
"Ukh, aku tidak ingin memakan buah iblis lagi!!" keluh Ferdi sambil menyeka bibirnya yang masih mengalir air liur.
System tidak menjawab, ia hanya
Tersenyum dalam diamnya itu, merasa puas dengan derita yang di alami Ferdi.
"Nak, kau tidak apa-apa? Minum air dulu!" kata seorang kakek tua di pinggir jalan sambil memberikan air mineral ke Ferdi.
"Tidak kek, aku hanya sedikit mual tadi!" kata Ferdi sambil mengambil botol air mineral tersebut dan meminumnya lalu berterima kasih.
"Mau kuantar ke pukesmas? Kau mungkin sakit atau sedang hamil." kata Kakek itu dengan khawatir.
Mendengar itu wajah Ferdi agak berkedut, hamil? Seorang pria seperti dirinya hamil? Apakah matahari terbit dari timur?
Kalau barat dah sering di ucap meski belum aja terjadi yang sering mah terbit dari timur, ya kan?
"Maaf kek, tidak usah repot-repot dan aku ini pria kek jadi tidak mungkin lah aku hamil." kata Ferdi dengan sopan dan santun.
"Oh iya aku lupa, mendiang istriku waktu hamil suka mual begitu jadi kukira kau sama, ahahaha!" kata kakek tua itu yang baru saja ingat, ia kemudian tertawa saat mengingat mendiang istrinya.
Kemudian kakek itu mulai bercerita tentang mendiang istrinya yang terdengar sangat cantik, bahkan hubungan keduanya sangat rukun sampai usia senja dan berpisah karena kematian.
Ferdi mendengarnya dengan ringan, meski ia ingin pulang atau narik atau mencoba kekuatannya tapi ia melihat ekspresi dan kegembiraan si kakek saat menceritakan kekasihnya yang sudah meninggal itu.
Melihat ini membuatnya memilih tinggal dan mendengarkan dengan baik, kadang ia juga bertanya dan bertukar pengalaman hidup mereka membuat hubungan keduanya bukan seperti orang asing yang baru ketemu tapi lebih seperti kakek dan cucu yang sedang kumpul bersama.
"Hiss, sekarang aku sudah rentah, anak-anakku pada pergi mengejar dunia mereka sendiri, untung saja ada cucuku yang masih mau merawat tubuh tua ini." kata si kakek sedikit mengeluh dan bersyukur.
Meski begitu terlihat kesedihan dan kesendirian di sorot matanya, karena ia ingin kumpul kembali dengan anak-anaknya, ingin di manja dan dirawat oleh mereka.
Namun ia juga tidak ingin merepotkan anak-anaknya tersebut, baginya melihat mereka sukses dan bahagia sudah cukup ketimbang dimanja dan dirawat oleh mereka.
Namun tetap saja hati kecilnya masih ingin merasakan kehangatan keluarga sekali lagi, ingin menikmati sisa umur bersama keluarga dikala senang dan susah.
Untung ada cucunya yang sudah kuliah yang bersedia menemani dan merawatnya membuatnya tidak merasa terlalu kesepian.
__ADS_1
Ferdi melihat hal ini tidak bisa membayangkan keadaanya di usia tua kelak, apakah putra-putri dan cucunya mau menemani dirinya di sisa usianya itu, apakah ia mampu terus bersama mereka orang-orang yang ia cintai.
Atau hidup sendiri dengan bergelimang harta tanpa ada keluarga yang menemani.
Mungkin sekarang ia bisa hidup semaunya tapi saat usianya sudah rentah dan uzur, apa yang akan ia lakukan? Berdiam diri menunggu kematian yang sepi atau hidup damai bersama keluarga dan sahabat.
Tentu semua orang akan memilih yang kedua tapi masa depan siapa yang tau, mungkin saja di usia senja nanti dimana anak-anak sudah dewasa dan berkeluarga.
Mereka akan meninggalkan kita sendiri, bahkan ada yang tega menempatkan orang tua mereka di panti jompo ketimbang merawat dan membahagiakan mereka.
Memikirkan ini membuat Ferdi merasa sedih, namun ia juga bersyukur karena ia masih muda dan dia juga sudah diberikan kehidupan kedua saat ini.
Ditambah kehidupan keduanya ini jauh lebih baik dan ramai ketimbang dirinya dimasa lalu, memikirkannya saja membuatnya bersyukur telah di lahirkan kembali.
