Sistem Kekayaan : Aku Hanya Seorang Supir Taksi Online!

Sistem Kekayaan : Aku Hanya Seorang Supir Taksi Online!
Kejujuran dan Persetujuan


__ADS_3

Orang tua Annisa mengangguk, seakan penilaian mereka untuk Ferdi bisa dibilang positif dan hal itu adalah hal yang baik bagi Ferdi.


"Yups sudah mulai sore, biar ibu masakan sesuatu yang enak untuk kalian!" Kata ibu Annisa bangkit.


"Apa mau ku bantu, bibi?" Kata Ferdi bangkit menawarkan bantuan.


"Kamu bisa masak?" Tanya ibu Annisa terkejut.


"Aku bisa sedikit-sedikit!" Kata Ferdi singkat dan ramah.


"Tidak perlu, kamu tamu disini dan biarkan kamu merasakan masakanku!" Kata ibu Annisa menolak dan terlihat bangga diri.


"Um, masakan ibu ku itu sangat enak, kamu pasti suka!" Kata Annisa juga memuji masakan ibunya ke Ferdi.


"Kamu juga ikut aku ke dapur!" Kata ibu Annisa menepuk kepala Annisa.


"Eeehh!!" Annisa terkejut tapi akhirnya mengangguk.


"Maaf soal itu, Annisa mungkin sedikit merepotkanmu!" Kata ayah


"Ah tidak kok, justru sepertinya aku yang selalu merepotkannya~" kata Ferdi dengan senyum.


"Um, oh ya nak Ferdi ini memiliki bisnis apa?" Tanya ayah Annisa penasaran.


"Aku memulai di bisnis makanan cepat saji dan selebihnya aku melakukan investasi ke beberapa perusahaan!" Kata Ferdi dengan ringan dan tidak sombong atau bangga sekalipun.


Ferdi juga tidak bohong karena dia memang memiliki restoran cepat saji bernama KFC lalu soal investasi nya juga bisa dibilang benar.


"Investasi? Bukankah itu terlalu berbahaya ya, nak Ferdi?" Kata ayah Annisa serius.


"Tidak juga, selama paman tau apa yang lagi ngetren di zaman ini lalu berinvestasi di bidangnya sekaligus di perusahaan yang tepat maka paman bisa melakukan invenstasi dan penghasilannya cukup baik!" Kata Ferdi menjelaskan sekenanya saja.


"Ohh, jadi seperti itu toh!" Kata ayah Annisa mengangguk seakan paham.


"Oh ya, apa paman suka main catur? Sekalian menunggu mending kita main catur, bagaimana?" Usul Ferdi.


"Eh? Kamu bisa main catur?" Tanya ayah Annisa terkejut.


"Um, dulu ayahku suka main catur dan kadang aku juga main serta belajar, niatnya sih untuk mengalahkan ayahku tapi lama-lama malah keasikan~" kata Ferdi dengan ringan.


"Um, ya aku mengerti perasaanmu karena aku juga sama saat muda~" kata ayahnya Annisa mengenal masa lalu.


"Bagimana kalau paman nanti sekalian menceritakan kisah paman? Pasti dulu mah enak banget~" kata Ferdi terlihat iri.


"Baiklah!" Kata ayah Annisa mengangguk setuju.


Setelahnya mereka berdua asik mengobrol sambil bermain catur, didapur juga melakukan hal yang sama.


Annisa menceritakan tentang Ferdi sambil memasak, ibunya Annisa sebenarnya terkejut saat mendengar tentang Ferdi lebih jelas dari Annisa.


Mulai dari keluarga Ferdi bangkrut sampai di mana Ferdi bekerja keras agar adiknya tetap bersekolah dan mendirikan sebuah bisnisnya seperti sekarang, Annisa juga menceritakan kalau Ferdi sebenarnya adalah anak kuliahan sepertinya tapi karena ekonomi dia memilih untuk mundur terlebih dahulu untuk adiknya.


Nilai Ferdi di hati ibunya Annisa menjadi meningkat dan itu jelas menjadi hal yang baik untuk Ferdi, setelah lima belas menit akhirnya ayahnya Annisa ijin ke toilet.

