
Ferdi dan Annisa pergi meninggalkan Mall, baik Annisa dan Ferdi tetap diam karena mereka tidak tau harus berkata apa untuk saat ini.
"Maaf, karena temanku membuat suasana hatimu jadi tidak nyaman!" kata Ferdi meminta maaf dengan tulus.
"Ti-Tidak, kamu tidak salah hanya temanmu saja yang terlalu sombong... Ngomong-ngomong terima kasih buat yang tadi!" kata Anniza dengan cepat dan di akhiri ucapan tulusnya kepada Ferdi.
"Terima kasih? Buat apa?" tanya Ferdi bingung.
"Karena kamu menolak uang darinya dan marah untuk melindungiku!" kata Annisa dengan wajah memerah.
"Pfft, ahaha~" Ferdi tertawa mendengarnya.
"Kenapa kamu tertawa!?" kata Annisa cemberut.
"Habisnya kamu lucu, coba bayangkan pria mana yang ingin gadisnya di perlakukan seperti itu? Lagian tadi dia memang keterlaluan jadi aku juga marah~" kata Ferdi dengan ringan.
"Tapi tetap saja, terima kasih untuk itu!" kata Annisa masih ingin berterima kasih.
"Ya sudah lakukan sesukamu, oh ya bagaimana jawabanmu soal mahar yang aku katakan tadi?" tanya Ferdi tiba-tiba.
"Eh? Kamu serius soal itu? Aku pikir kamu hanya mengertaknya!?" kata Annisa terkejut dan juga ketakutan.
Coba bayangkan mahar pernikahan adalah sebuah pulau pribadi mahal? Orang biasa mungkin seperangkat peralatan beribadah, rumah mewah, mobil, dan uang tunai tapi Ferdi beda karena dia dengan mudahnya akan memberikan sebuah pulau pribadi seharga $350 USD kepada Annisa sebagai Mahar.
"Aku mengertaknya? Oh ayolah sayang, apakah aku terlihat seperti orang yang suka mengertak anak-anak? Aku mengatakan serius tentang itu lagian kita memang akan segera menikah kan?" kata Ferdi dengan nada bercanda.
"Si-Siapa yang ingin menikahi orang bodoh sepertimu!?" kata Annisa memerah malu tapi setelah itu dia berkata lagi dengan pelan, "kamu saja belum meresmikan status pacaran kita, nembak saja belum!"
"Aku tidak ingin kita pacaran!" kata Ferdi tiba-tiba.
"Eh?" Annisa terkejut dan merasa kalau Ferdi sepertinya memang memainkan perasaannya saja selama ini.
"Tapi bertunangan dan melanjutkan dengan pernikahan!" kata Ferdi lagi lembut menepuk kepala Annisa.
__ADS_1
Untuk posisi penumpang dan supir di mobil sport memang bersebelahan dan juga sangat dekat jadi mudah bagi Ferdi untuk menepuk kepala Annisa itu.
"Benarkah!?" tanya Annisa dengan mata penuh harapan.
Dia juga berharap dapat menikahi Ferdi tapi itu bukan karena harta Ferdi yang melimpah tapi murni karena cinta, itu lah Annisa seorang gadis Otaku and Lolicon yang masih murni dan meyakini tentang kekuatan cinta.
"Um, jadi kapan aku dapat menemui orang tua mu?" kata Ferdi dengan senyum.
"Itu... Bagaimana minggu depan? Kuyakin mereka pasti akan menemuimu tapi aku harap kamu jangan mengatakan kekayaanmu kepada mereka!" kata Annisa memperingatkan.
Dia tidak ingin orang tuanya juga di anggap sebagai orang yang matre karena membiarkan putri mereka menikahi orang kaya tapi jujur Ferdi sebenarnya tidak peduli hal itu, baginya mengurus Mertua adalah hal yang harus di lakukan menantu yang baik.
"Kamu dapat yakin, tapi setelah mereka setuju tidak masalah kan?" kata Ferdi meyakinkan dan diakhir pertanyaan singkat.
"Ya sisanya terserahmu!" kata Annisa memutar matanya.
"Ahaha dan soal mahar itu bagaimana? Kamu belum mengatakan setuju atau tidak bukan?" kata Ferdi kembali ke masalah mahar.
