
Sihir Nuklir yang digunakan oleh Strega Cagna dapat di dengar hingga radius yang cukup jauh.
"Apa yang terjadi, darimana asal suara itu" kata Jerome yang tiba di pintu keluar goa perlindungan.
"Sepertinya sumber suara itu berasal dari wilayah Himaya" jawab Bruno.
"Aku harap mereka semua baik-baik saja, untuk memastikan keamanan aku akan menggunakan item ini"
Mengatakan hal tersebut, Jerome kemudian menggunakan item Schildpad Barrier yang diberikan Brain untuk memasang penghalang di goa perlindungan.
Memastikan keadaan aman, Jerome memutuskan untuk kembali kedalam goa untuk menenangkan mereka yang juga mendengar suara ledakan tersebut. Setelah Jerome berhasil menenangkan semua orang, iya lalu dihampiri oleh Riane Klien yang merupakan seorang perempuan yang dijumpai Brain sebelumnya. (Cpt.21).
"Tuan Jerome, maaf" kata Riane.
"Ada apa" jawab Jerome sopan.
"Kalau boleh tahu, sejauh mana tuan mengenal Brain" tanya Riane.
"Yang aku tahu, dia selalu bekerja keras dalam menghadapi setiap masalah, iya orang yang bertanggungjawab" kata Jerome.
"Begitu yah.. kalau untuk kebiasaannya atau mungkin makanan yang iya suka" kata Riane lagi.
"Kalau itu, coba tanyakan ke Saria" kata Jerome.
"Baik tuan, terimakasih.. maaf sudah mengganggu mu"
Setelah mengatakan hal tersebut Riane Klien kemudian pergi meninggalkan Jerome dan disini Jerome berfikir jika Brain telah menjadi idola bagi para wanita muda.
***
Di distrik 9 tepatnya di lokasi dimana para pasukan pembebasan berkumpul, terlihat mereka semua telah bersama pasangan kelompok nya masing-masing.
Matahari yang mulai turun di ufuk barat, membuat jantung setiap anggota pasukan pembebasan mulai berdegup kencang.
"Aku harap, setelah ini, kita bisa hidup dengan damai" kata Zhipheng yang berpasangan dengan Hendry.
"Hal seperti itu harusnya bisa kita dapatkan, sebelum itu kita harus fokus untuk mendapatkan kemenangan" kata Hendry.
Ditengah percakapan mereka, Randalf dan Layla yang berpasangan terlihat mendekati mereka berdua.
"Kami sudah membagikan Poison ke semua anggota" kata Randalf.
Mendengar hal itu Hendry sangat berterimakasih, mereka berempat kemudian mendiskusikan strategi apa yang harus di ambil untuk mengahadapi Strega Cagna dan Vedova Distruttore.
Disini mereka berempat yang telah mengetahui sedikit tentang kemampuan dari kedua orang tersebut, dimana Strega Cagna yang sudah bisa dipastikan memiliki kelas Mage dan Vedova yang kemungkinan merupakan seseorang dengan kelas Fighter.
__ADS_1
"Jika memang seperti yang kau katakan, kita harus berhati-hati dengan Strega itu" kata Zhipheng.
"Untuk itu, jika keadaan tidak mendukung, aku ingin Randalf, Layla dan Daria bisa menghadapi perempuan gila itu" kata Hendry.
"Aku akan berusaha menggunakan semua sihir yang aku punya untuk mengahadapi nya" kata Randalf.
"Jangan sampai iya menggunakan sihir yang sama seperti yang iya gunakan sebelumnya" kata Layla.
"Lalu bagaimana dengan Vedova" tanya Zhipheng.
"Untuk monster itu, Aku, kau dan Brain akan mengahadapi nya" kata Hendry.
Dengan penuh keyakinan, Zhipheng mengiyakan perkataan dari Hendry dan setelah itu mereka kemudian kembali membicarakan strategi yang lain, lalu memutuskan untuk mulai bergerak tepat jam 9 malam.
"Kalau begitu kami akan kembali mengecek persediaan Poison yang tersisa" kata Randalf.
"Terimakasih Randalf" kata Hendry.
"Ngomong-ngomong, dimana Brain dan Daria" tanya Layla.
"Mereka pergi menyiapkan perlengkapan mereka" jawab Hendry.
Setelah semua percakapan dan diskusi itu, Randalf dan Layla kemudian pergi, sedangkan Hendry dan Zhipheng tetap berada disana.
