
Ferdi dan Joko asik mengobrol banyak hal, meski yang paling banyak berbicara adalah Joko.
"Ini kek, mas Ferdi kopinya." kata Geisha keluar dengan dua cangkir kopi, satu kopi pahit yang lainnya manis.
"Maaf, ini malah jadi ngerepotin." kata Ferdi basa basi saat melihat Geisha mengeluarkan kopi hitam didepannya,
"Tidak masalah mas, ayo diminum dulu kopinya." kata Geisha ramah sembari memberi isyarat untuk Ferdi agar meminum kopi tersebut.
"Iya nak Fer, santai aja disini mah, ayo minum munpung masih hangat!" kata Joko ringan dia pun mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya dengan nikmat.
Ferdi yang sudah mendapatkan izin pun juga menyeruput kopi miliknya, meski baru datang namun itu hangat bukan panas jadi bisa langsung di minum.
"Bagaimana mas? Apa kemanisan?" tanya Geisha ramah, ia mengambil inisiyatif sendiri untuk menyajikan kopi ke Ferdi namun dia tidak tau apakah Ferdi suka kopi hitam pahit atau manis.
"Enak, manisnya pas ditambah ngeliat kak Geisha malah membuat kopinya tambah manis." puji Ferdi ringan, tak lupa ia sedikit menggoda Geisha sebagai gurauan atau candaan ringan.
"Ih, mas Ferdi bisa aja ... Kalau gitu aku tinggal dulu ke dalam ya, Kek!" kata Geisha ringan namun ia sedikit malu dan senang karena di puji dan akhirnya memilih untuk pergi tapi sebelum pergi ia izin dulu ke Joko.
"Sini aja lah Sha, dari pada di dalam bae mending sini ikut ngobrol bareng kita." kata Joko mengajak, ia juga sedikit melihat sedikit perubahan pada ekspresi Geisha yang setelah di puji oleh Ferdi.
Dan ia juga melihat kalau Ferdi termasuk pemuda yang sopan dan baik membuatnya berpikir 'Bukanlah hal buruk bila cucuku ini menemukan pasangan seperti nak Ferdi' karena itu ia ingin Geisha tetap di ruang tamu untuk mengobrol bareng dan mencoba mendekatkan mereka secara perlahan namun pasti.
Apalagi keduanya memang cantik dan tampan, kalau berjodoh akan seperti apa rupa anaknya nanti, ya kan?
"Nnn ... Apa tidak masalah aku ikut mengobrol?" tanya Geisha ringan.
"Tidak apa kok, lagian ini cuman obrolan ringan saja." kata Ferdi yang juga setuju saja dengan adanya Geisha yang ikut mengobrol bersama.
"Um, baiklah." Geisha mengangguk setuju lalu duduk di sebelah Joko.
"Oh ya, ngomong-ngomong mas Ferdi sudah lama jadi supir taksi?" tanya Geisha penasaran karena ia melihat seragam Ferdi jadi ia ingin tau apakah Ferdi sudah lama bekerja atau tidak, hitung-hitung mencari topik pembicaraan.
__ADS_1
"Aku baru 1 tahunan jadi supir taksi, awalnya aku bekerja serabutan aja." kata Ferdi dengan jujur.
"Apa mas tidak kuliah? Soalnya kalau di lihat usia mas tidak terlalu jauh dariku." tanya Geisha tambah penasaran, bahkan Joko pun penasaran.
"Sebenarnya aku pernah kuliah beberapa minggu doang sih, setelah aku lulus smk langsung lanjut kuliah tapi akhirnya berhenti, ahaha sayang banget padahal." kata Ferdi sambil tertawa mengingat hal itu namun ada sedikit kesedihan dan kerinduan di sorot matanya.
"Aku berhenti kuliah karena orangtuaku meninggal dunia dua tahun yang lalu, lalu untuk menghidupi adikku yang masih kecil membuatku memutuskan untuk berhenti kuliah dan mulai kerja. " sambungya yang mulai menceritakan soal alasan ia berhenti kuliah.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu akan hal itu ..." kata Geisha yang merasa bersalah dan berduka atas kehilangan orang tua Ferdi.
Joko juga sama, namun ia merasa takjub dengan Ferdi karena mengambil keputusan seperti itu, lebih memilih masa depan adiknya ketimbang diri sendiri, entah berapa banyak pemuda seperti Ferdi di dunia ini, dan hal ini juga meningkatkan kesan Ferdi di benak Joko.
"Kau anak yang hebat Fer, kakek bangga denganmu dan jangan berkecil hati karena masa depanmu masih panjang mungkin suatu hari nanti kau dapat melanjutkan pendidikanmu jadi jangan pantang menyerah dan terus berusaha!" kata Joko menyemangati Ferdi.