__ADS_1


Namun itu semua hanyalah kedok saja, aslinya ayah Annisa pergi ke dapur untuk mengobrol dengan istri dan putrinya tentang Ferdi.


Mendengar apa yang dikatakan istri dan putrinya tentang Ferdi cukup baik membuat ayah Annisa mengangguk puas, sementara itu Ferdi sudah mengetahui apa yang di lakukan keluarga tersebut, saat sedang menunggu tiba-tiba sebuah telpon muncul di ponsel Ferdi.


Ferdi pergi keluar dan mengangkat telpon dengan santai.


"Ya, ada apa Sebas?" Tanya Ferdi ringan.


"Pulau Paradise sudah siap untuk di resmikan, kami berniat akan meresmikannya bulan besok dan ingin tau apakah anda dapat berdatang dan melihatnya?" Kata Sebas di balik telpon.


"Bulan Besok? Uhm... Siapkah saja daftarnya tapi seperti pengaturan biasa yaitu aku tidak akan muncul di media!" Kata Ferdi mengangguk setuju.


"Baik tuan, dan apakah anda ada persyaratan untuk ini?" Tanya Sebas.


"Kurasa tidak, aku masih mempercayakan semua pengaturan kepada kalian!" Kata Ferdi ringan.


"Baik, kami tidak akan mengecewakan kepercayaan anda ini, tuan!" Kata Sebas lalu telpon berakhir.


Ferdi pergi ke dalam dan sudah ada ayah Annisa di sana membuat Ferdi agak canggung.


"Maaf paman, tadi ada yang menelpon!" Kata Ferdi dengan jujur.


"Um, sebagai seorang pembisnis kamu pasti sibuk itu bisa di maklumi!" Kata ayah Annisa mengangguk mengerti.


Saat Ferdi akan duduk lagi tiba-tiba ada telpon yang masuk, hal ini membuat Ferdi merasa canggung dan tidak enak.


"Angkat saja dulu, mungkin itu penting!" Kata ayah Annisa menyarankan.


"Kalau begitu aku permisi dulu!" Kata Ferdi minta izin untuk keluar lalu mengangkat telpon.


"Kamu tidak mensave nomor ku?" Sebuah suara manis terdengar.


"Uhm... Bisakah anda lebih serius? Aku sedikit sibuk disini!?" Kata Ferdi merasa tidak sabaran.


"Eh? Maaf dah kalau gitu aku akan menghubungimu lagi, atau kamu hubungi aku setelah kamu ada waktu luang!" Kata orang di ujung telpon meminta maaf.


"Tidak masalah, tapi sebutkan dulu siapa namamu? Apakah penting atau tidak?" Kata Ferdi sedikit lebih baik.


"Kamu benar-benar tidak mengenali suaraku huh? Aku Dewi, ok? Teman Andin!" Kata orang di ujung telepon.


"Eh? Kalau gitu aku minta maaf dan tunggu aku hubungi lagi nanti, saat ini aku lagi sibuk!" Kata Ferdi serius.


"Um, baiklah!" Kata Dewi juga peduli dengan kesibukan Ferdi.


Setelah itu Ferdi kembali dengan tenang, tentu kali ini dia mematikan ponselnya terlebih dahulu agar menjadi lebih nyaman.


"Apa sudah selesai?" Tanya ayah Annisa dengan ramah.


"Maaf pak, acara catur kita jadi tertunda!" Kata Ferdi meminta maaf.


"Tidak masalah, kalau begitu bisa kita mulai?" Kata ayah Annisa dengan ringan.


Permainan akhirnya berlanjut sampai ayahnya Annisa menang, setelah itu Ferdi di ajak makan terlebih dahulu, tentu saja Ferdi menerimanya dengan senang hati.

__ADS_1


"Oh ya Fer, dimana Diablo?" Tanya Annisa penasaran.


"Dia katanya mau kembali, ada hal yang perlu di urus jadi dia hanya meninggalkan mobil dan langsung pergi!" Kata Ferdi berbohong.


Aslinya Diablo saat ini ada di Inggris untuk menangani permasalahan cabang tentara bayaran Black Monster disana, tapi siapa yang akan percaya hal ini?


