan memperjuangkan yang terbaik.” suster sudah muak dengan racauan Zhora sejak tadi. membuat para insan menatap aneh dirinya.
“Tapi—”
“Saran saya mbak berjalan-jalan saja sebentar. menjernihkan pikiran, mbak. ini rumah sakit, sekali lagi, tolong kerja samanya.” suster tersenyum, namun Zhora yakin ada kemarahan disana.
tidak ingin membuat kericuhan dan menimbulkan kemarahan suster, Zhora terpaksa pergi. kedua mata nya sembab habis menangis habis-habisan, pipinya sudah merah sempurna bekas tamparannya sendiri.
Seperti apa rencana Tuhan, sebenarnya? Zhora sudah dibuat senang karena pujian-pujian di cafe, sekejap senang itu runtuh diganti kesedihan ibunya. Apa salahnya, tuhan?
Jika waktu bisa dibeli, dan dapat diulang, Zhora bersumpah menghabiskan uangnya demi membeli waktu, untuk diundur. lebih baik ia terkena kata-kata pedas dari bossnya ketimbang melihat Lena tergeletak seperti tadi.
Andai nasib dapat diatur, Ozhora ingin menggantikan posisi ibunya. lebih baik ia memiliki penyakit, ketimbang melihat ibunya yang seperti itu. Kenapa? alasannya cukup singkat,
Zhora sangat menyayangi Lena.
Zhora terus melamun sedari tadi, tidak menyadari jika ada yang memerhatikan nya. tujuannya hanya taman, iya taman. urusan uang, Zhora mencoba mengeluarkan jurus memohon nya, meminta dicicil, mungkin.
Taman sepi. mungkin beberapa orang saja, mengingat fakta sudah malam. Lampu tumblr berkedip-kedip tersebar di seluruh bagian pohon, membuat taman terlihat semakin fantastis. Kedua matanya tersudut melihat bangku panjang dekat pohon.
Banyak lampu gantung terikat dari pohon ke pohon. langit gelap seakan mewakili perasaannya. Sedih, sakit, kecewa, campur aduk. bintang kecil berkelip, memberi semangat Zhora.
Mendudukan bokongnya bangku putih panjang. pandangannya terus menikmati keindahan taman ini. benar apa kata suster, Zhora malu sendiri mengigat memalukan sekali dirinya.
Menggoyang-goyangkan kakinya di udara, tersenyum kembali. Zhora yakin jika ada cobaan, pasti ada hikmahnya. toh, gadis berkuncir kuda sadar akan kesalahannya.
Mendongakkan kepala, melihat bintang-bintang berkelap-kelip di langit hitam. “Ya Allah, sembuhkan ibu Zhora. Zhora harap ibu gak kenapa-kenapa,”
Setetes cairan bening jatuh tepat pipinya. “Berikanlah petunjuk bagaimana nanti Zhora membayar uang untuk semua penanganan ini,”
__ADS_1
“Zhora sedih, tapi Zhora nggak boleh berburuk sangka sama Allah. pasti semua ini ada jalan keluarnya iya, kan?” pertanyaan meluncur bak orang bodoh, mana ada yang menjawab?
“Intinya, Zhora minta yang terbaik. Zhora yakin Allah mempunyai cara tersendiri untuk membahagiakan hambanya.” Zhora menangis, Zhora bukan gadis kuat, kebal akan semua masalah.
Sekuat apapun mereka, pasti memiliki kelemahan. begitu juga Zhora. mendongak kesering kalinya, memejamkan mata sebentar, membuka kembali. mungkin ibu sudah sadar.
“Butuh bantuan?”
Zhora terlonjak kaget, menoleh kebelakang mendapati cowok berbadan tegap, wajah terpahat sempurna. ini kan, cowok yang tadi bikin aku mati rasa?
“Ka-kam–” jari telunjuk mengarah wajah cowok itu. dengan santai, ia duduk di samping Zhora. mengangguk pelan.
“Iya, ini gue.” entah rasa takut muncul sejak kapan, ia menjauhkan diri dari cowok itu. sedang cowok itu tersenyum lucu. gemas tingkah Zhora yang terlalu lugu.
“Jangan takut, gue bukan setan.” seakan tuli, Zhora tetap menjauh dan menjaga jarak dari cowok berparas dingin, tadi.
“Hei? gue baik. sekali lagi gue tanya, lo butuh bantuan?” Zhora menoleh, menatap was-was.
“Ta-tau dari mana?” cowok itu tersenyum simpul.
“Lo gak sadar, ya? gue ngikutin lo dari tadi, terserah apa kata lo setelah ini. yang pasti, gue denger semuanya.” Zhora diam. mencerna apa kata cowok itu. Bertemu lagi?
“Gue bisa kasih lo bantuan.”
Zhora menggeleng pelan. bukan hobinya menyusahkan orang lain. “Jangan,”
kedua alis tebal itu menyatu. “Kenapa?”
“Aku gak mau nyusahin,” lugu gadis itu. tingkat kegemasan Zhora semakin tinggi. entah cowok ini yang tidak memandang fisik atau bagaimana, Zhora tidak tahu.
“Aku gak mau..” Zhora lupa bertanya siapa nama cowok ini. tetapi takut dan gengsi berkecamuk.
Seakan peka dengan ucapan gadis dihadapannya. “Atlas. nama gue Atlas Pandora,” tangan kekarnya terulur, baru kali ini Zhora disentuh oleh laki-laki.
“Ozhora Zevyhrine.” tangan Zhora menyambut ragu tangan itu. Atlas yang merasakannya mengulum bibir dalamnya, menahan tawa.