"Kek, aku yakin kalau anak-anak kakek pasti akan menemani kakek nanti, mereka hanya sedang disibukkan oleh pekerjaan mereka saja saat ini agar nanti bisa menemani kakek sepuasnya, saat ini yang bisa kakek lakukan adalah bersabar dan berdoa semoga Tuhan meringankan pekerjaan mereka agar kakek bisa berkumpul lagi bersama seperti dulu!" kata Ferdi menghibur, ia juga mendoakan agar kakek bisa menikmati sisa usianya dengan bahagia bersama keluarga dan orang di cintai.
"Amin, kamu memang anak yang baik, cu." kata di kakek mengiyakan dan panggilannya untuk Ferdi berubah menjadi lebih dekat dan penuh kasih.
"Nak Ferdi, mau mampir ke rumah kakek tidak? Kita ngobrol dan makan disana, yuk temenin kakek lagi." kata kakek itu memberikan ajakan untuk berkunjung ke rumahnya.
Melihat Ferdi setuju membuat di kakek senang, rasanya seperti putranya pulang kerumah mungkin seperti itu yang dirasakan si kakek.
Nama Kakek itu adalah Joko Trimulyo, pria tua rentah di Usia 76 tahun, ia hidup bersama cucunya berdua saja di sebuah rumah mungil yang biasa saja.
"Aku pulang!"
"Permisi!"
Baik Joko dan Ferdi mengucapkan salam mereka sendiri, keduanya masuk dengan Joko yang membawa Ferdi ke ruang tamu.
"Kakek udah pulan– siapa dia, kek?" seorang gadis menyapa Joko tapi seketika dia terdiam dan berbalik bertanya ke Joko saat ia melihat Ferdi.
Pria tidak dikenal yang tiba-tiba masuk ke rumah mereka, namun pria itu cukup tampan juga.
"Oh iya, nak Ferdi kenalkan ini cucuku namanya Geisha, Geisha kenalkan ini nak Ferdi!" kata Joko memperkenalkan keduanya secara bergantian.
__ADS_1
"Namaku Ferdiansya, panggil saja Ferdi!" kata Ferdi ramah sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Geisha ..." kata Geisha sambil menyambut tangan Ferdi.
Keduanya berjabat tangan singkat.
"Kalau begitu aku akan ambilkan air dulu, mas Ferdi mau minum teh atau kopi, mas?" kata Geisha ringan dan sopan.
"Tidak usah repot-repot, air putih aja." kata Ferdi dengan sopan dan ramah.
"Kakek biasa!" kata Joko ringan.
"Iya." Geisha menjawab dengan ringan dan segera pergi ke dapur.
Sikap Geisha biasa saja meski penampilan Ferdi tampan lalu apa? Apa dia harus terlihat tersipu dan malu-malu? Maaf itu bukan sikapnya.
Penampilan Geisha sebenarnya sangat cantik, rambut hitam sepundak yang di kucir kuda menampilkan leher putih bersih miliknya, mata hitam bulat yang jernih tanpa noda, bibir mungil tipis berwarna merah muda alami.
Tinggi sekitar 174 cm, pinggang ramping, tiga ukuran sekitar 86,66,87.( bagi yang ngerti ya tau lah.)
Sifatnya agak tomboy dan dia berusia 20 tahun yang sama seperti Ferdi, saat ini dia masih menjalani kuliahnya di salah satu universitas di Jakarta.
Saat pertama kali dia melihat Ferdi itu membuatnya terkejut karena Ferdi sangatlah tampan, tutur kata yang baik dan sopan yang membuat lawan bicara mendapatkan perasaan positif atau baik dengan kepribadiannya.
Namun Geisha tidak terlalu tertarik, dia belum siap menjalin hubungan karena masih ada kuliah dan kakeknya, meski orangtua sering membicarakam statusnya yang masih jomblo.
Tapi tetap tidak mengubah pendirian Geisha untuk terus menyendiri sampai lulus kuliah.
Dan kali ini melihat kedatangan Ferdi dan sikap Joko membuat Geisha menebak maksud dan tujuan Ferdi, mungkin saja untuk meminang dirinya tapi bukankah keduanya belum pernah bertemu?
Tapi mungkin karena rasa narsis dan kepercayaan diri yang tinggi didirinya membuat Geisha berpikir seperti itu, bagaimana pun dia cantik dan menawan sudah pasti para pria akan mencintai dan tergila-gila kepadanya.
Namun sayang pikiran Ferdi saat ini masih sejernih air, ia justru sibuk mengobrol dengan Joko sambil mencari pengalaman dari perjalanan hidup Joko.
Berharap pengalaman itu bisa menjadi petunjuk untuk Ferdi di masa depan.
__ADS_1