
Entah mengapa untuk sekian lamanya saat anie melihat layar telfonnya dia terkejut atas tulisan yang muncul itu “Papah...!!!” teng posisi yang langsung duduk dari tidur siangnya dia langsung mengangkat telfon dari papahnya
“Ya pah, ada apa? Tumben nelfon?” tanya Anie dengan raut muka yang bingung
“ Nak nanti malam tolong kamu kosongkan jadwal ya, papa mau makan malam dengan keluarga kita, sudah lama kita tidak mengadakan makan malam diluar” tanpa menunggu jawaban dari anie Tuan Ruby langsung meunutup sambungan telfon setelah mendengar deheman Anie. Meski keluarga itu jarang berkumpul dan kekurangan kehangatan keluarga namun mereka semua tidak memiliki dendam maupun benci pada pihak masing-masing tak terkecuali Anie dia mulai paham kesibukan orang tuanya hanya untuk memenuhi kebutuhannya meski dia lebih membutuhkan perhatian papah mamanya.
Saat malam dilokasi Restoran Mama Ranita, semuanya sudah berkumpul disana dan sudah memulai makan malam mereka di ruangan khusus untuk keluarga karna mama Ranita tidak mau ada kekurangan apapun untuk membuat keluarga kecilnya kecewa. Anie sangat bahagia dengan kejadian yang tiba-tiba ini, sudah lama keluarganya tidak pernah melakukan makan malam bersama apalagi di restoran mamanya,semuanya saling melempar senyum atas apa yang terjadi di meja makan itu, hingga Rustan angkat bicara
“ eheem.. papa seneng banget karna sekian lama kita jarang berkumpul karna kesibukan masing-masing akhirnya kita bisa makan malam bersama seperti ini, terimakasih juga buat istriku karna telah menyiapkan susana yang sangat indah seperti ini” senyum rustan yang sembari memegang tangan istrinya yang duduk disampingnya sambil tersenyum.
:sebenarnya papa tidak hanya sekedar ingin makan dengan kalian semua tapi juga ingin menyampaikan sesuatu yang besar untuk Anie, yang tentunya menyangkut kondisi kita semua” jelasnya sambil bersikap serius dan menatap kearah Anie yang hendak menyuapi makanannya namun terhenti gegara papanya melihat dengan serius seakan minta diperhatikan.
“ maksud papa apa?” tanya Rudy sambil bergantian melihat kearah papa dan Anie.
“ begini, papa seminggu yang lalu bertemu dengan kawan lama papa dari SMA, mama pasti tau pak Fadlan kan, yang dulu slalu ganggu Mama waktu kuliah..”
“ maksud papa yang anaknya slalu ganngu mama dengan mainan hewan karet yang menjijikkan itu?” sambil reaksi geli dan dibarengi tawa kecil dari papa dan rudy,tapi Anie masih bingung atas maksud pembicaraan ini.
“ papa udah berulang kali ketemu dengan beliau dan dan saat ini sedang menjalin ikatan bisnis dengan dia. Hingga akhirnya kita memenangkan proyek yang sangat besar di Ausi.” Semuanya tersenyum bahagia termasuk Anie.
__ADS_1
“ makanya papa selain ingin merayakan suksesnya terjalinnya bisnis ini,papa juga sudah melakukan kesepakatan dengan pak Fadlan untuk...” sambil melirik mereka semua yang menunggu omongan selanjutnya
“ untuk menyatukan keluarga kita ma” jelasnya
“ maksud papa apa... menyatukan keluarga... maksud papa perjodohan gitu..?” tanya Ranita dengan wajah bertanya-tanya begitupun Anie dan Rudy.. “ iya mah... papa dan faadlan sepakat untuk memper erat hubungan kita dan tidak hilang pertemanan kita, kita sepakat akan menjodohkan anak kita, dan besok lusa adalah pertemuan untuk kedua keluarga ini” jelas pak Rustan
“pah aku gk mau dijodoin, emank sekarang masih musim apa masa siti nurbaya... ayolah pah..” tegas Rudy sambil bersikap malas dan lemah
“dih siapa juga yang mau jodoin kamu, lagian papa juga gk mau berurusan dengan anak yang keras kepala dan ambisius sepertimu.” Dan itu membuat semua perhatian sepasang mata langsung tertuju pada Anie yang sedari tadi hanya menyimak percakapan itu.
“ maksud papa aku?” tanya ani yang seribu kebingungan tak percaya terpancar di wajahnya.
Rudy melihat Anie yang sedang dudk sendiri di taman itu, dia sekarang sedang berdiri di sebrang jalan dekat taman yang Anie singgahi, meski malam sudah sangat larut namun taman itu masih tejadi aktifitas oleh manusia. Rudy pun menghampiri Anie yang duduk termenung sendiri.
