Shine For You

Shine For You
15. Perempuan Itu, Siapa?


__ADS_3

“Jangan lihat aku menangis, aku tidak ingin seseorang melihat kerapuhan ku.”


Yang jago sad scene minta saran dong, yaa🤳🏼


kasih tau juga kalo ada typo.


______


Mungkin beberapa orang percaya, jika ada manusia di dunia ini kuat akan segalanya. Mereka tegar, kebal, dan tidak lemah. Mau seberapapun dikasari, ditampar, orang itu tetap bertahan, tidak menunjukkan kelemahan nya.


Tolong digaris bawahi, 'Tidak menunjukkan.' bukan berarti dia selalu kuat. Mungkin ia selalu dipuji beribu-ribu warga, tapi jika di rumah bisa jadi, ia berubah menjadi sosok sedih. Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan.


Mungkin ada yang pernah bilang, “Ada tuh manusia yang sempurna di dunia ini.” Ya, itu baru pandangan dari dia, bukan orang lain. Misalnya, nih. Dia menyukai perempuan berkulit coklat, dia anggap itu sempurna. Tapi tidak bagi seseorang yang menyukai kulit putih.


Misalnya, ia terlihat kuat akan segala masalah. Tapi, menjadi lemah tidak berdaya jika masalah itu mengenai keluarganya. Jadi, semua orang mempunyai kekurangan dan kelebihan, cukup syukuri apa adanya.


Sama saja seperti Zhora, gadis itu memiliki kelebihan dibidang pekerjaan, kepintaran, tapi tidak untuk kekurangannya. Mudah menangis, mudah terpengaruhi, dan mudah kepikiran hal-hal sekecil apapun.


Zhora berjalan pelan, menatap harap gerbang besar nan mewah sedikit lagi dapat ia gapai. Andai saja tidak diperintah untuk pulang lebih dahulu, Zhora ingin belajar sepuasnya. Merasa tidak enak dan janggal meninggalkan jam terakhir.


“Pokoknya aku harus minta materi dari Endra.” Zhora bermonolog, perasaannya selalu dilingkupi wajah galak gurunya itu. Memohon semoga saja, jika ia pulang lebih dulu guru itu tidak marah. Karena guru kelas, yang memerintah untuk pulang lebih dulu.


Zhora berbelok untuk menemui Merin. Apa Merin si sepeda ontel itu baik-baik saja? Dibanding berpikir yang tidak-tidak Zhora segera menghampiri Merin. Menangkap sepeda ontel karatan terlihat baik-baik saja, tidak ada yang lecet.


Menaiki sepeda ontel itu, lalu memundurkan dan berjalan melewati parkiran khusus sepeda. Perkarangan sekolah sepi, jelas karena belum waktunya pulang. Tapi tidak untuk kedua insan yang sibuk bercipika-cipiki di dekat gerbang.


Pria dan gadis itu mengobrol, lalu sang pria mengajak gadis itu untuk menaiki mobil sport putih. Membuka atap agar terlihat lebih mewah. Si cowok keluar sebentar, mungkin menitip salam pada pak satpam yang terbiasa menjaga di gerbang.


Zhora melihat itu, bahkan sangat jelas di kedua matanya. Zhora terasa kehilangan keseimbangan, ia tidak memiliki tenaga untuk mengayuh Merin, cengkraman nya mulai terlepas. Hatinya terasa disobek dan ditusuk secara paksa, denyut jantung terasa lebih cepat dibanding biasanya.


Zhora menyesal kepo dengan urusan mereka. Kenapa Zhora harus melihat itu, Kenapa kedua mata ingin hatinya sakit? Atau, kedua matanya itu menunjukkan jika Zhora tidak pantas bahagia? Ah, Zhora yakin seratus persen momen ini tidak bisa terlupakan.


Lama memandang kejadian itu, mobil sport pergi meninggalkan sekolah hingga kendaraan roda empat itu hilang ditelan bumi. Zhora tidak tahu dengan perasaannya sendiri, Zhora yakin seratus persen ini bukan cinta, pasti!


Zhora memang belum pernah merasakan ini, tapi bukan berarti ini cinta! Tidak, Zhora merasakan karena akhir-akhir ini lebih dekat pada cowok. Pasti Zhora melihat cowok terdekatnya, Zhora akan merasakan ini juga.


Mengumpulkan kekuatan yang bertebaran di sekitarnya, memanggil nyawanya untuk bersikap tegar. Zhora tidak mau menjadi gadis lemah, walaupun memang kenyataannya Zhora lemah.

__ADS_1


Atlas, itu.. siapa?


apa perempuan itu yang membuat kamu menjadi sekhawatir ini?


_____


“Yu no am bogeng!” teriak Nioz ketika berkumpul dengan teman-teman nya. Musik DJ itu terus berputar, ada yang menikmati, ada yang merasa terganggu.


“Yoz, berisik anjeng!” kesal cowok berambut panjang itu, menatap geli sekaligus kesal dengan ulah teman rada-rada gesrek.


