
Disebuah kaffe, dua wanita sedang menikmati minumannya sambil mengotak ngatik leptop dan buku catatan, mereka adalah anie dan tania, entah sejak kapan mereka mulai pergi berdua. Sebenarnya setengah jam yg lalu tania sudah lebih dulu di kaffe itu sedang sibuk dengan kegiatan leptopnya dan anie kebetulan habis selesai bertemu dengan dosbimnya dan pulang lewat dpn kafe kebetulan lihat tania di lantai 2 dekat cendela jadi anie mampir di kaffe itu karna dirumah juga gk ada kegiatan.
"kamu ngapain disini, ganggu aja deh" tegur tania tanpa melihat anie yg ternyata sedang curi pandang kearah tania
"yeeeee, tempat umum kale. Lagian loe gk bosen apa pacaran mulu ama tuh leptop" jawab anie masih tetap memperhatikan tania yg seakan tak mempedulikan anie
"anie. Kamu disini?" aniepun menoleh kearah suara besar itu yg terdengar diarah belakangnya
"kak leo, kok kakak ada disini" tanya anie sambil berdiri
"wah gk nyangka bisa ketemu disini, kamu sama siapa? Cristian juga disini? " tanya leo sambil melihat kesekitar dan berhenti memandang tania yg masih duduk mengerjakan tugasnya, aniepun spontan memegang lengan leo
"kak leo. Tania aku pergi dulu ya. By" jawab anie sambil buru2 mwninggalkan tania yg bingung memperhatikan anie berlalu. Leo yg mendapati tangannya di tarik oleh anie hanya bisa pasrah dan diam tersenyum. Anie menarik leo kelantai bawah sambil mengecek keadaan sekitar sekiranya gk ada yg mengenalnya
" kak leo knp ada disini, trus tolong jgn sebut nama kak iyan, teman2q gk ada yg tau soal dia apalagi soal aku yg menikah" kawatir anie
"ya maaf saya kan gk tau kalau tadi itu teman kamu, dan lagian kenapa kamu sembunyiin identitas pernikahanmu?" selidik leo
"ah, ceritanya panjang kak. Pliiish rahasiain ya? " memelas anie sambil memegang kedua tangan leo, leo hanya bisa bengong atas perbuatan anie itu namun langsung tersadar dan sepertinya dia memiliki ide
"oke, saya akan rahasiakan ini. Tapi sebelumnya kamu harus lakukan sesuatu untuk saya" muka misterius itu mulai ditunjukan dan anie mulai bertanya dengan wajah penasaran "temani saya makan siang yuk. Udah waktunya nih" ajak leo sambil memegang tangan anie, anie kaget dan spontan melepaskan genggaman itu leo hanya bisa tersenyum
__ADS_1
"ayolah, lagian saya ingin banyak mengobrol denganmu, dan ini juga soal cristian" rayu leo dan tanpa ragu aniepun menyetujuinya.
Disalah satu restoran cepat saji anie dan leo sedang menunggu pesanan mereka, anie mulai kawatir apa tindakannya ini salah karna dia sekarang berada ditempat mewah dan tertutup hanya ada beberapa org diruangan itu dan anie juga tidak meminta izin pada suaminya karna telah pergi makan siang dengan teman kecilnya itu.
"jadi beri tau saya kenapa kamu menyembunyikan identitas pernikahanmu pada teman2mu?" tanya leo membuka suara
"eemh... Ceritanya panjang kak, tp yg jelas kak iyan sama aq sepakat untuk menyembunyikan identitas pernikahan kita ke org luar. Makanya waktu pernikahan gk begitu megah dan hanya keluarga aja yg dateng"
"tapikan saya juga keluarga critian, kenapa saya gk diundang tuh?" ledek leo sedangkan anie hanya bingung "becanda, lagian meski diundang juga kemungkinan kecil saya bisa hadir karna ngurusin bisnis di luar negri. Tapi saya bersyukur bisa kenal kamu" senyum leo dan dibalas dgn anie
"tapi kak tolong jaga rahasia ini ya, terutama sama temen2 kampusq, kalo ketemu aku diluar anggep temen aja plish" memohon anie, dan leo tanpa ragu lgsg memegang tangan anie, spontan anie kaget
"oke, tapi tolong jgn panggil aku kakak, saya gk begitu suka dengan sebutan itu" pinta leo
"mas aja, jadi mulai sekarang kita temenan ya" tanya leo sambil mengulur tangan untuk berjabatan
"oke deal, tapi mas tolong jgn bersifat formal sama aq. Anggap aja kayak temen oke" dan leopun setuju. Hari itu anie dan leo menghabiskan waktu dengan banyak ngobrol hingga ia lupa waktu untuk pulang saking enjoynya dengan leo.