“ hanyo... mikirin apa dek? Soal tadi udah jangan di masukin hati” jelasnya enteng sambil duduk disamping Anie setelah berhasil mengagetkannya dari belakang kursi taman yang diduduki Anie.
“ kakak ngapain kesini, kok gak langsung pulang ke apertemen kakak besok kan masuk kerja” jelasnya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah bulan.
“ kakak mau nemenin kamu aja...” senyumnya yang berhasil membuat Anie ikut tersenyum kecil.
__ADS_1
“ aku gak apa-apa kak, lagian meski aku berontak bagaimanapun perjodohan ini akan tetap terjadi...iyakan?,lagi pula papa juga slalu seenaknya sendiri tanpa memperdulikan perasaan dan kemauanku selama ini bagaimana” tanyanya sambil tertunduk sedih, dan itu membuat Rudy refleks langsung merangkul bahu Anie.
“ayolah, si cengeng kok lemes sih...lagian ini anak temen papa kok pasti akan baik-baik saja, papa tidak akan membuatmu dalammasalah sayang. Lagian papa sangat sayang kamu kali” jelas Rudy untuk menenangkan Anie.
“ heh... sayang?. Kakak pasti becanda, sejak perusahaan sukses besar hampir lamanya papa tidak pernah mengobrollama denganku 5 menitpun tidak pernah...itu yang namanya sayang? Kadang aku berfikir kalo aku ini anak angkat papa” tertunduknya sambil lemas dan ingin menangis namun tiba-tiba Anie merasa kepalanya sakit karna ulah Rudy yang tiba-tiba menjitak kepalanya.
“ kamu ini... jangan sembarangan ngomong deh, kamu itu anak kandung papa dan mama dan adik kandung kakak, jangan ngayal deh jadi orang asing.” Celetusnya dengan lokat alaynya yang berhasil membuat Anie tersenyum. Dengan wajah serius dan menatap bulan Rudy berkata
“ asal kamu tau dek, meski papa sekarang sangat sibuk, jarang ada dirumah dan terkesan mengacuhkan kita. Kamu tau?” sambil melihat saling berpandangan “ saat kelulusanmu waktu SMP yang meraih lulusan terbaik papa lebih dulu tau soalitu dibanding kakak dan mama, karna dia slalu menyakan kabarmu pada bu nia wali kelasmu, tak pernah terlewatkan kabar sedikitpun tentang kamu, dan waktu SMA saat kamu meraih medali Emas saat olimpiade depat internasional papa melihat dari awal acara itu lewat siaran langsung video yang dilakukan suruhan papa di lokasi itu. Dan saat kamu kuliah sekarang yang slalu sibuk dengan segala rentetan organisasi dan kompetisi dari berbagai dosen yang kamu bantu, papa juga tau karna salah satu dosen di kampus kamu terikat kontrak dengan papa untuk slalu mengawasi kamu agar kamu tidak dalam kesulitan.” Jelas Rudy yang berhasil membuat Anie meneteskan air mata yang sedari tertahan.
“ seperti kebanyakan kita tau, sesosok lelaki tangguh ayah hanya sanggup berperan dibalik badan Ibu. Sekarang kakak paham akan itu, kau tau meski selama ini mama yang sering kasih perhatian kekita peran papa yang slalu mengingatkan mama agar memberikan lebih dan lebih agar kita tidak kekurangan sedikitpun. Papa sangat lemah dek, tapi dia tidak ingin menunjukan kelemahannya karna dia ingin anak-anaknya kelak tidak menyesali memiliki seorang papa seperti dia.” Jelas Rudy yang langsung memeluk Anie yang semakin pecah dengan tangisannya.
Saat sampai di kediaman Ruby. Tuan dan nyonya Ruby sedang menunggu kedatangan anak-anak mereka yang sejak acara makan malam tadi selesai dengan acara kaburnya Anie tanpa pamit (yaiyalah namanya juga kabur -_-*) masih belum kembali kerumah. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara mobil memasuki halaman rumah besar itu.
Saat mereka berdua memasuki rumah langsung menuju ruangan keluarga yang ternyata disana sudah menunggu nyonya dan tuan Rubi di sofa.
“kalian dari mana nak?, mama kawatir kalian pulang lama sekali” sambil menghampiri Anie yang tertunduk sedih dengan mata yang sembab namun tidak terlihat oleh kedua orang tuannya.
“ pah... Anie setuju dengan perjodohan ini.” Membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi sunyi dan kaku, mereka semua seakan tak percaya atas jawaban yang Anie berikan.
__ADS_1
“besok lusa Anie siap bertemu dengan meraka.” Jelas Anie tanpa menunggu jawaban lainnya langsung menuju kearah kamarnya yang berada di lantai 2 meninggalkan mereka semua di ruangan itu.