
Annete begitu mencintai Hanaga. Pria blasteran korea-jepang itu begitu sempurna mendampinginya sebagai pasangan. Kulitnya seputih pualam, dengan rahang tegas dan hidung yang mancung. Tingginya hampir dua meter. Sungguh cocok bersanding dengan Annete yang juga memiliki tinggi di atas rata-rata.
Mereka sudah berpacaran selama dua tahun dan berencana melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Hari ini rencananya Annete akan mengenalkan Hanaga pada keluarganya. Sebuah kegiatan yang sebenarnya tidak ingin dilakukan Annete andai dapat menolak.
Sejak pagi tangan Annete sudah sangat lembab dan berkeringat. Reaksi tubuhnya selalu begitu jika ia berada dalam kondisi sangat tegang. Berkali-kali Annete meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun tak bisa dipungkiri jiwa dan pikirannya tak akan pernah bisa yakin semuanya baik-baik saja.
"Din ... Din!"
Sebuah klakson mobil membuat Annete terhenyak dan bergegas merapikan riasannya untuk terakhir kalinya, menyisir rambutnya dengan tangan untuk merapikan hasil curlingannya, lalu mengambil clutch putih di atas nakas dan berangkat. Tak lupa ia mengunci pintu rumahnya dan memastikan semuanya aman.
"Lama amat?" protes lelaki tampan sempurna dibalik kemudi mobilnya.
"Aku harus memastikan semuanya aman sebelum berangkat sayang. Kamu tahu pencuri bisa masuk dan mengacak-acak rumahku," jawab Annete sambil bergelayut manja di lengan kiri Hanaga yang bebas. Sementara lengan kanannya memegang kemudi.
"Berangkat?" tanya Hanaga beberapa detik kemudian.
"Haruskah aku melakukannya? Argh!! Andai kita bisa langsung menikah tanpa perkenalan keluarga," keluh Annete geram.
"Kamu kenapa?" tanya Hanaga dengan muka innocent yang menggemaskan. Membuat Annete berkali-kali-kali jatuh cinta padanya dan tergila-gila.
"Aku selalu malas bertemu dengan my sister. Andai bisa, aku tidak ingin bersaudara dan berhubungan dengannya," keluh Annete manja.
"Trust me, it'll be going well," kata Hanaga sambil menggenggam tangan kekasihnya penuh cinta.
Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di kediaman keluarga Annete. Mansion mewah itu sebenarnya berdiri megah tak jauh dari kediaman pribadi Annete. Hanya beda kompleks perumahan saja.
"My baby, Annete," sapa papanya. Mr. Rodrigues memang selalu hangat pada putri bungsunya itu. Ia menyambutnya bahkan ketika mereka baru hendak memarkirkan kendaraan.
"Papa!" Annete nampak sangat rindu. Ia bergegas membalas pelukan papanya.
"Apa kabar? Kamu jarang sekali main ke sini," tanya Mr. Rodrigues.
"Very well, papa. Ini Hanaga, pacar Annete, papa. Hanaga, ini papa aku," ujar Annete. Ia mengenalkan mereka satu sama lain.
"Selamat pagi, Mr. Rodrigues," sapa Hanaga sopan.
"Ya, hallo! Terima kasih sudah menjaga Annete selama ini," ujar Mr. Rodrigues sambil menjabat tangan pria muda nan tampan di depannya itu.
__ADS_1
"My pleasure, Mr. Anda membesarkan anak gadis anda dengan sangat sempurna. Saya mencintainya seutuhnya," sahut Hanaga.
"Mari-mari, kita masuk dulu. Your Mommy's waitting," ajak Mr. Rodrigues.
Mereka bertiga masuk dan disambut dengan bahagia oleh Mrs. Rodrigues.
"Annete sayang, long time no see," sapa Mrs. Rodrigues. Wanita keturunan jepang itu berjalan anggun menyapa anak gadisnya.
"Mama, apa kabar?" Annete memeluk dan mengecup mamanya.
Lalu kembali Annete mengenalkan Hanaga. Kali ini kepada mamanya.
"Masuk-masuk, kita sarapan dulu ya. Mama sudah memasak ebi furai kesukaanmu," ajak Mrs. Rodrigues ramah.
Mereka berempatpun langsung duduk di meja makan dengan penuh kehangatan.
"Sayang, mana Kisako? Dia harus menyapa adiknya dan calon adik iparnya juga," tanya Mr. Rodrigues sebelum memulai sarapan.