***
Beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka berdua telah sampai di rumah yang mereka tuju. Rumah tersebut merupakan rumah milik Daria.
"Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan ditempat ini" tanya Brain.
"Aku ingin mengambil beberapa item dan perlengkapan yang aku simpan di tempat ini" kata Daria.
Daria kemudian berjalan menuju lantai bawah rumah tersebut dan tentu saja Brain juga mengikutinya dari belakang.
Walaupun jarang ditinggali, Terlihat interior bagian dalam rumah itu masih dalam keadaan terawat dan semua perabotan juga tertata rapi.
"Jadi ini rumahmu" kata Brain.
"Yah, rumah ini adalah satu-satunya hal yang berharga bagiku" kata Daria.
Setelah itu, Daria kemudian membuka salah satu kotak penyimpanan yang ada di lantai bawah rumah itu, iya kemudian mengambil pedang dan armor yang terlihat dipenuhi oleh debu.
Membersihkan debu yang menempel, Daria kemudian mengajak Brain untuk kembali ke lantai atas, sampai sejauh ini percakapan mereka berdua tidak begitu sering terjadi.
"Aku tidak tahu, apakah aku bisa selamat kali ini" kata Daria sambil memeriksa armor dan pedangnya dan disini mereka berdua berada diruang tengah rumah tersebut.
__ADS_1
"Jangan mengatakan hal seperti itu" kata Brain.
"Maaf, aku hanya bingung, kemampuan ku tidaklah begitu banyak" kata Daria.
Suasana yang canggung mulai berubah, mereka berdua kemudian melanjutkan percakapan dengan membahas berbagai macam topik dan hal itu membuat waktu seakan berjalan dengan cepat.
"Mungkin sebaiknya kita kembali" kata Brain.
"Sudah malam yah, kalau begitu aku mau bersiap dulu, Hendry juga bilang, kita harus kembali sebelum jam 9, jadi masih ada waktu" kata Daria.
"Begitu yah" kata Brain.
"Aku ingin mandi dulu, Menyegarkan badan sebelum ke medan pertempuran juga termasuk persiapan kan" kata Daria dengan nada lembut.
Mendengar itu Brain hanya tersenyum, Daria lalu pergi ke kamarnya dan tidak lama, iya keluar lagi dengan hanya memakai sehelai handuk.
Melihat Daria hanya memakai handuk, membuat Brain merasa malu, iya lalu memalingkan pandangannya ketempat lain. Melihat itu Daria yang masih berdiri didepan pintu kamarnya mengatakan sesuatu kepada Brain.
"Di usiaku yang sudah 30 tahun ini, baru pertama kali ada pria yang melihat ku berpakaian seperti ini" kata Daria.
Mendengar hal itu Brain hanya terdiam, iya kemudian kembali melihat Daria dan terlihat wajah mereka berdua sedikit memerah.
"Apa kau tidak ingin mandi Brain" tanya Daria lembut.
"Aku.. aku mungkin sebaiknya menunggu diluar" kata Brain malu.
Mendengar itu Daria lalu berjalan kearah Brain, iya kemudian mengambil tangannya dan perlahan menariknya untuk ikut bersamanya.
Brain yang merasa bingung dengan keadaan itu hanya bisa mengikuti Daria dan mereka berdua akhirnya memasuki kamar mandi bersama-sama.
"Mungkin kau akan tertawa, tapi jujur ini adalah pertama kalinya aku melakukan hal ini" kata Daria.
Bingung dengan apa yang iya lakukan, Brain yang juga belum pernah mengalami pengalaman tersebut hanya bisa mengikuti kehendak dari tubuhnya.
Suara kebersamaan mereka yang terdengar begitu bahagia pada akhirnya selesai, situasi canggung diantara keduanya kembali terlihat setelah itu dan sekarang mereka berdua telah bersiap keluar dari rumah tersebut.
"Brain, aku minta maaf atas kejadian tadi"
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf" kata Brain.
"Apa aku terlalu tua untukmu"
"Jangan berbicara seperti itu" kata Brain sambil mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Simi sang Sistem mengenai hubungan dengan lawan jenis yang memilki jarak umur yang cukup jauh itu dimungkinkan.
Setelah percakapan singkat itu, mereka berdua yang telah bersiap, kemudian kembali menuju gedung aula tempat pasukan pembebasan berkumpul.
__ADS_1
...----------------...