"Iya kek, aku juga tidak menyesali keputusanku itu karena hidup kami ternyata lebih baik dari yang aku pikirkan, dan masalah kuliah mungkin aku akan melanjutkannya nanti." kata Ferdi dengan ringan, ia cukup tersentuh oleh kehangatan yang diberikan Joko dan Geisha, meski baru mengenal namun rasanya cukup dekat.
"Itu bagus, jangan menyerah dan putus asa karena setiap hal yang kita lalui pasti akan membawa kita ke hasil terbaik yang melebihi ekspetasi kita." kata Joko ringan.
Karena itu jangan berpikir sempit namun terbuka lah karena tidak ada jalan yang diberikan Tuhan itu buruk, hanya manusia(kita) lah yang tidak mengetahui betapa nikmat dan melimpahnya kebahagiaan yang akan kita peroleh setelah melewati jalan itu.
Geisha juga merasa takjub dan kagum kepada Ferdi, jarang ada seseorang yang peduli seperti itu kepada keluarganya, ia rela membuang cita-cita dan impiannya hanya demi menjaga adik tersayangnya, ia rela menggantikan peran orangtua demi membesarkan adiknya.
Pemuda seperti itu sangatlah jarang karena itu lah Ferdi mulai menjadi berbeda di mata Geisha, bahkan sorot mata Geisha ke Ferdi menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Ya, dia jadi lebih tampan.
"Ah aku telat! Kakek, mas Ferdi aku izin dulu ya mau pergi ketemu teman dulu!" kata Geisha yang keingat kalau ia ada janji untuk belajar barang.
"Jauh tidak? Minta di antar saja sana sama nak Ferdi biar cepat." kata Joko ringan.
"Itu ... Tidak terlalu jauh sih tapi apa itu tidak merepotkan mas Ferdi?" tanya Geisha, sebenarnya cukup lumayan jauh sekitar 2 kali naik angkot dan jalan 10 menit belum nunggu angkotnya jadi itu bisa dibilang jauh.
__ADS_1
Namun ia merasa tidak enak kalau merepotkan Ferdi untuk minta di antar seperti itu, apalagi mereka juga baru kenal.
"Aku tidak keberatan kok kalau emang lagi buru-buru." kata Ferdi tidak keberatan.
"Benarkah mas? Hm, kupesan sekalian saja deh layanan taksi onlinemu!" kata Geisha senang dan mengingat kalau Ferdi bekerja di layanan jada taksi online membuatnya berpikir untuk sekalian memesan, hitung-hitung bayaran karena sudah merepotkan.
"Baiklah tapi jangan bayar, kasih bintang lima saja soalnya aku lagi ngejar bonus ekstra." kata Ferdi ringan, ia ingin dapat hadiah System jadi bintang lima saja sudah cukup.
"Tidak apa-apa mas, tidak enak loh aku masa pesan tapi tidak bayar, lumayan jauh loh mas tempatnya." kata Geisha menolak, ia tidak ingin gratisan dalam mengambil sesuatu dari orang lain, apalagi mereka baru kenal dan menurut sudut pandang Geisha kalau Ferdi juga membutuhkan uang jadi mana mungkin ia mau di gratiskan.
"Tidak apa, lagian aku juga sudah ngerepotin kalian, hitung-hitung aku membalas kebaikan kakek Joko dan kak Geisha." kata Ferdi yang juga tidak ingin menerima uang Geisha.
"Nnn ..."
"Sudah-sudah, katanya kau terlambat jadi pergi saja dulu soal pembayaran bicarakan saja di jalan!" kata Joko segera mendorong Geisha untuk segera pergi.
Ia mengetahui sifat Geisha yang tidak suka berhutang budi dan sedikit keras kepala jadi dari pada melihat keduanya akan ribut dan buang-buang waktu lebih baik membiarkan mereka pergi.
"Ah, kakek benar, tunggu sebentar aku ambil tas dulu!" kata Geisha setuju dan segera pergi mengambil tas nya.
"Kalau begitu aku izin pamit dulu ya Kek, terima kasih kopinya!" kata Ferdi yang juga izin ke Joko.
"Iya tidak masalah, sering-sering mampir soalnya kakek jarang sekali ada teman mengobrol sepertimu." kata Joko ramah sambil tersenyum cerah.
"Iya Kek, aku pasti akan sering mampir kalau lagi ada waktu, kalau begitu aku permisi dulu!" kata Ferdi ramah lalu ia pun keluar rumah diikuti oleh Geisha yang sudah rapi dengan tas selempang di pundaknya.
#
Sorry minna-tchi, aing lama up nya karena sibuk dan ada juga sedang sakit jadi hiatus selama beberapa hari ini, untuk kedepannya akan saya usahakan untuk up secara rutin dan teratur.
Terima kasih atas perhatian dan support kalian, selaku author tampan novel ini sya ucapkan terima kasih banyak.
__ADS_1
sekian terima gaji.