Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
Finding The Truth


__ADS_3

Hanaga benar-benar tak habis pikir. Pertemuannya dengan Annete menyadarkan dirinya, bahwa berkali-kali ia telah terjebak dengan Kisako. Awalnya, Hanaga tidak percaya ketika Annete bercerita bahwa ia memiliki saudara perempuan yang sangat kompetitif dan terobsesi untuk menghancurkan hidupnya. Tetapi, setelah semua kejadian ini, Hanaga jadi berpikir ulang tentang semuanya.


Hanaga meremas jemarinya, menyatukan kedua tangannya di depan leher dan membuat kedua tangan itu menopang dagu. Ia berpikir keras, "Benarkah Kisako berbuat licik untuk menghancurkan pernikahanku dengan Annete?"


"Tok-tok!"


"Sore, Pak. Saya mengantarkan sebuah tagihan yang dikirimkan untuk anda," kata Mia. Ia masuk dan menyerahkan sebuah amplop putih dengan tulisan tangan di atasnya -For Mr. Hanaga-.


"Letakkan di situ, Mia," sahut Hanaga malas. Ia berpikir mungkin itu hanya tagihan kartu kredit.


"Baik, Pak. Saya permisi pulang duluan, Pak. Hari sudah sore," pamit Mia kemudian.


Hanaga hanya mengangguk dan kembali tenggelam dalam pikirannya. Ia kembali mengingat kronologis bagaimana ia mendapat kunjungan dari Kisako. Lalu mereka turun untuk minum.


"Tidak ada yang aneh hingga kami turun minum," pikirnya penasaran. "Lalu mengapa kemudian menjadi tidak terkendali?" lanjutnya kesal.


Hanaga kemudian berjalan mengelilingi meja kerjanya beberapa kali. Memandang jendela ruangannya yang berpemandangan lantai 12 dari gedung kantornya. Lalu pandangannya tertuju pada amplop yang baru saja diantarkan Mia padanya.


Hanaga penasaran dan membuka amplop itu. "Ini bukan tagihan kartu kredit," batinnya. Ia membuka amplop dengan paksa dan melihat itu adalah tagihan yang dikirim longue di lantai dasar kantornya.


"Ini tagihanku minum bersama Kisako waktu itu," batinnya kembali penasaran. Ia memeriksa tagihan dan melihat kalau saja ada yang aneh. "Aku hanya memesan sebotol wine putih. Harusnya aku tidak terlalu mabuk," lanjutnya lagi.


Hanaga kembali berpikir dan meletakkan kertas tagihannya. Ia berpikir keras, mengapa setelah minum bersama Kisako waktu itu tubuhnya begitu lemas hingga tak terkendali. Apa yanh menyebabkannya seperti itu?


"Klik! Bip! Bip! Bip! Bip! Tuuut!"


Hanaga menelepon longue di lantai bawah untuk menanyakan beberapa hal.


"Hallo, Gerald!" panggil Hanaga pada bartender yang bertugas di longue lantai bawah.


"Mr. Hanaga! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gerald diujung sana.


"Aku ingin menanyakan beberapa hal kepadamu. Kamu sibuk?" tanya Hanaga.

__ADS_1


"Sepertinya akan ada tamu malam ini. Mr. Jiro dari Produksi akan menjamu beberapa tamu dari Kanada," jelas Gerald.


"Oh, baiklah. Kamu punya waktu beberapa jam sampai acara jamuan dimulai. Aku akan turun dan menemuimu di bawah," ujar Hanaga kemudian.


Ia buru-buru mengakhiri panggilan dan bergegas turun untuk bertemu sang bartender.


"Mr. Hanaga!" panggil Gerald yang telah menunggu Hanaga di lobby. Ia sengaja menunggu Hanaga di lobby agar tidak perlu masuk ke longue.


"Hai, Gerald. Maaf aku menggangu waktumu. Kamu tahu, aku sedang sangat kacau dan bingung dengan pembatalan pernikahanku," jelas Hanaga sambil mengajak Gerald duduk di sofa yang terjajar di lobby.


"Aku turut prihatin, Mr. Hanaga," ucap Gerald tulus. "Apa yang ingin anda ketahui, Mr?" tanya Gerald kemudian.


"Aku beberapa minggu lalu minum di longue dengan calon kakak iparku. Apakah ada yang aneh dengan pesananku?" tanya Hanaga.


"Apa yang anda pesan?" tanya Gerald.


Hanaga menyerahkan kertas tagihan yang dikirimkan padanya ada Gerald. Ia juga menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar tagihannya itu sekalian.


"Sebotol white wine? Ada yang aneh?" Gerald balik bertanya.


