
Ferdi akhirnya kembali ke kos-kosan saat hari sudah malam, jam menunjukkan pukul 8 malam Wilayah Indonesia Barat.
"Tumben bang pulang malam? Lagi rame penumpang emangnya?" tanya Ayu saat melihat Ferdi kembali pulang.
"Tidak, hanya saja pesanannya terlalu jauh dan itu melelahkan~" kata Ferdi dengan malas lalu berbaring di atas kasur.
"Mandi dulu sana bang, ntar Ayu bikinin teh manis!" kata Ayu menginstruksi.
"Ntar dulu~" kata Ferdi dengan lemah dan malas.
"Mandi dulu ntar kasurnya malah kotor karena keringatmu bang!" kata Ayu bertingkah marah.
"Haa, baiklah!" kata Ferdi bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Merepotkan saja!" kata Ferdi dengan lemah dan menghela nafas.
"Ufufu~" Ayu tertawa kecil lalu kembali ke dapur untuk membuat teh manis.
Saat Ferdi selesai mandi dia pun tiduran di karpet dengan lemah, Ayu juga kembali masuk ke kamar dengan dua gelas teh manis panas di tangannya.
"Kenapa tiduran di karpet bang?" tanya Ayu bingung.
"Ntar tidur di kasur, kamu ngoceh lagi!" kata Ferdi dengan malas dan bercanda.
"Ehehe, ya sudah minum dulu teh nya biar segar!" kata Ayu menyerahkan segelas teh manis ke arah Ferdi.
"Melihatmu saja sudah membuatku segar, tapi minum teh manis dengan Ayu rasanya dapat meningkatkan diabetesku!" kata Ferdi dengan ringan dan juga bercanda.
"Eh? Abang mah bisa aja~" kata Ayu malu saat mendengar Ferdi mengatakan hal itu.
"Bang, apa kamu tidak kepikiran mencari kerjaan yang lain?" tanya Ayu tiba-tiba.
"Eh? Kenapa tiba-tiba kamu menanyai hal itu?" tanya Ferdi terkejut.
"Begini... Kamu kan katanya mau serius melamar kak Nisa, pasti acara lamaran itu juga perlu biaya dan belum lagi buat nikah dan kebutuhan rumah tangga kalian... Jadi Ayu pikir lebih baik abang coba kerja yang lebih baik..." kata Ayu menjelaskan apa yang dia pikirkan.
"A-Ayu juga akan mencoba bekerja part-time atau menabung buat meringankan keuangan kita dan kebutuhanmu!" kata Ayu lagi dengan cepat.
Mendengar ini membuat Ferdi sadar, Ayu selalu memperhatikannya dan peduli dengannya jadi meski acara lamaran nanti hanya pembicaraan antara dia dan orang tua Annisa tapi Ayu tetap memikirkannya dengan serius.
Ayu bahkan juga sudah berpikir tentang pernikahan Ferdi dan Annisa jadi karena itu lah dia cemas dan khawatir, dia takut kalau Ferdi dan Annisa gagal menikah karena keuangan dan meski mereka berhasil menikah pun mau makan apa kalau penghasilan Ferdi saja sebenarnya sedikit?
__ADS_1
Ferdi berpikir sebentar tapi pada akhirnya dia menghela nafas berat dan wajahnya berubah serius.
"Haa~ mungkin sudah saat nya aku jujur kepadamu!" kata Ferdi menghela nafas dan berkata dengan cukup berat.
"Eh? Bicara apa?" tanya Ayu bingung.
"Aku akan jujur kepadamu tapi aku harap kamu tidak marah!" kata Ferdi serius.
"Apa yang kamu bicarakan, bang? Ayu tidak mengerti?" tanya Ayu bingung.
"Begini... Sebenarnya kita tidak miskin tapi hanya bersikap miskin saja!" kata Ferdi mengatakan sesuatu tapi dia sendiri sebenarnya bingung bagaimana menjelaskannya.
"Apa maksudmu, bang? Bukankah perusahaan papa dan mama bangkrut?" tanya Ayu semakin bingung.
"Perusahaan papa dan mama memang bangkrut tapi aku memiliki perusahaan lain tanpa di ketahui olehmu, meski begitu aku tetap gagal mempertahankan perusahaan yang papa dan mama bangun itu!" kata Ferdi menjelaskan.
"Etto... Jadi maksudmu adalah kamu memiliki perusahaan lain dan kita ini aslinya tidak benar-benar miskin?" tanya Ayu sedikit cerdas dalam membuat kesimpulan.
"Um, aku membuat ini karena aku tidak ingin banyak orang mulai menatap kita!" kata Ferdi jujur.
"Kenapa?" tanya Ayu bingung.
"Banyak orang yang akan menginginkan aku bangkrut dan lain sebagainya, hal ini lah yang juga membuat banyak orang yang kusinggung sebelumnya akan menunjukkan dirinya dan aku takut mereka akan mengincarmu juga saat itu, makanya untuk mengelabui semua orang, aku harus bersikap seakan-akan kita ini benar-bear miskin!" kata Ferdi dengan tenang menjelaskan.