Setelah makan, mereka berkumpul lagi untuk melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya dan keputusan bulat orang tua Annisa.


"Begini nak Ferdi, soal lamaranmu kami terima!" Kata ayah Annisa serius.


"Tapi, kami akan menginjinkan Annisa menikah setelah dia selesai dalam kuliahnya, apakah kamu setuju?" Tanya ayah Annisa dengan serius.


"Um. Aku menyetujui dan siap menunggu Annisa untuk selesai kuliahnya!" Kata Ferdi dengan senang hati.


"Um, kami senang kamu menyetujui dan mau menunggu Annisa dengan sabar!" Kata ibu Annisa senang.


"Aku yang harusnya senang karena kalian mengijinkan dan menerima lamaranku untuk menilahi Annisa!" Kata Ferdi dengan senang hati.


"Kami juga senang karena Annisa mendapatkan pria yang baik dan jujur seperti mu!" Kata mereka dengan ramah.


Mendengar kata "jujur" membuat senyum Ferdi menjadi kaku dan agak malu, dia merasa tidak nyaman lalu memberikan sinyal ke Annisa.


"Pa, Bu, sebenarnya ada hal yang ingin kami bicarakan lagi dengan serius!" Kata Annisa dengan serius.


"Ada apa nak?" Tanya ayah Annisa bingung.


"Ini mengenai indentitas asliku paman, bibi!" Kata Ferdi lagi dengan serius.


"Indentitas aslimu? Jadi kamu berbohong sebelumnya?" Tanya ayah Annisa merasa tidak senang.


"Um, Annisa memintaku merahasiakan ini sampai kalian menerima ini, tapi kalian bisa tenang karena indentitasku bukan lah hal yang melanggar hukum atau apa!" Kata Ferdi dengan serius dan menenangkan.


"Coba katakan dengan jujur, apa maksudmu itu?" Tanya ibu Annisa dengan serius.


"Aku ini memang pengusaha tapi penghasilanku buka lah jutaan rupiah, tapi beberapa juta US Dollar!" Kata Ferdi serius.


Mendengar itu kedua orang tua Annisa terkejut bukan main, dia tidak menyangka Ferdi begitu kaya meski mereka tidak bisa ngitung berapa nilai dollar yang di rubah menjadi rupiah.


"Jadi aslinya kamu ini kaya? Lalu Apa maksudnya kamu membohongi kami?" Tanya ayah Annisa bingung.


"Ini semua karena aku... Awalnya Ferdi akan jujur kepada kalian tapi aku memintanya berbohong soal ini, aku hanya tidak ingin kalian berpikir aku menyukai Ferdi karena uang dan aku juga tidak ingin Ferdi berpikir kalian menyetujui kami karena uang...!" Kata Annisa menjelaskannya.


"Jadi seperti itu... Baiklah kami memaafkan meski aku kira tadi karena apa!" Kata ibu Annisa menghela nafas.


Dia awalnya mengira Ferdi sudah berinvestasi anak di Annisa atau sebenarnya Ferdi adalah mantan buronan atau narapidana.


Tapi siapa sangka kejadian ini malah menjadi ujian antara keduanya, mereka ingin tau apakah Ferdi adalah menantu yang cocok dan Ferdi juga melakukan hal yang sama.


"Lalu soal pernikahan itu, aku sebenarnya berniat menikahi Annisa seminggu setelah dia wisudaan, dan soal acara serta yang lainnya bisa aku yang tangan....i! Kata Ferdi menjelaskan dengan tenangĀ apa yang dia pikirkan.


Orang tua Annisa mengangguk setuju dengan perencanaan Ferdi yang terkesan sudah di perinci dan jelas.


"Lalu soal Mahar nikah nanti aku akan memberikan Annisa sebuah pulau pribadi, rumah, mobil, serta jet pribadi khusus untuknya!" Kata Ferdi dengan tenang dan santai.

__ADS_1


Tapi beda bagi keluarga Annisa, semua orang termasuk Annisa batuk tersedak air liur secara berjamaah, hal ini karena mahar yang disebutkan Ferdi.


"Kenapa?" Tanya Ferdi dengan wajah polos.


__ADS_2