“Masih takut sama gue, ya?” Atlas tidak tahan untuk tidak tertawa. Zhora membeku melihatnya, Atlas tertawa jauh lebih tampan. berkali-kali lipat.
“Sedikit,” cicit Zhora. tangannya ditarik pelan Atlas berjalan meninggalkan perkarangan taman.
“Gue bantu lo. gue administrasi dulu sekarang, Atas nama Bu Lena Sarasvati.” Zhora dibuat kaget terus menerus Atlas. sudah namanya, dan sekarang nama ibunya. ini orang cenayang bukan, sih?
“Kok?–”
“Gak penting. keselamatan ibu lo lebih penting, mau ibu lo sakit?” Atlas sangat suka memotong ucapan orang lain, satu hal negatif yang diambil Zhora.
Kepala mengarah ke kiri dan ke kanan. “Jangan, aku mohon.” pinta Zhora, menyatukan tangan di dada.
“Sayangnya, gue gak suka penolakan.” Atlas benar-benar tak terbantahkan. sorot mata menjadi dingin, wajah datar. Zhora gugup, menggigit pelan bibirnya.
Atlas menatap tidak suka. “Jangan menyakiti diri sendiri, gue ke sana dulu.” Atlas berjalan tanpa menghiraukan teriakan Zhora. cowok itu berjalan angkuh, tatapan memuja dari suster kentara.
Memutuskan untuk duduk di kursi khas rumah sakit. benaknya terus terisi oleh ibunya, apa sudah sadar? apa nasib selanjutnya?
Setelah beberapa menit. cowok itu berjalan ke arah Zhora. “Gimana?” tanya Zhora, cemas.
__ADS_1
“All its done. ibu lo gue pindah ke ruangan VVIP. pulangnya besok, karena beliau udah sedikit baikan.” lama-lama ia bisa terkena penyakit jantung jika dekat Atlas. cowok ini terus mempunyai kejutan.
“VVIP?” Atlas mengangguk singkat.
“Itu kan mahal, Atlas.” menatap khawatir pada Atlas, apa jangan-jangan cowok itu ada maunya? Ozhora menjauhkan pikiran negatif dari kepala.
“Gak kok. cuma lima ribu harganya,” Atlas benci dianggap sombong. Walau hampir tiap hari menerima kata-kata 'Asik orang kaya dateng' 'Wah, ada sultan'. menurutnya, kekayaan tidak akan mewakili segalanya.
Zhora memukul pelan lengan Atlas. mana ada ruang VVIP yang harganya 5 ribu, emang ada? tetapi Zhora tersenyum kecil, ia senang Atlas menghargai dirinya. Zhora sadar akan itu, kok.
“Nggak ada ruangan VVIP yang harganya lima ribu, Atlas!” Cowok itu hanya tersenyum simpul, tidak tertawa lagi. “Mau ketemu ibu dulu?” Zhora mengangguk.
Kedua insan itu berjalan santai menuju kamar Lena. beberapa tatapan suster dan para pengunjung disana teralihkan otomatis. Wajah atlas yang begitu sempurna paripurna. membuat terpesona hitungan detik.
ceklek.
“Ibu?” Zhora memanggil ibunya. Atlas ikut masuk, mau mengenal calon mertua, mungkin.
Lena terlelap di ruang kamar VVIP. wanita paruh baya itu mendengkur halus, wajah tenangnya mengingat Zhora tentang kejadian tadi. Zhora sadar, lebih baik ia pulang, ketimbang menganggu alam mimpi ibunya.
“Mau pulang?” Atlas dengan segala kepekaannya. Zhora hanya mengangguk, sebelum itu ia mengecup sekilas pipi dan kening Lena. Atlas melihat itu tersenyum hangat.
“Udah? sekarang udah malem, besok lagi. gue jemput,” putus Atlas. Zhora ingin menolak, tetapi sekuat apapun menolak, Atlas pasti tetap bersih kukuh.
_________
“Makasih ya, Atlas!” riang gadis itu. Atlas senang melihatnya, menjadi kebahagiaan tersendiri membuat gadis itu kembali ceria
Atlas cuma mengangguk. Sedetik kemudian menatap rumah, lebih ke gubug sepertinya. Rumah itu hanya dilapisi kayu, minim batubata.
Atlas jadi malu sendiri, gadis dihadapannya terlihat bahagia dengan kekurangan nya. Berbeda jauh, Atlas yang sudah diberi kekayaan melimpah oleh ayahnya saja masih sering nggak bersyukur.
“Atlas! kenapa bengong? mau mampir dulu emangnya? tapi aku takut jadi omongan disini.” polos Zhora. lagi-lagi, sudut bibir itu terangkat.
“Gue tau.”
“Terus ngapain?” Zhora menggaruk tengkuk kepala, bingung dan canggung.
“Cuma mau liat lo. gak boleh, emangnya?” goda cowok itu. Atlas tersenyum nakal.
Bukannya tersipu seperti gadis-gadis lain. justru Zhora butuh pemikiran ekstra menanggapi ucapan itu. “Atlas nggak jijik, emangnya?”
“Kenapa?” Zhora menatap dalam mata kehijauan itu. Mata yang benar-benar indah, tapi Zhora sadar, ia tidak pantas berteman dengan cowok seperti Atlas.
“Aku jelek, Atlas.”
__________
Makin lama makin gak jelas, maap kawand! ngehehe. 🙏🏼
Aku harus bilang lagi, aku gak terbiasa pake aplikasi ini. so, correct me if i wrong!💃
like, komen, sabrek. kagak-kagak, like, masukin perpustakaan, favorit dan komen!❣️
thx u guys!⛹️
__ADS_1
see u next part.