Nioz tidak peduli, kepala bergeleng-geleng diikuti tangannya yang bergerak kesana-kemari. Sungguh, jika kalian ada disini pasti akan merasa berisik. Gimana nggak? lagu DJ, ditambah full volume, ditambah speaker jumbo! baru beli, lagi!


Beuh, kerasa banget nggak tuh? telinga Nioz emang kebal. Mereka berada di warung sekaligus toko kelontong dijadikan tempat berkumpul. Nioz memang tidak memiliki urat malu sedikitpun.


“BU, ES TEH LIMA! SAMA MIE GELAS, JANGAN DISEDUH, MAU SAYA GADO IN!” pekik salah satu cowok disana, bahkan lagu itu berdampak pada orang yang ingin membeli sesuatu. Sampai-sampai cowok itu berteriak keras agar suaranya tidak kalah dari DJ itu.


“Nioz waras gak sih?” tanya Zevin memandang aneh cowok yang sibuk bergoyang sedari tadi. Menyenggol lengan Polan yang telaten memakan lontong.


“Lagi patah hati, mungkin.” asal Polan, lagi asik maka lontong diganggu. Lalu berdiri mengambil beberapa gorengan lagi, dan memakannya.


Mereka kaya, bukan berarti mereka selalu makan makanan yang berbeda. Mereka sama-sama manusia, sama-sama makan nasi. Jadi, mereka merasa terbiasa dengan hal-hal yang sudah sering bahkan menjadi ritual mereka.


“Papah muda,” Nioz mengganti lagu koplo atau DJ sesuka hatinya. Berbeda jauh dengan Zevin yang memang menyukai DJ, tetapi DJ luar negeri.


“Geleng-geleng,” lanjut Mezo, teman persekutuan mereka.


“Keringetan,” ikut Zevin, ya mau gimanapun Zevin juga hapal lagunya.


“Pusing jadinya!” Nioz sungguh memalukan, andai jika cowok itu tidak ganteng mungkin sudah ditebas dan ditendang oleh warga sini.


Apa Nioz tidak memikirkan fans-fans fanatik nya melihat ini? Mungkinkah, mereka ilfeel? atau mereka jijik, dan tidak mengagumi lagi? Atau bahkan.. semakin terkesima?


Nioz berkata, “Gak papa dibilang gila, yang penting ganteng!”


Sayangnya, memang benar nyata. Sayang banget, ganteng-ganteng gesrek, gila, cocok sih masuk rumah sakit jiwa. Ditemenin sekalian sama Xessi, ancur dah ntu rumah sakit.


Pandangan Polan mengarah pada gerombolan cowok yang memisahkan diri, dengan satu cowok paling depan mengangkat ponsel pintarnya. Polan sudah berpikir yang iya-iya.

__ADS_1


“Nonton yang iya-iya nih, pasti.”


Bukannya melerai dan memberi sejuta ceramah, cowok itu malah menghampiri dan meminta izin untuk ikutan menonton. Maklum, lah. Polan normal.


“Nonton nganu yak?” Polan melihat ketiga dari mereka mengangguk, lainnya sudah fokus menonton. Cih!


“Gue boleh ngikut kagak, nih?” izin Polan dengan seluruh kebego-an nya. Sontak para cowok itu memandang kaget, lalu merubah raut wajah menjadi lebih santai.


“Sini, dah.” ajak cowok itu, akhirnya Polan ikut menimbrung. Zevin geleng-geleng dengan sifat temannya, tidak ada yang waras selain Atlas.


Hingga Zevin sendiri, bingung melakukan apa. Mengecek Instagram bosen, bermain PUBG bosen, semuanya serba bosen. Kayaknya Zevin emang butuh pacar, ceilah.


Deru mesin mobil memenuhi sekitar warung. Melihat mobil sedan putih berhenti di depan warung. Perlahan, pintu terbuka. Satu persatu kaki di alasi sepatu high heels itu turun. Para cowok disana memandang aneh, ada perempuan disini?


Benar saja, perempuan dengan fashion mewah itu keluar dari mobil dengan santai. Wajah cantik dan penuh makeup itu mengedipkan satu matanya. Membuat cowok-cowok meleleh, ada yang melihat jijik dan tidak tertarik.


Pintu satunya terbuka, menunjukkan pemandangan indah bagi kaum hawa. Atlas dengan gaya angkuh berjalan, menuju warung berniat menyapa teman-temannya. Gadis itu hanya mengekor.


“Dia siapa?” Zevin memandang penuh kagum cewek itu. Sesuai harapan— sexy, cantik, dan bohai. Tipe Zevin, banget.


“Gak kenal.” ketus Atlas memandang kesal cewek itu. Dibalas cengengesan, menutup telinganya. Jangan lupa, dengan lagu DJ Full volume yang terus berputar ulah Nioz.


“Hai, neng cantik! namanya siapa?” genit Zevin. Sekaligus menatap tubuh gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Verena Yeelion, Veren.”


_______


Veren siapa? Verenang?:>


Nah tokohnya makin banyak, siwer-siwer dah wkkw🌚💨


Please, teken like, komen en don porget to rate 5 sama vote nya yaaa🙂🖤


See u next chapter.


Salam, Idelia as justboggi wife.

__ADS_1


__ADS_2