
“Kamu aja bisa ngetik ketawa tanpa tawaan. Gimana dia? Dia ngetik i love you bisa aja kan tanpa perasaan?” – Author.
Lanjut/Hapus. Soalnya aku ini up terus siapa tau banyak yg baca, jadinya aku banyakin aja haha😄
Happy Reading Readers!😉💖
Agak panjang part ini, ditulis dengan 1667 word.
\=\=\=\=\=\=
Zhora memudarkan senyum, kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Di sampingnya, ada Atlas yang memandang Zef dengan tatapan mematikan. Diikuti kedua tangan dimasukan ke saku celana, dan hawa dingin menyelimuti.
Zef terlihat santai, tidak ada beban. Cowok itu hanya membuang ludah ke sembarang arah, lalu menatap remeh Atlas. “Ada urusannya sama, lo?”
Atlas menatap Zhora sebentar, lalu kepala nya teralihkan lagi pada Zef. “Apa yang lo lakuin, sama Zhora?” Ulang Atlas, cowok itu rasa pertanyaan Zef tidak ada gunanya untuk dijawab. Atlas tidak suka memakai waktu secara boros.
Zhora yang mulai menangkap hawa perlawanan dari kedua cowok jakung di depan nya langsung menengahi Atlas. “Kak, dia gak ngapa-ngapain aku, kok! Udah ya? Jangan berantem,”
“Cowok berandal mana yang tau sopan santun? Gue tebak, lo dihina sama dia kan?” Mulus 100%. Tebakan Atlas selalu cepat dan tepat. Entah ilmu apa yang cowok itu gunakan, hingga setiap tebakan tidak pernah meleset.
“Cih, urusin dulu orang tua lo. Baru gue,” sindir Zef, cowok itu sudah mengetahui Atlas jarang sekali mendapat kasih sayang orang tua. Seluk-beluk sikap Atlas yang dingin, dan cuek itu lah hasil dari perbuatan kedua orangtuanya.
Telapak tangan Atlas mengepal, urat-urat dan pembuluh darah disekujur lengan itu tertampak jelas. Darah nya berdesir hebat, tatapan yang semula datar dan tajam berubah menjadi dingin, tidak tersentuh.
Atlas memang jarang mendapat kasih sayang Rine dan Anderos, tapi saat ada seseorang yang membawa nama kedua orangtuanya Atlas tidak akan diam. Karena orang tua nya tidak mungkin sekejam itu, dan Atlas yakin mereka juga memiliki alasan tersendiri lebih mementingkan bisnis.
“Lo gak tau apa-apa, jangan seolah-olah lo tau segalanya tentang gue.” Kepalan tangan itu sudah siap diluncurkan untuk menghancurkan wajah sialan milik Zef. Zef menunjukkan smirk, Atlas meremehkan pengetahuan nya?
“Dan gue memang tau segalanya tentang lo. Sejak kecil sering ditinggal orang tua, bahkan orang tua lo sendiri lebih mentingin bisnis dari lo. Kayaknya bener dugaan gue, lo anak buangan yang diasuh orang tua lo kan?” Setelah mengucapkan itu, Zef tertawa keras. Meledek habis-habisan tentang latar belakang keluarga Atlas.
Bugh.
Satu bogem mentah mendarat di bibir Zef, cowok jakung itu tersungkur membuat para murid-murid di tengah lapangan terkejut dan mengalihkan perhatiannya. Artha yang sejak tadi diam— tidak ingin ikut campur— segera berlari membantu Zef berdiri.
Ozhora menatap tidak percaya pada Atlas, ini tempat umum dan cowok itu mudah sekali untuk menonjok seseorang? Oh ayolah! bisa-bisa para guru disini mendatangi mereka dan menghukum habis-habisan.
Kehabisan akal jernih, Zhora segera menggenggam tangan Atlas. Memberi naluri dan ketenangan untuk cowok itu, mencoba meredakan emosi yang membara di diri Atlas. Tanpa disangka, tangan Atlas melemas. Urat-urat dan pembuluh darah vena sudah menghilang, mata dingin itu berubah menjadi datar kembali.
Atlas menoleh, menunduk untuk melihat wajah Zhora. Kenapa reaksi tubuhnya menurut hanya karena genggaman di tangannya, seolah-olah Zhora sedang mencabut stop kontak di lengan nya.
“Jangan berantem kak, aku mohon. Aku tau perasaan kak Atlas. Tapi jangan begini, ya caranya? takut dihukum guru-guru disini, kak.” Zhora mengelus-elus pelan lengan kokoh itu, memberi kekuatan untuk bersabar atas perkataan Zef yang memang tidak bisa disaring.