"Itu... Aku pikir sebuah pulau pribadi itu kemewahan dan terlalu membuang uang jadi ganti saja sama yang murah!" kata Annisa menolak.
"Jadi memberimu sebuah pulau bukanlah hal yang rugi karena hal itu juga dapat kamu gunakan sebagai tabungan jangka panjang!" sambung Ferdi dengan senyum.
Annisa juga mengetahui hal itu tapi tetap saja hatinya masih ingin menolak hal tersebut, membayangkan Ferdi memberinya uang saku Miliaran rupiah saja sudah terlalu mewah baginya jadi bagaimana dengan memberikannya sebuah pulau?
Annisa bahkan berpikir kalau orang tuanya mungkin akan pingsan saat mendengarkan soal ini, tapi tetap saja Annisa juga masih perlu pertimbangan.
"Beri aku waktu untuk berpikir!" kata Annisa mencoba mengulur waktu.
Annisa tau bila dia menolak atau mengatakan hal lain maka Ferdi akan memberikannya dengan riang seperti uang jajan 1 Miliar itu.
"Baiklah, dan masih sore nih mau nonton bioskop dulu?" kata Ferdi melihat jam tangannya ternyata masih sore dan belum malam.
"Um, baiklah!" kata Annisa setuju.
__ADS_1
Mereka akhirnya pergi ke bioskop buat nobar(nonton bareng), filmnya adalah film romance bukan Netorare, ya kali pacaran nontonnya film Netorare kan ga asik kalau kejadian.
Film romancenya cukup berasa, bahkan di akhirnya ada kesan sedih-sedih alaynya gitu, aslinya Ferdi mengatuk menontonnya karena mending anime lah njir dari ada film 3D yang sok-sok an dramatis.
Tapi dia tidak mengatakan itu karena Annisa sepertinya terpengaruh oleh Film, hadeh namanya juga gadis kalau di kasih bumbu Romance and Drama juga sudah ketagihan.
Setelah menonton mereka mampir ke cafe dekat sana ya buat minum-minum sebari mereview film yang baru di tonton.
Meski aslinya Ferdi ngantuk parah saat menonton tapi dia juga sempat-sempat lah melirik beberapa adegan jadi bisa nyambung dengan pembicaraan Annisa.
Saat sedang mengobrol ponsel Ferdi berbunyi and bergetar karena ada yang menelpon.
"Hallo, dengan siapa, dimana?" kata Ferdi layaknya host acara kuis.
"Oi kau sudah jadi mc acara kuis aja?" kata Zaki bercanda.
"Ahaha ya soalnya banyak yang menelponku belakangan ini, ada apa nelpon?" kata Ferdi basa-basi.
"Aku sudah menemui tempat dan anak-anak katanya bisa besok malam, bagaimana mau ikut?" kata Zaki sedikit bersemangat.
"Besok? Bukankah besok senin? Emang pada bisa?" tanya Ferdi mengerutkan keningnya.
"Aku sudah menanyainya dan bisa, bagaimana denganmu bisa atau tidak? Kalau tidak bisa ya ga apa-apa sih soalnya ini mah cuman ngumpul-ngumpul biasa~" kata Zaki bercanda dan sok mengsedih.
"Aku ikut, kirimkan saja alamatnya dan jam, aku akan kesana tepat waktu!" kata Ferdi dengan santai.
"Baguslah, aku akan mengirimkannya lewat pesanmu biar kamu tidak lupa bahkan akan aku spam biar ga lupa!" kata Zaki bercanda tapi juga mengancam.
"Apa aku seorang yang pelupa?" tanya Ferdi dengan heran.
"Um, waktu studytour kamu kelupaan dan ketinggalan bus, waktu kerja kelompok kamu ketinggalan bahan inti dari tugas kita, w..." kata Zaki membongkar semua sejarah kekam Ferdi.
"Stop! Baik aku mengerti dan jangan mengungkit masa lalu lagi!" kata Ferdi sedikit kesal.
__ADS_1
Siapa sangka si Zaki masih mengingat hal seperti itu, kalaut terbongkar kan agak malu!
"Baikah, jangan lupa datang dengan pacarmu itu, bye~" kata Zaki menutup telpon dengan cepat.