"Anda benar, Mr. Harusnya sebotol white wine yang dinikmati berdua tidak akan membuat anda begitu mabuk," ucap Gerald. "Apakah anda menambahkan sesuatu ke dalam minuman anda? Atau ... apakah anda sempat meninggalkan meja dan gelas anda?" tanya Gerald kemudian.


Hanaga menggeleng, "Tidak! Aku hanya minum beberapa teguk dan lalu pergi dengan calon kakak iparku. Tidak ada yang aneh bukan? Tidak mungkin rasanya ada seseorang yang mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku."


Hanaga terdiam beberapa saat. Ia nampak sedang berpikir keras.


"Tunggu, disini ada tambahan tagihan segelas champagne disini? Apakah anda meminumnya juga?" tanya Gerald. Ia nampak kembali meneliti kertas tagihan yang ada di tangannya.


"Ahhh ... aku ingat. Aku berjumpa dengan salah satu rekan wartawanku dan mengobrol sebentar," ucap Hanaga kemudian. Ia teringat bertemu dengan wartawan Jims saat minum di longue bersama Kisako. Sebagai tanda pertemanan ia sengaja mengirim segelas champagne untuk rekannya itu.


"Mungkin rekan anda tahu sesuatu, Mr. Hanaga," timpal Gerald.


"Kamu benar, Gerald. Aku akan menghubunginya.Terima kasih!" ucap Hanaga sambil menjabat tangan Gerald.

__ADS_1


Gerald mengangguk dan kemudian undur diri. Jam kerjanya sudah mengharuskan ia stand by sebagai seorang bartender.


Hanaga melihat Gerald menjauh tetapi masih duduk di atas sofanya. Ia kemudian menelepon rekannya itu melalui telepon pintarnya.


"Hallo, wartawan Jims. Apa kabar? Ada waktu hari ini?" tanya Hanaga to the point. Ia nampak berbicara serius terhadap rekannya itu sebelum kemudian bangkit dan meninggalkan lobby dan bergegas menuju mobilnya.


Hanaga memacu mobilnya melebihi kecepatan rata-rata. Berpacu dengan waktu untuk menemui wartawan Jims. Hingga ia akhirnya tiba di depan kantor rekannya itu.


Hanaga memarkir mobil dan bergegas menuju tempatnya berjanjian dengan rekannya itu.


"Mr. Hanaga!" panggil wartawan Jims ketika melihat Hanaga sedang kebingungan mencarinya.


Hanaga menghampiri wartawan Jims, kemudian duduk di hadapanya.


"Ada apa, Mr. Hanaga? Anda nampak begitu kacau," ujar wartawan Jims.


"Aku ingin menanyakan sesuatu, wartawan Jims. Apakah anda masih mengingat saat kita berjumpa di longue kantorku beberapa minggu lalu?" tanya Hanaga.


"Sebentar ... waktu itu anda bersama seorang wanita bukan?" tanya wartawan Jims.


Hanaga mengangguk. "Anda mengingat sesuatu, wartawan Jims?" tanya Hanaga penuh selidik.


"Aku mengingatnya, karena hari itu aku mengalami kejadian yang aneh. Seseorang meneleponku dan mengajakku janjian berjumpa. Tetapi kemudian ia tak datang meski aku menunggunya hingga beberapa jam disana. Well ya, aku menghabiskan hadiah champagne darimu lalu aku pulang," jelas wartawan Jims.


"Siapa seseorang yang sedang ada janji dengan anda? Boleh aku tahu?" tanya Hanaga lagi.


"Entahlah, aku tak begitu mengenalnya. Sebenarnya aku harus mewawancarainya untuk progress produk baru sebuah brand tas dan sepatu. Seseorang memberiku kontaknya beberapa hari sebelum kami membuat janji berjumpa waktu itu," jelas wartawan Jims.


"Apakah anda mengingat namanya?" tanya Hanaga kembali mencecar wartawan Jims.


"Miss K! begitu seingatku dia mengenalkan namanya di kalangan desainer," jelas wartawan Jims. "Wanita ini sangat misterius, meski hasil desainnya terkenal begitu jenius. Ia tak pernah menunjukkan wajahnya kepada media dan selalu bersembunyi dibalik kaca mata hitamnya" lanjut wartawan Jims.


Hanaga mengangguk sambil berpikir apakah ada kemungkinan kejadiannya dan wartawan Jims berhubungan. Selama ini toh ia tidak tahu pekerjaan Kisako. Rasanya sangat aneh bila hanya meminum sebotol wine putih dan tubuhnya menjadi tak terkendali.

__ADS_1



__ADS_2