"Ehem, kau benar, sayang. Aku akan meminta Kisako turun," jawab Mrs. Rodrigues.
Mrs. Rodrigues baru saja hendak bangkit dari tempat duduknya, ketika dari arah tangga, wanita yang dimaksud turun.
"Hallo," sapa Hanaga canggung.
Sungguh aura elegan nan angkuh memenuhi seluruh ruangan ketika ia hadir.
"Kisako, kakaknya Annete," ujarnya ramah sambil duduk di seberang kursi Annete.
Hanaga kembali tersenyum canggung. Ia merasa suhu ruangan mendadak menjadi dingin dan mencekik.
"Ki, kau tidak menyapa Annete?" Mr. Rodrigues menegur.
"Hai, Annete!" sapa Kisako. Sebuah sapaan singkat yang meski nampak ramah tetapi terasa begitu dingin.
"Long time no see, sist," balas Annete. Senyumnya tersungging meski matanya menatap tajam penuh dendam pada saudaranya itu.
Kisako hanya tersenyum smirk. Lalu kembali fokus ke meja makan dan mengambil sarapannya.
__ADS_1
Siapapun yang berada di sana pasti akan merasakan sebuah aura panas dan dingin yang silih berganti. Keduanya saling beradu mata sehingga letupan-letupan auranya akan membuat sekelilingnya tak nyaman.
"Baiklah, selamat makan," ucap Mr. Rodrigues.
Tak lama kemudian suara denting sendok-garpu-piring yang sedang beradu terdengar. Mereka makan dalam diam dan penuh penghayatan.
"Uhuk!"
Entah bagaimana ada potongan makanan yang tak terkunyah dengan sempurna sehingga tersangkut di tenggorokan Hanaga. Ia tersedak lalu kemudian terbatuk.
"Sayang, are you okay?" tanya Annete sambil memberikan segelas air pada kekasihnya itu.
"Uhuk ... uhuk! I'm okay, babe," jawab Hanaga sambil tersenyum. Ia meminum beberapa teguk air yang diberikan Annete.
"Kamu nampak tegang, calon adik ipar. Santai saja," ucap Kisako. Tangannya yang lentik dihiasi kuteks warna maroon bergerak mengambil tisyu dan mengelap bibir Hanaga dengan pose yang agak sensual.
"Oh, terima kasih. Aku bisa sendiri, kak Kisako," ucap Hanaga. Ia nampak canggung diperlakukan seperti itu oleh Kisako.
Annete menatap tajam saudaranya itu. Api emosi meletup-letup di matanya. Tangan kanannya mengepal erat.
Kisako kembali duduk di kursinya dan melanjutkan makan dengan tenang seolah tak terjadi apapun. Sepintas ia nampak mengerling dan tersenyum licik pada Annete.
Mata mereka beradu, Annete nampak begitu emosi sementara Kisako begitu puas memainkan emosi adiknya.
"*****!" desis Annete kesal.
"Whore!" balas Kisako pelan sambil tersenyum menghina.
Tidak ada yang mendengar makian-makian halus yang mereka lontarkan. Mr. dan Mrs Rodrigues serta Hanaga nampak sibuk dengan makanan di piringnya.
Hingga sarapan selesai, tidak ada kekacauan yang terjadi. Meski demikian tak ada yang tak merasakan ketegangan yang terjadi antara Annete dan Kisako. Kakak beradik itu sungguh representasi dua unsur yang saling beradu.
Kisako adalah representasi polar easterlies, angin dingin dari kutub. Ia begitu tenang, tetapi meniupkan hawa dingin yang mematikan. Sifatnya yang cenderung pendiam dan misterius sungguh cocok dengan kondisi fisik yang seperti ibunya, seorang wanita berdarah jepang. Wajahnya oriental dengan mata sipit, rambut lurus dipotong sebahu dan kulit yang seputih pualam.
Sedang Annete, adalah representasi dari trade wind, angin passat yang panas. Ia berkepribadian terbuka dan penuh semangat. Fisiknya seperti ayahnya, seorang berdarah amerika latin yang ramah dan penuh senyum. Seksi, panas dan begitu menggoda. Rambutnya hitam bergelombang, hidungnya mancung dan bibirnya sungguh sensual. Tak ada pria yang tak bertekuk lutut padanya.
__ADS_1
(Hanaga)