
"Baiklah!" kata Luna mengangguk setuju setelah memikirkannya lebih jauh, mungkin saja ini bisa menjadi peluang besar bagi bangsanya dan tentu kalau Ferdi berbohong ia akan membunuhnya sendiri bahkan meski harus mengorbankan diri sendiri sekalipun.
"Gadis pintar!" kata Ferdi senang.
Mereka akhirnya sampai ke tujuan Luna yaitu sebuah bangunan tua yang terlihat megah dan indah.
"Luna! Kamu lama sekali!" kata seorang gadis kecil berambut merah.
"Aku mengobrol dulu dengannya, perkenalkan dia Ferdi, Fer perkenalkan dia Sina temanku!" kata Luna memperkenalkan dulu keduanya.
"Ferdiansya panggil saja Ferdi, salam kenal!" kata Ferdi dengan ramah.
"Panggil saja Sina, dan kenapa kamu dekat dengan Luna?" tanya Sina setelah memperkenalkan dirinya.
"Kenalan yang baru saja mengobrol tanpa sengaja~" kata Ferdi dengan ramah.
"Sina ambilkan borgol dan tali lalu karung dan kain!" kata Luna dengan serius.
"Eh? Buat apa?" tanya Sina bingung.
"Buatku, sudah ambil saja itu~" kata Ferdi dengan riang dan santai.
"Aku akan mengikatnya, jadi cepatlah!" kata Luna menambahkan.
Sina semakin bingung dan memandang Luna serta Ferdi dengan sangat aneh, lalu tiba-tiba sebuah adegan S dan M terputar di kepala Sina membuat wajah Sina memerah dan langsung pergi mengambil barang yang di perlukan.
"?" baik Ferdi dan Luna tidak tau pikiran Sina dan menatapnya dengan bingung.
"Apa kita mengatakan hal yang salah?" tanya Luna kepada Ferdi.
"Mungkin pikirannya yang liar~" kata Ferdi ringan.
"Apa maksudmu?" tanya Luna.
Lalu Ferdi membisikkan sesuatu yang membuat Luna tersipu malu dan menjauh dari Ferdi.
"Ti-Tidak mungkin aku melakukan itu kepadamu!" kata Luna dengan wajah merah.
"Aku senang mendengarnya~" kata Ferdi dengan senyum lembut.
Wajah Luna tiba-tiba tambah merah saat mendengar dan melihat senyum Lembut Ferdi, Sina datang dengan tali, borgol, kain, dan Karung.
Lalu tangan Ferdi di borgol, dan borgolnya di ikat kemudian matanya di tutup serta di kasih karung untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Uhuq, kenapa karung ini berdebu sekali sih? Ga ada yang bersih?" tanya Ferdi sambil berbatuk.
"Maaf, hanya itu yang ada!" kata Sina dengan cepat.
"Tahan saja dulu!" kata Luna dengan tegas, tapi dia sebenarnya juga prihatin.
Luna lalu memeriksa tubuh Ferdi satu persatu untuk melihat dan mencari apakah ada benda berbahaya atau tidak di tubuh Ferdi.
"Kyaa~" teriak Ferdi bercanda saat tubuhnya di periksa.
"Diam lah kamu berisik sekali!" kata Luna dengan tegas dan masih memeriksa tubuh Ferdi.
Sementara Sina sedang menutupi wajahnya yang memerah namun memberikan sela untuk tetap menyaksikan adegan itu.
Luna berada di belakang Ferdi sedang memeriksa celana Ferdi dari belakang tapi saat meraba-raba tiba-tiba dia merasakan suatu benda yang mencurigakan.
"Uhm..." Ferdi menahan suaranya saat sesuatu di pegang oleh Luna.
"Kamu menyembunyikan sesuatu di sini?" tanya Luna dengan curiga.
"Tidak! Jangan melihatnya, sungguh jangan melihatnya!!" kata Ferdi memperingatkan karena dia tau apa yang di maksud Luna.
Sina menajamkan matanya dan wajahnya juga semakin memerah, sebagai gadis kecil itu adegan yang cukup mengagumkan.
Tapi apa yang di lihatnya membuat wajah Luna memerah dan aneh, karena yang di lihat Luna adalah sebuah pedang excalibur Ferdi.
"Ahh excaliburku terlihat~" kata Ferdi dengan wajah memerah malu tapi untungnya ada karung yang menutupinya.
"Kyaaaaaaa!!!!" teriak Luna kencang sembari meninju wajah Ferdi beberapa kali.