Anie mulai paham kedekatan leo dengan cristian terjadi dari kecil saat mereka berusia 5 tahun, selisih umur mereka tak begitu jauh leo slalu menjaga cristian karna bagi leo cristian sudah dianggap sebagai adik kandung sendiri itu karna leo dan cristian sama2 tidak memiliki teman waktu itu. Mereka salalu 1 sekolah tk, sd, smp namun waktu sma mereka pisah karna pekerjaan org tua mereka, sejak saat itu mereka sudah jarang saling bertemu bahkan bermain bersama. Namun kerenggangan mereka bukan karna jarak yg memisahkan tapi karna kehadiran seorang gadis. Ya kata leo cristian menyukai gadis yg sama dengan leo dan mereka berdua sempat bertengkar lama gegara gadis itu dan permasalahan itupun masih belum selesai sampai sekarang, tapi leo sudah tidak mempermasalahkan itu namun cristian masih saja bersikap dingin dengan leo. Itulah yg ditangkap oleh anie sejak percakapannya dengan leo.
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul 18.30, kini anie baru sampai di rumah megahnya tanpa rasa kawatir atau bersalah anie langsung memasuki ruang tengah mengahampiri sesosok pria yg duduk tegap sambil memasang muka dingin dengan kedua tangan dilipat di dada, sepertinya dia marah namun anie tak ambil puasing seakan tau apa yg harus dia lakukan. Dengan senyuman manis aniepun berjalan mendekati pria besar itu dan mengambil posisi duduk di atas pangkuannya sambil melingkarkan kedua tangannya dan mengecup hangat bibir maskulin itu
"maaf ya sayang, aq pulang telat" senyumnya sambil membelai wajah maskulin itu, namun yg dibelai tak merespon. "Kak iyan marah ya, maaf deh. Sebenarnya tadi aq pulang siang tp mampir di kaffe deket kampus ketemu tania, eh disana aq juga ketemu mas leo" saat anie menyebut nama itu cristian spontan langsung melihat wajah anie dengan kesal
"kamu ngapain aja sama dia? " selidiknya dengan nada tinggi dan anie agak kaget mendengar itu dan mengubah posisi duduk disampingnya seakan tak terima dengan nada itu
"ih kak iyan kok marah sih. Ya wajar donk aq ketemu sama mas leo dan ngobrol lagian dia juga sepupux kakak kan jadi otomatis keluargaq juga" belanya namun cristian hanya mendengus kesal tak ingin memperpanjang masalah ini dan iyanpun berdiri dr tmpt dusuknya
"sudahlah, aq lapar. Mari kita makan" berlalu meninggalkan anie di sofa, sedangkan anie menatap bingung.
Malam itu setelah makan malam anie dan cristian berlalu dikamar masing2 tanpa suara dan tanpa kebersamaan, cristian yg masih marah menurut anie, sedangkan anie yg masih tidak merasa bersalah atas kejadian hari ini menurut cristian. Ya dua insan manusia ini slalu ingin deperhatikan atau di pekain, sama2 keras kepala. Biasanya cristian yg slalu mengalah namun kali ini dia tidak mau mengalah karna sudah menyangkut pria itu.
Anie dikamar sudah mulai frustasi menunggu kedatangan sang suami kekamarnya namun tak kunjung datang, sehingga dia memberanikan diri untuk mengalah karna bagaimanapun juga awal masalah dr dia, setidaknya kali ini prikiran anie masih rasional. Diapun langaung menuju kamar cristian yg posisinya berada disamping kamarnya, saat anie membuka kamar itu dia melihat suaminya sedang berdiri menghadap balkon, sepertinya dia baru saja menelfon. Saat mendengar suara pintu, cristian menoleh
"ada apa?, kenapa malam begini belum tidur? " tanyanya tanpa menghampiri anie. Anie yg mendapati suaminya masih dingin menganggapnya masih marah, dengan wajah memelas dan bersalah anie menghampiri cristian yg masih diam berdiri, kini dia memeluk erat sang suami tanpa melihat wajahnya
"kak iyan masih marah?, maaf kak. Aq gk mau kak iyan marah, baikan ya?"
"kakak gk marah kok, hanya sedikit kesal saja"
__ADS_1
"sama aja kak, baikan ya pliiish" menyodorkan jari kelingkingnya,namun criatian menetisnya pelan dan malah menarik dagu mungil itu dan blash... Ciuman maut itu terjadi, anie yg masih terbelalak atas tindakan suaminya mulai menerima dan ikut terhanyut atas ciuman itu. Merekapun saling mengeratkan pelukan mereka dan semakin dalam ciuman itu terjadi.
"lain kali slalu ngabarin kakak ya kalo mau kemana2 apalagi ketemu dengan pria" disela ciuman panas itu tanpa menunggu anie menjawab cristian melanjutkan ciumannya dan semakin dalam.