"Apakah abangmu ini akan melakukan hal seperti itu?" tanya Ferdi datar.
"Bisnisku ini bersih di mata hukum jadi kamu bisa tenang tapi walau bersih sekalipun tetap saja akan ada noda atau akan membuat seseorang iri dan takut kepadaku!" kata Ferdi menjelaskan.
"Banyak pengusaha yang takut dengan munculnya saingan baru atau seorang pengusaha yang sudah menilai potensi sebuah perusahaan baru, mereka akan melakukan sesuatu untuk menjatuhkan atau menstabilkan perusahaan itu agar tidak melebihi perusahaan mereka, karena itu lah untuk membuat mereka lengah aku berpura-pura miskin!" kata Ferdi menjelaskan dengan berbohong tapi karena keterampilan Acting Ferdi mencapai tingkat Dewa maka dia bisa saja dengan mudah membohongi Ayu dengan wajah dan nada suara.
"Itu... Ayu tidak mengerti!" kata Ayu pusing memikirkannya.
"Kamu akan mengerti suatu saat nanti, intinya adalah kita sebenarnya tidak miskin!" kata Ferdi dengan ringan menepuk kepala Ayu.
"Apa kak Nisa tau hal ini?" tanya Ayu penasaran.
"Um, tau tapi itu baru-baru ini!" kata Ferdi jujur.
"Moo, kamu memberitahu orang lain sebelum adikmu sendiri? Abang bodoh, hmph!" kata Ayu cemberut dan membuang muka.
"Eh!? Tu-Tunggu bukan begitu, sebenarnya aku juga melakukan itu karena keadaan! Kamu percayalah kepadaku!" kata Ferdi panik dan takut Ayu akan marah kepadanya.
__ADS_1
"Pfft, Ayu bercanda tapi Ayu senang karena meski abang mengatakan kita kaya tapi sikap abang kepada Ayu tidak berubah~" kata Ayu senang dan ketawa kecil.
"Jadi kamu mengerjaiku!?" kata Ferdi dengan lemah dan terlihat sedih.
"Hukuman karena sudah membohogi adikmu ini!" kata Ayu bercanda.
"Ya-Ya, jadi bagaimana denganmu? Apa kamu mempercayai hal ini?" tanya Ferdi kepada Ayu.
"Meski Ayu tidak percaya dan ragu tapi Ayu masih percaya kalau abang tidak membohongi Ayu kali ini!" kata Ayu dengan polos.
"Ya begitu juga bagus sih~" kata Ferdi mengangguk senang.
"Oh ya bang, berapa penghasilan bersih abang saat ini?" Tanya Ayu tiba-tiba.
"Penghasilan bersihku? Mungkin beberapa ratus juta tapi dalam US Dollar!" Kata Ferdi santai.
"Apa!? Apakah kamu serius?" Kata Ayu terkejut.
"Um, kenapa kamu terkejut begitu?" Tanya Ferdi dengan wajah polos dan bingung.
"A-Ayu pikir mungkin hanya beberapa ratus juta rupiah.... Tapi kalau Dollar itu artinya pendapatan bersihmu harusnya triliunan!" Kata Ayu menjelaskan apa yang ada di kepalanya dengan polos.
"Santai saja, ini penghasilan abang yang baru saja abang dapatkan dan belum total keseluruannya!" Kata Ferdi jujur dan ringan.
Ayu diam, dia tidak tau apakah Ferdi ingin sombong atau membanggakan kekayaannya tapi kalau boleh jujur dia benar-benar terkejut dengan itu dan bertanya-tanya apa yang dilakukan Ferdi selama ini.
"Bang, apa kamu ngepet atau membuat perusahaan?" Tanya Ayu dengan polos.
Ferdi yang sedang minum teh langsung memuntahkan teh itu saat mendengarnya, dia tidak tau kenapa Ayu berpikir kalau dia mendapatkan uang dengan cara ngepet.
"Apakah tampangku seperti orang yang sering melakukan hal seperti itu?" Tanya Ferdi kepada Ayu.
"Um" Ayu memgangguk polos.
"Kau bercanda kan?" Tanya Ferdi berkeringat.
"Um" Ayu mengangguk lalu menjulurkan lidahnya.
Mengetahui hal itu entah kenapa membuat Ferdi bingung apakah dia harus tertawa atau menangis tapi yang jelas dia sebenarnya bersyukur kalau Ayu hanya bercanda soal itu.
Ferdi juga senang karena Ayu tidak marah dan menerima dirinya yang sudah berbohong itu, saat Ferdi berbicara dengan Ayu sebenarnya ada satu sosok yang mengawasi mereka dan itu adalah iblis yang di minta Ferdi dan Diablo untuk menjaga Ayu.
__ADS_1
Ferdi tentu tau dan memberikan instruksi agar menjaga Ayu dalam kegelapan, Ferdi juga merasakan kekuatan iblis itu bukanlah lawan yang mudah untuk di hadapi olehnya saat ini.
Jadi karena itu Ferdi mengangguk puas dengan kemampuan Diablo dalam memilih anggota dan mengkoordinasikan bawahannya dengan baik.