"Ka-Kamu... Bajingan!" kata Luna menunjuk ke Ferdi dengan wajah yang merah merona.
Sina yang melihatnya juga terkejut lalu membayangkan sesuatu yang mesum, "Besar, apakah itu akan muat di dalamku...." gumam Sina yang sedang berpikir kotor tentunya.
"Aku sudah bilang jangan di liat kan!?" kata Ferdi membentak.
"Ka-Kamu tidak bilang kalau itu adalah.... Cepat pakai kembali!" kata Luna tidak berani menyebutkan "Anu" Ferdi dan berganti meminta Ferdi agar cepat memakai celananya lagi.
"Mana bisa, tangaku di borgor dan diiket kuat, mataku di tutup jadi bagaimana aku bisa memakau celanaku! Kamu cepat pakaikan!" kata Ferdi tidak berdaya.
"Kamu...!!!" Luna benar-benar tidak tau harus berkata apa kepada Ferdi tapi memang tangan Ferdi terikat dan matanya tertutup jadi bagaimana dia bisa memakai celananya dengan benar.
Tapi Luna yang memakaikannya? Mana bisa dia melakukannya!! Apalagi excalibur Ferdi masih berdiri kokoh sambil berkedut sedikit menikmati angin luar yang sepoi-sepoi.
__ADS_1
"Oi apakah masih ada orang? Aku malu nih lagian tubuh bawahku rasanya dingin!" kata Ferdi yang menengok ke kanan dan kiri.
"A-Aku akan pakaikan! Kamu berdiri tegak!" kata Luna yang memerah.
"Bantu aku berdiri!" kata Ferdi mengulurkan tangannya ke atas karena posisinya saat ini sedang duduk.
Luna mendekat dengan wajah memerah dan tentu memalingkan wajahnya tidak berani menatap Ferdi atau excaliburnya, sementara itu Sina masih diam menyaksikan adegan itu.
Luna membantu Ferdi berdiri dan memakai celana dengan cepat dan gesit tentunya.
"Fiuh rasanya lebih baik meski agak salah khiblat yang rasanya kurang nyaman tapi masih bisa aku betulkan nanti!" kata Ferdi menghela nafas lega.
"Bi-Bisakah kamu membahas itu tidak didepan gadis!?" kata Luna memarahi.
"Oh maaf, aku keceplosan~" kata Ferdi canggung.
"Ayo ikut aku menemui pemimpin kami!" kata Luna dengan serius menyeret tali yang mengikat tangan Ferdi.
"Eh!? Tunggu, apa maksudmu dia akan menemui yang Mulia?" Tanya Sina terkejut.
"Um" Luna mengangguk yang diikuti Ferdi namun salah arah.
"Ka-Kalau begitu dia..." Kata sina sambil menunjuk Ferdi.
"Aku sudah mengetahui kalian adalah Manusia Bawah Tanah tapi aku tidak memiliki maksud jahat jadi santai saja~" kata Ferdi dengan ringan memegangi gagang pintu.
"Eh? Tanganmu sepertinya agak dingin Ya, Sina?" Tanya Ferdi merasa tangan Sina dingin padahal itu gagang pintu.
"Pfft" Sina dan Luna menahan tawa mereka saat melihat aksi Ferdi.
"Um?" Ferdi memiringkan kepalanya tapi saat dia merasakan hal lain akhirnya dia mengerti kalau itu bukan Sina.
"Baiklah antar aku cepat!" Kata Ferdi memaksa karena dia menahan rasa malunya saat mengenali sesuatu yang salah.
"Liat bukan, apa manusia permukaan seperti dia akan membahayakan yang Mulia?" Tanya Luna mengejek Ferdi diam-diam.
"Um, dia cukup lucu, namun sayangnya dia manusia permukaan, haaa~" kata Sina menganguk setuju tapi memikirkan sesuatu membuatnya menghela nafas berat.
"Apa maksudmu?" Tanya Luna bingung.
"Kalau dia sama dengan kita pasti kamu bisa menikahinya~" kata Sina dengan seringai nakal di wajahnya.
Wajah Luna merah padam mendengar ucapan Sina lalu dia mengangkat bibirnya sambil menunjuk ke Sina, "Ja-Jangan mengatakan sesuatu hal seperti itu! Aku dengan Ferdi hanya teman!"
__ADS_1
Namun Sina hanya tersenyum senang lalu pergi dengan wajah berseri-seri, menurutnya Luna mungkin menyukai Ferdi tapi sayangnya Ferdi tidak.