Zef berdiri dibantu Artha, cowok itu memberi isyarat dari telunjuk dan matanya yang berarti 'Awas lo, gue gak akan tinggal diam.' Artha mengajak Zef untuk segera ke UKS dengan paksaan, cowok itu memberontak keras ingin memberi balasan pada Atlas.
Para murid-murid sudah mengelilingi mereka, bersorak ria mendukung salah satu pihak. Dan pihak terbanyak pasti berada di tangan Atlas, tidak mungkin Zef.
“KAK ATLAS AYO SEMANGAT!”
“SAYANG, HABISIN SI BOCAH BERANDAL ITU!”
__ADS_1
“ITU CEWEK SIAPA SIH? CENTIL BANGET!”
“PALING CARI MUKA AJA DI DEPAN ATLAS,”
“ZEF, AYO BERDIRI!”
“ATLAS, LEPAS GENGGAMAN ITU WOI! HARAM!”
“DAKU MUNDUR AJA LAH BANG,”
“IYAAK, MUNDUR ALON-ALON!”
Atlas ingin menulikan telinga dari teriakan-teriakan keras gadis-gadis yang sudah mengelilinginya. Zef yang sudah jatuh terpuruk mengikuti perintah Artha untuk segera ke UKS dibanding menampung malu karena kekalahan nya.
Tidak lama, satu guru datang dengan tergesa-gesa. Murid-murid yang mengelilingi Atlas dan Zhora segera berlari berpencar menjauhi pria paruh baya itu dibanding dimarahin 24 jam. Pak Nurdin— guru 41 tahun mengajar fisika— menatap intimidasi kedua objek yang ditangkap matanya.
Atlas sedikit membungkuk untuk bisa berbisik pada cewek itu. “Pergi, gue yang salah bukan lo.” Zhora menggeleng.
“Aku mau nemenin Kak Atlas,” Atlas melirik sebentar pak Nurdin yang sedikit lagi dekat dengan mereka.
“Pergi,” satu kata yang dapat membuat pikiran Zhora berubah, kakinya memberi sinyal untuk pergi meninggalkan Atlas. Tetapi hatinya memberontak kekuh untuk menemaninya, setelah perdebatan dengan batin nya sendiri, Zhora berlari menjauh dari Atlas dan Pak Nurdin.
“Kamu, hormat di lapa—” Belum selesai berbicara, Atlas memotong ucapan Pak Nurdin. Kedua tangan bekas membogem bibir seseorang segera dimasukkan kedalam saku celana.
“Saya tau,” Atlas berjalan santai meninggalkan Pak Nurdin yang masih dalam mode bingung.
^^^^
“Woi! sini-sini!” sembur Xessi tanpa aba-aba, membuat Jelia yang tengah berkutat dengan ponsel– bermain game– terperanjat karena teriakan itu. Jari-jari nya menyentil pelan pipi Xessi.
“Ngagetin lo, santai aja kek kayak ngeliat artis aja!” Jelia kembali sibuk dengan game pubg. Suara bising berbau tembak-menembak itu yang membuat Xessi merasa sendiri sejak tadi. Xessi lebih cenderung feminim dibanding Jelia yang agak tomboy.
Pletak!
“Aw, sakit suherman!” Xessi menoleh sebentar lalu merubah pandangan nya pada Artha dan Zhora yang sudah duduk manis di depan mereka. Kedua cewek itu sama-sama diam, biasanya Artha yang selalu marah-marah membuat Xessi sedikit curiga.
“Tumben gak ngomel-ngomel,” cibir Xessi, tidak tau keadaan. Zhora, Artha dalam mode canggung, entah karena Atlas dan Zef yang saling adu jotos atau masalah lain? Entah, hanya mereka berdua yang tau.
Artha memutar kedua bola matanya, merasa malas. “Suka-suka gue! kok jadi lo yg ngatur, sih!” sewot Artha, muka jutek sudah keluar dari persembunyiannya. Xessi bukan takut, justru membalas cekikikan.
“Weissh! santai brow, kan cuma berkomentar. Situ sewot amat!” Xessi tidak mau kalah dalam hal debat, atau seperti ini. Sudah menjadi ritual membuat beberapa orang disekitarnya marah, dan Xessi menyukainya.
Tidak ingin memperlambat acara gosip, Xessi menyangga dagu dengan kedua telapak tangannya. Memandang Zhora yang diam, kedua matanya melihat sekitar. Xessi tersenyum, kemudian memanggil cewek itu.
“Jor!” panggil Xessi, dengan senyuman aneh.
Zhora terlonjak, menatap Xessi dengan alis menyatu. “Apa?” Zhora agak bergidik ngeri melihat Xessi tersenyum-senyum sendiri, padahal tidak ada yang menyenangkan sekarang.
“Lo.. suka sama kak Atlas, kan?” tebak cewek itu, seperti biro jodoh. Zhora membulatkan kedua mata, mulut nya melebar saking terkejut dengan pertanyaan yang diluncurkan oleh Xessi.
__ADS_1
Tentu saja tidak! tapi, entah kenapa Zhora merasakan sesuatu yang.. belum pernah ia rasakan sebelumnya saat bersama Atlas? mungkin.
Telapak tangan terangkat, kemudian digoyangkan ke kanan dan kekiri. “Eh! enggak-enggak, apaan sih? Aku gak pernah suka sama seseorang kok!” elak Zhora. Justru dari salah tingkahnya, membuat rasa curiga dari Xessi meningkat.
“Mau makan apa? Cepet! ghibah mulu lo, kayak bakal sukses aja!” semprot Artha, mulutnya tuh ya? sebelas dua belas kayak Zef. Beda kelamin aja, mungkin. Jelia yang sedari tadi sibuk dengan ponsel, mendongak. Akhirnya, ketiga sejoli itu menyebutkan menu apa yang ingin mereka cicipi.
Ditraktir terus boss. Sekuat Zhora menolak juga, yang namanya Artha susah dibantah.
Setelah mengucapkan menu yang ingin dimakan, Artha segera berdiri dan bergegas pergi. Meninggalkan Xessi dan Zhora yang masih sibuk mengobrol, dan Jelia kembali mabar bersama Revan. Yeilah.
“Rev! buruan tembakin itu, gue ngecover lo deh!” teriak Jelia, jari-jari nya menari di atas layar ponselnya. Heboh sendiri, karena main itu doang.
“Iya seyeng, sabar atuh. Daku salting mabar sama eneng,” Seperti suara bariton Revan, mungkin mereka menyalakan audio dan speaker masing-masing. Membuat suara Revan terdengar sampai sini.
Xessi yang mendengar kata-kata manis ala playboy jaman sekarang berdecih geli. “Cih! playboy cap lele lo! gak usah deketin temen gue deh, kambing!” Xessi mendekati bibir nya pada ponsel Jelia, membuat suaranya pasti terdengar oleh Revan sendiri.
“Iri bilang boss!”
Xessi menyudahi aksinya, lalu kembali menopang dagu. Menatap menyelidik Zhora, gadis itu yang tidak tau ada apa dengan Xessi hanya memasang wajah bingung.
Aadx gak tuh? Ada apa dengan Xessi.
“Kenapa sih Xes? ngeliatnya gitu banget,” komentar Zhora, merasa risih dengan tatapan itu. Xessi tersenyum geli, salting nih orang kayaknya.
“Mau tau sesuatu gak?” Xessi menaik turunkan alis tebalnya, ia menegakkan tubuh. Zhora terdiam sebentar, lalu bibir nya berkomat-kamit.
“Tentang apa?” Jika tentang cinta, Zhora tidak ingin mendengarnya.
“Kak Atlas,” Xessi menekan kata Atlas seperti biasa, Zhora sedikit melotot karenanya.
“Aku gak mau deh, kamu aja.”
“Yakin?” tanya Xessi. Zhora menggaruk tengkuknya, bingung.
“Iy— tapi gak aneh-aneh kan?” tes Zhora, siapa tau Xessi akan bercerita yang aneh-aneh tentang Atlas. Dan Zhora belum siap mendengar kan itu, lebih baik ia diam seperti patung kota.
Xessi semakin senang, ia ingin melihat raut wajah apa yang ditunjukkan oleh Zhora nanti, setelah pernyataan yang ia ucapkan. “Gak elah, santai aje. Doi lo mana berani gue jelek-jelekin,” goda Xessi, menyengir.
“Kemarin, gue mau jajan ke warung Bu Marina, asek Marina yu vi waith gak tuh, oke lanjut– pas gue udah di deket warung, gue ngeliat kak Atlas sama temen-temennya rame banget! mungkin karena gue nolep, jarang main gitu gue gak tau kalo warung Bu Marina jadi tongkrongan mereka—” Zhora masih mendengarkan.
Menarik napas sebentar, lalu melanjutkan perkataannya. “Dan tau? gue ngeliat ada cewek cakep dateng-dateng bawa kresek. Yang gue bingung, dia langsung nyosor aja tuh duduk disamping Kak Atlas. Eum.. dan terakhir gue liat si cewek centil itu nyium pipi kak Atlas,”
Blamn!
•••
MASUKAN NYA MASIH DITUNGGU, AYO DONG:)
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, RATE 5, YAAA~🤗💕
__ADS_1
oke, see u next chapter.
Salam, Idelia as justboggi wife.